HTI Ber-HOAX
Dalam dunia maya banyak beredar video yang memfinah NU sembari menjunjung tinggi HTI, seperti video di bawah ini. Grand designnya memframe dan mengopinikan bahwa NU meng-amini dan menyetujui apa yang sedang dijajakan HTI, yaitu khilafah ala tahririyahnya. Pada saat yang sama pula, mereka menuduh NU telah melenceng dari garis perjuangan Hadratussyeikh, tepatnya semenjak NU dipimpin Gus Dur sampai ke belakang (saat ini). Hal tersebut adalah fitnah di atas fitnah, fitnahnya fitnah.
Berikut pelurusan fitnah tersebut. Gus Sholah (KH Sholahudin Wahid, adik kandung KH Abdurrahman Wahid) berkata (anggap video itu tidak diedit oleh para anggota HTI):
1. Jadi, saya ulangi sekali lagi. NU dulu memperjuangkan negara berdasarkan syariat Islam.
2. Tahun 84 NU kemudian beralih menerima negara berdasarkan Pancasila.
3. Itu perubahan yang terjadi.
Berangkat dari tiga pernyataan Gus Sholah di atas, ustadz Fahmi al-Anjatani, pengasuh Ponpes Nurul Falah yang "sepertinya" seorang kader HTI menggoreng sampai gosong, pernyataan Gus Sholah tersebut untuk disesuaikan dengan agenda HTI.
Dalam narasinya, si Fahmi ini mempertentangkan pernyataan Gus Sholah dengan pola pikir NU semenjak Gus Dur, Abah Hasyim Muzadi sampai Kiai Said. Dia membenturkan pola pikir Gus Dur khususnya dengan Gus Sholah (saudara kandung, kakak adik mau dipecah oleh si Fahmi). Padahal sejak tahun 1984 Gus Dur menjadi maskot NU. Jika disebut nama Gus Dur, berarti itu NU. Jika disebut NU, itu ya Gus Dur. Ini karena perjuangan Gus Dur yang sangat heroik dalam membawa NU selamat dari penetrasi dan genosida yang diancarkan Orba terhadap NU.
Dalam video tersebut, si Fahmi mengatakan bahwa NU semenjak dipegang Gus Dur sampai sekarang sudah menyeleweng dan melenceng dari garis perjuangan Hadratussyeikh KH Hasyim Asyari. Itulah fitnah yang diviralkan oleh ustadz Fahi al-Anjatani dan HTI nya kepada NU, yang disebar ke seluruh media sosial. Ini terjadi disamping karena kebencian si Fahmi terhadap Gus Dur dan anak ideologisnya juga kekurangpahaman dia terhadap NU. Dia tidak faham bagaimana fikrah dan harakah NU itu. Jika dipahami dengan seksama dan jika sudah tahu bagaimana fikrah dan harakah NU maka tidak kaget dengan pernyataan Gus Sholah. Apa yang dikatakan Gus Sholah itu benar adanya.
NU dari dulu sampai sekarang memang dan harus memperjuangkan dan menegakkan syariat Islam. Bahkan tidak hanya NU saja, semua orang bahkan semua organisasi yang merasa Islam, WAJIB menegakkan syariat Islam. Ini adalah syarat dan rukun sebagai seorang muslim atau kelompok muslim.
NU semenjak dipimpin Hadratussyeikh sebagai Rais Akbar dengan KH Hasan Gipo sebagai Ketum (Tanfidziyah) PBNU, sampai zaman Gus Dur, Kiai Hasyim Muzadi dan Kiai Said Aqil tetap konsistem memperjuangkan dan menegakkan syariat Islam. Itu fakta nyata di depan mata yang tak terbantahkan. Jadi, apa yang diungkapkan Gus Sholah itu benar adanya.
NU dalam sidang BPUPKI sampai PPKI dengan wakilnya KH Wahid Hasyim ikut merumuskan dasar dan ideologi negara yaitu Pancasila. Pancasila "model lama" sila pertamanya berbunyi, "Ketuhanan dengan kewajiban melaksanakan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya". Karena satu dan lain hal akhirnya dirumuskanlah Pancasila "model baru" yaitu dengan menghapus tujuh kata "dengan kewajiban melaksanakan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya" diganti dengan redaksi sila pertama yang berbunyi, "Ketuhanan Yang Maha Esa", yang kesemuanya itu banyak campur tangan dari NU.
Mungkin ada yang bertanya, mengapa NU setuju bahkan "mengusulkan dan menyarankan" agar tujuh kata di atas dihapus? Jawabnya adalah karena itu STRATEGI DAKWAH. Kok bisa disebut strategi dakwah? Iya, karena saat itu jika redaksi sila pertama tetap dengan mencantumkan tujuh kata maka rakyat Indonesia Timur akan memisahkan diri dari NKRI. Ini fakta, bukan gertakan sambal dan bukan omong kosong.
Maka tim perumus dasar negara PPKI sowan ke kediaman Hadratussyeikh KH Hasyim Asyari untuk minta solusi terkait masalah pelik tersebut, yaitu penghapusan tujuh kata. Sampai sempat terjadi perdebebatan sengit sampai deadlock. Kemudian dari itu Hadratussyeikh memohon petunjuk dari Allah subhanahu wata'ala. Beliau sholat, wirid dan taqarrub memohon petunjuk bagaimana terkait Pancasila dan terkait penghapusan atau tidak. (Penjelasan terkait ini mungkin saya tulis pada kesempatan lain karena ceritanya cukup panjang).
Akhirnya diputuskan untuk menghapus tujuh kata dalam Pancasila dengan ittiba' perjanjian Rasulullah yang dikenal Piagam Madinah, yang mana ada komplain dari kaum kafir terkait redaksi perjanjian, yang akhirnya Rasul menuruti keinginan kaum kafir tersebut demi strategi dakwah.
Dengan rakyat Indonesia Timur tidak memisahkan diri dari Indonesia maka NU, dan ormas-ormas Islam lainnya akhirnya bisa dakwah di Indonesia Timur sampai sekarang. Seandainya Indoneia Timur berpisah dari Indonesia (seperti Timor Timur/Timor Leste) maka pasti tak mungkin bisa dakwah ke situ karena secara administrasi sudah luar negeri. Sehingga barokahnya Indonesia Timur tidak keluar dari NKRI, maka ada PWNU Papua, PWNU NTT, PWNU Bali, PWNU Maluku, PWNU Sulawesi dan sebagainya. Dan pasti tidak ada PWNU Timor Leste (Timor Timur) karena sudah memisahkan diri dari Indonesia. Pun juga ada PW Muhammadiyah wilayah Indonesia Timur, ada Alkhairat, ada DDI di Indonesia Timur, dan ormas-ormas Islam lainnya.
Disamping itu muslim yang berada di daerah minoritas Indonesia Timur tidak digencet pemerintahan setempat. Lain halnya jika seandainya Indonesia Timur pisah dari Indonesia maka nasib muslim di sama menjadi minoritas. Fakta menunjukkan nasib muslim minoritas seperti itu akan diperlakukan semena-mena, contoh Suku Kurdi, Rohingya, Uighur dan sebaginya. Dengan tetap wilayah mereka ikut Indonesia maka sama dengan menyelamatkan aqidahnya. Karena tidak menutup kemungkinan umat Islam yang berada di daerah minoritas akan dipaksa untuk murtad.
Itu adalah hikmah karena Indoensia Timur tidak memisahkan diri dari NKRI. Sekali lagi itulah yang dimaksud strategi dakwah. Jadi, mainsetnya seperti ini, LEBIH BAIK KEHILANGAN FIQIH DARI PADA KEHILANGAN AQIDAH. Bentuk khilafah, negara Islam atau Tujuh Kata, itu adalah ranah fiqih, wilayah ijtihadiyah. Sedangkan dengan tetap menjadi bagian NKRI hakikatnya adalah dakwah tauhid. Strategi ini harus dilaksanakan dengan cara menjaga Indonesia Timur untuk tetap satu dengan Indonesia.
Denga kata lain, jika kaku dalam memegang syariat Islam maka dakwah Islam justru tidak berkembang dengan baik di Indonesia. Untuk itulah perlunya cerdas dalam berdakwah. Dakwah perlu strategi, trik dan taktik. Begitu juga dengan penerimaan Pancasila. Itu adalah startegi dakwah yang sungguh cantik diterapkan NU. Dan akhirnya diikuti oleh ormas-ormas Islam lainnya.
Jadi tumpuan pikiran bukan pada formalis simbolis tujuh kata atau Pancasilanya tapi strategi, teknik, trik, taktik dan metoda dakwah yang cantik, smooth dan rahmatan lil alamin. Walau sexara syar'i Pancasila tidak bertentangan dengan Islam justru.menjadi wahana dalam membumikan Islam.
Kembali ke topik, jika yang dikatakan Gus Sholah bahwa sejak tahun 1984 NU menerima Pancasila memang iya. Lalu dalam video tersebut beliau berkata, "...itu perubahan yang terjadi...".
Terus masalahnya dimana? (pertanyan saya ini saya tujukan kepada orang-orang HTI yang memelintir pernyataan Gus Sholah). Gus Sholah memang mengucapkan kata ".... itulah peruahan yang terjadi". Aneh bin ajaibnya kalimat tersebut dimaknai orang-orang HTI seakan Gus Sholah menganggap penerimaan Pancasila adalah salah. Di sini terjadi pemelintiran pernyataan dan pemotongan redaksi Gus Sholah dalam video tersebut.
Maksud Gus Sholah dengan perkataan, ".... inilah yang terjadi" adalah dengan menerima Pancasila bukan tindakan negatif, tapi merupakan fakta sejarah bahwa semenjak tahun 1984 memang NU menerima Pancasila. Dan itu harus dilakukan NU karena demi starategi perjuangan dakwah di Indonesia agar NU tetap eksis dan bisa dakwah dengan baik di masyarakat maupun di pemerintahan.
Jika fikrah dan harakah NU kaku maka nasib NU akan seperti Masyumi yang dibubarkan pemerintah Orla. Kiranya harus jeli, ini bukan masalah oportunis, takut dibubarkan tapi sekali lagi ini strategi perjuangan. Jika NU sampai bubar maka ormas Islam rahmatan lil alamin di Indonesia akan sirna dan pastinya akan diisi oleh ormas yang beraliran Islam radikal. Jika sampai ini yang terjadi justru akan merusak Islam dan Indonesia ke depannya.
Jadi dari dulu sampai sekarang tujuan NU selalu konsisten dalam menegakkan dan melaksanakan syariat Islam, yang berbeda adalah strateginya. Dari Hadratussyeikh KH Hasyim Asyari, Gus Dur sampai Kiai Said tujuan utama memimpin NU adalah menegakkan syariat Islam, sebagaimana yang diungkapkan Gus Sholah di atas.
Lalu apa bedanya NU dengan HTI? Bedanya adalah:
1. NU dalam menegakkan syariat Islam pakai strategi dan cara yang cantik yang tak berbenturan dengan negara, sedangkan HTI selalu mengajak front terbuka dengan negara, sehingga wajar jika sampai dibubarkan.
2 NU dalam menegakkan syariat Islam dengan cara yang rahmatan lil alamin, sedangkan HTI dengan cara doktrin dan paksaan.
3. NU dalam menegakkan syariat Islam sangat smooth, halus, gayeng dalam memasukkan syariat ke dalam legislasi negara, sedangkan HTI dengan cara radikal.
4. Dalam NU tak ada kamus mengambil alih kekuasaan, apalagi makar, bughot atau memberontak. Sedangkan HTI ada kamus seperti itu.
5. NU dalam menegakkan syariat Islam tidak pakai sistem khilafah tapi konsisten dengan sistem NKRI, karena sistem di Indonesia itu islami. Sedangkan HTI pakai sistem khilafah, dan menganggap demokrasi sistem kufur, Pancasila toghut, lambang negara garuda sebagai berhala gepeng dan pemerintah dituduh anti Islam. Bahkan NU dituduh menjilat pemerintah.
6. NU mengutamakan penerapan syariah lewat perbaikan umat sambil dengan cantik mensyariatkan hukum-hukum negara. Sedangkan HTI memaksa merebut kekuasan negara, lalu dengan sudah terebutnya Indonesia, barulah syariat Islam dilaksanakan.
7. NU ormas keagamaan murni, bukan ormas politik praktis, sehingga gerakannya bernuansa fikih, gerakan berbasis nilai-nilai agama. Sedangkan HTI adalah organisai politik maka gerakannya bernunsa politik, yang ujung-ujungnya merebut kekuasaan. Karena politik adalah nafas sekaligus roh dari kekuasaan.
8. NU dalam memperjuangkan syariat Islam tidak dengan mempolitisasi agama, sedangkan HTI dengan mempolitisasi Islam.
9. NU dalam dakwahnya tidak ada settingan asing, sedangkan HTI diduga ada tangan asing yang bermain untuk memecah belah umat Islam.
10. NU gerakan Islam nasional, sedangkan HTI adaah gerakan Islam transnasional, yang mana pusatnya di London, Inggris.
11. Dan lain sebagainya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar