Rabu, 30 Mei 2018

KENAPA MEREKA BENCI KIAI SAID??

KENAPA MEREKA BENCI KIAI SAID??

Mencari orang ALIM itu sulitnya setengah mati. Dan lebih sulit lagi mencari orang ALIM plus BERANI.

Mencari orang alim saja banyak, tapi alim yang takut berhadapan dengan musuh, takut dibully, takut difitnah, takut diintimidasi dan takut-takut lainnya. Mencari orang berani saja banyak, tapi berani tanpa perhitungan, nekat tanpa siasat.
Mencari orang alim sekaligus pemberani itu sulit, sesulit mencari semut hitam di batu hitam pada saat gelap gulita. Dalam zaman now setidaknya ada 2, yaitu Gus Dur dan Kiai Said.

Mengapa Gus Dur dan Kiai Said terkesan banyak dimusuhi? Ya karena beraninya itu. Coba bandingkan dengan ulama-ulama alim yang "cari selamat", yang diam saat ada kedhaliman di depan mata, yang ikut arus saja, tentu tidak banyak musuhnya.

Tapi Gus Dur dan Kiai Said, sengaja pasang badan demi memperjuangkan sebuah kebenaran. Beliau berdua rela tak populer, rela difitnah, rela dinistakan demi memperjuangkan kebenaran yang diyakininya. Baik kebenaran dalam beragama (Islam) maupun kebenaran dalam bernegara (nasionalisme).

Beliau berdua berani berhadapan dengan penguasa jika berada pada jalan yang salah, berani berhadapan dengan perusak negara, perusak Islam dan para koruptor. Sehingga mereka yang terancam kepentingan busuknya pasti meradang dengan sepak terjang beliau berdua. Dan memang Kiai Said adalah anak ideologis, murid ideologis Gus Dur. Beliau berdua sama-sama ahli tasawuf dan seorang sufi, Gus Dur seorang "wali" dan Kiai Said seorang Guru Besar Ilmu Tasawuf di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya.

Jejak pendidikan Kiai Said begitu "sempurna", dari pesantren salafiah (kitab kuning) sampai universitas ultra kanan (al-Umm al-Qurra Mekkak), sebuah universitas berpaham wahabi. Dari santri pesantren "tradisional" sampai doktoral di bidang sejarah dan tasawuf, begitu "sempurna" hafalannya sehingga dijuluki kamus berjalan.

Spesialisasi beliau di bidang perdebatan, siapapun yang berdebat dengan beliau dijamin lumpuh argumennya. Namun tidak semua dilayani debat, hanya orang-orang tertentu yang pantas untuk diajak debat. Jika kroco-kroco sekelas taman kanak-kanak pasti diabaikan dan dilihat sambil senyum saja. Sayang energi digunakan untuk debat dengan orang yang tak paham agama yang hanya bermodal semangat tapi nol besar dalam memahami esensi dari agama itu sendiri. Pengalaman fenomenal, beliau berhasil menundukkan "nabi" palsu al-Mushodeq dengan diajak debat sampai berhari-hari sehingga sang "nabi" palsu tersungkur argumennya dan akhirnya bertaubat.

Karena pernah hidup puluhan tahun di negara wahabi, Arab Saudi, maka beliau paham betul "dapur" dan kelemahan wahabi khususnya dan gerakal Islam radikal lainnya, misalnya Ikhwanul Muslimin, yang berasal dari Timur Tengah. Karena paham betul adanya "udang di balik batu" dari gerakan wahabi, ikhwanul muslimin, hizbut tahrir dan gerakan radikal Islam lainnya maka di masa kepemimpinannya sebagai Ketum PBNU bertujuan melumpuhkan paham wahabi, ikhwanul muslimin, hizbut tahrir dan kelompok radikal lainnya di Indonesia khususnya dan secara umum di seluruh dunia.

Mengapa paham radikal tersebut perlu dikubur sedini mungkin? Karena jika dibiarkan, paham tersebut akan merusak Islam itu sendiri dan mencabik-cabik kesolidan NKRI.

Kiai Said tahu betul kelemahan wahabi dan kelompok Islam radikal lainnya karena pernah menjadi bagian dari kelompok tersebut. Dan disaat balik menyerang kelompok-kelompok tersebut maka mereka tak terima dengan gebrakan Sang Kiai. Sehingga dimunculkanlah fitnah-fitnah dan character assasination (pembunuhan karakter) beliau dengan tuduhan syiah, liberal, perusak NU dari dalam, munafik, pembela kafir, antek Cina dan deretan fitnah keji lainnya yang dilontarkan kelompok Islam radikal.

Pembelaan beliau yang sepertinya cenderung ke Jokowi, ke pemerintah, ke penguasa, bukan berarti beliau ulama penjilat, bukan berarti beliau dibayar dan bukan berarti beliau orangnya Jokowi dan fanatik. Hal ini terbukti bahwa ketika pilpres 2014 lalu beliau pendukung Prabowo, malahan sempat dicalonkan wapres mendampingi Prabowo walau beliau menolaknya. Dukungan beliau khususnya dan umumnya NU ke pemerintah itu tergantung kebijakan pemerintah tersebut dan bukannya karena telah digelontor sejumlah uang. Ketika kebijakan pemerintah sejalan dengan kepentingan umat dan rakyat maka akan didukung penuh dan sebaliknya ketiks kebijakan atau program pemerintah menyengsarakan umat dan rakyat maka akan dikritiknya, tentu dengan cara yang elegan bukan dengan cara bikin hoax, menjelek-jelekkan pemerintah dan menggembosi pemerintah.

Dukungan Kiai Said yang terkesan ke Jokowi bukan berarti beliau pendukung fanatik Jokowi tapi karena demi Islam dan Indonesia. Hsl ini disebabkan karena capres "yang itu" didukung penuh oleh kelompok Islam radikal. Hal ini sangat berbahaya bagi keberlangsungan Islam dan Indonesia. Jika mereka menang bisa dipastikan Indonesia akan di-Suriahkan, di ISIS kan dan liluh lantak bagai negara-negara Timur Tengah akibat ulah kelompok Islam radikal.

Jadi mereka yang memusuhi Kiai Said adalah orangnya itu-itu juga. Orang-orang tersebutlah yang memusuhi NU sampai menarget untuk membubarkan NU tahun 2025.

Orang-orang NU yang selama ini termakan hasudan kelompok pembenci Kiai Said haruslah segera sadar bahwa kalian sebenarnya dibenturkan dengan NU dan dijauhkan dari ulama NU dengan tujuan akhir NU ditinggalkan umatnya. Jika NU sudah ditinggalkan umatnya maka NU kropos dan mudah untuk dilenyapkan. Dengan bubarnya NU takkan lama Indonesia dikuasainya, karena penyokong utama Indonesia adalah NU. Barang siapa ingin menguasai Indonesia maka lumpuhkan dulu NU.

Namun mereka salah prediksi, kiranya itu mudah membubarkan NU. Mereka belum tahu bahwa NU itu layaknya per/pegas,semakin ditekan justru semakun kuat NU. Ya Jabbar Ya Qahhar. NU never die.

Salam Islam Nusantara

(Idwamul Ngula)


Wahabi menyusup di berbagai ormas untuk memfitnah NU

WAHABI penyesup di berbagai Ormas Indonesia untuk Mobilisasi & Memfitnah NU ... (Sayyid Seif Alwi Ba' Alawy) WAHABI Ahlul Fitnah Wal Gagabah, Suka Mendebat tapi tidak mau diajak berdebat & Tabayun. Meraka suka menyalah - nyalahkan, Membid'ahkan, Mensyirik - Syirikan dan suka memecah belah Umat yg awam.


Selasa, 29 Mei 2018

MENOLAK IDE KHILAFAH

MENOLAK IDE KHILAFAH
Oleh: Moh. Mahfud MD

"Buktikan bahwa sistem politik dan ketatanegaraan Islam itu tidak ada. Islam itu lengkap dan sempurna, semua diatur di dalamnya, termasuk khilafah sebagai sistem pemerintahan”. Pernyataan dengan nada agak marah itu diberondongkan kepada saya oleh seorang aktivis ormas Islam asal Blitar saat saya mengisi halaqah di dalam pertemuan Muhammadiyah se-Jawa Timur ketika saya masih menjadi ketua Mahkamah Konstitusi.

Saat itu, teman saya, Prof Zainuri yang juga dosen di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, mengundang saya untuk menjadi narasumber dalam forum tersebut dan saya diminta berbicara seputar ”Konstitusi bagi Umat Islam Indonesia”.

Pada saat itu saya mengatakan, umat Islam Indonesia harus menerima sistem politik dan ketatanegaraan Indonesia yang berdasar Pancasila dan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945. Sistem negara Pancasila yang berbasis pluralisme, Bhinneka Tunggal Ika, sudah kompatibel dengan realitas keberagaman dari bangsa Indonesia.

Saya mengatakan pula, di dalam sumber primer ajaran Islam, Al Quran dan Sunah Nabi Muhammad SAW, tidak ada ajaran sistem politik, ketatanegaraan, dan pemerintahan yang baku. Di dalam Islam memang ada ajaran hidup bernegara dan istilah khilafah, tetapi sistem dan strukturisasinya tidak diatur di dalam Al Quran dan Sunah, melainkan diserahkan kepada kaum Muslimin sesuai dengan tuntutan tempat dan zaman.

SISTEM NEGARA PANCASILA
Khilafah sebagai sistem pemerintahan adalah ciptaan manusia yang isinya bisa bermacam-macam dari waktu ke waktu dan dari tempat ke tempat. Di dalam Islam tidak ada sistem ketatanegaraan dan pemerintahan yang baku.

Umat Islam Indonesia boleh mempunyai sistem pemerintahan sesuai dengan kebutuhan dan realitas masyarakat Indonesia sendiri. Para ulama yang ikut mendirikan dan membangun Indonesia menyatakan, negara Pancasila merupakan pilihan final dan tidak bertentangan dengan syariah sehingga harus diterima sebagai mietsaaqon ghaliedzaa atau kesepakatan luhur bangsa.

Penjelasan saya yang seperti itulah yang memicu pernyataan aktivis ormas Islam dari Blitar itu dengan meminta saya untuk bertanggung jawab dan membuktikan bahwa di dalam sumber primer Islam tidak ada sistem politik dan ketatanegaraan. Atas pernyataannya itu, saya mengajukan pernyataan balik. Saya tak perlu membuktikan apa-apa bahwa sistem pemerintahan Islam seperti khilafah itu tidak ada yang baku karena memang tidak ada.

Justru yang harus membuktikan adalah orang yang mengatakan, ada sistem ketatanegaraan atau sistem politik yang baku dalam Islam. ”Kalau Saudara mengatakan bahwa ada sistem baku di dalam Islam, coba sekarang Saudara buktikan, bagaimana sistemnya dan di mana itu adanya,” kata saya.

Ternyata dia tidak bisa menunjuk bagaimana sistem khilafah yang baku itu. Kepadanya saya tegaskan lagi, tidak ada dalam sumber primer Islam sistem yang baku. Semua terserah pada umatnya sesuai dengan keadaan masyarakat dan perkembangan zaman.

Buktinya, di dunia Islam sendiri sistem pemerintahannya berbeda-beda. Ada yang memakai sistem mamlakah (kerajaan), ada yang memakai sistem emirat (keamiran), ada yang memakai sistem sulthaniyyah (kesultanan), ada yang memakai jumhuriyyah (republik), dan sebagainya.

Bahwa di kalangan kaum Muslimin sendiri implementasi sistem pemerintahan itu berbeda-beda sudahlah menjadi bukti nyata bahwa di dalam Islam tidak ada ajaran baku tentang khilafah. Istilah fikihnya, sudah ada ijma’ sukuti (persetujuan tanpa diumumkan) di kalangan para ulama bahwa sistem pemerintahan itu bisa dibuat sendiri-sendiri asal sesuai dengan maksud syar’i (maqaashid al sya’iy).

Kalaulah yang dimaksud sistem khilafah itu adalah sistem kekhalifahan yang banyak tumbuh setelah Nabi wafat, maka itu pun tidak ada sistemnya yang baku.

Di antara empat khalifah rasyidah atau Khulafa’ al-Rasyidin saja sistemnya juga berbeda-beda. Tampilnya Abu Bakar sebagai khalifah memakai cara pemilihan, Umar ibn Khaththab ditunjuk oleh Abu Bakar, Utsman ibn Affan dipilih oleh formatur beranggotakan enam orang yang dibentuk oleh Umar.

Begitu juga Ali ibn Abi Thalib yang keterpilihannya disusul dengan perpecahan yang melahirkan khilafah Bani Umayyah. Setelah Bani Umayyah lahir pula khilafah Bani Abbasiyah, khilafah Turki Utsmany (Ottoman) dan lain-lain yang juga berbeda-beda.

Yang mana sistem khilafah yang baku? Tidak ada, kan? Yang ada hanyalah produk ijtihad yang berbeda-beda dari waktu ke waktu dan dari tempat ke tempat. Ini berbeda dengan sistem negara Pancasila yang sudah baku sampai pada pelembagaannya. Ia merupakan produk ijtihad yang dibangun berdasar realitas masyarakat Indonesia yang majemuk, sama dengan ketika Nabi membangun Negara Madinah.

BERBAHAYA
Para pendukung sistem khilafah sering mengatakan, sistem negara Pancasila telah gagal membangun kesejahteraan dan keadilan. Kalau itu masalahnya, maka dari sejarah khilafah yang panjang dan beragam (sehingga tak jelas yang mana yang benar) itu banyak juga yang gagal dan malah kejam dan sewenang-wenang terhadap warganya sendiri.

Semua sistem khilafah, selain pernah melahirkan penguasa yang bagus, sering pula melahirkan pemerintah yang korup dan sewenang-wenang.  Kalaulah dikatakan bahwa di dalam sistem khilafah ada substansi ajaran moral dan etika pemerintahan yang tinggi, maka di dalam sistem Pancasila pun ada nilai-nilai moral dan etika yang luhur. Masalahnya, kan, soal implementasi saja. Yang penting sebenarnya adalah bagaimana kita mengimplementasikannya

Maaf, sejak Konferensi Internasional Hizbut Tahrir tanggal 12 Agustus 2007 di Jakarta yang menyatakan ”demokrasi haram” dan Hizbut Tahrir akan memperjuangkan berdirinya negara khilafah transnasional dari Asia Tenggara sampai Australia, saya mengatakan bahwa gerakan itu berbahaya bagi Indonesia. Kalau ide itu, misalnya, diterus-teruskan, yang terancam perpecahan bukan hanya bangsa Indonesia, melainkan juga di internal umat Islam sendiri.

Mengapa? Kalau ide khilafah diterima, di internal umat Islam sendiri akan muncul banyak alternatif yang tidak jelas karena tidak ada sistemnya yang baku berdasar Al Quran dan Sunah. Situasinya bisa saling klaim kebenaran dari ide khilafah yang berbeda-beda itu. Potensi kaos sangat besar di dalamnya.

Oleh karena itu, bersatu dalam keberagaman di dalam negara Pancasila yang sistemnya sudah jelas dituangkan di dalam konstitusi menjadi suatu keniscayaan bagi bangsa Indonesia. Ini yang harus diperkokoh sebagai  mietsaaqon ghaliedzaa (kesepakatan luhur) seluruh bangsa Indonesia. Para ulama dan intelektual Muslim Indonesia sudah lama menyimpulkan demikian.

MOH MAHFUD MD
Ketua Umum Asosiasi Pengajar Hukum Tata Negara dan Hukum Administrasi Negara (APHTN-HAN); Ketua Mahkamah Konstitusi RI Periode 2008-2013.


Selasa, 22 Mei 2018

TERORIS TERBAGI DUA


SATU TERORIS LAPANGAN
DUA TERORIS MEDSOS

Tidak semua teroris menjadi eksekutor bom bunuh diri di lapangan. Teroris ada juga yang bekerja di medsos. Ciri-ciri teroris yang bekerja di medsos ciri-cirinya yaitu :
.
1. Mengatakan bahwa kejadian terorisme yang menelan banyak korban tersebut sebagai settingan, drama, atau rekayasa. Ini dilakukan agar masyarakat tidak berisimpati terhadap hilangnya nyawa korban.
.
2. Mengalihfokuskan berita korban jiwa akibat terorisme dengan berita lain yang tak ada sangkut pautnya. Tujuannya agar masyarakat lupa dengan kekejaman teroris.
.
3. Menggunakan kata-kata melecehkan buat menggambarkan keadaan korban. Ini memang sesuai tabiat para teroris yaitu senang bila melihat korbannya tersiksa.
.
4. Suka menyalahkan aparat hukum bila terjadi tindakan terorisme. Padahal aparat hukum adalah garda terdepan membendung tindakan teroris. Tapi oleh para teroris medsos keadaannya diputarbalik. Teroris pengebom bunuh diri dianggap korban konspirasi, sedangkan aparatlah yang menjadi sutradara terorismenya.
.
5. Suka mencaci pemerintah dengan istilah-istilah "tak enak" keagamaan. Misal pemerintah dituduh anti islam, thoghut, musuh Allah, pelaku bid'ah, penegak sistem kufur, dan sebagainya. Ini bertujuan membangkitkan aroma kebencian rakyat dengan pemerintah. Padahal akar terorisme adalah kebencian. Ingat, teroris hanya mau membunuh sesuatu yang dibencinya.
.
Ciri yang lain tentu masih ada. Tapi sementara 5 ini dirasa cukup bagi kita untuk mengenal siapa teroris medsos itu.
.
Apakah anda memiliki teman medsos yang suka melakukan 5 point di atas ? Pastikan dia adalah teroris atau minimal simpatisan teroris. *Waspadalah terhadap orang semacam ini*.

Senin, 21 Mei 2018

KENAPA HABIB LUTHFI BIN YAHYA FANATIK KEPADA NU? INI JAWABANNYA



Oleh: Maulana Habib Luthfi bin Yahya

Dulu saya sering duduk di rumahnya Kyai Abdul Fattah, untuk mengaji. Di situ ada seorang wali, namanya Kyai Irfan Kertijayan. Kyai Irfan adalah sosok yang nampak hapal keseluruhan kitab Ihya Ulumiddin, karena kecintaannya yang mendalam pada kitab tersebut. Setiap kali ketemu saya beliau pasti memandangi dan lalu menangis. Di situ ada Kyai Abdul Fattah dan Kyai Abdul Adzim.

Lama-kelamaan akhirnya beliau bertanya, “Bib, saya mau bertanya. Cara dan gaya berpakaian Anda kok sukanya sarung putih, baju dan kopyah putih, persis guru saya.”

“Siapa Kyai?” jawabku.

“Habib Hasyim bin Umar,” Jawab Kyai Irfan.

Saya mau ngaku cucunya tapi kok masih seperti ini, belum menjadi orang yang baik, batinku dalam hati. Mau mengingkari/berbohong tapi kenyataannya memang benar saya adalah cucunya Habib Hasyim. Akhirnya Kyai Abdul Adzim dan Kyai Abdul Fattah yang menjawab, “Lha beliau itu cucunya.”

Lalu Kyai Irfan merangkul dan menciumiku sembari menangis hebat saking gembiranya. Kemudian beliau berkata, “Mumpung saya masih hidup, saya mau cerita Bib. Tolong ditulis.”

“Cerita apa Kyai?” jawabku.

“Begini,” kata Kyai Irfan mengawali ceritanya. Mbah Kyai Hasyim Asy’ari setelah beristikharah, bertanya kepada Kyai Kholil Bangkalan, bermula dengan mendirikan Nahdlatut Tujjar dan Nahdlah-nahdlah yang lainnya, beliau merasa kebingungan. Hingga akhirnya beliau ke Mekkah untuk beristikharah di Masjidil Haram. Di sana kemudian beliau mendapat penjelasan dari Kyai Mahfudz at-Turmusi dan Syaikh Ahmad Nahrawi, ulama Jawa yang sangat alim. Kitab-kitab di Mekkah kalau belum di-tahqiq atau ditandatangani oleh Kyai Ahmad Nahrawi maka kitab tersebut tidak akan berani dicetak. Itu pada masa Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, mufti Mekkah pada waktu itu.

Syaikh Mahfudz at-Turmusi dan Syaikh Ahmad Nahrawi dawuh kepada Kyai Hasyim Asy’ari, “Kamu pulang saja. Ini alamat/pertanda NU bisa berdiri hanya dengan dua orang. Pertama Habib Hasyim bin Umar Bin Yahya Pekalongan, dan kedua Kyai Ahmad Kholil Bangkalan (Madura).”

Maka Kyai Hasyim Asy’ari pun segera bergegas untuk pamit pulang kembali ke Indonesia. Beliau bersama Kyai Asnawi Kudus, Kyai Yasin dan kyai-kyai lainnya langsung menuju ke Simbang Pekalongan untuk bertemu Kyai Muhammad Amir dengan diantar oleh Kyai Irfan dan kemudian langsung diajak bersama menuju kediaman Habib Hasyim bin Umar.

Baru saja sampai di kediaman, Habib Hasyim langsung berkata, “Saya ridha. Segeralah buatkan wadah Ahlussunnah wal Jama’ah. Ya Kyai Hasyim, dirikan, namanya sesuai dengan apa yang diangan-angankan olehmu, Nahdlatul Ulama. Tapi tolong, namaku jangan ditulis.” Jawaban terakhir ini karena wujud ketawadhuan Habib Hasyim.

Kemudian Kyai Hasyim Asy’ari meminta balagh (penyampaian ilmu) kepada Habib Hasyim, “Bib, saya ikut ngaji bab hadits di sini. Sebab Panjenengan punya sanad-sanad yang luar biasa.” Makanya Kyai Hasyim Asy’ari tiap Kamis Wage pasti di Pekalongan bersama Hamengkubuwono ke sembelian yang waktu itu bernama Darojatun, mengaji bersama. Jadi Sultan Hamengkubowono IX itu bukan orang bodoh, beliau orang yang alim dan ahli thariqah.

Setelah dari Pekalongan Kyai Hasyim Asy’ari menuju ke Bangkalan Madura untuk bertemu Kyai Ahmad Kholil Bangkalan. Namun baru saja Kyai Hasyim Asy’ari tiba di halaman depan rumah Kyai Kholil sudah mencegatnya seraya dawuh, “Keputusanku sama seperti Habib Hasyim!” Lha ini dua orang kok bisa kontak-kontakan padahal Pekalongan-Madura dan waktu itu belum ada handphone. Inilah hebatnya.

Akhirnya berdirilah Nahdlatul Ulama. Dan Muktamar NU ke-5 ditempatkan di Pekalongan sebab hormat kepada Habib Hasyim bin Umar. Jadi jika dikatakan Habib Luthfi kenceng (fanatik) kepada NU, karena merasa punya tanggungjawab kepada Nahdlatul Ulama dan semua habaib. Dan ternyata cerita ini disaksikan bukan hanya oleh Kyai Irfan, tapi juga oleh Habib Abdullah Faqih Alattas, ulama yang sangat ahli ilmu fiqih.

Maka dari itu Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib Alattas dengan Habib Hasyim Bin Yahya tidak bisa terpisahkan. Kalau ada tamu ke Habib Hasyim, pasti disuruh sowan (menghadap) dulu kepada yang lebih sepuh yakni Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib Alattas. Dan jika tamu tersebut sampai ke Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib maka akan ditanya, “Kamu suka atau tidak kepada adikku Habib Hasyim bin Umar?” dengan maksud agar sowannya ke Habib Hasyim saja. Itulah ulama memberikan contoh kepada kita tidak perlunya saling berebut dan sikut, tapi selalu kompak dan rukun.

Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib Alattas wafat tahun 1347 Hijriyah bulan Rajab tanggal 14, dan haulnya dilaksanakan tanggal 14 Sya’ban. Tiga tahun setelahnya, tahun 1350 Hijriyah, Habib Hasyim bin Umar Bin Yahya wafat. Setahun kemudian (1351 H) adalah wafatnya Habib Abdullah bin Muhsin Alattas Bogor. Waktu itu banyak para ulama besar seperti Mbah Kyai Adam Krapyak dan Kyai Ubaidah, merupakan para wali Allah dan samudera keilmuan.

(Dokumentasi ceramah Habib Luthfi Bin Yahya pada Haul Pakisputih Kedungwuni Pekalongan: https://youtu.be/7d_TsdSBVvE. Dialihbahasakan oleh Syaroni As-Samfuriy).

NU Difitnah, Gus Yahya: Sumbernya dari Mana?

YOGYAKARTA. NU kembali difitnah. Musuh-musuh NU tiada hentinya menyebarkan fitnah agar NU buruk di mata umat, terkhusus di mata warga nahdliyin. Ramai diperbincangkan di media sosial twitter bahwa NU menerima dana 2 triliun rupiah dari AS terkait terorisme dengan niat terselubung. Adalah akun twitter @Hulk_Idn yang pertama kali menyebarkan fitnah tersebut.

“Baru saja informasi intelejen masuk lewat telegram. Saat ini NU bekerja sama dengan AS dalam rangka terorisme di Indonesia. Pihak AS akan gelontorkan dana 2 triliunan ke pimpinan NU untuk menangkal terorisme. Tentu ini ada niatan terselubung,” demikian tulis akun @Hulk_Idn pada Sabtu (19/05/2018)

Fitnah tersebut dihembuskan dua hari setelah Katib Aam PBNU KH. Yahya Cholil Staquf bertemu dengan Wakil Presiden AS Mike Pence di Gedung Putih, Kamis (17/05/2018). The Christian Post seperti yang dilansir NU Onlinemenulis bahwa pertemuan di Gedung Putih pada Kamis Sore itu merupakan bentuk solidaritas serta penegasan komitmen kebebasan beragama dan hidup berdampingan secara damai. Dialog berkisar soal promosi perdamaian dan komitmen bersama memerangi ekstremisme.

Jadi jelas, tidak ada niat terselubung apalagi ada gelontoran dana sebesar 2 triliun rupiah dari AS ke NU.

Menanggapi fitnah tersebut, Katib Aam PBNU KH. Yahya Cholil Staquf menulis di akun Facebooknya, Senin (21/05), dengan mempertanyakan sumber fitnah tersebut. Ia juga mempertanyakan kepada wartawan mengapa menindak lanjuti informasi dari sumber yang tidak jelas. Berikut ini, tulisan singkat Gus Yahya menanggapi fitnah ke NU

“Sumbernya dari mana?”

“Ada yang ngetwit begitu”.

“Yang ngetwit siapa?”

“Ya nggak tahu tapi rame di twitter”.

“Lha wong info dari akun nggak jelas kok sampeyan follo ap? Sampeyan ini wartawan cap apa?”

“Soalnya sudah viral…”

“Mau viral mau enggak! Saya ini manusia jelas identitas jelas jabatan jelas, masak nanggapi akun nggak jelas? Kalau saya bikin akun bodong terus ngetwit: Jokowi kencing di genteng, masak iya Presiden harus nanggapi?”

Menurutku, dunia pers kita harus melakukan sesuatu supaya jurnalisme tidak menjadi ajang konyol-konyolan.


Minggu, 20 Mei 2018

Obral surga oleh para kaum Radikal

Hari-hari ini kita melihat surga seolah-olah diobral, dijajakan dengan cara-cara yang tidak manusiawi dan miskin adab. Di tempat-tempat ibadah, di majelis taklim, di kampus-kampus, di lapangan bahkan di jalan-jalan surga ditawarkan dengan hasutan yang penuh kebencian dan kemarahan. Mulai dengan cara teriak di mimbar sampai bisik-bisik di balik dinding liqa' dan kamar batin yang senyap.

Berbeda dengan para ulama dahulu yang menawarkan surga dengan cara santun, simpatik, penuh hikmah dan akhlakul karimah. Memandang umat dan sesama manusia dengan tatapan mata penuh kasih (yandhuru ummah bil aini rahmah). Sehingga membuat wajah Islam menjadi sangat simpatik dan menarik. Pancaran keindahan surga bisa dirasakan siapa saja saat masih di dunia. Sebagaimana tercermin dalam kehidupan sosial yang damai, tenteram, bahagia, dan welas asih pada sesama.

Kini cara-cara menawarkan surga dengan akhlakul karimah seperti itu sudah hampir hilang. Tak perlu lama-lama mengaji pada para kiai. Tak perlu menunggu ajal menjemput. Surga bisa dimonopoli dan diperoleh dengan jalan pintas melakukan bom bunuh diri. Kapling surga seolah bisa dibeli dengan semangat membenci.

Semakin membenci dan menista kelompok yang berbeda, maka pintu surga akan semakin terbuka lebar dan terlihat nyata. Demi mendapat surga secara cepat dan instan mereka harus memandang manusia yang berbeda keyakinan dengan rasa marah dan benci (yandhuru ummah bil aini ghadlab).

Cara-cara inilah yang membuat manusia menjadi gelap mata dan gelap pikir. Jangankan membenci, memfitnah dan caci maki, demi secepatnya mendapat surga, mereka tega mengorbankan nyawa siapa saja, termasuk nyawa keluarga bahkan nyawanya sendiri. Di sini surga seolah hanya ditukar dengan nyawa dan sikap membenci pada kaum kafir yaitu kelompok lain yang berbeda dengan keyakinanya.

Amal shalih yang berarti berbuat baik pada sesama, beribadah pada Tuhan dengan menjaga perdamaian dan menciptakan tata kehidupan yang lebih baik tidak lagi lagi diperlukan. Selain dianggap bisa merusak kemurnian Islam, sikap tersebut juga dianggap bisa mengurangi semangat perjuangan membela Islam.

Obral surga dengan cara menanamkan kebencian inilah yang kami sebut dengan "teologi kebencian" yaitu sikap membenci dan menghancurkan kelompok lain yang berbeda (kafir) sebagai ekspresi spirit keagamaan dan ketuhanan. Teologi kebencian inilah yang menyebabkan tumbuh suburnya teroris.

Ini terjadi karena ukuran keimanan seseorang hanya dilihat dari sejauh mana dia bisa membenci dan menghacurkan kelompok lain yg dianggap kafir. Semakin mereka bisa membenci orang kafir, yaitu orang yang berbeda keyakinan dengan mereka, maka akan semakin dianggap kaffah Islamnya.

Yang lebih parah adalah munculnya keyakinan, semakin banyak mengorbankan nyawa orang kafir akan semakin dekat dengan surga. Siapa yang berani mengorbankan nyawa akan semakin cepat mendapatkan surga. Di sini seolah-olah surga harus dibeli dengan nyawa dan spirit kebencian.

Virus teologi kebencian ini sama bahayanya dengan narkoba karena sama-sama memiliki daya rusak yang dahsyat, baik secara individual maupun sosial. Manusia yang terpapar virus ini akan kehilangan akal sehat dan nurani. Mereka bisa menjadi mesin pembunuh yang tega melakukan apa saja demi memperoleh kenikmatan surga yang dijanjikan. Ini seperti orang yang kecanduan narkoba yang tega melakukan apa saja demi memperoleh kenikmatan narkoba.

Sebagaimana narkoba, virus teologi kebencian ini bisa menyerang siapa saja dan dari kelas sosial apa saja. Tidak hanya kelas bawah dengan ekonomi lemah, tetapi juga kelas menengah atas dengan derajad pendidikan tinggi bahkan kelas eksekutif yang sudah mapan secara ekomi.

Setinggi apapun pendidikan dan secerdas apapun akal jika sudah terkena virus ini semua akan lumpuh dan hancur. Mejadi manusia yang hilang akal dan tuna rasa. Jika narkoba lebih banyak menyerang kaum non-agamis, virus ini justru mudah masuk di kalangan agamis dan bisa menembus kalangan non-agamis.

Virus ini jelas lebih berbahaya dari narkoba, karena penyebarannya lebih masif. Kalau bandar narkoba, melakukan penyebaran secara sembunyi karena dia menjadi musuh semua orang. Tapi penyebaran virus teologi kebencian dilakukan secara terbuka dan agresif.

Ini terjadi karena mereka menggunakan topeng agama, sehingga yang melawan dan melarang akan dengan mudah dicap sebagai penentang agama, kriminalisasi ulama dan sejinisnya. Inilah yang membuat aparat gamang menidak mereka dan masyarakat awam jengah mengjadapi ulah para agen dan "distributor" teologi kebencian ini.

Melihat dahsyatnya daya rusak virus teologi kebencian dan maraknya penyebarannya yang masif, maka perlu ada kesadaran semua pihak dan seluruh warga bangsa untuk menganggap virus ini sebagai musuh bersama dan bertindak secara tegas untuk memberantasnya. Jika tidak demikian, bukan tidak mungkin kita sdh berada di antrean menunggu giliran menjadi korban berikutnya.

Al-Zastrouw Ngatawi.
Penulis adalah pegiat budaya, dosen Pascasarjana UNUSIA Jakarta

Sumber:
https://www.facebook.com/SuaraNahdhliyyin/