Selasa, 30 Oktober 2018

Panggilan "JIhad", Kali Ini ke Poso

Panggilan "JIhad", Kali Ini ke Poso

Oleh: Dina Sulaeman

Beberapa hari yang lalu, akun Syria News memposting foto orang ini, diberi caption (ini terjemahannya):  "Abu Walid Indonesian (Mohamed Karim Fayez). Saat ini dia adalah Emir ISIS di Indonesia timur. Note: Tangannya berlumuran darah warga Suriah dan Irak."

Baru saja saya menemukan poster ini, sumber dari akun Twitter TRACterrorism.org. Poster ini berbahasa Inggris, "Join us in Poso region" (bergabunglah dengan kami di Poso). Lalu ada kutipan ayat Quran tanpa terjemahan. Artinya: seruan ini adalah untuk orang-orang di luar sana yang berbahasa Inggris dan Arab.

Bila sebelumnya orang-orang radikal dari berbagai negara diseru untuk "berjihad" ke Suriah dan Irak, kini mereka diseru untuk datang ke Poso.

Orang biasa seperti kita, tidak bisa berbuat apa-apa. Ini tugas pemerintah, TNI, Polri. Semoga saja mereka bisa melindungi kita warga sipil Indonesia dan NKRI. Untuk deradikalisasi (menyembuhkan orang-orang yang sudah terlanjur teradikalisasi) juga perlu ilmu khusus.

Yang bisa kita lakukan adalah mencegah agar anak-anak kita dan anak-anak di sekitar kita tidak tertular virus radikalisme.

Caranya:

Pertama, ajarkan kepada anak-anak bahwa Islam adalah ajaran yang welas asih. Nabi Muhammad adalah Nabi yang sangat welas asih. Kalaupun beliau berperang, selalu atas dasar alasan yang valid (bukan tuduhan membabi-buta) dan dengan etika perang yang ketat (bukannya membantai rakyat sipil secara membabi-buta dengan bom bunuh diri).

Kedua, waspadai pemakaian internet anak-anak. Saya menemukan kasus seorang remaja putri yang amat pintar tapi dibiarkan oleh ortunya berselancar sendirian di dunia maya, akhirnya menjadi sangat radikal. Dia bahkan punya keinginan membunuh tokoh-tokoh yang dia benci (antara lain: Bashar Assad dan Ayatullah Khamenei). Seorang teman menceritakan bahwa grup WA keponakannya (masih SMP, di sekolah Islam), sudah biasa menyebarkan foto-foto kepala terpenggal dan ujaran-ujaran kebencian.

Ketiga, mulailah dari diri sendiri. Jangan menyebarkan kebencian pada sesama manusia, karena akar radikalisasi adalah kebencian kepada orang yang dianggap kafir; atau takfirisme [suka mengkafirkan orang lain dan di tahap selanjutnya: menghalalkan darah orang yang dianggap kafir].

Atau, kalau ditemukan ada akun-akun yang secara provokatif menunjukkan kesesatan (misal, ada akun mengaku Syiah dan menyuarakan hal-hal yang jelas-jelas sesat), jangan langsung terpengaruh. Atau tokoh tertentu dikatai PKI atau antek China. Dll. Sangat mungkin akun-akun itu memang berupaya mengadu domba, atau info yang disebar memang rekayasa/hoax.

Saya pernah menemukan seorang ibu menshare sebuah video sambil meratap-ratap, katanya "orang Suriah dipaksa menyembah Assad". Saat saya klik videonya, isinya hanya seseorang yang sedang bicara kesana-kemari, sama sekali tidak terkait dengan 'penyembahan'. Si ibu hanya menshare tanpa menonton.

Keempat: beranikan diri melawan. Bukan saatnya lagi untuk diam. Bila ada orang (ustazah sekalipun) yang men-share berita fitnah, proteslah. Jangan ragu mengkonter berita negatif di grup-grup WA. Bantah saja dengan santun. Niatkan untuk melindungi orang-orang yang belum teradikalisasi (bukan diniatkan menyadarkan orang yg sudah terlanjur; seperti saya bilang, mereka sudah sulit ditembus, perlu ilmu khusus).

Dibully? Apa ruginya? Lebih baik dibully daripada negeri ini dilanda perang seperti Suriah.

Ingatlah selalu bahwa media sosial adalah alat utama para teroris dalam melakukan radikalisasi. Artinya, kita harus melawannya pun lewat media sosial. Lawanlah konten negatif yang mereka sebarkan, dengan konten positif dari kita, sebanyak-banyaknya.


Sabtu, 27 Oktober 2018

Kanker Ganas itu Bernama HTI



Peristiwa pembakaran bendera HTI di Garut dikapitalisasi oleh kelompok HTI. Meski organisasi anti-demokrasi ini sudah resmi dibubarkan. Namun, orang-orang yang berada di dalamnya terus melakukan upaya untuk menancapkan kukunya di negeri ini. Teranyar, HTI gencar melakukan provokasi dan agitasi bahwa, bendera yang dibakar adalah bendera tauhid.

HTI layaknya kanker atau tumor yang dapat mebahayakan Indonesia. Aksi dan kampanye HTI selalu mnengarah pada adu domba dan merongrong ideologi bangsa. Gerakan HTI sangat mengkhawatirkan. HTI mencederai kesakralan Hari Santri dengan menyusup ke dalam upacara resmi. Padahal, panitia tegas melarang bendera apa pun dikibarkan pada acara itu. Si penyusuplah yang melakukan provokasi dengan mengibar-ngibarkan bendera HTI.

Peristiwa itu pun digoreng HTI. Banyak masyarakat terprovokasi. Karena HTI membangun narasi bahwa yang dibakar adalah bendera tauhid. Padahal itu adalah bendera HTI. Konyolnya, HTI membantah itu benderanya. Jejak digital membuktikan, bendera itulah yang kerap digunakan HTI. Inilah skenario dan framing busuk ala HTI.

HTI menggiring opini bahwa yang dibakar bendera tauhid. Memantik sentimen sensitif anak bangsa agar bertikai. Menggembar-gemborkan aksi bela tauhid padahal sebenarnya aksi bela HTI. HTI saat ini sedang meminkan politik licik dan picik. Memanfaatkan situasi politik. Mengotori Hari Santri untuk mengacaukan ibu pertiwi. Jangan tertipu HTI!


Kamis, 25 Oktober 2018

AKHLAK DAN HIZBUL HOAKS INDONESIA

*AKHLAK DAN HIZBUL HOAKS INDONESIA*

Oleh _Ayik Heriansyah_

NU sebagai kekuatan sipil terbesar di Indonesia berada di garda terdepan menjaga NKRI. Harus diakui sejak republik ini berdiri, NU masih bersih dari segala macam kegiatan yang menganggu eksistensi negara. Dalam keadaan suka duka NU selalu bersama Indonesia secara lahir dan batin.

Wajar jika pemerintah dan rakyat Indonesia menaruh kepercayaan penuh kepada NU ketika gerakan kaum radikal mulai menggeliat sejak 20 tahun yang lalu. Dari waktu ke waktu, mereka semakin menampakkan diri bertujuan mengubah NKRI menjadi negara khilafah. Untuk mengamankan negara, pemerintah  pun membubarkan organisasi pengusung paham itu, Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), melalui Perppu Ormas yang kemudian disahkan menjadi UU Ormas oleh DPR.

Logis jika NU, GP Ansor dan Banser menjadi sasaran kemarahan selepas dicabutnya badan hukum mereka oleh pemerintah, dalam hal ini Kemenkumham; dengan memanfaatkan blog dan media sosial, berbagai berita hoaks, meme bernada pelecehan, potongan video yang tendensius, serta opini-opini lepas tanpa peduli benar atau salah, yang penting viral.

Di sisi lain, reaksi GP Ansor dan Banser terhadap HTI, jadi dalih penghalang “dakwah”. Itu merupakan pintu propaganda masif agar terjadi pelemahan jama’ah dan jam’iyah. Tak hanya itu, untuk menciptakan aura kebencian kalangan umat Islam yang lain terhadap NU, GP Ansor dan Banser. Awalnya sempat terjadi kontraksi kecil di internal jama’ah NU, tapi tampaknya makin lama, mulai paham dan sadar ada niat busuk di balik share-sharean mereka di dunia maya.

Alhamdulillah warga NU cepat kembali ke kiainya setelah sempat sebentar geger dan gagap dibombardir konten hoaks mereka.

Selama ini HTI mencitrakan dirinya sebagai kelompok politik intelektual, santun dan tanpa kekerasan. Bagi mereka, bahwa akhlak bagian dari syariat Islam. Bahkan ada satu kitab khusus berisi kumpulan ayat dan hadits tentang akhlak dalam rangka memperkokoh nafsiyah para anggotanya yaitu kitab Min Muqawwimat Nafsiyah Islamiyah (Pilar-pilar Pengokoh Nafsiyah Islamiyah).

Di sisi lain pendapat HTI tentang akhlak terkait dakwah dan kebangkitan umat Islam sangat minor. Terkesan mengabaikan akhlak. Di bab terakhir kitab Nizhamul Islam membahas akhlak. Di bab tersebut Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani mengatakan: akhlak tidak mempengaruhi secara langsung tegaknya suatu masyarakat. Masyarakat tegak dengan peraturanperaturan hidup dan dipengaruhi oleh perasaan-perasaan dan pemikiran-pemikiran. Akhlak tidak mempengaruhi tegaknya suatu masyarakat, baik kebangkitan maupun kejatuhannya. Yang mempengaruhinya adalah opini (kesepakatan) umum yang lahir dari persepsi tentang hidup. Disamping itu yang menggerakkan masyarakat bukanlah akhlak, melainkan peraturan-peraturan yang diterapkan di tengah-tengah masyarakat itu, pemikiran-pemikiran, dan perasaan yang melekat pada masyarakat tersebut. Akhlak sendiri adalah produk berbagai pemikiran, perasaan, dan hasil penerapan peraturan.

Atas dasar inilah, maka tidak diperbolehkan dakwah hanya diarahkan pada pembentukan akhlak dalam masyarakat. Sebab akhlak merupakan hasil dari pelaksanaan perintah- perintah Allah SWT yang dapat dibentuk dengan cara mengajak masyarakat kepada akidah dan melaksanakan Islam secara sempurna.

Disamping itu, mengajak masyarakat pada akhlak semata, dapat memutarbalikkan persepsi Islam tentang kehidupan dan dapat menjauhkan manusia dari pemahaman yang benar tentang hakikat dan bentuk masyarakat. Bahkan dapat membius manusia dengan hanya mengerjakan keutamaan amal-amal yang bersifat individual. Hal ini mengakibatkan kelalaian terhadap langkah-langkah yang benar menuju kemajuan hidup. Dengan demikian sangat berbahaya mengarahkan dakwah Islamiyah hanya pada pembentukan akhlak saja. Hal itu memunculkan anggapan bahwa dakwah Islam adalah dakwah untuk akhlak saja. Cara seperti ini dapat mengaburkan gambaran utuh tentang Islam dan menghalangi pemahaman manusia terhadap Islam. Lebih dari itu dapat menjauhkan masyarakat dari satu-satunya metode dakwah yang dapat menghasilkan penerapan Islam, yaitu tegaknya Daulah Islamiyah. (Nizhamul Islam, terj, 2007: 197-198)

Di kitab at-Takattul Hizbi, Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani juga mengkritik organisasi-organisasi yang mendakwahkan Islam, di samping berbagai organisasi pendidikan dan social tersebut, berdiri pula organisasi berdasarkan akhlak yang berusaha membangkitkan umat atas dasar akhlak melalui nasihat-nasihat, bimbingan-bimbingan, pidato-pidato, dan selebaran-selebaran, dengan suatu anggapan bahwa akhlak adalah dasar kebangkitan. Organisasi-organisasi ini telah mencurahkan tenaga dan dana yang tidak sedikit, namun tidak mendatangkan hasil yang berarti. Perasaan umat tersalur melalui pembicaraan-pembicaraan yang membosankan yang diulang-ulang tanpa arti. (at-Takattul Hizbi, terj: 2001: 25).

Dari pemikiran Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani di atas sebenarnya HTI tidak melepaskan akhlak secara mutlak. Akhlak sebatas urusan seorang individu terhadap dirinya sendiri. Maksudnya akhlak masalah privat bukan politik. Di ranah politik, akhlak dikesampingkan sebab dalam proses politik menuju tegaknya khilafah, HTI berpedoman pada metode dakwah yang mereka adopsi yang diyakini berasal dari metode dakwah Nabi SAW. Tahap yang krusial bagi eks-HTI dalam metode dakwah mereka adalah fase tafa’ul ma’a ummah (berinteraksi dengan umat). Di fase ini eks-HTI melancarkan shira’ul fikri (konfrontasi pemikiran) dan gencar melakukan aktivitas kifahu siyasi (perjuangan politik).

Pelanggaran akhlak islami sering kali terjadi pada dua aktivitas ini. Untuk memenangkan konfrontasi pemikiran, eks-HTI tidak segan-segan memanipulasi makna kitab turats (kitab kuning). Contohnya makna khilafah itu sendiri. Eks-HTI mengutip qaul ulama berbagai mazhab tentang khilafah yang bermakna umum (general) kemudian oleh eks-HTI keumuman makna khilafah ditimpali/ditahrif menjadi makna khusus menjadi lebih spesisfik dengan makna khilafah yang mereka maksud dan mereka perjuangkan.

Khilafah yang ada dalam benak eks-HTI adalah kepemimpinan umat yang dipegang oleh Amir Hizbut Tahrir dalam naungan negara yang mengadopi kontitusi yang disusun oleh Amir Hizbut Tahrir. Tentu saja makna khilafah seperti ini bukan yang dimaksud oleh para ulama salaf dan khalaf di kitab-kitab mereka. Para ulama membiarkan keumuman makna khilafah, sehingga bentuk kepemimpinan, negara dan pemerintahan yang tercakup dalam keumuman makna ini, dianggap Khilafa secara syar’i. NKRI salah satunya.

Dengan demikian, sebenarnya umat Islam tidak pernah kosong dari khilafah sejak dibaiatnya Abu Bakar al-Shiddiq sebagai khalifah sampai dilantiknya Presiden Jokowi. Keadaan vacuum of khilafah tidak pernah terjadi pasca runtuhnya Khilafah Turki Utsmani 3 Maret 1924 sebagaimana yang diyakini oleh HTI.

Adapun titik rawan pelanggaran akhlak islami oleh eks-HTI ketika melakukan aktivitas perjuangan politik yaitu aksi membongkar strategi (kasyful khuththath). Kasyful khuththath merupakan aktivitas politik eks-HTI dalam membongkar, menyingkap lalu membongkar ke publik strategi dan rencana penguasa yang mereka vonis sebagai antek-antek negara asing. Tujuan aksi ini untuk memutus kepercayaan publik terhadap pemerintah (dharbu ‘alaqah baina ummah wa hukkam).

Untuk mendapatkan informasi seputar strategi dan rencana penguasa, eks-HTI melakukan kegiatan mata-mata (intelijen) amatiran. Informasi-informasi mereka kumpulkan dari berbagai sumber baik yang terbuka umum seperti media massa, media online dan media sosial maupun sumber-sumber tertutup dari kegiatan silaturahmi mereka dengan para ulama, pejabat, birokrat, akademisi, dan lain-lain yang mayoritas beragaman Islam.

Padahal aktivitas memata-matai mereka sangat dilarang oleh akhlak islami. Tajassus kepada sesama muslim perbuatan yang tidak diragukan lagi keharamannya. Seringkali eks-HTI ceroboh dalam menilai kegiatan seorang Muslim yang jadi pejabat, antara perbuatan pribadi atau sebagai pejabat sehingga yang terjadi justru aksi bongkar aib pribadi yang dilakukan eks-HTI kepada seorang pejabat bukan membongkar rencana “jahat antek penjajah”. Membongkar aib pribadi pejabat ke publik termasuk dosa besar. Itu pun bercampur fitnah dan ghibah.

Namun demikian, eks-HTI merasa tidak bersalah karena diyakini sebagai bagian dari implementasi metode dakwah Nabi SAW. Kemudian diperkuat oleh pemikiran Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani yang memisahkan akhlak dari masyarakat membuat eks-HTI mengabaikan akhlak dalam berdakwah. HTI sendiri menegaskan kelompok mereka bukan kelompok ruhani dan akhlak. Mereka merupakan partai politik yang berorientasi meraih kekuasaan sebagai syarat terjadinya perubahan masyarakat. Manuver politik nirakhlak yang dipraktikkan eks-HTI dampak dari keyakinan mereka yang salah tentang metode dakwah Nabi SAW dan konsepsi tentang akhlak kaitannya dengan perubahan masyarakat.

Betul, suatu masyarakat eksis karena adanya pemikiran, perasaan dan aturan yang sama, namun unsur pokok masyarakat adalah individu. Tanpa individu-individu tidak akan terwujud suatu masyarakat sebagus apapun pemikiran, perasaan dan aturan yang dirancang. Sebab itu perubahan masyarakat ditentukan oleh perubahan individu yang meliputi pemikiran, perasaan dan akhlak. Jika seorang individu belum bisa mengatur dirinya dengan akhlak, maka rasanya berat bagi individu untuk bisa diatur dalam suatu masyarakat. Akhlak jadi parameter keteraturan suatu masyarakat.

Kesalahpahaman Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani dalam mendiagnosa penyakit masyarakat ditambah kedangkalan ilmu agama eks-HTI menjadikan mereka tidak segan-segan mengadu domba lawan-lawan politik mereka dari kalangan ulama dan ormas Islam. NU, GP Ansor dan Banser sebagai benteng NKRI tidak lain merupakan penghalang terbesar sipil bagi agenda pendirian Khilafah oleh eks-HTI.

Meski belum ada bukti pasti berasal dari mereka, memproduksi konten hoaks agar menimbulkan rasa kebencian dan permusuhan kepada NU, GP Ansor dan Banser adalah perbuatan keji yang jauh dari akhlak terpuji. Dan sepertinya kalangan petinggi eks-DPP HTI membiarkan aksi-aksi “machiaveli” eks-HTI karena dianggap aksi individual, bukan agenda jama’ah dan secara politik aksi-memberi manfaat bagi perjuangan mereka. Mereka seperti menikmati aksi-aksi lone wolf eks-HTI di dunia maya mengingat mereka tidak bisa lagi beraktivitas di dunia nyata.

Yang pasti, dakwah Islam dengan cara-cara kotor, alih-alih mendapat nashrullah, justru akan mengundang murka Allah SWT. Sudah jadi sunnatullah syariat Islam hanya tegak dengan cara-cara yang bersih, bersih niat, bersih pikiran, bersih ujaran dan bersih tindakan. Menegakkan syariat Islam dengan akhlak tercela ibarat menegakkan benang basah.


Bendera hitam adalah bendera perang, bukan bendera "ummat"

Tulisan Gus Muhammad Ismael Al Kholilie ( Dzurriyat Syaikhuna Kholil bin Abdul Lathif Bangkalan ) yang saat ini menimba ilmu di Yaman
__________________________________

Bendera hitam adalah bendera perang, bukan bendera "ummat".
Sejak kejadian pembakaran bendera tauhid di Garut beberapa hari lalu, saya tertarik untuk menelusuri lebih dalam tentang bendera hitam dalam kitab-kitab Hadits dan Syamail. Prof.Nadirsyah Hosen sebenarnya sudah punya tulisan mengenai masalah ini, tapi kurang mantap rasanya jika tidak ber-ijtihad sendiri dan cuma mengandalkan tulisan orang. Lagi pula kesimpulan Prof Nadir bahwa semua hadits yang berkaitan dengan panji hitam adalah hadits-hadits lemah saya rasa kurang tepat.

Saya juga menelusuri apakah pembakaran bendera tauhid di dunia ini baru dilakukan di Indonesia oleh Banser beberapa hari yang lalu? Bagaimana dengan Yaman Utara tempat dimana bendera-bendera hitam bertuliskan kalimat tauhid itu juga banyak tersebar sebagai atribut Al-Qaeda ?
Berikut point-point yang bisa saya simpulkan :

1. Warna Bendera Rasulullah Saw
Semasa hidupnya, Rasulullah Saw memiliki banyak bendera, yang terdiri dari beberapa bendera besar (Ar-Rayah) dan bendera kecil (Al-Liwa'). Syaikh Yusuf Bin Ismail An-Nabhani dalam kitab Syamail-nya menyebutkan
ﻛﺎﻧﺖ ﺭﺍﻳﺔ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭ ﺳﻠﻢ ﺳﻮﺩﺍﺀ ﻭ ﻟﻮﺍﺀﻩ ﺍﺑﻴﺾ
" bendera besar (Rayah) Rasulullah Saw berwarna hitam, sedangkan bendera kecilnya (liwa') berwarna putih "
Sayyid Muhammad Al-Maliki dalam Tarikhul Hawadits berkata :
ﻭ ﻛﺎﻧﺖ ﻟﻪ ﺭﺍﻳﺔ ﺳﻮﺩﺍﺀ ﻳﻘﺎﻝ ﻟﻬﺎ ﺍﻟﻌﻘﺎﺏ ﻭ ﺃﺧﺮﻯ ﺻﻔﺮﺍﺀ ﻛﻤﺎ ﻓﻲ ﺳﻨﻦ ﺃﺑﻲ ﺩﺍﻭﺩ ﻭ ﺃﺧﺮﻯ ﺑﻴﻀﺎﺀ ﻳﻘﺎﻝ ﻟﻬﺎ ﺍﻟﺰﻳﻨﺔ
" Rasulullah Saw memiliki bendera hitam yang dinamakan "Al-Uqob", beliau juga memiliki bendera berwarna kuning seperti keterangan dalam Sunan Abu Dawud, satu lagi bendera beliau yaitu panji berwarna putih yang dinamakan "Az-Zinah" . "
Dari sini bisa kita ketahui bahwa Rasulullah Saw memiliki beberapa bendera dengan warna yang berbeda-beda, bukan melulu hitam saja. Menurut Al-Hafidz Ibnu Hajar bendera-bendera itu digunakan dalam waktu yang berlainan.
(entah kenapa gerombolan radikal seperti ISIS, Al-Qaeda dll lebih memilih warna hitam dari pada warna Royah Rasulullah lainnya ? kuning misalnya- ? Mungkin karena warna hitam terlihat lebih galak, seram dan sangar.. )
Hadits-Hadits tentang warna Royah dan Liwa' memiliki derajat yang tak sama, ada pula satu hadits yang diriwayatkan dengan sanad yang berlainan. Hadits Riwayat Al-Hakim yang disebut An-Nabhani diatas memang lemah, bahkan ada yang menyebutnya sebagai hadits Munkar, hanya saja itu tidak menafikan adanya hadits-hadits lain yang berderajat hasan seperti riwayat Imam Tirmidzi :
ﻛﺎﻧﺖ ﺭﺍﻳﺔ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺳﻮﺩﺍﺀ ﻣﺮﺑﻌﺔ ﻣﻦ ﻧﻤﺮﺓ ﻗﺎﻝ
ﺳﺄﻟﺖ ﻣﺤﻤﺪﺍ ﻳﻌﻨﻲ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ ﻓﻘﺎﻝ ﺣﺪﻳﺚ ﺣﺴﻦ

2. Tulisan dalam bendera Rasulullah Saw
Hanya ada satu hadits yang menyatakan panji hitam Rasulullah Saw bertuliskan kalimat tauhid, yaitu hadits Ibnu Abbas yang diriwayatkan Al-Thabrani dalam kitab Al-Kabir, Abu Assyaikh dalam kitab Al-Akhlaq (153), dan Al-Haitsami dalam Majma' Az-Zawaid (5/321). yang berbunyi :
ﻛﺎﻧﺖ ﺭﺍﻳﺔ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭ ﺳﻠﻢ ﺳﻮﺩﺍﺀ ﻣﻜﺘﻮﺏ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﻻ ﺇﻟﻪ ﺇﻻ ﺍﻟﻠﻪ ﻣﺤﻤﺪ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ
" Royah Rasulullah Saw berwarna hitam bertuliskan La Ilaha Ilallah Muhammadun Rasulullah "
Hadits yang diriwayatkan Abu Assyaikh dinyatakan lemah sanadnya oleh Ibnu Hajar, sedangkan Al-Haitsami mengomentari hadits yang diriwayatkannya : " semua perawi-nya shahih kecuali Hayyan Bin Abdillah "
Jadi dapat disimpulkan tidak semua panji Rasulullah Saw bertuliskan kalimat tauhid, hanya satu bendera berwarna hitam saja, itupun ulama sekelas Ibnu Hajar masih meragukan adanya kalimat tauhid dalam bendera Rasulullah Saw tersebut.

3. Fungsi Bendera (Ar-Rayah dan Al-Liwa') di zaman Rasulullah Saw.
Anggap saja warna dan bentuk bendera Rasulullah Saw memang seperti itu, kita juga harus mengetahui fungsi dan kegunaan bendera Royah dan Liwa' di masa Rasulullah Saw. Ibnu Hajar berkata dalam Fathul Bari-nya :
ﺍﻟﺮﺍﻳﺔ ﻭ ﺍﻟﻠﻮﺍﺀ : ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺍﻟﺬﻱ ﻳﺤﻤﻞ ﻓﻲ ﺍﻟﺤﺮﺏ ﻳﻌﺮﻑ ﺑﻪ ﻣﻮﺿﻊ ﺻﺎﺣﺐ ﺍﻟﺠﻴﺶ ﻭ ﻗﺪ ﻳﺤﻤﻠﻪ ﺃﻣﻴﺮ ﺍﻟﺠﻴﺶ ﻭ ﻗﺪ ﻳﺪﻓﻊ ﻟﻤﻘﺪﻡ ﺍﻟﻌﺴﻜﺮ ﻭ ﻛﺎﻥ ﺍﻻﺻﻞ ﺍﻥ ﻳﻤﺴﻜﻬﺎ ﺭﺋﻴﺶ ﺍﻟﺠﻴﺶ ﺛﻢ ﺻﺎﺭﺕ ﺗﺤﻤﻞ ﻋﻠﻰ ﺭﺃﺳﻪ
"Royah dan Liwa' adalah bendera yang digunakan dalam peperangan dan menjadi tanda dimana posisi pemimpin perang. Bendera ini hanya dibawa oleh komandan perang dan terkadang juga diserahkan pada pasukan yang berada di barisan paling depan.. "
Syaikh Abdullah Said Al-Lahji dalam Muntaha As-Suul berkata :
ﻓﺎﻟﺮﺍﻳﺔ ﻫﻲ ﺍﻟﺘﻲ ﻳﺘﻮﻻﻫﺎ ﺻﺎﺣﺐ ﺍﻟﺤﺮﺏ ﻭ ﻳﻘﺎﺗﻞ ﻋﻠﻴﻪ ﻭ ﺇﻟﻴﻬﺎ ﺗﻤﻴﻞ ﺍﻟﻤﻘﺎﺗﻠﺔ
" Royah adalah bendera yang dikuasai pemimpin perang dan ia bertugas untuk mempertahankannya. Peperangan berpusat ke mana arah bendera tersebut. "
Jadi fungsi asli dari Royah dan Liwa' adalah sebagai bendera perang, oleh karena itu bendera Royah juga dijuluki sebagai "Ummul Harb" atau induk perang. jangan heran jika Imam Bukhori memasukkan pembahasan Liwa' dan Royah ini dalam kitabul Jihad. Ibnu Qoyyim Al-Jauzi dalam Zad Al-Ma'ad, Syaikh Yusuf An-Nabhani dalam Wasail Al-Wushul, dan Sayyid Muhammad Al-Maliki dalam Tarikh Al-Hawadits, mereka semua sepakat meletakkan pembahasan bendera ini dalam Babu Silahi Rasulillah Saw : Bab Senjata perang yang dimiliki Rasulullah Saw.

Kesimpulannya : Bendera Royah dan Liwa' adalah atirbut perang. jadi sangat gak nyambung dan gak relevan jika di zaman now ini bendera-bendera itu malah dikibarkan dalam keadaan tenang, aman dan damai. Bendera-bendera itu tidak layak dibawa dalam majlis-majlis, demo-demo atau acara-acara keagamaan, Apalagi dikibarkan dalam acara hari santri nasional ? Jelas-jelas itu adalah sebuah kedhaliman, wadh'u Assyai fi ghoir mahallihi, menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya.
pada zaman Rasul Saw Bendera-bendera ini merupakan atribut khusus yang hanya boleh dipegang oleh pemimpin perang, bahkan para pasukan pun dilarang asal membawa bendera jenis ini.
( tapi Sekarang bendera hitam ini malah seenaknya saja dibawa oleh bocah- bocah dan ibu-ibu dalam demo-demo , majlis-majlis dan acara-acara lainnya )
oleh karena itu Ibnu Hajar menyatakan bahwa bendera Royah dan Liwa' hanya dianjurkan untuk dikibarkan dalam waktu perang, itupun yang boleh membawanya cuma komandan perang atau prajurit yang dipercayainya. Dawuh beliau dalam Fathul Bari :
ﻭ ﻓﻲ ﺍﻷﺣﺎﺩﻳﺚ ﺍﺳﺘﺤﺒﺎﺏ ﺍﺗﺨﺎﺫ ﺍﻷﻭﻟﻴﺔ ﻓﻲ ﺍﻟﺤﺮﻭﺏ ﻭ ﺃﻥ ﺍﻟﻠﻮﺍﺀ ﻳﻜﻮﻥ ﻣﻊ ﺍﻷﻣﻴﺮ ﺍﻭ ﻣﻦ ﻳﻘﻴﻤﻪ ﻟﺬﻟﻚ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﺤﺮﺏ
Ini jelas menolak anggapan mereka yang berfikir bahwa dulu pada zaman Rasulullah Saw, bendera-bendera hitam ini adalah panji-panji Islam yang dengan indahnya berkibar di jalanan kota makkah-madinah, di depan Masjidil Haram atau Masjid Nabawi, dan dibawa para Sabahat dalam setiap perkumpulan atau acara keagamaan.

Sekali lagi bendera ini adalah bendera perang, bukan bendera "ummat". Jangan kaget jika panji-panji hitam ini sekarang menjadi simbol resmi golongan yang bawaannya pengen perang dan berantem mulu seperti ISIS, Al-Qaeda, Jabhat Nushra dan jama'ah-jama'ah radikal lainnya.
Pada Intinya Bendera-bendera ini sama sekali tidak disunnahkan dikibarkan pada selain waktu perang. Bahkan untuk sekarang ini, tatkala panji-panji hitam ini (Royah Suud) menjadi simbol yang indentik dengan golongan radikal dan bisa memicu fitnah, kekhawatiran dan kekacauan. Hukum membawa bendera ini bisa mencapai taraf "haram" : Saddan Lid Dzariah...

4. Masalah pembakaran bendera
Terlepas dari hukum membakar bendera hitam yang sudah banyak dikaji dimana-mana, sejatinya dari awal saya sangat menyayangkan insiden pembakaran bendera hitam di Garut itu. Karena selain bisa menimbulkan fitnah dan polemik berkepanjangan seperti saat ini, ada cara lain yang tentunya lebih halus dan kalem daripada membakar. menyitanya saja saya rasa sudah sangat cukup. Kita semua pasti tau, dari dulu kalimat "bakar !" - selain bakar ayam, ikan atau jagung- selalu identik dengan ke-bringasan dan kebrutalan, sedangkan NU dari dulu dikenal sebagai penyebar Islam teduh dan damai. jika memang hal ini bisa memicu api fitnah dan nantinya kita harus membuat pembelaan disana-sini, kenapa tidak dihindari dari awal ? Al-Daf'u awla min Ar-Raf'i, menangkal lebih baik daripada mengobati, Bukankah begitu dalam Qoidah fiqihnya ?
Jelas tidak benar jika Banser dituduh sebagai ormas anti kalimat Tauhid gara-gara kejadian ini, sebagaimana sangat naif jika kita serampangan menuduh setiap orang yang tidak setuju dengan pembakaran ini sebagai simpatisan HTI atau orang-orang yang terpengaruh dengan ideologi mereka...

Menutup "pintu" fitnah itu penting, sama seperti ketika Rasulullah Saw menahan diri untuk memerangi kaum munafikin agar tidak menimbulkan fitnah dan asumsi-asumsi sesat ditengah masyarakat. toh padahal mereka sudah berkali-kali merencanakan makar-makar jahat terhadap Rasulullah Saw.
" aku tidak ingin orang-orang berkata bahwa Muhammad memerangi sahabat-nya sendiri " begitu sabda Rasulullah Saw waktu itu..
Bukan hal yang mengherankan jika pembakaran bendera tauhid itu meledakkan kegaduhan dan kehebohan di tengah masyarakat, karena memang insiden ini -mungkin- adalah yang pertama dan baru kali ini terjadi di bumi Indonesia.
Kemarin saya mendiskusikan masalah ini dengan seorang sahabat asal Hudaidah, salah satu kota di Yaman Utara yang sampai sekarang dilanda konflik tiada henti. di daerah-daerah konflik disana bendera hitam bertuliskan kalimat tauhid juga banyak tersebar, hanya saja disana panji hitam bukan menjadi bendera HTI, melainkan bendera Al-Qaeda.

" Al-Qaeda di Syimal-Yaman Utara- bukankah juga mempunyai bendera ? "
" Iya punya.. Bendera Hitam bertuliskan La ilaha Illallah "
Saya lalu menceritakan kepadanya kehebohan di Indonesia akibat pembakaran bendera tauhid tempo hari lalu, tanggapanya benar-benar diluar dugaan..
" Aadii.. (Biasa saja)" ucapnya santai. " di Aden atau di Hudaidah pembakaran bendera-bendera hitam seperti itu sudah biasa terjadi. mereka menyita dan mengumpulkan bendera-bendera itu dalam suatu tempat, menyiramnya dengan bensin lalu membakarnya.. "
" siapa yang melakukannya..? "
" pemerintah.. Masyarakat juga turut andil, bahkan di daerahku sebagian masyaikh juga melakukan itu.. "
" mereka yang membakar juga ahlussunnah.. ? "
" iya.. "
" Maa had takallam ? ( tidak ada yang berkomentar atas pembakaran itu..) ?"
" gak ada.. Biasa aja, bendera-bendera itu adalah penyebab fitnah, jadi sudah seharusnya dilenyapkan, kami mengqiyaskannya dengan Masjid Dhiror " begitu pendapatnya..
Saya juga menceritakan masalah ini kepada murid-murid saya yang berasal dari Yaman Utara. salah satu dari mereka bernama Ahmad, berasal dari kota Mahwith. iya tampak terkejut ketika mendengar cerita saya, tapi bukan karena Insiden pembakaran bendera (karena menurutnya, pembakaran bendera hitam di daerahnya sudah lumrah dan biasa). Ia malah terkejut karena satu hal : Kok bisa bendera seperti itu ada di Indonesia ?
Setelah kami bertukar cerita panjang lebar, dengan raut wajah sedih ia berkata :
" Allah Yarhamkum ya ustadz.. Semoga Allah mengasihani kalian para penduduk Indonesia ustadz..
Wallah..Jika bendera-bendera hitam itu mulai tersebar di negara kalian, itu pertanda awal dari semua kekacauan.."
Saya mengamini doa tulusnya itu.. Ia benar.. Ditengah badai fitnah, kegaduhan, dan perpecahan yang berkecamuk diantara kita saat ini.. betapa butuhnya kita akan pertolongan, kasih sayang dan belas kasih Allah untuk kita..
Irhamna Ya Rabb Ya Rahiim Ya Rahmaan...

** hanya tulisan pribadi, tidak ada sangkut pautnya dengan ormas, keluarga besar, atau lembaga dimana saya bernaung...

* Ismael Amin Kholil, 24 Oktober, 2018


Akun Yudiraz Aba (fb.com/yudo.irawan.58) memposting sebuah gambar yang diklaim sebagai pernyataan Presiden Turki

LAWAN HOAX

#Informasi #Klarifikasi #Disinformasi #Erdogan #Menangis #Karena #Bendera #Tauhid #Dibakar di #Indonesia

1. Akun Yudiraz Aba (fb.com/yudo.irawan.58) memposting sebuah gambar yang diklaim sebagai pernyataan Presiden Turki dan screenshot judul berita.
Akun tsb menuliskan narasi sebagai berikut;
"Presiden Erdogan pun angkat bicara ....
Terkutuklah mereka yg melakukannya !!!
https://sketsanews.com/presiden-erdogan-menangis-dan-berpesan-saat-bendera-tauhid-dibakar-di-indonesia/ "

Sumber : http://bit.ly/2PTj3Lk - Sudah dibagikan lebih dari 8.600 kali saat screenshot diambil.

2. BENDERA TAUHID DIBAKAR DI INDONESIA, ERDOGAN MENANGIS LALU BERPESAN SEPERTI INI.
Insiden pembakaran bendera bertuliskan tauhid oleh oknum Banser menjadi topik hangat di negara-negara Islam. Tak terkecuali Presiden Turki, Erdogan.

Dari sumber yang terpercaya, Erdogan bahkan sempat menangis dan menyayangkan pembakaran bendera tauhid di negara Islam terbesar.

"Indonesia negara Islam terbesar di dunia. Yang banyak dijadikan model negara yang sangat toleransi. Tapi mengapa malah terjadi kejadian seperti ini," ujar Erdogan seperti dikutip dari internet.
"Semoga ini bukan pertanda kehancuran Islam sekaligus hilangnya Indonesia dari peta dunia. Terkutuklah manusia yang ingin mengadu domba saudara kami di Indonesia," kecam Presiden Turki tersebut.

Sumber : http://bit.ly/2q7PnyB

===================

Fakta dan Penjelasan

Dilihat dari gambar yang diunggah, ada 2 hal yang bisa didebunk dari klaim tersebut.

1. Penggunaan foto;
Foto yang digunakan oleh akun tersebut semua tidak ada kaitannya dengan kejadian yang terjadi di Indonesia baru baru ini.

* http://bit.ly/2SekVjl, Presidency of the Republic of Turkey: "“The global propaganda war of those who cannot defeat Turkey on the field will not work”", salah satu sumber foto yang digunakan untuk meme. Foto tersebut adalah foto di acara pidato kongres AKP, tidak ada hubungannya dengan peristiwa apapun di Indonesia.

* http://bit.ly/2PQMIEV, @zbeydekaymaz07: "SEN AĞLAMA AĞLARSAN GÖZÜNDEN AKAN YAŞ OLURUM.ÜZÜLÜRSEN SENİ ÜZENE KURŞUN OLURUM. #OlmazsaOlmazim # @RT_Erdogan", salah satu sumber foto yang digunakan oleh artikel "Presiden Erdogan Menangis Dan Berpesan, Saat Bendera Tauhid Dibakar Di Indonesia". Foto diedarkan di tahun 2016, dari konteks waktu foto beredar jauh sebelum peristiwa yang disebutkan di judul.

* http://bit.ly/2PRNtxs, ynetnews(dot)com: "Turkey’s Erdogan weeps on live TV after hearing poem", salah satu sumber foto yang digunakan oleh laman di situs Asia Satu.

2a. Sesuai yang ditulis di narasinya, akun tersebut menyertakan tautan yang jika diklik maka tautan tersebut sudah tidak tersedia, karena pengelola situs sketsanews.com sendiri telah menghapus artikel yang mereka salin dari asiasatu.online dan mengklarifikasinya di sini ; https://sketsanews.com/hoax-erdogan-menangis-ketika-bendera-tauhid-di-bakar-di-indonesia/

2b. Judul dan isi berita yang ditulis di asiasatu.online sendiri dibantah oleh fp Sahabat Erdogan ( fb.com/sahabaterdogan ).
Fp tersebut menyatakan bahwa mereka punya jaringan dengan jurnalis Turki, tidak ada satupun media Turki yang memberitakan "Erdogan menangis karena bendera Tauhid di bakar"
dan Isu tersebut hanya ramai di tanah air, tidak sampai ke Turki.
Sumber ; http://bit.ly/2O2NAnW - Sudah dibagikan lebih dari 260 kali saat screenshot dibuat.

Referensi ; https://turnbackhoax.id/2018/10/24/salah-bendera-tauhid-dibakar-di-indonesia-erdogan-menangis-lalu-berpesan-seperti-ini/

#TurnBackHoax #FightBackHoax


Rabu, 24 Oktober 2018

Alasan GP Ansor Tidak Minta Maaf Atas Insiden Pembakaran Bendera HTI


Ketua Umum GP Ansor H Yaqut Cholil Qoumas (Gus Yaqut) menyatakan bahwa pihaknya tidak akan meminta maaf atas insiden pembakaran bendera HTI. Ia menyatakan bahwa pembakaran bendera HTI itu bukan sebuah kesalahan dalam agama dan kesalahan dalam hukum positif.

Gus Yaqut menambahkan bahwa bendera HTI bukan bendera umat Islam. Sementara pada sisi lain, HTI telah divonis oleh pengadilan tempo lalu sebagai organisasi terlarang di Indonesia karena menyalahi Perppu Ormas.

“Saya akan kembali lagi ke  pernyataan awal, kenapa kami tidak akan meminta maaf karena sekali saja saja maka HTI akan mendapat klaim bahwa bendera mereka itu sudah menjadi bendera umat Islam. Padahal kita ini juga umat Islam bos. Kita tidak merasa terwakili oleh HTI,” kata Gus Yaqut kepada NU Online di Kantor PP GP Ansor, Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat, Selasa (23/10) malam.

Ia menambahkan bahwa kalau pihak GP Ansor diminta atau dipaksa minta maaf, maka permintaan maaf ini harus jelas. Ia menyatakan bahwa permintaan maaf itu ditujukan ke siapa dan atas kesalahan apa.

“Minta maaf kepada siapa? Umat Islam? Saya juga umat Islam. Kalau diminta untuk minta maaf, minta maaf atas dasar apa? Kan juga harus jelas,” kata Gus Yaqut.

Menurutnya, sejumlah pihak mengklaim bahwa GP Ansor telah membakar bendera tauhid. Pihak GP Ansor menanggapi bahwa bendera yang dibakar oleh anggota Banser pada peringatan Hari Santri 2018 di Garut adalah bendera HTI yang jelas atribut dari organisasi terlarang.

Ia menambahkan bahwa penyebutan bendera tauhid adalah klaim sepihak. Ia menegaskan bahwa bendera yang dibakar sahabat Banser di Garut itu adalah bendera HTI.

“Atas pembakaran bendera HTI itu, kami tidak akan meminta maaf karena ini menyangkut prinsip kenegaraan dan kebangsaan. Kami mencintai negeri ini. Kami tidak rela negeri ini diganggu, apalagi oleh HTI. Tidak. Kami akan mempertahankan itu,” kata Gus Yaqut.
( Alhafiz K)

#KamiBersamaBanser


Bendera Hizbut Tahrir & Sejumlah Kelompok Teroris

Bendera Hizbut Tahrir & Sejumlah Kelompok Teroris
Oleh Prof Sumanto Al Qurtuby

Ormas politik Hizbut Tahrir (termasuk cecunguknya di Indonesia yang bernama HTI) bukan satu-satunya kelompok yang benderanya berlatar hitam dan bertuliskan kalimat tauhid, yaitu "La ilaha illa Allah, Muhammad Rasulullah" atau "Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad Utusan Allah").

Perlu Anda ingat: bendera dengan dasar hitam dan bertuliskan kalimat tauhid itu bukan bendera tauhid, bukan bendera umat Islam, juga bukan bendera Nabi Muhammad. Jika ada orang / kelompok yang mengatakan hal ini, hanya untuk kampanye dan propaganda belaka.

Yang jelas bendera model beginan adalah bendera yang dipakai oleh sekelompok Islamis militan jihadis separatis dan atau teroris di berbagai negara. Meskipun tidak semua kelompok ini memakai bendera dengan desain beginian. 

Oleh karena itu, di kawasan Muslim di Timur Tengah, Asia Tengah, Afrika Utara, dan lainnya ketika ada aksi-aksi protes atau demontrasi berupa pembakaran bendera kelompok-kelompok ini, tidak ada sejentil pun mahluk hidup umat Islam yang menganggap sebagai penghinaan terhadap kalimat tauhid, kecuali para anggota dan simpatisan ormas radikal Islamis ini, atau kalau tidak ya umat Islam yang "palenya peang".

***

Selain Hizbut Tahrir, ada sejumlah kelompok Islamis, militan, jihadis, teroris, dan atau separatis di berbagai negara yang juga menggunakan bendera dengan warna dasar serupa (hitam) dan tulisan yang sama (kalimat tauhid).

Di antara kelompok ekstrimis, separatis, atau teroris tersebut adalah Al-Qaidah. Kelompok Islamis-jihadis-teroris ini dibentuk tahun 1988 di detik-detik menjelang berakhirnya "Perang Afgan" antara milisi Mujahidin (yang dibantu oleh Amerika) dengan "Tentara Merah" Uni Soviet.

Pendiri Al-Qaidah adalah Abdullah Azam, guru spiritual-intelektual Osama Bin Laden yang belakangan ia bunuh sendiri karena berbeda pendapat tentang konsep jihad. Kini, pemimpin spiritual-intelektual kelompok ini adalah Ayman Zawahiri yang dulu dipilih oleh Ben Laden sebagai ganti Abdullah Azam. Osama perlu "guru spiritual-intelektual" karena dia orang bego dan gak berpendidikan, hanya bermodal kekayaan dan fanatisme saja. 

Kelompok teroris-ekstrimis-jihadis berikutnya yang memakai bendera serupa adalah ISIS atau kalau di Barat disebut disebut ISIL (Islamic State of Iraq and Levant), atau Daesh kalau di Timur Tengah yang didirikan pada tahun 1999 oleh Abu Musab al-Zarqawi  dan juga Abu Bakar al-Baghdadi.

Kemudian Jabhat al-Nusra atau Al-Nusra Front yang diririkan oleh Abu Muhammad al-Julani. Kelompok ini adalah pecahan atau sempalan dari ISIS yang bermarkas di Suriah.

Kelompok lain adalah Caucasus Emirate, sebuah kelompok militan jihadis di Federasi Rusia yang ingin menggulingkan Rusia dan mendirikan Negara Islam di Kaukasus Utara. Pendirinya adalah Ichkeria Dokka Umarov yang mendeklarasikan diri sebagai Amir. Di Caucasus juga ada kelompok teroris bernama Vilayat Kavkaz yang juga menggunakan bendera hitam bertuliskan kalimat tauhid.  

Jaish al-Mujahirin wa al-Ansar, kelompok militan jihadis yang ikut berperang di Suriah juga memekai bendera serupa.

Lalu Islamic Movement of Uzbekistan, kelompok Islamis-separatis yang didirikan tahun 1998 oleh idelog Islamis Tahir Yuldashev dan Juma Namangani. Kelompok ini bertujuan makar untuk menggulingkann pemerintahan / Negara Uzbekistan di bawah Presiden Islam Karimov.

Haqqani Network, kelompok sempalan / separatis di Afganistan juga menggunakan bendera yang sama.

Lashkar e-Taiba, kelompok teroris-Islamis di kawasan Asia Selatan yang berperasi utamanya di Pakistan juga menggunakan bendera yang agak mirip Hizt Tahrir dan lainnya, meskipun berbeda desain.

Ini hanya beberapa contoh kecil saja. Jadi kalian jangan mau dibodohin, dikadalin, dan dikibulin oleh HTI dan kelompok sejenis yang gentayangan di Indonesia.   

Jabal Dhahran, Jazirah Arabia

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10161107607330523&id=762670522


HTI bukan politisi kemarin sore

HTI MEMBAKAR BENDERANYA SENDIRI

Oleh : Mixilmina Munir (Wasekjen PP GP Ansor)

HTI bukan politisi kemarin sore, mereka sudah malang melintang di pelosok Indonesia, satu-persatu masjid dikuasai, kantor-kantor pemerintah mulai direbut, mereka mengajarkan Khilafah, mengkafirkan Pancasila.

HTI bukan  Politisi Karbitan, mereka aktif di kampus-kampus, menguasai masjid-masjid kampus, mendoktrin mahasiswa dengan khilafah Islamiyah, merangkul mahasiswa baru untuk masuk dalam organisasi underbouw mereka, Gerakan Mahasiswa Pembebasan. 

HTI bukan gerakan sporadis. Mereka mendoktrin Jama’ahnya lewat pengajian-pengajian kecil yang tertutup, juga melalui bulletin Jum’at KAFFAH. Sebelum HTI dibubarkan, Buletinnya bernama AL-ISLAM. Isinya tidak berubah, 50 % ajakan mengganti Pancasila, 30% kebencian terhadap pemerintah, 20 % sisanya Khilafah Islamiyah.

Tidak ada yang berubah pasca dibubarkannya HTI. Kaderisasi masih berjalan, perekrutan anggota masih massif, gerakan masih eksis, media propaganda masih terbit, hubungan dengan Hizbut Tahrir Internasional juga normal-normal saja. Ini yang harus tetap kita waspadai.

Dengan masih eksisnya HTI maka peristiwa pembakaran bendera HTI di Garut bukan tanpa desain, bukan tanpa skenario, dan bukan terjadi tiba-tiba. Pembakaran bendera HTI oleh Banser sebenarnya justru skenario HTI sendiri, umpannya dimakan oleh keluguan Banser. HTI tidak tampak sedih, mereka menikmati Irama permainannya karena dengan itu sel-sel tidurnya tetap aktif dan jaringan internasionalnya tetap support dana.

Mereka tahu cara mengelola emosi massa yang anti terhadap khilafah. JIka ada yang membakar benderanya, mereka langsung menuduh bahwa pelakunya anti Islam, bendera  kalimat tauhid telah dinistakan, playing victim dimainkan, media social akan gaduh dan segera saja HTI cuci tangan.

Lihat saja, Ismail Yusanto, sang jubir HTI langsung cuci tangan,  dia mengatakan bahwa yang dibakar Banser bukan bendera HTI, HTI tidak punya bendera dan yang dibakar adalah bendera kalimat Tauhid. Dengan pernyataan itu ia berusaha menggiring opini untuk menjadikan Banser sebagai musuh umat Islam serta  membentur Banser dengan ormas Islam lain. 

Namun dibalik itu, sesungguhnya dia juga sedang membakar kemarahan massa Islam, Setelah massa tersulut, setelah negara gaduh, setelah Banser Anser dibully, setelah umat Islam berhasil diadu domba segera ia pergi. Polanya persis seperti di Suriah, ia pergi meninggalkan jejak konflik dan kemarahan.

Gus Yaqud Cholil Qoumas, Ketua Umum saya di PP GP Ansor sudah minta maaf atas kegaduhan kecil Banser di Garut, TAPI TIDAK ATAS PEMBAKARAN BENDERA HTI.  YES !!!

#MakarBerkedokTauhid
#HTIAntiTauhid


BANSER, HTI DAN PERANG JAMAL

*BANSER, HTI DAN PERANG JAMAL*

Oleh _Ayik Heriansyah_

Banser jadi bintang sejak dulu kala. Sebelum HTI berdiri, Banser sudah mencatat prestasi sebagai penjaga ulama, umat dan negara yang terpercaya. Kesetiaan Banser kepada ulama, umat dan negara sudah teruji dan terbukti meskipun buku-buku sejarah tidak mencatatnya dengan rapi. Sebenarnya diakui atau tidak kita butuh Banser.

Saya sendiri baru sadar akan Banser. Waktu masih kecil di kampung saya, saya tahunya Banser sering latihan baris-bebaris di depan rumah setiap menjelang 17 Agustus. Tetangga saya ketua GP Ansor-Banser. Mereka latihan dalam rangka mengikuti pawai. Seiring perjalanan waktu saya sedikit paham apa itu Banser. Banser itu hebat. Kadang oknumnya berulah itu wajar-wajar saja.

Kontras dengan Banser, HTI diciptakan memang untuk merongrong negara. Di negeri Islam dari Maroko sampai Merauke, Hizbut Tahrir ditakdirkan jadi pemberontak. Di Indonesia, Hizbut Tahrir terhitung lebih beruntung dibandingkan rekan-rekan mereka di negara lain. Di Irak dan Libya anggota Hizbut Tahrir dihukum gantung. Di Suriah diberodong senjata. Di Arab Saudi dan Yordania jadi pesakitan. Di Turki dan Pakistan, dipenjara. Di Uzbekistan, Tajikistan dan Turkmenista, anggota Hizbut Tahrir dibunuh penguasa.

Salahkah para penguasa itu? Tidak ada yang salah sebab kegiatan politik Hizbut Tahrir berbahaya bagi keselamatan bangsa dan negara. Entah fiqih siyasah apa yang dikaji Hizbut Tahrir, yang pasti praktik menghalalkan segala cara terjadi di setiap negeri tempat Hizbut Tahrir melakukan gerakannya. Memfitnah, membuat makar dan mengadu domba sesama umat dan ormas Islam, lumrah dilakukan Hizbut Tahrir, termasuk HTI.

Insiden bakar bendera HTI 2 hari yang lalu di Garut jadi bahan bakar HTI untuk menyerang NU, Ansor dan Banser. Dengan kepiawaiannya bermain opini di media sosial, HTI berhasil memprovokasi umat dan ormas Islam. HTI ingin memukul NU, Ansor dan Banser menggunakan tangan pihak ketiga. Sungguh besar dosa HTI yang menyulut permusuhan umat Muhammad Saw.

Kita harus menoleh ke belakang. Melihat sejenak sejarah kaum umat Islam di masa Khulafaur Rasyidin. Krisis, kisruh dan konflik politik umat telah diperingatkan oleh Baginda Nabi Saw. Mari kita ambil hikmahnya supaya terhindar dari malapetaka yang seharusnya tidak perlu terjadi.

Sejarah umat mungkin bercerita lain andaikan tidak ada penyusupan dan provokasi kaum Khawarij di barisan kaum muslimin. Persoalan penanganan terhadap pembunuh Khalifah Utsman mencapai titik temu setelah Khalifah Ali mengutus Al Miqdad bin Al Aswad dan Al Qa’qa bin Amr untuk berunding dengan Thalhah dan Az Zubair. Mereka semua sepakat untuk tidak berperang.

Kemudian kedua belah pihak menjelaskan sudut pandang masing-masing perihal qishash terhadap pelaku pembunuhan Utsman. Thalhah dan Az Zubair berpendapat bahwa tidak boleh membiarkan pembunuh Utsman begitu saja, sedangkan pihak Ali berpendapat bawa menyelidiki siapa pembunuh Utsman untuk saat sekarang bukan hal paling mendesak. Namun, hal ini bisa ditunda sampai keadaan stabil. Jadi, mereka sepakat untuk mengqishash para pembunuh Utsman. Adapun yang mereka perselisihkan adlah waktu untuk merealisasikan hal tersebut.

Setelah kesepakatan itu, dua pasukan pun bisa tidur dengan tenang, sedangkan para pengikut Abdullah bin Saba – mereka para pembunuh Utsman – terjaga dan melewati malam yang buruk, karena akhirnya kaum Muslimin sepakat untuk tidak saling berperang. Demikianlah keadaan yang disebutkan oleh para sejarawan  seperti Ath Thabari, Ibnu Katsir, Ibnu Atsir, Ibnu Hazm dan yang lainnya.

Ketika itu para pengikut Abdullah bin Saba sepakat akan melakukan apa pun agar kesepakatan tersebut dibatalkan. Menjelang waktu subuh, ketika orang-orang sedang terlelap, sekelompok orang dari mereka menyerang pasukan Thalhah dan Az Zubair lalu membunuh beberapa orang diantara pasukan mereka. Setelah itu, mereka melarikan diri.
Pasukan Thalhah mengira bahwa pasukan Ali telah mengkhianati mereka. Pagi harinya, mereka menyerang pasukan Ali. Melihat hal itu, pasukan Ali mengira bahwa pasukan Thalhah dan Az Zubair telah berkhianat. Serang-menyerang antara kedua pasukan ini pun berlangsung sampai tengah hari. Selanjutnya, perang pun berkecamuk dengan hebatnya.

Perang Jamal terjadi bukan keinginan Khalifah Ali, 'Aisyah, Thalhah, Az Zubair beserta pasukan mereka. Perang itu terjadi akibat provokasi yang dilakukan oleh Abdullah bin Saba dan pengikutnya yang terlibat pembunuhan Khalifah Utsman. Bagi pelaku kejahatan negara, stabilitas pemerintahan jadi ancaman bagi mereka. Ketika pemerintah kuat sudah pasti mereka akan dihukum. Tidak ada jalan lain bagi penjahat negara selain menciptakan instabilitas, membumi hangus soliditas masyarakat untuk menghapus jejak.

Dari sini kita dapat pelajaran bahwa penjahat negara seperti HTI akan selalu membuat onar. Insiden kecil dibesar-besarkan. Bila perlu membuat hoax. Mendramatisir fakta. Contohnya Insiden pembakaran bendera HTI di Garut. Dari sudut hukum agama dan negara, membakar bendera HTI bukan tindak pidana. Untung pengurus Banser bersikap proporsional. Jika tidak, "perang Jamal" terulang lagi di sini.

Bandung, 24 Oktober 2018


Jumat, 12 Oktober 2018

PERANGKAT ORGANISASI NU

Dalam menjalankan programnya, NU mempunyai 3 perangkat organisasi:
1.    BADAN OTONOM (BANOM)

Adalah perangkat organisasi yang berfungsi melaksanakan kebijakan yang berkaitan dengan kelompok masyarakat tertentu dan beranggotakan perorangan.
NU mempunyai 10 Banom, yaitu:
a.    Jam’iyyah Ahli Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyah (JATMN)
Membantu melaksanakan kebijakan pada pengikut tarekat yang mu’tabar (diakui) di lingkungan NU, serta membina dan mengembangkan seni hadrah
b.    Jam’iyyatul Qurra wal Huffazh (JQH)
Melaksanakan kebijakan pada kelompok qari’/qari’ah (Pembaca Tilawah Al-Quran) dan hafizh/hafizhah (penghafal Al-Quran).
c.    Muslimat
Melaksanakan kebijakan pada anggota perempuan NU

d.    Fatayat
Melaksanakan kebijakan pada anggota perempuan muda NU

e.    Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor)
Melaksanakan kebijakan pada anggota pemuda NU. GP Ansor menaungi Banser (Barisan Ansor Serbaguna) yang menjadi salah satu unit bidang garapnya.

f.    Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU)
Melaksanakan kebijakan pada pelajar, mahasiswa, dan santri laki-laki. IPNU menaungi CBP (Corp Brigade Pembangunan), semacam satgas khususnya.

g.    Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU)
Melaksanakan kebijakan pada pelajar, mahsiswa, dan santri perempuan. IPPNU menaungi KKP (Kelompok Kepanduan Putri) sebagai salah satu bidang garapnya

h.    Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU)
Membantu melaksanakan kebijakan pada kelompok sarjana dan kaum intelektual.
i.    Sarikat Buruh Muslimin Indonesia (Sarbumusi)
Melaksanakan kebijakan di bidang kesejahteraan dan pengembangan ketenagakerjaan.
j.    Pagar Nusa
Melaksanakan kebijakan pada pengembangan seni beladiri.

2.    LAJNAH
Adalah perangkat organisasi untuk melaksanakan program yang memerlukan penanganan khusus. NU mempunyai 2 lajnah, yaitu :
a.    Lajnah Falakiyah
Bertugas mengurusi masalah hisab dan rukyah, serta pengembangan ilmu falak (astronomi).
b.    Lajnah Ta’lif wan Nasyr (LTN)
Bertugas mengembangkan penulisan, penerjemahan dan penerbitan kitab/buku, serta media informasi menurut faham Ahlussunnah wal jama’ah.

3.    LEMBAGA
Adalah perangkat departementasi organisasi yang berfungsi sebagai pelaksana kebijakan, berkaitan dengan suatu bidang tertentu. NU mempunyai 14 lembaga, yaitu:
a.    Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU)
Melaksanakan kebijakan di bidang pengembangan dakwah agama Islam yang menganut faham ahlussunnah wal jamaah.

b.    Lembaga Pendidikan Ma’arif (LP Ma’arif NU)Melaksanakan kebijakan di bidang

pendidikan dan pengajaran formal

Rabithah Ma’ahid al-Islamiyah (RMI)
Melaksanakan kebijakan di bidang pengembangan pondok pesantren.

d.    Lembaga Perekonomian NU (LPNU)
Melaksanakan kebijakan di bidang pengembangan ekonomi warga
e.    Lembaga Pengembangan Pertanian NU (LP2NU)
Melaksanakan kebijakan di bidangan pengembangan pertanian, lingkungan hidup dan eksplorasi kelautan.
f.    Lembaga Kemaslahatan Keluarga (LKKNU)
Melaksanakan kebijakan di bidang kesejahteraan keluarga, sosial, dan kependudukan.

g.    Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia (Lakpesdam)
Melaksanakan kebijakan di bidang pengkajian dan pengembangan sumberdaya manusia.
h.    Lembaga Penyuluhan dan Pemberian Bantuan Hukum (LPBHNU)
Melaksanakan penyuluhan dan pemberian bantuan hukum.

i.    Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi)
Melaksanakan kebijakan di bidang pengembangan seni dan budaya.

j.    Lembaga Amil Zakat, Infaq dan Shadaqah (LAZISNU)
Bertugas menghimpun, mengelola, dan mentasharufkan (menyalurkan) zakat, infaq, dan shadaqah.

k.    Lembaga Waqaf dan Pertanahan (LWPNU)
Mengurus, mengelola serta mengembangkan tanah dan bangunan, serta benda wakaf lainnya milik NU.
l.    Lembaga Bahtsul Masail (LBM-NU)
Membahas dan memecahkan masalah-masalah yang maudlu’iyah (tematik) dan waqi’iyah (aktual) yang memerlukan kepastian hukum.
m.    Lembaga Ta’miri Masjid Indonesia (LTMI)
Melaksanakan kebijakan di bidang pengembangan dan pemberdayaan masjid.

n.    Lembaga Pelayanan Kesehatan (LPKNU)
Melaksanakan kebijakan di bidang kesehatan.