Rabu, 20 Mei 2020

Propaganda HTI


Ada firqoh atau sekelompok orang berkata "Orang yang tidak ingin menjadikan syari'at Islam dan khilafah, maka di pastikan NU nya tidak bersanad kepada Mbah Hasyim".
Berikut bantahan terhadap pernyataan di atas 👇

https://www.facebook.com/100005245956734/posts/1401111686740350/?app=fbl

Memang sejarahnya NU ingin menjadikan syari'at Islam atau minimalnya berjalannya syari'at Islam sebagai konstitusi.

Tapi setelah NU di pegang KH Ahmad Siddiq sebagai Rais am berduet dengan gusdur sebagai ketua umum maka keinginan ingin menjadikan negara Islam dan menjadikan syari'at Islam sebagai konstitusi sudah tidak ada lagi. Dengan pemikiran gusdur dan KH Ahmad Siddiq syari'at Islam itu untuk di amalkan bukan di konstitusikan. Dan orang orang ini yg dari kelompok hantu HTI dan FPI selalu melontarkan pernyataan berikut:
"Orang yang tidak ingin menjadikan syari'at Islam dan khilafah, maka di pastikan NU nya tidak bersanad kepada Mbah Hasyim".

Kalau memang mereka mengklaim sebagai pengikut NUnya Mbah Hasyim, Mbah Hasyim yg mana? Padahal hantu HTI ini telah menganggap nasionalisme bagian dari ashobiah, ashobiah itu haram bagi mereka. Sedangkan Mbah Hasyim yg mempunyai jargon حب الوطن من الإيمان nasionalisme bagian dari iman yg di perkuat lagi dengan من مات لأجل وطنه مات شهيدا barang siapa yang mati karena membela bangsa dan negaranya maka dia telah mati syahid. Pertanyaan nya mereka hantu HTI bersanad kepada Mbah Hasyim yg mana?

Hadrotusyech Hasyim Asy'ari yg alim dan Al-allamah yg telah mentashih Pancasila sebagai ideologi negara itu artinya beliau yg merestui Pancasila sebagai ideologi bangsa untuk di jadikan pedoman hidup berbangsa dan bernegara. Sedangkan hantu HTI telah mentogutkan Pancasila. Pertanyaan nya mereka bersanad kepada Mbah Hasyim yg mana?

Senin, 18 Mei 2020

BENDERA ISIS DAN HTI BUKAN BENDERA ISLAM, BUKAN BENDERA TAUHID, BUKAN PULA BENDERA RASUL!




Oleh Prof. Nadirsyah Hosen, Ph.D

ISIS dan HTI sama-sama mengklaim bendera dan panji yang mereka miliki adalah sesuai dengan Liwa dan rayah-nya Rasulullah. Benarkah? enggak! Kalau klaim mereka benar, kenapa bendera ISIS dan HTI berbeda design dan khat tulisan arabnya ?

Secara umum hadits-hadits yang menjelaskan warna bendera Rasul dan isi tulisannya itu tidak berkualitas shahih. Riwayatnya pun berbeda-beda: ada yang bilang hitam saja, ada yang bilang putih saja, ada riwayat yang bilang hitam dan putih, malah ada yang bilang merah dan juga kuning. Riwayat lain bendera itu gak ada tulisan apa-apa. Jadi gak ada tulisan tauhidnya, cuma kosong saja. Riwayat lain bilang ada tulisan tauhidnya. Riwayat seputar ini banyak sekali, dan para ulama sudah memberikan penilaian. Secara umum tidak berkualitas sahih.

Dalam sejarah Islam juga kita temukan fakta yang berbeda lagi. Ada yang bilang Dinasti Umayyah pakai bendera hijau, Dinasti Abbasiyah pakai hitam, dan pernah juga berwarna putih. Apa mau bilang para Khalifah ini tidak mengikuti bendera Rasul? Ribet kan!

Jadi yang mana bendera khilafah? Yah tergantung anda mau merujuk ke Khilafah Umayyah atau Abbasiyah? Gak ada hal yang baku soal bendera ini. Coba saja buka kitab Ahkamus Sulthaniyah karya Imam Mawardi: apa ada pembahasan soal bendera negara Khilafah? Enggak ada! Kenapa yang gak ada terus mau diada-adakan seolah menjadi urusan syariat? Mau bilang Imam al-Mawardi gak paham soal ini? Nah, tambah ribet kan!

Konteks bendera dan panji dipakai Rasul itu sewaktu perang untuk membedakan pasukan Rasul dengan musuh. Bukan dipakai sebagai bendera negara. Jadi kalau ISIS dan HTI tiap saat mengibarkan liwa dan rayah, emangnya kalian mau perang terus? Kok kemana-mana mengibarkan bendera perang?

Kalau dianggap sebagai bendera negara khilafah, kita ini NKRI, sudah punya bendera merah putih. Masak ada negara dalam negara?! Ini namanya makar! Bahkan ada tokoh HTI yang mempertanyakan apa ada haditsnya bendera RI yang berwarna merah-putih? Nah kan, kelihatan makarnya, sudah mereka tidak mau menerima Pancasila dan UID 1945, sekarang mereka juga menolak bendera merah-putih. Jadi, yang syar’i itu bendera HTI, begitu maunya mereka, padahal urusan bendera ini bukan urusan syari’at.

Sekarang bagaimana status hadits soal bendera ini? Kita bahas singkat saja biar gak makin ribet membacanya.

Hadits riwayat Thabrani dan Abu Syeikh yang bilang bendera Rasul hitam dan panjinya putih itu dhaif. Mengapa demikian? Riwayat Thabrani ini dhaif karena ada rawi yang dianggap pembohong yaitu Ahmad bin Risydin. Bahkan kata Imam Dzahabi, dia pemalsu hadits.

Riwayat Abu Syeikh dari Abu Hurairah itu dhaif karena kata Imam Bukhari rawi yang namanya Muhammad bin Abi Humaid itu munkar.

Riwayat Abu Syeikh dari Ibn Abbas menurut Ibn Hajar dalam kitabnya Fathul Bari, sanadnya lemah sekali.

‎وجنح الترمذي إلى التفرقة فترجم بالألوية وأورد حديث جابر ” أن رسول الله صلى الله عليه وسلم دخل مكة ولواؤه أبيض ” ثم ترجم للرايات وأورد حديث البراء ” أن راية رسول الله صلى الله عليه وسلم كانت سوداء مربعة من نمرة ” وحديث ابن عباس ” كانت رايته سوداء ولواؤه أبيض ” أخرجه الترمذي وابن ماجه ، وأخرج الحديث أبو داود ، والنسائي أيضا ، ومثله لابن عدي من حديث أبي هريرة ، ولأبي يعلى من حديث بريدة ، وروى أبو داود من طريق سماك عن رجل من قومه عن آخر منهم ” رأيت راية رسول الله صلى الله عليه وسلم صفراء ” ويجمع بينها باختلاف الأوقات ، وروى أبو يعلى عن أنس رفعه ” أن الله أكرم أمتي بالألوية ” إسناده ضعيف ، ولأبي الشيخ من حديث ابن عباس ” كان مكتوبا على رايته : لا إله إلا الله محمد رسول الله ” وسنده واه

Kalau sudah Ibn Hajar yang komentar soal hadits, HTI dan ISIS mau ngeles apa lagi? Jangan marah sama saya, saya hanya mengutip pendapat Ibn Hajar yang otoritasnya dalam ilmu Hadits sangat diakui dalam dunia Islam. Kalau ada ulama yg menyatakan hadits Abu Syeikh ini sahih, ya silakan saja. Saya lebih percaya dengan Ibn Hajar daripada dengan ulama HTI.

Komentar Ibn Hajar di atas itu telak sekali. Semoga ini membuka mata para kader HTI, yang sudah dibubarkan pemerintah itu. Bendera HTI dan juga ISIS tidak memliki landasan yang kuat. Tidak ada perintah Rasulullah untuk kita mengangkat bendera semacam itu; tidak ada kesepakatan mengenai warnanya, dan apa ada tulisan atau kosong saja, dan tidak ada kesepakatan dalam praktek khilafah jaman dulu, serta para ahli Hadits seperti Ibn Hajar menganggap riwayatnya tidak sahih.

Katakanlah ada tulisannya, maka tulisan khat jaman Rasul dulu berbeda dengan di bendera ISIS dan HTI. Jaman Rasul, tulisan al-Qur’an belum ada titik, dan khatnya masih pra Islam yaitu khat kufi. Makanya meski mirip, bendera ISIS dan HTI itu beda khatnya. Kenapa ayo? Kan sama-sama mengklaim bendera Islam? Itu karena tulisan khat-nya rekaan mereka saja. Gak ada contoh yang otentik dan sahih bendera Rasul itu seperti apa. Itu rekaan alias imajinasi orang-orang ISIS dan HTI berdasarkan hadits-hadits yang tidak sahih

Jadi jangan mau dibohongin yah sama bendera Islam-nya HTI dan ISIS.

Perkara ini bukan masuk kategori syari’ah yg harus ditaati. Gak usah ragu menurunkan bendera HTI dan ISIS. Itu bukan bendera Islam, bukan bendera Tauhid.

Tapi ada tulisan tauhidnya? Masak kita alergi dengan kalimat tauhid? Itu hanya akal-akalan mereka saja. Untuk mengujinya gampang saja, kenapa HTI gak mau mengangkat bendera ISIS dan kenapa orang ISIS tidak mau mengibarkan bendera HTI padahal sama-sama ada kalimat Tauhid-nya? Itu karena sifat sebuah bendera di masa modern ini sudah merupakan ciri khas perangkat dan simbol negara. Misalnya warga Indonesia tidak mau mengangkat bendera Belanda atau lainnya. Bukan karena benci dengan pilihan warna bendera mereka, tapi karena itu bukan bendera negara kita.

Bendera itu merupakan ciri khas sebuah negara. Apa HTI dan ISIS mau mengangkat bendera berisikan kalimat Tauhid yang khat dan layout-nya berbeda dengan ciri khas milik mereka? Atau angkat saja deh bendera Arab Saudi yang juga ada kalimat Tauhidnya. Gimana? Gak bakalan mau kan. Karena bendera sudah menjadi bagian dari gerakan mereka. Maka jelas bendera ISIS dan HTI bukan bendera Islam, bukan bendera Rasul, tapi bendera ISIS dan HTI.

Itu sebabnya Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya dengan tegas meminta bendera HTI diturunkan dalam sebuah acara. Mursyid yang juga keturunan Rasulullah ini paham benar dengan sejarah dan status hadits soal bendera ini.

Saya ikut pendapatnya Imam Ibn Hajar dan ikut sikap Habib Luthfi.

Tabik,

Jumat, 15 Mei 2020

PANGGUNG POLITIK JOKOWI YANG TIDAK TERLIHAT OLEH AWAM..




Ketika awal Jokowi berkuasa, teman saya mengatakan bahwa yang paling berbahaya secara politik adalah sikap Jokowi yang ingin memaksa Freeport mengakhiri Kontrak Kerja dan patuh kepada UU Minerba.

Karena ini menyangkut kepentingan AS yang Lima Presiden sebelumnya tidak mampu menghadapi.

Apalagi Jokowi bukan presiden yang pemimpin Partai, yang tentu tidak punya kekuatan terorganisir di akar rumput menahan gejolak serangan politik dalam negeri. 

Benarlah. 

Tahun 2015 suhu politik memanas dengan munculnya skandal “Papa minta saham” yang berkaitan dengan Dirut PT. Freeport Indonesia dan Setya Novanto bersama Murez. 

Isi rekaman itu menyeret nama nama mantan presiden sebelumnya yang terlibat dalam konspirasi tingkat tinggi. 

Setya Novanto lolos dari kasus ini karena dia tidak mau bersaksi atas isi rekaman itu. 

Secara tidak langsung Novanto menyelamatkan muka para presiden sebelumnya.

Tanpa operasi Intelligent Asing tidak mungkin rekaman yang sudah setahun lebih muncul lagi kepublik dan membuat gemetar elite politik. 

Ini seakan sinyal kepada Jokowi bahwa jangan main main dengan Freeport. 

Apakah itu cukup? 

Belum. !!

Pada bulan Februari 2016, Kapal selam AS berkekuatan nuklir mendekati perairan Indonesia.

Ini provokasi yang berbahaya. 

Jokowi telah memerintahkan TNI AL harus tanpa ragu menjaga teritori Indonesia. 

Makanya Tim reaksi cepat Western Fleet Quick Response (WFQR) TNI AL dipiloti Kapten Laut (P) S Hayat dan Lettu Laut (P) Asgar Serli bergerak cepat menuju wilayah perairan Nongsa, Batam. 

Pusat Penerbangan TNI AL yang bermarkas di Tanjungpinang harus melaksanakan prosedur tetap dalam Standar operasi tempur untuk menjaga teritory Indonesia.

Berita ini tidak begitu di perhatikan oleh Publik. 

Padahal saat itu prajurit TNI berhadapan dengan Angkatan laut AS yang menggunakan Kapal selam modern untuk mendekati perairan Indonesia. 

Saya yakin apalah arti kekuatan Helikopter Helikopter BO 105 nomor lambung NV-408, di bandingkan dengan kekuatan angkatan laut AS.

Tapi prajurit TNI tanpa sedikitpun ragu terus me shadow kapal selam itu untuk segera menjauh dari perairan Indonesia. 

Selesai? 

Belum. !!!! 

Masih ada lagi…

Di penghujung tahun 2016 atau bulan november terjadi aksi massa umat islam yang dikenal dengan gerakan GNMF MUI untuk memenjarakan Ahok yang dituduh menistakan agama. 

Namun sebetulnya diarahkan untuk menjatuhkan Jokowi. 

Terbukti dalam aksi 411 ratusan ribu orang berdemontrasi mengepung istana negara. 

Aparat dengan kesetian tinggi kepada Presiden berhasil menjaga ketertiban demo tersebut walau sempat terjadi gesekan dengan aparat. 

Selesai? 

Juga Belum! 

Sebulan kemudian diadakan lagi aksi 212, tujuan tetap sama memenjarakan Ahok dengan target Istana negara.

Kali ini Jokowi datangi peserta demo dengan percaya diri, dan memastikan dia tidak takut dan dia bukan musuh umat islam. 

Apakah itu cukup? 

Belum!! 

Pada saat hari Pilkada DKI, Kapal induk bertenaga nuklir milik Amerika Serikat (AS) USS Carl Vinson memasuki wilayah Indonesia  dengan alasan mengawal kunjungan Wakil Presiden AS Mike Pence ke Indonesia.

Kunjungan dengan kawalan berkekuatan besar ini secara tidak langsung AS menerapkan smart power terhadap Indonesia. 

“Kamu jangan coba coba melawan saya“.

Pada bulan itu memang sedang dilakukan perundingan dengan Freeport. 

Jokowi menghadapi tekanan itu dengan tenang. 

Dalam pertemuan dengan Jokowi, Mike tidak menyinggung soal Freeport. 

Provokasi AS di perairan Indonesia dan adanya pressure group sebagai proxy AS yang membuat stabilitas politik dalam negeri terganggu, menguatkan argumen para elite politik dan Jenderal bahwa berhadapan dengan kepentingan AS di Indonesia sangat berbahaya.

Tahun 2017 Prabowo mengatakan bahwa Indonesia harus menghormati kepentingan AS.  

Bahkan Prabowo sampai mengingatkan pemerintah Jokowi bahwa Amerika Serikat pernah membantu bangsa Indonesia pada beberapa hal. 

Tentu ini berkaitan dengan kekisruhan perundingan dengan Freeport. 

Sikap Jokowi sudah jelas sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2017 tentang Perubahan Keempat atas Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara.

Pemegang KK harus beralih operasi menjadi perusahaan IUP (Izin Usaha Pertambangan) dan Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK). 

Kewajiban divestasi hingga 51 persen. 

Sikap ini dipegang dengan konsisten.

Teman saya bilang bahwa bukan hanya AS yang dibuat Jokowi tidak berdaya. 

China juga merasakan sikap keras Jokowi. 

Dalam pertemuan APEC di Beijing.

Jokowi dengan tegas akan memberikan ruang ALKI kepada AS. 

Dengan demikian tidak berdesakan dengan China di Malaka.

Bahkan Jokowi menolak dengan keras klaim Cina atas laut Cina Selatan & menggantinya dengan Natuna Utara!!! 

Yang membuat pemerintah Cina geram, tapi apa daya yang dihadapi adalah Jokowi si manusia keras kepala yang sangat mencintai negerinya. 

Dan kalian masih bilang Jokowi antek Cina??? 

Kalian mau tahu muka antek Cina dan penjilat pantat cina? 

Nih.....!! 👇

Setelah pertemuan APEC di Beijing Jokowi akan membangun pelabuhan check point di Nusa Tenggara Barat (NTB) & Sulawesi. 

Waktu itu baik China & AS setuju untuk mengakhiri konflik laut cina selatan. 

Atas kesepakatan itu China merasa aman dengan program OBOR untuk menghubungkan China ASEAN.

Pembangunan kereta logistik digelar dari Guangxie melalui Vietnam, Thailand, Malaysia Singapore dan rencana dengan jembatan laut Malaka akan terhubung dengan Indonesia ( Dumai ). 

Saat sekarang jalur kereta sudah sampai di Malaysia. 

Dan sedang membangun tunnel ke Singapore.

Sementara AS sedang memperkuat investasi explorasi gas di blok santa fee dan marsela ( laut Arafuru- Maluku ) dan Mahakam, kalimantan timur. 

Tetapi dalam perjalanannya Jokowi tidak pernah komit dengan kesepakatan APEC itu.

Jokowi tidak menanggapi proposal jembatan Selat Malaka yang menghubungkan Dumai dengan Malaka. 

Padahal proyek itu sudah dapat izin prinsip dari pemerintah SBY. 

Program Toll laut Jokowi bukannya mendukung OBOR malah bersaing dengan OBOR. 

China pusing. 

Bagaimana dengan AS?

Blok Mahakam di take over oleh Pertamina awal tahun ini dan Blok marsela di bangun di darat dan sekarang justru Jokowi akan membangun pangkalan militer di Kepulauan Arafuru.

AS tambah pusing. 

“Bagaimana mau kerjasama kalau tidak ada yang komit".

Jokowi seenaknya mengabaikan komitment yang dibuatnya. 

Kata teman konsultan Geostrategis kepada saya. 

Saya hanya tersenyum. 

Saya katakan kepada teman bahwa OBOR ( One Belt One Road ) tidak akan dapat peluang menyentuh Malaka sebelum Sumatera terkoneksi dengan toll laut maupun toll darat. 

Jokowi tidak mau mengorbankan Geostrategisnya untuk kepentingan asing.

Janji China akan menggelontorkan dana USD 30 miliar untuk jalan toll Sumatera & toll laut, nyatanya hanya 10% saja cair. 

Mau komit bagaimana? 

Amerika juga sama, tidak ada niat baik menyelesaikan masalah Freeport dengan mulus.

Mau komit bagaimana ? 

Saya rasa ini hanya pertimbangan fairly.

Kalau mau bersinergi, China dan AS harus tunjukkan itikad baik. 

"Sekarang Indonesia, ada atau tidak ada china atau AS pembangunan jalan terus sesuai agenda. 

"Agenda Jokowi untuk Indonesia", Kata saya.

“Jadi apa usul kamu ?" Kata teman sambil mengerutkan kening.

"Menurut saya, china selesaikan saja komitment membiayai jalan toll Sumatera dan toll laut, dalam koridor B2B. 

Kemudian AS gunakan Jepang & Eropa bangun koneksitas Kalimatan & Sulawesi. 

Dukung penyelesaian masalah freeport. 

Nah kalau itu semua sudah selesai, Jokowi akan komit. 

Mengapa?

Karena kalau infrastruktur terbangun, Indonesia juga siap bersaing atas program OBOR nya China dan Grand Pacific nya Amerika. 

Kan tidak mungkin Indonesia hanya jadi penonton.”

“Wah saya yakin Jokowi akan gagal Pilpres 2019. 
Terlalu banyak musuh." 

Apalagi proxy China dan AS ada disemua Partai Politik di Indonesia. 

“Kata teman saya hanya tersenyum. Memang perjuangan mempertahankan NKRI itu tidak mudah". 

Mengapa ?

Musuhnya bukan saja orang asing tetapi juga dari dalam negeri yang berkedok pengamat, tokoh agama, politisi & mereka tanpa rasa malu secara vulgar menunjukan keberpihakannya terhadap asing. 

Tidak ada mereka berdemo memberikan dukungan kepada Presiden dalam upaya nasionalisasi SDA kita. 

Bagi mereka bagaimana caranya agar agenda asing terkabulkan dan Jokowi jatuh, entah bagaimana caranya. 

Yang penting mereka dapat uang dan kekuasaan. 

“Negeri kami merdeka berkat Rahmat Tuhan Yang Maha Esa. 

Engga ada yang kami takuti dengan asing apalagi proxy kambing, proxy sapi, proxy kampret. 

Karena yang menjaga kami adalah Tuhan..Allah SWT.

Apakah ada yang lebih hebat dari Tuhan? “ kata saya. 

Tidak percaya?

Nah! ...

Terbukti kini di penghujung tahun kekuasaan Jokowi, Blok Mahakam, Blok Rokan dan divestasi 51 persen saham PT Freeport Indonesia selesai dan Jokowi masih bisa tersenyum tanpa beban menyapa rakyat dengan gaya jenakanya.

Belakangan AS dan China harus bermanis muka kepada Jokowi agar Indonesia berperan dalam proposal Indopacific dan tetap saja Jokowi menentukan arah proposal itu sesuai dengan kepentingan Indonesia.

Sementara gerakan pressure group semakin kehilangan ide dan pijakan politik. 

Beberapa diantara mereka kini tersangkut kasus pidana dan mungkin ada yang hampir gila karena ngoceh salah terus. 

Pemilu 2019 adalah panggung Jokowi, untuk periode kedua dengan dukungan penuh dari koalisi partai yang akan menguasai kursi hampir  70% di DPR.. InsyaAllah !

Wahai anak negeri... Jangan biarkan Jokowi berjalan sendiri.🙏.

Kamis, 14 Mei 2020

KH MAS ALWI (SAYYID ABDUL AZIS AL-AZMATKHAN), PEMBERI NAMA NAHDLATUL ULAMA YANG TERLUPAKAN SEJARAH




Habib Alwi Azmatkhan, Sang Pemberi Nama NU yang Terlupakan, Makamnya pun Pernah Hilang. Sosok pemberi nama Nahdlatul Ulama (NU) adalah Sayid Alwi Abdul Aziz al-Zamadghon atau dikenal juga Habib Alwi Abdul Aziz Azmatkhan. Lazim disebut Kiai Mas Alwi. Ia putra kiai besar, Abdul Aziz al-Zamadghon. Bersepupu dengan KH. Mas Mansyur dan termasuk keluarga besar Sunan Ampel, yang juga pendiri sekolah Nahdlatul Waton dan pernah belajar di pesantren Syaikhona Kholil Bangkalan, Madura. Dari pulau garam, ia melanjutkan sekolah di Pesantren Siwalan Panji, Sidoarjo, lalu memungkasi rihlah ‘ilmiyah-nya di Makkah al-Mukarromah.

Setelah pulang dari keliling Eropa, ia membuka warung di Jalan Sasak Ampel, Surabaya. Sebagaimana disebutkan dalam kisah berdirinya NU oleh Kiai As’ad Syamsul Arifin, bahwa sebelum 1926, Kiai Hasyim Asy’ari telah berencana membuat organisasi Jami’iyah Ulama (Perkumpulan Ulama). Para kiai mengusulkan nama berbeda. Namun Kiai Mas Alwi mengusulkan nama Nahdlatul Ulama. Lantas Kiai Hasyim bertanya, “kenapa mesti pakai Nahdlatul, kok tidak jam’iyah ulama saja? Sayid Alwi pun menjawab, “karena tidak semua kiai memiliki jiwa nahdlah (bangkit). Ada kiai yang sekadar mengurusi pondoknya saja, tidak mau peduli terhadap jam’iyah.”

Akhirnya para kiai menyepakati nama Nahdlatul Ulama yang diusulkan Kiai Mas Alwi. Seorang ulama berdarah Hadramaut, Yaman. Lantas siapakah sosok penting yang namanya jarang disebut dalam kancah pergerakan NU selama ini?

Penyelidik Isu Pembaharuan Islam

Kiai Mas Alwi adalah salah seorang pendiri NU bersama Kiai Hasyim Asy’ari, Kiai Abdul Wahab Chasbullah, Kiai Ridlwan Abdullah, dan beberapa kiai besar lain. Mereka bergerak secara aktif di masyarakat sejak NU belum didirikan. Kiai Mas Alwi lah yang pertama mengusulkan nama Nahdlatul Ulama dalam versi riwayat keluarga Kiai Ridlwan Abdullah.

Namun nama Kiai Mas Alwi hampir jarang disebut dalam literatur sejarah NU. Apa sebabnya? Lantaran ia tidak memiliki keturunan dan dikeluarkan dari silsilah keluarga, sebagaimana yang akan tertulis di bawah ini. Hasil olah data dari karangan Maruf Khozin, Wakil Katib Syuriyah NU Kota Surabaya dan Anggota LBM PWNU Jatim. Riwayat ini berdasarkan kisah langsung dari Gus Sholahuddin Azmi, putra Kiai Mujib Ridlwan dan cucu Pendiri NU, Kiai Ridlwan Abdullah (pencipta lambang NU) .

Memang tidak ada data pasti mengenai kelahiran Kiai Mas Alwi. Hanya ditemukan petunjuk dari kisah Kiai Mujib Ridlwan bahwa ketiga kiai yang bersahabat semasa (Kiai Ridlwan Abdullah, Kiai Wahab Chasbullah dan Kiai Mas Alwi), secara usia tidak terlalu jauh jaraknya. Pada masa awal NU berdiri (1926), usia Kiai Ridlwan 40 tahun, Kiai Wahab 37 tahun, dan Kiai Mas Alwi 35 tahun. Maka, Kiai Mas Alwi diperkirakan lahir pada sekitar 1890-an.

Ketiga Kiai tersebut, bukan sosok yang baru bersahabat ketika mendirikan sekolah Nahdlatul Wathon, namun jauh sebelum itu, ketiganya telah menjalin persaudaraan sejak berada di Pesantren Syaikhona Kholil Bangkalan, Madura.

Kiai Wahab dan Kiai Mas Alwi adalah dua kiai yang sudah terlihat hebat sejak masih nyantri di pondok, terutama dari sisi kecerdasan dan kecakapannya sebagai santri. Bersama Kiai Ridlwan Abdullah, Kiai Wahab Chasbullah, dan saudara sepupunya, Kiai Mas Mansur, Kiai Mas Alwi turut membidani pendirian Nahdlatul Wathon. Saat itu, Kiai Mas Mansur menjabat sebagai kepala sekolah, sebelum terpengaruh pemikiran pembaharuan Islam di Mesir yang kemudian menjadi pengikut Muhammadiyah.

Mendalami Renaisans Islam

Saat merebak isu Pembaharuan Islam (Renaissance), Kiai Mas Mansur, adik sepupu Kiai Mas Alwi, mempelajarinya langsung pada Muhammad Abduh, rektor Universitas al-Azhar, Mesir. Maklum, Kiai Mas Mansur berasal dari keluarga yang mampu secara material, sehingga dapat mencari ilmu hingga ke Aleksandria (Mesir) sana.

Kiai Mas Alwi yang bukan dari keluarga kaya pun, bertanyatanya tentang apa yang sejatinya dicari Kiai Mas Mansur hingga ke negeri Mesir. Padahal Renaissance (pembaharuan) itu berasal dari Eropa. Maka ia pun berusaha mengetahui apa sebenarnya Renaissance itu ke Eropa, melalui Belanda dan Prancis–dengan menggabungkan diri dalam pelayaran.

Pada masa itu, orang yang bekerja di pelayaran mendapat stigma buruk di masyarakat dan memalukan bagi keluarga. Sebab pada umumnya pekerja pelayaran selalu melakukan perjudian, zina, mabuk, dan tindak asusila lainnya. Sejak saat itulah keluarga Kiai Mas Alwi mengeluarkannya dari silsilah keluarga dan diusir dari rumah.

Setelah Kiai Mas Alwi berhasil mendapat jawaban dari kegelisahannya, ia pun kembali ke Hindia Belanda. Setiba di tanah air, ia langsung dikucilkan oleh para sahabat, rekan sejawat, dan para tetangga. Tak patah arang, Kiai Mas Alwi membuka warung kecil di Jalan Sasak, dekat wilayah Ampel, demi memenuhi hajat hidupnya. Mengetahui ia telah pulang dari perantauan, Kiai Ridlwan pun datang menyambang.

Najis mughalladzah

Kenapa sampean datang ke sini, Kang? Nanti sampean dicuci pakai debu sama para kiai lain, sebab warung saya ini sudah dianggap najis mughalladzah?

Kiai Ridlwan malah balik bertanya.

Dik Mas Alwi, sebenarnya apa yang sampean lakukan sampai pergi berlayar ke Eropa?

Begini, Kang Ridlwan. Saya ingin memahami apa sih sebenarnya Renaissance itu? Lah, Dik Mansur mendatangi Mesir untuk mempelajari Renaissance itu salah, sebab tempatnya ada di Eropa. Coba sampean lihat nanti kalau Dik Mansur datang, dia pasti akan berkata begini, begini dan begini… (maksudnya adalah kembali ke al-Quran-Hadits, tidak bermadzhab, tuduhan bidah dan sebagainya)

Renaisans di Mesir itu sudah tidak murni lagi, Kang Ridlwan, sudah dibawa makelar. Lha orang-orang itu mau melakukan pembaharuan apa dalam tubuh Islam? Agama Islam sudah sempurna. Tidak ada lagi yang harus diperbaharui. Al-Quran dengan jelas menyatakan”:

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni`mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu (QS. al-Maidah [5]: 3)

Inti dari perjalanan Kiai Mas Alwi ke Eropa adalah, Renaisans yang ada dalam dunia Islam adalah upaya pecah belah yang dihembuskan dunia Barat, khususnya Belanda dan Prancis. Kiai Ridlwan kembali bertanya.

“Dari mana sampean tahu?”

Karena saya berhasil masuk ke banyak perpustakaan di Belanda.”

Bagaimana caranya sampean bisa masuk?

Dengan menikahi perempuan Belanda yang sudah saya Islam-kan. Dialah yang mengantar saya ke banyak perpustakaan. Untungnya saya tidak punya anak dengannya.”

Setelah Kiai Mas Alwi membabarkan perjalanannya ke Eropa secara panjang lebar, maka Kiai Ridlwan berkata: Begini, Dik Alwi, saya ingin menjadi pembeli terakhir di warung ini.”

Ya jelas terakhir, Kang Ridlwan, karena ini sudah malam.”

Bukan begitu. Sampean harus kembali lagi ke Nahdlatul Wathon. Sebab sudah tidak ada yang membantu saya sekarang. Kiai Wahab lebih aktif di Taswirul Afkar. Sampean harus membantu saya.”

Keesokan pagi, sebelum Kiai Ridlwan sampai di Nahdlatul Wathon, ternyata Kiai Mas Alwi sudah tiba lebih dulu. Kiai Ridlwan yang masih kaget pun berkata:

Kok sudah ada di sini?

Ya, Kang Ridlwan, tadi malam ternyata warung saya laku dibeli orang. Uangnya bisa kita gunakan untuk sekolah ini.”

Kedua kiai muda tersebut kemudian kembali membesarkan nama sekolah Nahdlatul Wathon.

Makam Kiai Mas Alwi

Sampai saat ini, belum ditemukan pula data tentang kapan Kiai Mas Alwi wafat, yang jelas, makam beliau terletak di pemakaman umum Rangkah, yang sudah lama tak terawat–bahkan pernah berada dalam dapur pemukiman liar yang ada di tanah pekuburan umum.

KH Asep Saefuddin, Ketua PCNU Surabaya, pernah mengerahkan Banser guna menertibkan rumahrumah yang merambah ke makam Kiai Mas Alwi. Maka sejak saat itu, makam beliau mulai dibangun dan diberi pagar. Kini, setiap perhelatan Harlah NU, Pengurus Cabang NU Surabaya kerap mengajak MWC dan Ranting se-Surabaya untuk ziarah ke makam para Muassis, khususnya wilayah Surabaya.

Pertanyaan kita, mengapa beliau dikebumikan di pemakaman umum? Tak ada jawaban pasti. Kemungkinan terbesar, karena beliau telah dikeluarkan dari silsilah keluarganya.

Sebagian kecil Nahdliyin yang mengetahui fakta ini sempat mengusulkan agar makam beliau dipindah ke kawasan Ampel. Berita ini telah diterima oleh PCNU Surabaya dan akan ditindaklanjuti. Tetapi bila prosesnya menemukan jalan buntu, maka PCNU akan berencana memindah makam beliau ke kawasan makam Jl. Tembok, diletakkan di sebelah makam sahabatnya, Kiai Ridlwan Abdullah.

Di area makam tersebut telah dikebumikan pula beberapa tokoh NU, di antaranya adalah; KH Abdullah Ubaid dan KH Thohir Bakri (dua tokoh pendiri Ansor), Kiai Abdurrahim (salah seorang pendiri Jamqur atau Jam’iyah Qurra wa l-Huffadz), Kiai Hasan Ali (Kepala logistik Hizbullah), Kiai Amin, Kiai Wahab Turham, Kiai Anas Thohir, Kiai Hamid Rusdi, Kiai Hasanan Nur, dan beberapa kiai lain.

Sosok besar yang nyaris terpendam dalam kuburan sejarah ini, telah menanggung risiko serius dengan dikeluarkan dari daftar keluarga sekaligus hak warisnya. Namun ia tetap melanjutkan tekadnya meneliti akar persoalan umat Islam saat itu hingga sampai ke Benua Biru. Sudah sepantasnya Muslim Indonesia harus menyertakan nama Kiai Mas Alwi saat nama para Muassis NU lain disebut.

Semoga Allah mengganjar perjuangan Kiai Mas Alwi dan para Muassis NU sebagai amal jariyah mereka. Semoga Allah mengangkat derajat mereka dan memberi keberkahan kepada para pejuang NU saat ini, sebagaimana Allah telah melimpahkan keberkahan kepada mereka semua. Semoga juga Pemerintah saat ini tergerak menahbis Kiai Mas Alwi sebagai pahlawan bangsa Indonesia–setelah Kiai As’ad Syamsul Arifin–dari kalangan Nahdlatul Ulama. Amin ya Rabb l-‘Alamin. Al-Fatihah…

#GMNU-CT

Rabu, 13 Mei 2020

Kenapa KH.SAID AQIL SIRADJ Begitu Sangat Di Musuhi Wahabi ?


Kenapa KH.SAID AQIL SIRADJ
Begitu Sangat Di Musuhi Wahabi ?
_______________________

Selain Karna Pengaruh Nya Sebagai Pemegang Kendali Nahdlatul Ulama Yang Selama Ini Berjibaku Sendirian Menanamkan Nilai-Nilai Kerukunan Sosial,Islam Yang Ramah & Nasionalisme Pada Semua Generasi Penerus
Upaya Wahabi Terhalang Benteng Besar, Merebut Pengaruh Masyarakat Indonesia Yang Sudah Begitu Menyatu Pada Sang Legenda Islam Bumi Pertiwi, Bukan Itu Saja, Ada Satu Alasan Kenapa Kalangan Mereka Sangat Muak Dan Sangat Benci Terhadap KH.SAID AQIL SIRADJ

"Karena KH.SAID AQIL SIRADJ Sudah Berpuluh-Puluh Tahun Lamanya Menimba Ilmu Dan Di Besarkan Di Lingkungan Paham Wahabisme, Hingga KH.SAID AQIL SIRADJ Paham Betul Mulai Dari Latar Belakang Sampai Tujuan Wahabi Yang Sudah Menghancurkan Banyak Negara Dengan Propaganda, Isu, Pembenturan Islam Dengan Cara Fitnah, Doktrin/Dogma Mencuci Otak Para Pengikutnya Seolah ISLAM Sedang Terdzolimi Di Negri Ini, Maka Dengan Mudah Pengikutnya Siap Mati Menjadi Pemberontak Di Negri Nya Sendiri,
KH.SAID AQIL SIRADJ Ladang Wawasan Tentang Islam, Telaga Ilmu Bidang Islam, Mereka Tidak Berani Mendebat Secara Terang-Terangan, Yang Hanya Bisa Mereka Lakukan Hanya Fitnah Dan Mempelintir Mengedit Sampai Memalsukan Hadits Untuk Membunuh Karakter Siapa Saja Yang Menghalangi Tujuan Mereka. GUS MUS, QURAISH SHIHAB Dan Masih Banyak Lainnya Ulama Di Nahdlatul Ulama Yang Secara Keislaman Sangat Di Akui Dunia Internasional,
Mau Di Bandingkan Dengan Siapa? Lha Wong Wahabi Nyatutin Ustadz Anak Kemaren Sore Semua, Mau Bandingin Sama UAS ? Yaa Jauh Lah, UAS Belajar Nya Di LDNU Riau Di Bawah Bimbingan Nahdlatul Ulama UAS Ya Masih Darah NU, Sudah Luntur Atau Tidak Nya Ya Itu Pilihan Beliau, Siapa Lagi ? HANAN ATTAKI ? Tuan Muda Yang Baru Hijrah ? Siapa Lagi ADI HIDAYAT ? Felix Siauw? Mualaf Kuncen Surga,? Lha Wong UAS Saja Harus nya Cium Tangan, Lha Wong TGB Lulusan Terbaik & Ketua Alumni Al-Azhar Mesir Cium Tangan, Ngaku Ustadz Itu Paling Mudah, Bisa Ngafalin Teks Selembar Ngomong Bisa Ngelawak Bla..Bla..Bla.. Beres...

Yang Susah Itu Bagaimana Menjadikan AGAMA Sebagai KEKUATAN BANGSA Sebagai BENTENG NEGARA, Bukan Malah Mencuri Kata Jihad Untuk Menabrak Tatanan NEGARA.

Inget INDONESIA Yaa INGET NU
Inget HTI Yaa Inget 1515
Tukang Bikin Bom Kok Di Ikutin, Yaa MATEE
Tukang Demo Kok Di Ikutin, Yaa CAPEKK

Mending Ikut NU Bisa Tiap Malem Makan Berkat

Udah Gitu Aja...
Cah Ndeso [ VJB ]

Nahdliyin Online
Media NU Paling Keren...!!!

MELUMPUHKAN NU DENGAN OPERASI NAGA HIJAU




Oleh Kiai Ainur Rofiq 

Tulisan di bawah ini saya ambil dari karya KH.  Abdul Mun'im.  Saat Orde Baru berkuasa,  NU berhadapan dengan penguasa. Absurdnya,  ormas Islam  lain yang sering menyuarakan ukhuwah Islam justeru  bungkam seribu bahasa saat NU direpresi.  Lebih naif lagi,  Orde Baru saat membungkam dan hendak menghabisi NU dibantu oleh beberapa kelompok Islam militan atau radikal. Berikut kisahnya. 

Saat KH Abdurrahman Wahid memegang tampuk pimpinan NU,  ternyata kepengurusannya tidak diakui pemerintah Orde Baru.  Maka untuk mengacaukan kepemimpinan Gus Dur,  diciptakan konflik dengan mendorong berdirinya NU tandingan yang dipimpin Abu Hasan. 

Para ulama NU dituduh memfitnah, lalu satu persatu ulama NU diperiksa di Polda Jakarta Raya, Hal itu semata untuk meruntuhkan mental para ulama. Tetapi soliditas waga NU semakin kuat. Para pimpinan NU terutama Abdurrahman Wahid yang saat itu juga sebagai ketua Forum Demokrasi dilarang bicara di mana-mana, juga dijegal dengan berbagai cara. 

Ketika cara halus tidak bisa dipakai,  maka cara yang lebih keras dilakukan, yaitu dengan melakukan tindakan militer. Basis NU di daerah tapal kuda khususnya Banyuwangi mulai dijadikan target operasi. 

Pertama yang dilakukan adalah dengan dalih memberantas dukun santet. Ternyata yang disebut dukun santet adalah para kiai, yang memang semua kiai memiliki kemampuan tradisional sebagai tabib. Para kiai NU itu dibantai satu-persatu oleh keompok tak dikenal, tetapi ada juga yang dilakukan oleh masyarakat setempat setelah diprovokasi oleh pihak luar. Ratusan kiai menjadi korban operasi ini. Banyak kiai mendapatkan teror dan ancaman. 

Operasi yang semula di Banyuwangi itu mulai menyebar ke daerah Jawa Timur yang lain akhirnya merebak ke seluruh Jawa. Anehnya yang dijadikan sasaran hanya para ulama NU, ulama dari ormas lslam lain tidak ada yang menjadi korban. 

Karena aparat keamanan tidak bisa membantu, masyarakat NU dalam mengatasi operasi ninja itu, maka banser dan masyarakat dengan dibimbing oleh para kiai sendiri melakukan penjagaan. Dalam penjagaan itu berhasil menangkap beberapa pelakunya yang berpakaian ninja. Anehnya setelah tertangkap mereka menjadi orang gila yang tidak bisa diajak berkomunikasi. Saat itu muncul orang gila di berbagai tempat. 

Melihat kenyataan itu, KH Hasyim Muzadi Ketua NU Wilayah Jawa Timur marah sambil meledek pada pemerintah, bahwa tidak mungkin ada organisasi orang gila atau koperasi orang gila, kok tiba-tiba muncul orang gila di mana-mana, padahal jumlah orang gila di daerah ini sangat terbatas, dan sebagian besar dirawat di rumah sakit jiwa. 

Tentu ini ulah orang waras yang terorganisir secara rapi untuk membuat kerusuhan dan pembantaian. Demikian protes Hasyim Muzadi. Operasi ninja ini sangat merepotkan NU, karena para ninja itu memiliki kemampuan tempur yang sangat tinggi, bisa menculik kiai yang sudah dijaga dengan ketat, sehingga merepotkan para pendekar pesantren. Tetapi dengan ketinggian ilmu kanuragan kaum santri, serta kekompakan mereka gerakan kelompok ninja sedikit banyak bisa ditanggulangi. 

Sayang, saat NU menghadapi penindasan dan pembantaian luar biasa itu, tidak ada ormas Islam lain yang membantu. Ukhuwah Islamiyah yang dibangun NU selama ini tidak mereka terapkan. Demikian juga kalangan minoritas yang selama ini dibela oleh NU khususnya Gus Dur dengan segala risiko, tetapi kelompok minoritas tidak memberikan bantuannya saat mengenaskan seperti itu. Kelihatan kelompok lain hanya minta perlindungan dan bantuan NU, tetapi mereka tetap enggan membantu NU. Ini sangat ironis, namun demikian NU tidak pernah surut membantu siapapun. 

Setelah suasana agak reda,  berbagai kelompok termasuk lembaga swadaya masyarakat melakukan investigasi dan membentuk tim pencari fakta, maka ditemukan banyak keanehan dan kejanggalan dalam operasi para ninja itu, dimana menunjukkan adanya keterlibatan kelompok Orde Baru bahkan beberapa kelompok Islam militan dalam operasi tersebut. 

KH. Abdurrahman Wahid kemudian membeberkan bahwa kesemuanya gerakan militer tersebut adalah operasi naga hijau yang sengaja dilakukan oleh rezim Orde Baru untuk menghancurkan kekuatan NU. Dalam operasi itu 400 orang pimpinan dan warga NU tewas dibantai, selama masa pembantaian itu NU tidak pernah mendapat bantuan apalagi perlindungan dari aparat keamanan TNI dan Polri. NU dengan Banser dan Pagar Nusa serta pasukan santri menghadapi sendiri. Dengan kesigapan itu operasi militer ninja yang disebar ke seluruh Jawa itu bisa ditanggulangi oleh NU sendiri. 

Sementara umat Islam yang lain tenang-tenang tidak diserang dan juga tidak berusaha membantu NU. Tetapi NU sudah kuat sehingga tanpa bantuan sudah mampu mengatasi persoalan sendiri. 
****

Buku Sejarah Tambakberas dipegang dan dibaca KH.  Ma'ruf Amin

Selasa, 12 Mei 2020

ISLAMISASI atau ARABISASI?



Ada kalangan yang belum bisa membedakan antara Islam dan Arab. Antara Islami dan Arabi. Islami berarti sifat atau nilai-nilai yang terkandung dalam ajaran Islam seperti perdamaian, cinta kasih, persaudaraan, toleransi dan sebagainya. Sedangkan Arabi adalah sifat kearab-araban. 

Sesuatu yang bersifat Islami tentu sudah mesti baik namun sesuatu yang bersifat Arabi atau budaya Arab belum tentu baik. Ada yang baik dan ada yang buruk. Budaya Arab yang baik adalah budaya Arab yang selaras dengan ajaran Islam sedangkan budaya Arab yang buruk sudah tentu bertabrakan dengan ajaran Islam, misalnya budaya Arab Jahiliyah. 

Sebagai muslim tentu yang kita sebarkan adalah nilai-nilai Islaminya, bukan yang penting Arab, bukan nampak Arab secara lahiriyah karena nilai-nilai Islami ini tidak harus datang dari Arab. Budaya Nusantara juga ada yang mengandung nilai-nilai Islami seperti gotong royong, tepo seliro, andab asor dan sebagainya. Islam akan menyerap budaya apapun selagi sesuai dengan ajaran Islam. Jadi Islam bukanlah semata-mata agama penghancur budaya lokal. 

Dengan demikian, kita sebagai muslim Nusantara tak selayaknya membumihanguskan budaya-budaya Nusantara selagi tidak menabrak ajaran Islam. Kita pertahankan yang baik dan kita tinggalkan yang buruk. Justru dengan mempertahankan budaya Nusantara yang baik itulah maka Islam di Nusantara akan semakin kokoh. Tanpa ditopang dengan budaya-budaya lokal maka Islam akan sulit berkembang dimanapun berada. 

Kearifan lokal inilah yang kemudian ulama NU meramunya dengan konsep "Islam Nusantara". Islam yang hidup dan berkembang dengan tradisi Nusantara yang tidak menabrak syari'at. Islam yang membumi sesuai dengan karakter masyarakat Nusantara. Menyerap ajaran Islam dengan tidak menanggalkan budaya leluhur yang baik. 

Mengapa perlu konsep "Islam Nusantara"? Tujuannya agar budaya muslim Nusantara tidak digerus dan tidak digempur oleh gerakan Arabisme/Arabisasi. Ada kelompok yang berupaya menghancurkan semua budaya Nusantara dengan dalih menyebarkan ajaran Islam. Bahkan muslim Nusantara yang tidak bergaya Arab dianggap tidak muslim alias Islamnya tidak kaffah. Ahli bid'ah, musyrik dan sebaginya. Mereka inilah yang gagal dalam memahami ajaran Islam yang sebenarnya. 

Ingat, menjadi muslim tidak harus menjadi Arab. Kita perlu cerdas memilah mana yang esensi ajaran Islam itulah yang kita serap dan mana yang hanya bungkus Arabnya tak perlu kita ambil jika tidak selaras dengan ajaran Islam. Tidak harus tergila-gila dengan Arab, tidak waton Arab karena tidak semua yang berbau Arab itu baik dan tidak semua orang Arab itu muslim. Tak perlu jadi Arab. Tak perlu jadi Wahabi. Tak usah jadi HTI. 

Oleh Suryono Zakka, Aswaja Sumsel

Senin, 11 Mei 2020

WASPADA GENERASI BARU IBNU MULJAM, SAAT QUR’AN JADI DASAR




||👉 “ MENUMPAHKAN DARAH ”

Pernah mendengar nama ibnu Muljam? 
Jika belum, teruslah membaca karena sejarah telah mencatat sekelompok orang yang menggunakan ayat-ayat Al Qur’an untuk tindak kekerasan bahkan membunuh saudaranya sesama Muslim. 
Mereka adalah kelompok khawarij yang menentang keras Sayyidina Ali bin Abi Thalib sejak peristiwa tahkim dengan Muawiyah bin Abi Sofyan.

Peristiwa tahkim menimbulkan perbedaan pendapat di kalangan umat Islam saat itu yang akhirnya menimbulkan perpecahan. 
Tak lama setelah itu, Sayyidina Ali pun dibunuh karena dinilai tidak menegakkan hukum Allah.

Itulah kebodohan dan kesesatan orang Khowarij yang saat ini masih ngetrend ditiru oleh sebagian umat Muslim di beberapa belahan dunia tak terkecuali Indonesia. 
Mereka menggunakan ayat Al Qur’an untuk melegalkan tindakannya. 
Bahkan dengan angkuh mengancam perang, tak khawatir terjadinya pertumpahan darah saudaranya.

Sungguh, orang yang demikian ini tidak jauh berbeda dengan Ibnu Muljam, pencabut nyawa Sayyidina Ali sang kholifah. 
Saat melakukan aksinya, Ibnu Muljam tidak berhenti membaca Surat Al Baqarah ayat 207:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ

“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridloan Alloh; dan Alloh Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.”

Sebagai hukuman atas kejahatannya, Ibnu Muljam kemudian dieksekusi mati dengan cara qishos. 
Proses hukuman mati untuk Ibnu Muljam berlangsung dengan penuh dramatis. 
Begitu tubuhnya diikat untuk dipenggal kepalanya, ia masih sempat berpesan kepada algojo:

“Wahai Algojo, janganlah engkau penggal kepalaku sekaligus. 
Tetapi potonglah anggota tubuhku sedikit demi sedikit hingga aku bisa menyaksikan anggota tubuhku disiksa di jalan Alloh.”

Ibnu Muljam meyakini sepenuh hati bahwa aksinya membunuh suami Sayyidah Fathimah, sepupu Rosululloh, dan ayah dari Sayyid Al-Hasan dan Al-Husein, adalah sebuah aksi jihad fi sabilillah. 

Seorang ahli surga Kholifah Ali meregang nyawa di tangan seorang muslim yang meyakini aksinya di jalan kebenaran.

Potret Ibnu Muljam adalah realita yang terjadi pada sebagian umat Islam era sekarang. 
Generasi pemuda yang mewarisi Ibnu Muljam giat memprovokasikan berjihad di jalan Allah dengan cara perang bahkan membunuh nyawa sesama kaum muslimin.

Siapa Ibnu Muljam? 
Dia adalah lelaki sholih, zahid, dan bertakwa kepada Allah. 
Dia mendapat julukan Al-Muqri’. 
Dia seorang hafidz sekaligus orang yang mendorong sesama muslim untuk menghafalkan kitab suci Al Qur’an.

Khalifah Umar bin Khattab pernah menugaskan Ibnu Muljam ke Mesir untuk memenuhi permohonan ‘Amr bin ‘Ash mengajarkan hafalan Al Quran. 

Khalifah Umar bahkan menyatakan:
“Abdurrohman bin Muljam salah seorang ahli Al Quran yang aku prioritaskan untukmu ketimbang untuk diriku sendiri. 
Jika ia telah datang kepadamu maka siapkan rumah untuknya untuk mengajarkan Al Quran kepada kaum muslimin dan muliakanlah ia wahai ‘Amr bin ‘Ash” kata Umar.

Meskipun Ibnu Muljam hafal Al Qur’an, bertaqwa dan rajin beribadah, semua tidak bermanfaat baginya. 
Dia mati dalam kondisi su’ul khotimah, tak membawa iman dan Islam akibat kedangkalan ilmu agama yang dimilikinya. 
Afiliasinya kepada sekte Khawarij telah membawanya terjebak dalam pemahaman Islam yang sempit.

Ia mengklaim surga Allah dengan sangat tergesa-gesa dan dangkal. 
Diapun dengan sembrono melakukan aksi bertentangan dengan nilai-nilai luhur agama Islam. 
Betapa menyedihkan, karena aksi itu diklaim karena membela agama Allah dan Rasulullah.

Sadarkah Kita...?!
Sadarkah kita bahwa saat ini telah lahir generasi-generasi baru Ibnu Muljam. 
Mereka bergerak secara massif dan terstruktur. 
Mereka adalah kalangan shaleh yang menyuarakan syariat dan pembebasan umat Islam dari kesesatan. 
Mereka menawarkan jalan kebenaran menuju surga Allah dengan mengkafirkan sesama muslim.

Ibnu Muljam gaya baru ini lahir dan bergerak secara berkelompok untuk meracuni generasi-generasi muda. 
Mereka dengan mudah mengkafirkan sesama muslim, dengan enteng menyesatkan kiai dan ulama. 
Raut wajah mereka memancarkan kesalehan yang bahkan tampak pada bekas sujud di dahi.

Mereka senantiasa membaca Alquran di waktu siang dan malam. 
Namun sesungguhnya mereka adalah kelompok yang merugi. 

Sebab, Rasulullah ﷺ dalam salah satu hadisnya telah meramal kelahiran generasi Ibnu Muljam ini:

“Akan muncul suatu kaum dari umatku yang pandai membaca Al Quran dengan lisan mereka tetapi tidak melewati tenggorokan mereka, mereka keluar dari Islam sebagaimana anak panah meluncur dari busurnya” (Shohih Muslim, hadits No.1068)

>> Kebodohan mengakibatkan orang seperti mereka merasa berjuang membela kepentingan agama Islam. 
Sementara hakikatnya mereka sedang memerangi Islam dan kaum muslimin.
____________________________
Source : 📝Duta Islam [dot]com
#Sejarah_ibnu_muljam_khawarij 
#Nahdlatul_Ulama
#IslamNUsantara
#HubbulWathonMinalIman

Demi Pembenaran Ide Khilafah, HTI Tak Segan Mencatut NU, Ini 5 Kasusnya yang Terungkap




HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) semakin mendapat sorotan berbagai pihak. Ormas yang mengaku sebagai partai ini selalu membawa label Islam dalam setiap pergerakannya. Mengusung ide khilafah yang meliputi seluruh dunia islam, menghilangkan batas territorial negara, merupakan ide pokok khilafah ala Hizbut Tahrir.

Muktamar Khilafah HTI yang dibungkus acara Isra’ Mi’raj kemarin (Minggu, 01/05/2016), kembali membuktikan bahwa HTI selalu menyusupkan agenda kampanye khilafah melalui berbagai cara. Dilansir beritajatim (dot) com, acara  yang bertempat di gedung New Sari Utama di Jalan Hayam Wuruk, Jember, Jawa Timur, itu akhirnya bubar setelah didemo oleh Banser. Sempat nyaris bentrok dengan polisi, massa banser akhirnya membubarkan diri setelah acara itu tidak dilanjutkan.

Sepak terjang HTI dan aktivis serta simpatisannya dalam memperjuangan ide khilafah selama ini, terkesan menghalalkan semua cara. Entah apa yang mereka jadikan dalil pembenaran atas semua itu. Memang, untuk menguasai dan menyetir opini masyarakat Indonesia yang mayoritas Islam Ahlussunnah wal Jamaah ala NU dan ormas sejenisnya, perlu banyak trik penyamaran.

Di sisi lain, sungguh aneh sikap adem ayem pemerintah yang mendiamkan gerakan penyebaran ide anti-Pancasila dan NKRI yang diusung HTI. Fakta dalam tulisan kali ini hanya sekelumit dari sekian fakta lapangan yang tak terungkap atau diekspos. Demi pembenaran ide khilafah, ini 5 kasus pencatutan HTI yang terungkap:

1. Catut Logo NU
Sejak 2007, HTI telah melakukan pencatutan NU dalam muktamarnya. Bertempat di GBK, pada muktamar khilafahnya, terpampang spanduk bertuliskan “Warga Nahdliyin Rindu Khilafah”. Kasus ini tampaknya belum begitu disoroti oleh kalangan NU. Tidak begitu banyak pemberitaan terkait hal ini. Namun foto spanduk tersebut masih beredar di dunia maya.

Tampaknya, pendiaman itu membuat simpatisan HTI menganggapnya sebagai dukungan. Lebih lanjut, gambar spanduk tersebut kini dijadikan sebagai foto sampul sebuah Fanpage (FP) yang mengatasnamakan “Warga NU Rindu Syari’ah dan Khilafah.” FP ini memiliki seribuan lebih dukungan like dan masih aktif hingga saat ini. Status-statusnya dipenuhi kutipan pendapat atas nama para ulama NU.

2. Catut Logo NU yang Salah Parah
Menyambut Ramadhan 1431/Agustus 2010, spanduk mengatasnamakan PCNU Bangka Tengah turut meramaikan pawai HTI. Spanduk itu bertuliskan “Sambut Ramadhan dengan Iman dan Takwa, Raih Kemuliaan dengan Syari’ah dan Tegaknya Khilafah”. Yang lucu, spanduk palsu itu memuat logo NU yang salah parah. Gambar bola dunia yang biasa berada di tengah tali, justru berganti dengan gambar Ka’bah.

Foto spanduk itu diunggah oleh salah satu simpatisan HTI dengan nama akun “Dahlan Bogor”. Dia menambahkan komentar “NU yang Asli adalah NU yang mendukung HTI dalam menegakkan syari’ah dan khilafah. Sementara NU yang menolak khilafah adalah NU sempalan. Yang jiwanya udah kebeli oleh harta dunia.”

3. Catut Nama Pagar Nusa
Kasus catut nama Banom (Badan Otonom) NU satu ini terjadi pada Muktamar Khilafah Ahad 2 Juni 2013. Pada salah satu sudut acara yang berlangsung di GBK (Gelora Bung Karno) itu, terpampang spanduk atas nama Pagar Nusa. Spanduk itu mengatasnamakan Pengurus Wilayah Tanjungsari-Sumedang.

Berita itu memancing reaksi dari PCNU Sumedang, Aceng Muhyi. Ia mengecam kejadian tersebut dan menegaskan bahwa spanduk itu jelas palsu. Setelah timbul reaksi dari NU, HTI berusaha melakukan pembelaan dengan sebuah klarifikasi dari pihak yang mengaku sebagai Ketua Pagar Nusa Tanjungsari, Sumedang, Jawa Barat. Klarifikasi itu bahkan dimuat dalam situs resmi HTI, hti.or.id. Tersebutlah nama Asep Wahyu yang mengaku sebagai Pengurus Pagar Nusa Tanjungsari.

Ternyata, pihak PCNU dan Pagar Nusa Sumedang menyatakan belum pernah mengeluarkan SK apalagi melantik Pagar Nusa Cabang kecamatan Tanjungsari. Parahnya, nama Asep Wahyu yang diklaim HTI sebagai ketua Pagar Nusa Tanjungsari dinyatakan sebagai orang yang tidak dikenal dan tidak ada dalam daftar kepengurusan NU di posisi atau tingkatan manapun.

Lebih parah lagi, tulisan di spanduk itu turut membuktikan kebohongan HTI. Untuk wilayah kecamatan, pengurusnya adalah Pengurus Anak Cabang (PAC) dan seharusnya tertulis “PAC Pagar Nusa Tanjungsari”, bukan “Pagar Nusa Wilayah Tanjungsari”. Kronologi lengkap kasus ini dimuat di Muslim Media News.

4. Catut Pengurus PBNU
Tanggal 5 Januari 2015, FP Muslimah Menyongsong Khilafah mengunggah sebuah gambar bertuliskan “Mestinya umat islam, termasuk PBNU, bersyukur dan mengucapkan alhamdulillah ada HTI, karena dalil khilafah itu kuat dan tidak bisa ditentang (Pengurus PBNU, Ustadz Farozi)”.

Hal itu tidak didiamkan oleh kalangan NU. Ternyata, setelah diklarifikasi oleh Tim Sarkub, ditemukan fakta bahwa tidak ada satu pun pengurus PBNU yang bernama Ustadz Farozi. “Tidak ada pengurus PBNU yang bernama Ustadz Farozi!!! Ini sungguh hal yang sangat kurang ajar yang dilakukan oleh kader-kader HTI. Hanya untuk mewujudkan mimpinya, mereka mencatut PBNU,” kata Tim Sarkub (7/2/2015) seperti dilansir MMN.

5. Catut Politisi untuk Spanduk Ramadhan
Kasus spanduk khilafah dengan mencatut politisi PKB terjadi di Sumenep. Spanduk menyambut ramadhan itu mengatasnamakan jajaran pimpinan DPRD Sumenep. Terpampang 4 foto anggota DPRD dan memuat tulisan bernada ajakan “Bersama Umat, Sambut Ramadhan, Tegakkan Khilafah.”

Seperti dilansir Portal Madura (23/6/2015), Ketua DPRD Sumenep, Herman Dali Kusuma menyatakan tidak tahu ada banner (spanduk) tersebut. “Itu tidak benar. Saya tidak tahu kalau banner itu ada kalimat, Tegakkah Khilafah,” tegas Herman. Ia bahkan telah memerintahkan bagian Humas DPRD Sumenep agar mencabut spanduk tersebut. “Sudah dari jam 7 malam tadi, saya perintahkan agar banner itu diturunkan,” tegas politisi dari PKB itu.

Tidak dapat dipungkiri, HTI telah memiliki rekam jejak yang buruk dalam menyebarkan ideologi dan cita-citanya. Kasus catut-mencatut dan klaim dukungan sudah menjadi hal lumrah. Sehingga, kalaupun ada kutipan pendapat maupun fatwa dari ulama tertentu yang mereka klaim sebagai dukungan perjuangan mereka, maka hal itu layak untuk diteliti kebenarannya.

Dilansir Suara al-Azhar, Syekh Said Ramadlan al-Buthi pernah ditanyai mengenai muslim yang berbohong demi mendirikan negara Islam. Jawab beliau,“Otomatis sebuah negara Islam tidak mungkin dibangun di atas sebuah kebohongan. Sepanjang sejarah Islam tidak kita ketahui adanya negara Islam yang bediri di atas tiang-tiang kebohongan. Apakah Anda pernah mendengar ada perkara yang dihasilkan dari hal yang sebaliknya?”

Minggu, 10 Mei 2020

HTI Ber-HOAX


HTI Ber-HOAX

Dalam dunia maya banyak beredar video yang memfinah NU sembari menjunjung tinggi HTI, seperti video di bawah ini. Grand designnya memframe dan mengopinikan bahwa NU meng-amini dan menyetujui apa yang sedang dijajakan HTI, yaitu khilafah ala tahririyahnya. Pada saat yang sama pula, mereka menuduh NU telah melenceng dari garis perjuangan Hadratussyeikh, tepatnya semenjak NU dipimpin Gus Dur sampai ke belakang (saat ini). Hal tersebut adalah fitnah di atas fitnah, fitnahnya fitnah.

Berikut pelurusan fitnah tersebut. Gus Sholah (KH Sholahudin Wahid, adik kandung KH Abdurrahman Wahid) berkata (anggap video itu tidak diedit oleh para anggota HTI):

1. Jadi, saya ulangi sekali lagi. NU dulu memperjuangkan negara berdasarkan syariat Islam.
2. Tahun 84 NU kemudian beralih menerima negara berdasarkan Pancasila.
3. Itu perubahan yang terjadi.

Berangkat dari tiga pernyataan Gus Sholah di atas, ustadz Fahmi al-Anjatani, pengasuh Ponpes Nurul Falah yang "sepertinya" seorang kader HTI menggoreng sampai gosong, pernyataan Gus Sholah tersebut untuk disesuaikan dengan agenda HTI.

Dalam narasinya, si Fahmi ini mempertentangkan pernyataan Gus Sholah dengan pola pikir NU semenjak Gus Dur, Abah Hasyim Muzadi sampai Kiai Said. Dia membenturkan pola pikir Gus Dur khususnya dengan Gus Sholah (saudara kandung, kakak adik mau dipecah oleh si Fahmi). Padahal sejak tahun 1984 Gus Dur menjadi maskot NU. Jika disebut nama Gus Dur, berarti itu NU. Jika disebut NU, itu ya Gus Dur. Ini karena perjuangan Gus Dur yang sangat heroik dalam membawa NU selamat dari penetrasi dan genosida yang diancarkan Orba terhadap NU.

Dalam video tersebut, si Fahmi mengatakan bahwa NU semenjak dipegang Gus Dur sampai sekarang sudah menyeleweng dan melenceng dari garis perjuangan Hadratussyeikh KH Hasyim Asyari. Itulah fitnah yang diviralkan oleh ustadz Fahi al-Anjatani dan HTI nya kepada NU, yang disebar ke seluruh media sosial. Ini terjadi disamping karena kebencian si Fahmi terhadap Gus Dur dan anak ideologisnya juga kekurangpahaman dia terhadap NU. Dia tidak faham bagaimana fikrah dan harakah NU itu. Jika dipahami dengan seksama dan jika sudah tahu bagaimana fikrah dan harakah NU maka tidak kaget dengan pernyataan Gus Sholah. Apa yang dikatakan Gus Sholah itu benar adanya.

NU dari dulu sampai sekarang memang dan harus memperjuangkan dan menegakkan syariat Islam. Bahkan tidak hanya NU saja, semua orang bahkan semua organisasi yang merasa Islam, WAJIB menegakkan syariat Islam. Ini adalah syarat dan rukun sebagai seorang muslim atau kelompok muslim. 

NU semenjak dipimpin Hadratussyeikh sebagai Rais Akbar dengan KH Hasan Gipo sebagai Ketum (Tanfidziyah) PBNU, sampai zaman Gus Dur, Kiai Hasyim Muzadi dan Kiai Said Aqil tetap konsistem memperjuangkan dan menegakkan syariat Islam. Itu fakta nyata di depan mata yang tak terbantahkan. Jadi, apa yang diungkapkan Gus Sholah itu benar adanya.

NU dalam sidang BPUPKI sampai PPKI dengan wakilnya KH Wahid Hasyim ikut merumuskan dasar dan ideologi negara yaitu Pancasila. Pancasila "model lama" sila pertamanya berbunyi, "Ketuhanan dengan kewajiban melaksanakan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya". Karena satu dan lain hal akhirnya dirumuskanlah Pancasila "model baru" yaitu dengan menghapus tujuh kata "dengan kewajiban melaksanakan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya" diganti dengan redaksi sila pertama yang berbunyi, "Ketuhanan Yang Maha Esa", yang kesemuanya itu banyak campur tangan dari NU.

Mungkin ada yang bertanya, mengapa NU setuju bahkan "mengusulkan dan menyarankan" agar tujuh kata di atas dihapus? Jawabnya adalah karena itu STRATEGI DAKWAH. Kok bisa disebut strategi dakwah? Iya, karena saat itu jika redaksi sila pertama tetap dengan mencantumkan tujuh kata maka rakyat Indonesia Timur akan memisahkan diri dari NKRI. Ini fakta, bukan gertakan sambal dan bukan omong kosong. 

Maka tim perumus dasar negara PPKI sowan ke kediaman Hadratussyeikh KH Hasyim Asyari untuk minta solusi terkait masalah pelik tersebut, yaitu penghapusan tujuh kata. Sampai sempat terjadi perdebebatan sengit sampai deadlock. Kemudian dari itu Hadratussyeikh memohon petunjuk dari Allah subhanahu wata'ala. Beliau sholat, wirid dan taqarrub memohon petunjuk bagaimana terkait Pancasila dan terkait penghapusan atau tidak. (Penjelasan terkait ini mungkin saya tulis pada kesempatan lain karena ceritanya cukup panjang). 

Akhirnya diputuskan untuk menghapus tujuh kata dalam Pancasila dengan ittiba' perjanjian Rasulullah yang dikenal Piagam Madinah, yang mana ada komplain dari kaum kafir terkait redaksi perjanjian, yang akhirnya Rasul menuruti keinginan kaum kafir tersebut demi strategi dakwah.

Dengan rakyat Indonesia Timur tidak memisahkan diri dari Indonesia maka NU, dan ormas-ormas Islam lainnya akhirnya bisa dakwah di Indonesia Timur sampai sekarang. Seandainya Indoneia Timur berpisah dari Indonesia (seperti Timor Timur/Timor Leste) maka pasti tak mungkin bisa dakwah ke situ karena secara administrasi sudah luar negeri. Sehingga barokahnya Indonesia Timur tidak keluar dari NKRI, maka ada PWNU Papua, PWNU NTT, PWNU Bali, PWNU Maluku, PWNU Sulawesi dan sebagainya. Dan pasti tidak ada PWNU Timor Leste (Timor Timur) karena sudah memisahkan diri dari Indonesia. Pun juga ada PW Muhammadiyah wilayah Indonesia Timur, ada Alkhairat, ada DDI di Indonesia Timur, dan ormas-ormas Islam lainnya. 

Disamping itu muslim yang berada di daerah minoritas Indonesia Timur tidak digencet pemerintahan setempat. Lain halnya jika seandainya Indonesia Timur pisah dari Indonesia maka nasib muslim di sama menjadi minoritas. Fakta menunjukkan nasib muslim minoritas seperti itu akan diperlakukan semena-mena, contoh Suku Kurdi, Rohingya, Uighur dan sebaginya. Dengan tetap wilayah mereka ikut Indonesia maka sama dengan menyelamatkan aqidahnya. Karena tidak menutup kemungkinan umat Islam yang berada di daerah minoritas akan dipaksa untuk murtad. 

Itu adalah hikmah karena Indoensia Timur tidak memisahkan diri dari NKRI. Sekali lagi itulah yang dimaksud strategi dakwah. Jadi, mainsetnya seperti ini, LEBIH BAIK KEHILANGAN FIQIH DARI PADA KEHILANGAN AQIDAH. Bentuk khilafah, negara Islam atau Tujuh Kata, itu adalah ranah fiqih, wilayah ijtihadiyah. Sedangkan dengan tetap menjadi bagian NKRI hakikatnya adalah dakwah tauhid. Strategi ini harus dilaksanakan dengan cara menjaga Indonesia Timur untuk tetap satu dengan Indonesia.

Denga kata lain, jika kaku dalam memegang syariat Islam maka dakwah Islam justru tidak berkembang dengan baik di Indonesia. Untuk itulah perlunya cerdas dalam berdakwah. Dakwah perlu strategi, trik dan taktik. Begitu juga dengan penerimaan Pancasila. Itu adalah startegi dakwah yang sungguh cantik diterapkan NU. Dan akhirnya diikuti oleh ormas-ormas Islam lainnya.

Jadi tumpuan pikiran bukan pada formalis simbolis tujuh kata atau Pancasilanya tapi strategi, teknik, trik, taktik dan metoda dakwah yang cantik, smooth dan rahmatan lil alamin. Walau sexara syar'i Pancasila tidak bertentangan dengan Islam justru.menjadi wahana dalam membumikan Islam.

Kembali ke topik, jika yang dikatakan Gus Sholah bahwa sejak tahun 1984 NU menerima Pancasila memang iya. Lalu dalam video tersebut beliau berkata, "...itu perubahan yang terjadi...". 

Terus masalahnya dimana? (pertanyan saya ini saya tujukan kepada orang-orang HTI yang memelintir pernyataan Gus Sholah). Gus Sholah memang mengucapkan kata ".... itulah peruahan yang terjadi". Aneh bin ajaibnya kalimat tersebut dimaknai orang-orang HTI seakan Gus Sholah menganggap penerimaan Pancasila adalah salah. Di sini terjadi pemelintiran pernyataan dan pemotongan redaksi Gus Sholah dalam video tersebut.

Maksud Gus Sholah dengan perkataan, ".... inilah yang terjadi" adalah dengan menerima Pancasila bukan tindakan negatif, tapi merupakan fakta sejarah bahwa semenjak tahun 1984 memang NU menerima Pancasila. Dan itu harus dilakukan NU karena demi starategi perjuangan dakwah di Indonesia agar NU tetap eksis dan bisa dakwah dengan baik di masyarakat maupun di pemerintahan. 

Jika fikrah dan harakah NU kaku maka nasib NU akan seperti Masyumi yang dibubarkan pemerintah Orla. Kiranya harus jeli, ini bukan masalah oportunis, takut dibubarkan tapi sekali lagi ini strategi perjuangan. Jika NU sampai bubar maka ormas Islam rahmatan lil alamin di Indonesia akan sirna dan pastinya akan diisi oleh ormas yang beraliran Islam radikal. Jika sampai ini yang terjadi justru akan merusak Islam dan Indonesia ke depannya.

Jadi dari dulu sampai sekarang tujuan NU selalu konsisten dalam menegakkan dan melaksanakan syariat Islam, yang berbeda adalah strateginya. Dari Hadratussyeikh KH Hasyim Asyari, Gus Dur sampai Kiai Said tujuan utama memimpin NU adalah menegakkan syariat Islam, sebagaimana yang diungkapkan Gus Sholah di atas.

Lalu apa bedanya NU dengan HTI? Bedanya adalah:

1. NU dalam menegakkan syariat Islam pakai strategi dan cara yang cantik yang tak berbenturan dengan negara, sedangkan HTI selalu mengajak front terbuka dengan negara, sehingga wajar jika sampai dibubarkan.

2 NU dalam menegakkan syariat Islam dengan cara yang rahmatan lil alamin, sedangkan HTI dengan cara doktrin dan paksaan.

3. NU dalam menegakkan syariat Islam sangat smooth, halus, gayeng dalam memasukkan syariat ke dalam legislasi negara, sedangkan HTI dengan cara radikal.

4. Dalam NU tak ada kamus mengambil alih kekuasaan, apalagi makar, bughot atau memberontak. Sedangkan HTI ada kamus seperti itu.

5. NU dalam menegakkan syariat Islam tidak pakai sistem khilafah tapi konsisten dengan sistem NKRI, karena sistem di Indonesia itu islami. Sedangkan HTI pakai sistem khilafah, dan menganggap demokrasi sistem kufur, Pancasila toghut, lambang negara garuda sebagai berhala gepeng dan pemerintah dituduh anti Islam. Bahkan NU dituduh menjilat pemerintah.

6. NU mengutamakan penerapan syariah lewat perbaikan umat sambil dengan cantik mensyariatkan hukum-hukum negara. Sedangkan HTI memaksa merebut kekuasan negara, lalu dengan sudah terebutnya Indonesia, barulah syariat Islam dilaksanakan.

7. NU ormas keagamaan murni, bukan ormas politik praktis, sehingga gerakannya bernuansa fikih, gerakan berbasis nilai-nilai agama. Sedangkan HTI adalah organisai politik maka gerakannya bernunsa politik, yang ujung-ujungnya merebut kekuasaan. Karena politik adalah nafas sekaligus roh dari kekuasaan. 

8. NU dalam memperjuangkan syariat Islam tidak dengan mempolitisasi agama, sedangkan HTI dengan mempolitisasi Islam.

9. NU dalam dakwahnya tidak ada settingan asing, sedangkan HTI diduga ada tangan asing yang bermain untuk memecah belah umat Islam. 

10. NU gerakan Islam nasional, sedangkan HTI adaah gerakan Islam transnasional, yang mana pusatnya di London, Inggris.
11. Dan lain sebagainya.