Sabtu, 26 Desember 2020

Adakah Tangan “Asing” di Balik Berbagai Kegaduhan di Indonesia?


Artikel Sangkhalifah08290
Sangkhalifah.co — Baru-baru ini, Karni Ilyas di channel Youtube-nya mewawancarai Jenderal Prof. Hendropriyono (iya, selain jenderal, beliau itu profesor dan akademisi). Wawancara itu dipenuhi komentar bernada kebencian dari para pembela FPI. Karena Prof. Hendro menyebut buku saya, Salju di Aleppo (ketika bercerita soal Suriah; dan beliau rupanya pernah datang langsung ke Damaskus), ada beberapa komentator yang ikut mencaci-maki saya. Tapi, aku rapopo. [1]

Ada hal menarik yang disampaikan Prof. Hendro dalam wawancara itu, yang ingin saya eksplorasi lebih lanjut. Mulai menit ke-31 beliau bicara soal campur tangan asing dalam berbagai keributan di Indonesia. Ini sebenarnya (dan seharusnya) menjadi pengetahuan umum. Saya pun sudah sering menulis soal campur tangan AS di berbagai negara.

Prof. Hendro, buat saya, telah menyampaikan sebuah konfirmasi penting soal campur tangan AS di Indonesia. Mengkonfirmasi apa yang berkali-kali saya tulis selama ini. Antara lain yang beliau sampaikan:

“Negara adikuasa yang memegang hegemoni di dunia ini terus-menerus (ingin berkuasa), tidak mau diganti. AS tidak mau diganti oleh China. Untuk itu AS melakukan berbagai upaya mendalangi kekacauan di Indonesia. Misalnya PRRI, yang mendrop senjata di Siak Sri Indrapura adalah CIA. Yang mengebom di Ambon, CIA… Lalu, zaman berubah, kini CIA tidak lagi campur tangan langsung tetapi pakai uang. CIA membayar orang-orang lokal untuk menggulingkan pemerintahannya sendiri… Di kedutaan AS ada diplomat yang sebenarnya orang CIA, tapi tentu saja mereka tidak mengaku.”

Di zaman medsos ini, ada kecenderungan baru. Ada agen “asing” (tapi orang lokal) yang narsis, sehingga memamerkan aktivitasnya di medsos. Para diplomat yang merangkap agen intel juga juga seolah semakin ceroboh (sengaja?). Misalnya, kasus diplomat Jerman yang datang ke markas FPI. Kunjungan yang terjadi di masa ‘tegang’ dan sensitif, jelas menunjukkan sebuah upaya campur tangan. Ini pelanggaran atas Vienna Convention on Diplomatic Relations 1961 Pasal 41, yang menyatakan bahwa misi diplomatik tidak boleh mencampuri urusan internal negara tempatnya bertugas.

Sekedar catatan, pada tahun 2012, sebanyak 40 aktivis oposisi Suriah mengadakan pertemuan di Jerman untuk merancang bentuk dan agenda pemerintahan pasca-Assad. Perilaku diplomat Jerman itu pun sebenarnya “tidak aneh” buat pengamat Timur Tengah. Dalam demo-demo antipemerintah di Irak tahun 2019-2020, ada beberapa diplomat AS yang bergabung dengan demonstran dengan jelas (tidak menyamar). Difoto oleh netizen Irak lalu diviralkan di medsos. Dalam demo antipemerintah di Iran bulan Februari 2020, bahkan Dubes Inggris ditangkap saat berkeliaran di tengah para demonstran. Dia ditahan beberapa jam, lalu dilepas karena diplomat memiliki kekebalan hukum.

Seperti yang dikatakan Prof. Hendro, AS (CIA) tidak lagi terjun langsung tapi membayar orang-orang lokal untuk digerakkan menggulingkan pemerintahan. Siapa sih orang-orang lokal itu? Saya pernah menulis soal “template” penggulingan rezim oleh AS. Antara lain, AS mengucurkan dana sangat besar untuk berbagai NGO (Non-Government Organization) atau LSM, bersama lembaga-lembaga think tank (pusat studi) yang kemudian terbukti memiliki rekam jejak dalam upaya penggulingan rezim di berbagai penjuru dunia.

Di Mesir, misalnya, aksi-aksi demo penggulingan Mobarak dimotori oleh aktivis LSM yang dilatih oleh AS (melalui Freedom House dan National Endowment for Democracy-NED) agar mahir menggalang massa dan mengelola isu. FH dan NED juga bermain di Suriah. Ada lagi LSM bernama CANVAS, yang memberikan pelatihan berbagai strategi revolusi kepada para aktivis yang ingin menggulingkan rezim di negara mereka. Para pendukung dana CANVAS adalah lembaga-lembaga terkemuka seperti United States Institute for Peace (USIP) yang didanai Kongres AS, New Tactics (didanai Ford Foundation dan Soros Foundation), dan lain-lain. USIP ini yang mengkoordinir kegiatan aktivis oposisi Suriah di Jerman. Nama-nama lain, baca saja buku saya Prahara Suriah dan Salju di Aleppo.

Nah, karena aksi demo “damai” tidak berhasil di Libya dan Suriah, masuklah para “jihadis” untuk melakukan “tugas” mereka. Di balik para “jihadis” juga ada penyalur senjata, yang tak lain AS (dan sekutunya, termasuk negara-negara Teluk dan Israel).

Para “jihadis” ini tentu saja tidak membawa isu demokrasi, melainkan khilafah. Khusus di Suriah, mereka membawa isu Sunni-Syiah, yang terbukti sangat efektif dalam menggalang pasukan dan dana dari kaum Muslim di berbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia.

Nah setelah melihat “template” ini, Anda bisa mengecek, apakah ada NGO-NGO dalam jejaring yang sama, yang juga bekerja di Indonesia?

Mari kita lacak satu jaringan saja, NED. Bila NED terang-terangan memberi dana: “nih uang, hancurkan negaramu!”, hampir pasti tidak ada yang mau. Karena itulah jejaring NED mengangkat isu yang sangat beragam. Toleransi, agama, pertanian, demokrasi, pendidikan, pembelaan terhadap masyarakat adat, hingga ke pembelaan terhadap LGBT. Sangat mungkin, jejaring NED di Indonesia ini ada orang-orang yang tulus memperjuangkan sesuatu, tapi lugu, tidak paham peta besar geopolitiknya.

Saya cek di web resmi NED, pada tahun 2018 NED memberi dana sebesar 217,727 US Dollar (sekitar 3 miliar) kepada INFID untuk program Promoting Tolerance, Democracy, and Human Rights to Prevent Violent Extremis. Ini program (sepertinya) bagus kan? [2]

Karena INFID artinya “Forum LSM Internasional untuk Pembangunan Indonesia”, berarti terdiri dari banyak LSM dong. Jadi, saya google lagi, siapa saja sih yang bergabung dengan INFID? Ternyata ada sangat banyak, baca saja sendiri. Saya juga temukan bahwa INFID adalah satu sponsor utama program Feminist Festival 2017, bersama banyak LSM lain, di antaranya Women Research Institute, Jaringan Buruh Migran, Migrant Care, The Asian Muslim Network. [3]

Nah organisator Feminist Festival ternyata menjadi Koordinator Proyek WMJ (Women’s March Jakarta) 2018. Penggagas Feminist Festival adalah JFDG (Jakarta Feminist Discussion Group), pendirinya Kate Walton, seorang warga Australia yang tinggal di Indonesia.

Aksi demo WMJ tahun 2018 itu dicatat reporter majalahsedane.org, Dina Septi. Menurutnya, tuntutan WMJ 2018 adalah: 1) menolak RKUHP yang akan mengkriminalisasi seks di luar nikah dan kaum gay; 2) mendukung disahkannya Undang-Undang Pencegahan Kekerasan Seksual; dan 3) mendukung disahkannya Undang-Undang Perlindungan Pekerja Rumah Tangga.

Menariknya, Dina Septi dengan kritis mempertanyakan, “Meski jaringan Women’s March di sini tersambung dengan Women’s March di Amerika Serikat, tidak terlihat pula poster yang memprotes kebijakan agresi militer di kawasan Timur Tengah, yang sudah pasti merampas masa depan perempuan dan anak.” [3]

Nah, di sini ketemu poin utama yang ingin saya sampaikan: isu-isu yang diangkat jejaring NED, USAID, atau berbagai organisasi “pro-demokrasi” Barat lainnya yang suka bagi-bagi dana itu memang sangat beragam (ada sebagian yang saya akui baik).

Tapi semua isu itu bisa dimasukkan dalam satu keranjang besar yang diberi label: “sejalan dengan kepentingan AS”. Kalau tidak sejalan? Ya pasti ga turunlah dana itu.

Jadi, ketika dikatakan “ada tangan AS di balik aksi demo”, ini bukan teori konspirasi, tapi memang bisa dilacak rekam jejak jejaringnya. Yang dilakukan AS bukan secara langsung memobilisasi massa, melainkan melatih/mengkader banyak orang, mempengaruhi cara berpikir, melalui sangat banyak isu, lalu menunggu sampai ada kesempatan. Ketika kesempatan tiba, AS ada di posisi untuk mengarahkan aksi demo ke arah yang sesuai kepentingan AS, bukan yang sesuai dengan kepentingan rakyat.

Aksi-aksi demo di berbagai negara, sangat mungkin awalnya memang berawal dari keresahan yang memang riil. Di Indonesia, orang marah melihat kerakusan oligarki. Di Hong Kong, kaum muda mengalami tekanan ekonomi. Di Irak, Iran, Lebanon, ekonomi sulit. Tapi, anehnya, katanya demo menuntut perbaikan ekonomi, mengapa membakar infrastruktur dan properti warga? Bukannya bikin ekonomi rakyat tambah susah?

Dan ternyata ini memang ada SOP-nya, disebut “Marginal Violent Theory”. Demo-demo ala NED ini memang sengaja mengeskalasi kekerasan (istilahnya “most aggresive non-violent action” & “mild force”), dengan tujuan memprovokasi polisi untuk melakukan kekerasan (dan LSM ala Amnesty Intl sudah siap dengan mesin propagandanya ketika ini terjadi) lalu menyudutkan pemerintah sampai ke pinggir jurang (opsinya: kompromi atau terguling).

Semoga bisa dipahami sehingga tidak mudah dikelabui. Mari jaga NKRI. [Dina Y Sulaeman]

Jumat, 21 Agustus 2020

saatnya perang medsos melawan radikalisme


Peperangan bersenjata sesungguhnya sudah ketinggalan zaman. Dulu perang hanya dimaknai sebagai dua pihak, entah untuk alasan politik atau teritorial, mengadu kekuatan hingga salah satu muncul sebagai pemenang. Si pemenang bisa memaksakan kehendak politik terhadap yang kalah, dan perdamaian—apapun bentuknya itu—kembali terbentuk.

Cara perang dilakukan karenanya rutin berevolusi akibat perkembangan teknologi. Media sosial memaksa kita untuk mendefinisikan ulang makna kata perang itu sendiri.

Perang adalah politik yang dilakukan lewat cara lain. Sementara sekarang kita justru melihat politik narasi yang dipersenjatai. Ini buruk, karena politik tidak akan pernah berhenti. Dulu operasi propaganda media hanya muncul demi mendukung operasi militer di lapangan. Sekarang kita berada dalam situasi dimana operasi militer lapangan justru diciptakan demi mendukung operasi propaganda lewat internet.

Siapapun sekarang tidak bisa berperang tanpa menggunakan media sosial. Kalau kita mengabaikan sosmed, bisa dipastikan di pihak kita tidak akan menang perang.

Yang tidak bisa dibantah adalah kekuatan berpindah tangan dari institusi seperti pemerintah dan perusahaan media besar, beralaih ke individu dan jaringan sipil. Manusia telah menjadi homo digitalis. Artinya abad ini menyaksikan munculnya pemberdayaan individu. Setiap manusia terjaring dan terhubung secara global, dan yang di butuhkan hanyalah sebuah smartphone. Dalam artian itu, rakyat sipil seharusnya diuntungkan. Tapi tidak otomatis seperti itu sih. Sempat muncul narasi tentang utopia dunia cyber—berikan manusia akses ke internet, dan dia akan terbebas—tapi sayangnya realita tidak seperti ini. Alat yang sama akan digunakan oleh pihak penindas dan juga yang ditindas. Sejarah media sosial merupakan cerita tentang pasang surutnya harapan. Tergantung si manusia itu sendiri untuk memanfaatkan alat tempur baru bernama media sosial.

Kamis, 20 Agustus 2020

BANOM NU BANSER


Organisasi ini merupakan institusi paramiliter semi-otonom milik Nahdlatul Ulama (NU) yang bergerak langsung di bawah komando Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor), penampung semua aspirasi dan inspirasi kaum muda NU.

Sejak berdiri, Banser menjadi saluran kultural yang memiliki keterkaitan erat dengan dunia pesantren, kaum santri, dan kyai. Anggota Banser selalu dibekali ilmu kanuragan, tarekat, penghormatan terhadap ulama, dan lain-lain. Semua itu tetap dipertahankan sebagai tradisi hingga saat ini.

Banser adalah organisasi pemuda NU dalam upaya mengabdi kepada NU, Islam, masyarakat, dan negara Indonesia, khususnya di bidang pengamanan atau upaya menciptakan ketertiban. Mereka konsisten dan setia untuk menegakkan Pancasila dan Indonesia yang ber-Bhinneka Tunggal Ika.Namun, ruang geraknya tidaklah sempit.

Melawan musuh ke-Indonesia-an
Menengok ulang kiprah Banser sebagai organisasi paramiliter, tak bisa dilepaskan dari ingatan tentang keberadaan Laskar Hizbullah, salah satu embrio Banser yang didirikan pada 4 Desember 1944. Organisasi besutan KH Wahid Hasyim ini ikut berjasa menghadapi keganasan tentara Belanda dalam Agresi Militer I dan II.

Tekad Laskar Hizbullah dalam mempertahankan proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia mengerucutkan pasukan Belanda sebagai musuh bersama. Dalam hal ini, konsep jihad diusung untuk membakar heroisme para pemuda NU dalam berperang melawan Belanda.

Melalui Konferensi Meja Bundar (KMB) tahun 1949, kedaulatan negara Republik Indonesia diakui dunia. Konsep musuh, khususnya bagi Laskar Hizbullah dan NU pada umumnya, mengalami pergeseran. Namun, bibit musuh bersama sudah mulai lahir sejak peristiwa Madiun pada 1948 (Tragedi PKI-Madiun).

Gesekan kepentingan NU dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) mencapai puncaknya pada 1965. Melihat situasi politik Indonesia yang tak lepas dari konteks global, yaitu perang dingin antara Blok Barat (Amerika) dan Timur (Uni Soviet) menyeret NU untuk tidak tinggal diam.

Di tanah air, organisasi-organisasi yang berafiliasi dengan PKI, seperti Barisan Tani Indonesia (BTI), telah membuat geram kaum santri dan kyai. Aksi sepihak berupa penyerobotan tanah oleh BTI melahirkan konflik dengan anggota NU di akar rumput. Bentrokan fisik menjadi-jadi setelah meletus peristiwa Gerakan 30 September (G30S) 1965 di Jakarta.

Secara formal, Banser kala itu ditujukan untuk memberikan pengamanan kegiatan Partai NU dan perlindungan fisik kepada para pendukungnya. Namun, tujuan terselubungnya adalah untuk mengantisipasi jika terjadi konfrontasi fisik dengan massa PKI, mengingat kondisi semakin memanas saat itu.

Kekawatiran itu benar-benar terjadi. Pasca-G30S, TNI Angkatan Darat di bawah komando Kolonel Sarwo Edhie menggandeng Banser untuk menghancurkan PKI. Tragedi kemanusiaan meletus di sepanjang akhir tahun 1965 hingga 1966.

Selanjutnya, sepanjang Orde Baru berkuasa, Banser tetap berusaha bersinergi dengan penguasa dan menjadi kekuatan antikomunis yang sangat penting. Namun, menginjak tahun 1980an dan seterusnya, relevansi komunis sebagai musuh bersama memudar.

Sosok musuh dalam Banser tidaklah bersifat kekal dan bukan pula laksana kacamata kuda. Walaupun tetap waspada terhadap bahaya komunisme, namun Banser sangat realistis. Banser sangat memahami bahwa komunisme dalam perkembangan zaman terbukti hanyalah gagasan utopia yang telah bangkrut secara global.

Setelah rezim Soeharto tumbang, Banser melepaskan diri dari hegemoni Orde Baru dan lebih terbuka terhadap sejarah ke-Indonesia-an di masa lalu. Banser berani menengok, merefleksikan, bahkan mempertanyakan peristiwa masa lalu melalui berbagai arena dialog dalam bingkai rekonsiliasi bangsa.

Selanjutnya, di era reformasi, siapa musuh baru mereka? Sebagai organisasi paramiliter, Banser akan tetap di jalurnya dalam menegakkan nasionalisme ke-Indonesia-an? Seiring munculnya kelompok radikal dan teroris, apa yang dilakukan oleh Banser? Kelompok teroris sebagai musuh saat ini?

Banser bukan organisasi yang tugas utamanya menjajakan pengamanan untuk memperoleh keuntungan finansial. Memang diakui, dalam konteks tertentu, melalui prosedur resmi dan formal, Banser memenuhi permintaan pengamanan dengan imbalan sukarela, misalnya acara pesta hajadan.

Namun banyak kali, Banser tampil dan berkoordinasi dengan kepolisian untuk pengamanan swakarsa, baik untuk acara khusus NU maupun acara di luar NU. Salah satu yang rutin digelar tanpa diminta adalah membantu pengamanan polisi saat perayaan Natal di gereja-gereja.

Bagi Banser, mengamankan NU, sama dengan mengamankan Indonesia. Membantu polisi dalam mengamankan perayaan Natal di gereja-gereja adalah sama dengan mengamankan ke-Indonesia-an. Maka jangan heran apabila Banser memiliki hubungan yang baik dengan kelompok lintasagama.

Tatkala terjadi rentetan Bom Malam Natal tersebut, Banser mempunyai catatan sejarah yang mendalam. Aksi kelompok radikal dan teroris telah mengusik arah dan masa depan ke-Indonesia-an. Mungkin karena itu pula, pada 24 April 2011, Banser kemudian juga membentuk Detasemen Khusus 99 (Densus 99) yang bertugas menghadapi persoalan radikalisme dan terorisme, layaknya Densus 88 yang dibentuk Polri. Seperti masa-masa sebelumnya, Banser selalu di garda terdepan menghadapi segala ancaman ke-Indonesia-an.

Siapa kita...??
Pancasila...??
NKRI...........??

BANSER pasti bisa jawab pertanyaan itu.

Rabu, 19 Agustus 2020

KESULTANAN DI NUSANTARA BUKAN KHILAFAH


KESULTANAN DI NUSANTARA BUKAN KHILAFAH

Oleh Ayik Heriansyah

Film Jejak Khilafah di Nusantara yang diluncurkan oleh Hizbut Tahrir di Indonesia (HTI) pada 1 Muharram nanti, barang lama yang dikemas ulang. Narasinya tidak jauh beda dengan 11 tahun silam, ketika HTI menyelenggarakan kampanye serentak di seluruh Indonesia tentang Jejak Syariah dan Khilafah di Indonesia dengan mengadakan diskusi publik dan pembagian booklet. 

Maksud dan tujuan dari film tersebut, melancarkan serangan halus kepada eksistensi Indonesia dengan memanfaatkan emosi keislaman dan sejarah umat melalui momentum peringatan tahun baru hijriyah. Dengan harapan, timbul ketidakpercayaan publik terhadap legalitas Indonesia secara agama dan sejarah. Sambil mengalihkan perhatian dan kepercayaan umat kepada mereka yang sedang memperjuangkan khilafah tahririyah.

Modus mem-frame momen-momen hari besar keagamaan, modus lama yang diulang-ulang HTI. Modus ini kurang efektif, dilihat dari minimnya dukungan umat kepada mereka. Buktinya, tidak satu pun tokoh, pejabat, dan ormas Islam yang membela mereka ketika pemerintah mencabut badan hukum HTI. Umat membiarkan HTI berjuang sendiri, menjadi bulan-bulanan pemerintah karena kegiatan makar mereka. 

Kegagalan HTI meraih dukungan umat melalui framing momen-momen hari besar keagamaan disebabkan oleh lemahnya frame yang mereka buat. HTI seringkali membuat isu yang tidak ada fakta dan realitasnya., sehingga tidak melekat di alam sadar masyarakat. Isu-isu yang dilontarkan HTI, bersifat imajinatif dan imitatif. Khayalan dan kepalsuan. Bertentangan dengan akal sehat dan sejarah. Tidak jarang, bertentangan dengan ide dan metode yang mereka yakini.

Tema Jejak Khilafah di Nusantara,  masih sangat umum dan terlalu jauh kalau mau digiring untuk melegitimasi perjuangan HTI mendirikan khilafah tahririyah. Jejak adalah tanda atau bekas yang ditinggalkan oleh sesuatu yang pernah lewat. Jejak unta menunjukkan pernah ada unta yang lewat. Untanya sudah tidak ada di tempat. Jejak unta bukan unta itu sendiri. Antara jejak unta dengan unta dua hal yang berbeda.

Jejak khilafah yang dimaksud oleh HTI adalah tanda atau bekas hubungan diplomatik antara khilafah umayyah, abbasiyah dan utsmaniyah dengan kesultanan-kesultanan di Nusantara. Artinya kesultanan-kesultanan di Nusantara bukan khilafah itu sendiri dan bukan bagian dari khilafah. Proses berdirinya kesultanan-kesultanan di Nusantara berawal dari perpindahan agama raja hindu/budha ke Islam. Kesultanan-kesultanan di Nusantara bukan daerah taklukan (kharajiyah) dari ke-khilafah-an dan bukan bentukan dari ke-khilafah-an. 

Dalam perspektif fiqih siyasah HTI, bentuk pemerintahan yang sah satu-satunya adalah khilafah. Suatu negara/pemerintahan yang dipimpin oleh seorang kepala negara/pemerintahan yang bai’at oleh umat setelah dilakukan proses pemilihan secara bebas tanpa paksaan. Sedangkan para sultan di Nusantara, menjadi kepala negara/pemerintahan melalui sistem pewarisan dari orang tuanya. Sistem putra mahkota, yang menurut fiqih siyasah HTI, tidak sah. 

Keberadaan lebih dari satu orang kepala negara/pemerintahan (sultan) di Nusantara bertentangan dengan prinsip negara khilafah yaitu satu khalifah yang wajib dibai’at untuk seluruh kaum muslimin. Oleh karena itu, menurut fiqih siyasah HTI, kesultanan-kesultanan di Nusantara semuanya tidak termasuk daulah Islamiyah, sistem pemerintahannya bukan sistem Islam, hukum-hukum diterapkan tidak bias dianggap sebagai hukum Islam. 

Tapi, dari perspektif fiqih siyasah Syafi’iyah yang dianut oleh mayoritas ulama di Nusantara, kesultanan-kesultanan tersebut absah. Suatu negara boleh menggunakan sistem putra mahkota dan umat Islam absah memiliki lebih dari satu orang kepala negara/pemerintahan (khalifah/sultan) pada waktu bersamaan. Maknanya umat Islam boleh hidup, beribadah dan beramal di beberapa negara yang berbeda, dengan kepala negara/pemerintahan yang berbeda pula. 

Mengangkat dua khalifah boleh jika di antara dua Khalifah jika jaraknya berjauhan dan terdapat pemisah alami (haajiz thabi’iy) seperti laut, atau ada musuh di antara keduanya, yang tidak mampu dikalahkan oleh salah satu dari keduanya. Ini pendapat Imam Haramain, Al-Ghazali, Abdul Qahir Al Baghdadi. (Mahmud Abdul Majid Al Khalidi, Qawa’id Nizham Al Hukm fil Islam, hlm. 313; Jamal Ahmad Sayyid Jaad Al Marakbi, Al Khilafah Al Islamiyyah Bayna Nuzhum Al Hukm Al Mu’ashirah, hlm. 65-67).  

Melihat kondisi geografis Nusantara yang terpisah-pisah, rasanya sulit menerapkan fiqih siyasah HTI. Untung HTI hadir di Indonesia pada abad ke-20. Seandainya HTI sudah ada di Nusantara pada abad 13 – 17, pasti kesultanan-kesultanan itu di-kufur-kufur-kan oleh syabab HTI dan para sultan-nya di-bully.

Jumat, 14 Agustus 2020

KH Hasyim Asy’ari Penentu Tanggal Kemerdekaan RI?




Pertaruhan jiwa dan raga bangsa Indonesia selama selama menghadapi penjajah puncaknya terjadi ketika kemerdekaan rakyat Indoensia akan diproklamasikan. Mereka melalui sejumlah penjajahan, baik oleh Belanda, Jepang, dan tentara sekutu yang dibonceng NICA (Belanda) untuk kembali melakukan agresi militer. 

Kesempatan kembali menduduki Indonesia dilakukan Belanda ketika sekutu berhasil mengalahkan Jepang pada 1945. Jepang sendiri pertama kali datang ke Indonesia pada tahun 1942. Saat Nippon mengaku sebagai saudara tua sehingga sebagian masyarakat Indonesia terkecoh. 

Namun, makin hari Jepang justru menampakkan belangnya sebagai negara yang juga ingin menjajah Indonesia. Keberhasilan sekutu mengalahkan Jepang memiliki konsekuensi bahwa negeri jajahan Jepang kembali ke pelukan sekutu, termasuk Indonesia. 

Namun, para tokoh pergerakan nasional, para pemuda, dan ulama tergerak untuk segera memproklamasikan kemerdekaan karena terjadi kekosongan kekuasaan administrasi. Para pemuda berperan aktif menggerakkan dan mendorong Soekarno dan Hatta agar segera memproklamasikan kemerdekaan. 

Walau Soekarno sempat merasa bimbang memikirkan perjanjian Jepang dan seukut itu, tetapi pada akhirnya sepakat untuk memproklamasikan kemerdekaan. Sesuai tradisinya setiap hendak melaksanakan hal-hal penting, Soekarno meminta nasihat ulama. Ia meminta nasihat sekaligus restu pendiri NU KH Hasyim Asy’ari terkait waktu dan tanggal kemerdekaan yang tepat. Meminta nasihat terjadi ketika Bung Karno, dan kawan-kawan hendak memproklamasikan kemerdekaan bangsa dan negara Indonesia. 

Beberapa hari sebelum proklamasi kemerdekaan, Bung Karno sowan Kiai Hasyim Asy’ari. Kiai Hasyim Asy’ari memberi masukan, hendaknya proklamasi dilakukan hari Jumat pada Ramadhan. Jumat itu Sayyidul Ayyam (penghulunya hari), sedangkan Ramadhan itu Sayyidus Syuhur (penghulunya bulan). Hari itu tepat 9 Ramadhan 1364 H, bertepatan dengan 17 Agustus 1945 kemerdekaan Indonesia diproklamasikan. 

Hal itu sesuai dengan catatan Aguk Irawan MN dalam Sang Penakluk Badai: Biografi KH Hasyim Asy’ari (2012) yang menyatakan bahwa awal Ramadhan, bertepatan dengan tanggal 8 Agustus, utusan Bung Karno datang menemui KH Hasyim Asy’ari untuk menanyakan hasil istikharah para kiai, sebaiknya tanggal dan hari apa memproklamirkan kemerdekaan? 

Dipilihlah hari Jumat (sayyidul ayyam) tanggal 9 Ramadhan (sayyidus syuhur) 1364 H tepat 17 Agustus 1945, dan lihatlah apa yang dilakukan Bung Karno dan ribuan orang di lapangan saat itu, dalam keadaan puasa semua berdoa dengan menengadahkan tangan ke langit untuk keberkahan negeri ini. 

Tak lama dari itu, sahabat Mbah Hasyim semasa belajar di Mekkah (Hijaz) yang memang selama itu sering surat-menyurat, Syekh Muhammad Amin Al-Husaini, mufti besar Palestina untuk pertama kali memberikan dukungan pada proklamasi kemerdekaan Indonesia. 

Keterangan tersebut menunjukkan bahwa pemilihan hari kemerdekaan Indonesia dikonsultasikan terlebih dahulu kepada KH Hasyim Asy’ari. Lalu Kiai Hasyim mengumpulkan para ulama secara bersama-sama untuk melakukan munajat kemudian istikharah agar Allah memberi petunjuk hari yang tepat. 

Maka setelah para ulama memusyawarahkan hasil istikharahnya, dipilihlah tanggal 9 Ramadhan 1364 H yang secara kebetulan itu pada hari Jumat tanggal 17 Agustus 1945. Angka Sembilan adalah simbol numerik tertinggi, hari Jumat adalah penghulu atau raja-nya hari dalam sepekan dan Ramadhan adalah rajanya bulan dalam setahun. Adapun naskah proklamasi disusun dinihari jelang 17 Agustus 1945, di rumah Laksamana Tadashi Maeda (kini Jalan Imam Bonjol Nomor 1). 

Penyusunan teks Proklamasi dilakukan oleh Soekarno, M. Hatta, Achmad Soebardjo dan disaksikan oleh Soekarni, B.M. Diah, Sudiro (Mbah) dan Sayuti Melik. Beberapa orang Jepang, selain Maeda, juga ada di sana. Di antara peristiwa besar tersebut, sebelumnya para tokoh pergerakan nasional dan juga para ulama jauh-jauh hari telah mempersiapkan dasar negara yang akan menjadi pijakan Indonesia merancang Undang-Undang. Seperti dasar negara Pancasila yang pertama kali dimunculkan pada 1 Juni 1945. 

Hal itu menunjukkan rekam jejak perjuangan panjang bangsa Indonesia yang terus berupaya meraih kemerdekaan setelah pertarungan fisik dan senjata yang kerap kali terjadi. Para tokoh pergerakan nasional, termasuk para ulama pesantren berjuang mempersiapkan diri untuk menjadi sebuah negara dengan merancang dasar negara. 

Di sini KH Wahid Hasyim berperan besar. Fakta ini membantah klaim Belanda yang mengatakan bahwa proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia pada 17 Agustus 1945 adalah bentukan Jepang. Padahal sudah diperjuangkan dan telah dipersiapkan secara matang oleh para tokoh bangsa. 

Perlu diketahui bahwa hingga saat ini, Belanda hanya mengakui penyerahan kedaulatan pada 27 Desember 1949. Peran NU dalam mempersiapkan berdirinya negara bangsa bahkan dilakukan lima tahun sebelum proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 dengan resmi menunjuk Soekarno dan Mohammad Hatta untuk memegang tampuk kepemimpinan nasional dalam Muktamar ke-15 NU pada 15-21 Juni 1940 di Surabaya, Jawa Timur. 

Selain sejumlah problem bangsa, dalam Muktamar ini, NU membahas sekaligus memutuskan perihal kepemimpinan nasional. Keputusan ini berangkat dari keyakinan NU bahwa kemerdekaan bangsa Indonesia akan segera tercapai. (Choirul Anam, Pertumbuhan dan Perkembangan NU, 2010).

Hal itu ditindaklanjuti dengan menggelar rapat tertutup guna membicarakan siapa calon yang pantas untuk menjadi presiden pertana Indonesia. Rapat rahasia ini hanya diperuntukkan bagi 11 orang tokoh NU yang saat itu dipimpin oleh KH Mahfudz Shiddiq dengan mengetengahkan dua nama yaitu Ir. Soekarno dan Drs. Mohammad Hatta. Rapat berkahir dengan kesepakatan Soekarno calon presiden pertama, sedangkan Mohammad Hatta yang ketika itu hanya mendapat dukungan satu suara, sebagai wakil presiden. 

Pembahasan calon presiden pertama dalam Muktamar ke-15 NU tersebut menunjukkan kematangan NU dalam mengkaji masalah-masalah sosial-politik kala itu. Bahkan, ketika peneguhan negara pasca-Proklamasi Kemerdekaan kembali mendapat gangguan penjajahan maupun pemberontakan, NU tegas mempertahankan konsep kepemimpinan nasional berbasis negara bangsa. (Fathoni)

#INDONESIA_BILADI
#BANSER_UNTUK_NEGERI

Sumber: www.nu.or.id

#HubbulWathonMinalIman

Minggu, 19 Juli 2020

BENARKAH CELANA CINGKRANG ITU SUNNAH?





Belakangan ada sebagian kelompok mengklaim bahwa "celana cingkrang" (menggantung) adalah celana "WAJIB". Bahkan mereka menghukumi pakaian yang lainnya sebagai pakaian kaum "KUFFAR" (kafir) (serem banget yak...😡). Bahkan mereka berani menuding yang tidak cingkrang adalah 👉 AHLI NERAKA.😆

Ternyata mereka telah gagal paham. Karena Nabi SAW sebenarnya tidak pernah menganjurkan memakai celana cingkrang (sirwal). Lalu kaitannya dengan Isbal: apakah Isbal itu benar-benar dilarang?. Nah, inilah jawaban perwakilan KAUM SARUNGAN:

Sebenarnya yang dimaksudkan Nabi Saw tidak boleh menutupi mata kaki (Isbal) adalah pakain yang umumnya dikenakan oleh para pesohor Arab Jahiliyah (kuno). Jadi bukan terkait dengan berpakaian masyarakat modern ini. Sudah jadi tradisi para pesohor Arab zaman dahulu menonjolkan kekayaan, kebangsawanan dan kedududukan dengan pakaian. Mereka berpakaian panjang hingga menyentuh lantai untuk menunjukkan kekayaaan dan kebangsawanan. Sebaliknya para budak sahaya dipaksa berpakaian dengan sarung (izar) yang menggantung setengah betis.

Maka Nabi Saw membenci kesombongan dengan cara berpakaian Orang-orang Arab Jahiliyah. Dan beliau menganjurkan agar kaum muslimin berpakaian sederhana sebagaimana budak sahaya saja. Namun, beliau masih membolehkan memakai qamis atau sarung yang menutupi mata kaki (isbal) selama bukan karena kesombongan. Ini dalilnya:

Nabi SAW bersabda: "Barangsiapa menjulurkan pakaiannya karena SOMBONG, tidak akan dilihat oleh Allah pada hari kiamat". Abu Bakar lalu berkata: "Sarungku sering menutupi mata kakiku, kecuali aku sangat berhati-hati". Rasulullah SAW bersabda: "Engkau tidak melakukan itu karena SOMBONG". (HR. Bukhari, no. 3665, Muslim, no. 2085).

GAGAL PAHAM CELANA CINGKRANG

Belakangan ini muncul Islam kagetan dan kaum hijrah dadakan. Mereka mewajibkan Celana (sirwal) cingkrang. Padahal ini bukanlah pakaian sunnah. Nabi Saw tidak pernah memakai celana seperti itu dan beliau tidak pernah menganjurkannya. Bahkan Nabi Saw menyebutkan bahwa memakai sirwal saja (cingkrang) menyerupai pakaian Ahlul Kitab (Yahudi).

Sebanarnya pakaian yang disukai Nabi Saw adalah  gamis (kemeja panjang) dan izar (sarung) yang dilengkapi dalaman sirwal (celana). Jadi bukan hanya memakai SIRWAL. Saya sempat membayangkan mungkinkah dulu Para Shahabat pake celana kolor pendek (cingkrang) ketika keluar Rumah?, tentunya TIDAK kan?.😆

Ketahuilah buat "antum" semua, celana cingkrang (sirwal) saja yang dipakai ketika keluar Rumah, lebih menyerupai pakaian Ahlul Kitab (Yahudi). 

Kendatipun demikian saya menganut paham mayoritas ulama Aswaja yang menekankan pakaian itu yang terpenting adalah menutup aurat. Boleh memakai pakaian apapun. Boleh celana juga sarung. Boleh juga ISBAL yang penting tidak sombong. Namun pakaian yang paling disukai Nabi Saw adalah Gamis dan Izar (Sarung).

DALIL SIRWAL (CELANA CINGKRANG) SAJA ADALAH PAKAIAN YAHUDI:

ﻗَﺎﻝَ: ﻓَﻘُﻠْﻨَﺎ: ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ اﻟﻠﻪِ، ﺇِﻥَّ ﺃَﻫْﻞَ اﻟْﻜِﺘَﺎﺏِ ﻳَﺘَﺴَﺮْﻭَﻟَﻮﻥَ ﻭَﻻْ ﻳَﺄْﺗَﺰِﺭُﻭﻥَ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺭَﺳُﻮﻝُ اﻟﻠﻪِ ﺻَﻠَّﻰ اﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ: " ﺗﺴﺮﻭﻟﻮا ﻭَاﺋْﺘَﺰِﺭُﻭا ﻭَﺧَﺎﻟِﻔُﻮا ﺃَﻫْﻞَ اﻟْﻜِﺘَﺎﺏِ ".
Abu Umamah berkata: "Wahai Rasulullah, Sesungguhnya Ahli Kitab memakai celana (sirwal) dan tidak memakai izar (atau sarung, yakni kain penutup bagian bawah)". Maka Rasulullah SAW bersabda: "Pakailah celana dan pakailah izar (sarung). Jangan sampai sama dengan Ahlul Kitab" (HR Ahmad).

Jadi jelaskan bahwa memakai sarung dan memakai Gamis adalah pakaian yang disukai Nabi Saw. Sedangkan memakai celana cingkrang adalah pakaian Ahli Kitab

Belajar Islam itu perlu kematangan, jangan hijrah kagetan atau tiba-tiba jadi ustadz dadakan (emang tahu bulat😆).

Mau pakai celana cingkrang silahkan tapi jangan menghakimi yang tidak bercelana cingkrang sebagai ahli neraka

*Perwakilan Kaum Sarungan😊

Sabtu, 18 Juli 2020

ARAB BUKAN BERARTI ISLAM



Sebelum abad 7 masehi, keadaan di dunia ini, khusunya negeri Arab digambarkan dengan kejahiliyahan manusia pada tingkat stadium empat. Perzinahan membudaya, perjudian merajalela, arak seperti air mineral, malu mempunyai anak perempuan, yang bahkan jika orang tuanya sampai tingkat ‘kesetanan’, bayi perempuan tersebut dikubur hidup hidup.

Keadaan yang menggelikan tersebut mengharuskan adanya perombakan tatanan sosial untuk kehidupan manusia yang lebih bermoral. Disinilah Islam sebagai agama samawi terakhir turun dengan misi perbaikan akhlak manusia. Yang peruntukkannya bukan untuk Arab semata, tapi manusia seluruh dunia.

Arab sebagai tempat pertama turunnya Islam, ditambah Nabi Muhammad yang juga berasal dari bangsa Arab, menjadikan Arab mempunyai keisitimewaan tersendiri. Terlebih lagi, ekspansi masyarakat Islam Arab saat itu yang pada perjalanannya Islam menguasai seluruh jazirah Arab dan sebagian besar dunia ini.

Implikasi dari hal tersebut ialah ada semacam pandangan bahwa segala sesuatu yang berasal dari Arab adalah Islam. Atau dengan kata lain budaya Arab adalah budaya Islam. Gamis adalah pakaian Islam, gambus adalah alat musik Islam, dan yang cukup menggelitik ketika ada tulisan Arab dianggap sebagai tulisan yang suci, sehingga harus dimuliakan, tidak boleh ditaruh di bawah, yang padahal tulisan tersebut tidak lebih hanya tulisan biasa
.Karena paradigma tersebut terus berkembang, maka kebudayaan Arab dianggap suci dan pelakunya dianggap nyunnahalias mengikuti perbuatan nabi. Pakai gamis itu sunnah, karena nabi memakainya. Padahal yang pakai gamis bukan cuma nabi. Abu Jahal si mafia kelas kakap yang menjabat kepala gangster bangsa Arab juga memakai gamis.

Kalau kita telisik lebih jauh, apa yang dipakai nabi tidak lebih kebudayaan masyarakat Arab yang sudah ada. Sebelum Islam datang, aneka kebudayaan tersebut sudah ada. Islam datang bukan untuk merubah gamis menjadi jas. Tapi merubah akhlak biadab menjadi beradab, yang tadinya taat maksiat menjadi taat ibadat.

Ada sebuah anekdot dari ustadzku tercinta, beliau mengatakan, “Seandainya Islam turun di tanah Jawa, mungkin belangkon akan menjadi sunnah”. Para wali yang turun ke tanah Jawa pun tidak membawa oleh oleh budaya Arab. Mereka membawa gemerlap cahaya Islam yang kemudian berasimilasi dengan kebudayaan setempat. Sunan Kalijaga misalnya, berdakwah dengan wayang dan beliau menciptakan syair lir ilir yang sekarang masih sering terdengar lantunannya.

Seyogyanya yang terjadi itu adalah Islamisasi, yaitu nilai nilai Islam yang menyerap dalam hati sanubari manusia. Bukan Arabisasi yang melekat pada tubuh. Namun sayangnya, masih banyak yang gagal paham masalah ini. Menyamakan Islam dengan Arab, Islamisme is Arabisme. Seolah tidak sempurna shalat jika tidak bergamis. Seolah ‘kurang sholeh’ jika tidak menggunakan kata ana anta dalam percakapan.

Yang perlu direnungi bagi saudaraku seiman seagama senusantara, bahwa perintah Al Quran adalah “Ud khuluu fis silmi kaffah” bukan “Ud Khuluu fil Arabi kaffah”. Dan pernyataan dalam Al Quran adalah Islam rahmatan lil ‘alamin bukan Islam rahmatan lil ‘Arabiyyin...

Sekali lagi, misi nabi bukan mempopuliskan budaya Arab. Justru nabi ingin mereduksi fanatisme suku, golongan dan kelompok. Tidak ada superioritas suatu bangsa terhadap bangsa lain, semua sama di mata Tuhan, yang membedakan adalah individunya, bertaqwa atau tidak.

Mari lestarikan budaya kita sendiri dalam balutan Islam.

Senin, 13 Juli 2020

KENAPA YAHUDI MENCIPTAKAN WAHABI ???



(Sejarah wahabi diYahudikan oleh Yahudi)

Yahudi adalah bangsa Israel 
yang sangat benci kepada Tuhan Nabi Muhammad SAW hanya karena Nabi akhir zaman itu bukanlah lagi dari Kalangan BANI ISRAEL. 

Mereka bangsa 
yang terlalu tinggi asobiahnya, sehingga mereka sanggup bermusuhan dengan Tuhan. 

Sebab itu mereka 
Cetuskan Ajaran anti Tuhan- anti Islam, sekularisme dan menyebarkannya ke seluruh dunia. 
Yahudi juga dikenali sebagai Zionis.
gerakan ini mula di susun rapi setelah Theodore Herl (penggagas organissasi yahudi internasional) 
menulis buku “Negara Yahudi” pada tahun 1896

 Konsep ZIONISME 
yang menganggap kaum yahudi 
adalah bangsa terpilih, bangsa yang 
berkuasa dan terunggul untuk memerintah dunia ini, dari bukit Zion atau sion di Jarussalem sebagai pusat pemerintah yahudi.

 Disinilah terletaknya Masjidil Aqsa
yang telah ada sejak zaman Nabi Ibrahim AS, 
ia adalah tapak bersejarah bagi semua agama samawi. 

Namun, karena Yahudi dan 
Kristen menolak Nabi Muhammad SAW , 
maka Baitul Maqdis menjadi rebutan antara Yahudi, Kristen dan Islam. 

Baitul maqdis adalah kota 
ketiga terbesar umat Islam setelah Makkah 
Al-Mukarramah dan Madinah Al-Munawarah.

Makkah Al-Mukarramah

• Terdapat kabah dan masjidil Haram,

• Tanah kelahiran Rasulullah SAW

• Tapak kenabian Muhammad SAW.

Madinah Al-Munawarrah

• Terdapat Masjid Nabawi.

• Terdapat jasad Rasulullah SAW.
• Berdirinya Daulah Islam pertama dimana Yahudi terhalau dari Haramain (Makkah dan Madinah).

Baitul Maqdis

• Terdapat masjidil Aqsa

• Kiblat pertama umat islam sebelum pindah ke Masjidil haram

' Negeri Isra dan mi’raj, tempat perhentian terakhir sebelum Rasulullah SAW Mi’raj Ke Sidratul Muntaha.

Pada tahun 639 M dibawah pemerintahan khalifah Umar bin Khatthab, Gubernur Amru bin Ash berhasil menguasai Baitul Maqdis dengan aman damai. 

Pada tahun 1099 M perang salib pertama, Baitul maqdis jatuh ketangan orang-orang kristen. 

Pada tahun 1189 M Sultan Salahuddin Al-Ayubi berhasil mengusai kembali Baitul Maqdis dari tangan Richard The Lion Heart. 
Maka sempurnalah tiga kota suci ini berada dalam khalifah Islamiyah hingga tahun 1917 M.

Dendam Yahudi terhadap 
Nabi Muhammad SAW dan Islam semakin mendalam. Satu konspirasi dirancang begitu rapinya untuk mennentang kebangkitan Islam dari dalam. 

Yahudi mendirikan pusat Studi Islam 
untuk melatih agen-agen intelejen rahasia untuk menyusup ke dalam masyarakat islam. 

Tahun 1822 didirikan “Society Asiatic of Paris, di Paris”. Tahun 1823 Royal Asiatic Society of Great Britain and Ireland didirikan di Inggris; Tahun 1842 American Oriental Society, didirikan di Amerika; Tahun 1916 University Of london mendirikan School Of Oriental Studies sekarang menjadi SOAS (School of Oriental and African Studies). 

Agen-agen Orientalis itu dihantar ke 
negara-negara Islam dan untuk menyamar sebagai Ulama. 

Di antara tokoh-tokoh orientalis dari Yahudi dan Kristen yang menyusup ditengah-tengah umat islam adalah Mr. Hempher (Syaikh Muhammad Majmui) pada tahun 1710 dikirim oleh Inggris ke Mesir, turki, iraq, hijjaz dan sekitarnya. 

Mr. Christiaan Snouck Hurgronye 
(Syaikh Abdul Ghaffar) 1857-1936) dikirim ke Aceh dan Nusantara. Duncan Black MacDonald (1863-1943) dikirim ke Amerika dan menjadi rujukan cendikiawan Islam dari seluruh dunia.

WAHABI DICIPTA YAHUDI WAHABI SATU KONSPIRASI MENJATUHKAN ISLAM DARI DALAM

Apa itu WAHABI?
Wahabi adalah satu pemahaman yang 
didirikan oleh Muhammad Bin Abdul Wahab. 

Pemahaman ini dinisbahkan atas nama bapaknya Abdul Wahab kepada WAHABI, Tidak kepada namanya sendiri yaitu Muhammad. ini karena kesepakatan Ulama supaya Umat Islam tidak keliru dengan pemahaman yang dibawa Oleh Muhammad bin Abdul wahab dan Ajaran yang dibawa oleh Nabi 

Muhammad SAW. Muhammad bin Abdul Wahab adalah orang yang Lemah Ingatan dan Gagap. Ayah dan Kakaknya sendiri menganggap beliau tidak waras.

 Muhammad bin Abdul wahab sangat terpengaruh dengan ajaran Ibnu Taimiyah yang mempunyai pemahaman Mujassimah. kemudian dia mengembara dan belajar di BASRAH. berguru dengan Syaikh Muhammad Al-Majmui yaitu Mr. Hempher (orang yahudi yang menyamar sebagai ulama). 

Dia adalah seorang yang pakar ahli bahasa Arab, Turki, Parsi dan telah lama mempelajari islam. 

Mr. Hempher mengasuh Muhammad bin Abdul Wahab dengan hadiah Mut’ah dua orang agen perempuan Yahudi yang menyamar sebagai muslimah. 

Maka dengan Mudah Yahudi mengatur untuk mengajar Muhammad Bin Abdul wahab tentang pemahaman yang baru yang sesuai dengan rancangan yahudi. 

Dengan ajaran yang baru itu, Muhammad bin Abdul Wahab kembali ke kampungnya, namun ditentang dan diusir oleh bapaknya, seorang Ulama Sunni (Ahlus Sunnah Wal Jama’ah).

KERJASAMA YAHUDI, KELUARGA AL-SAUD DAN GOLONGAN WAHABI MEMBENTUK KERAJAAN ARAB SAUDI.

Selepas diusir oleh ayahnya, Muhammad bin Abdul Wahab terus menyebarkan ajarannya itu ke seluruh Najd.

 Perjuangan yang disebarkan oleh muhammad bin Abdul Wahab itu dipantau oleh Mr. Henpher dan didukung oleh kerajaan Inggris. Muhammad Bin Abdul Wahab membawa misi Yahudi kepada pemimpin-pemimpin Arab. 

Pada Tahun 1747 Muhammad Bin Abdul Wahab bertemu dengan Muhammad bin Sa’ud, dia adalah keturunan Yahudi.

 Maka bergabunglah Muhammad Bin Abdul Wahab dengan Muhammad bin Sa’ud untuk mengembangkan ajaran wahabi. Diantara ajaran wahabi adalah, Siapa yang tidak ikut wahabi di anggap SESAT, KAFIR, HALAL DARAH dan HARTANYA DIRAMPAS. 

Dengan fatwa Wahabi ini, maka orang-orang yang tidak ikut dengan Wahabi akan dibunuh dan hartanya dirampas. 

Kaum Wahabi melancarkan Perang didalam dan diluar wilayah Najd, seperti Yaman, Hijjaz, daerah sekitar Syria, dan Irak. Mereka membantai 300 lelaki wilayah kota Al-Ahsa dan merampas harta milik mereka.

 Pasukan Muhammad Bin Sa’ud dan Muhammad Bin Abdul Wahab terus melakukan kekejaman keseluruh Arab. Siapa yang taat kepada ajarannya wajib berbai’at, bila melawan wajib dibunuh dan harta miliknya dirampas.

Diantara Umat Islam yang paling banyak dibunuh oleh pasukan ini adalah keturunan Rasulullah SAW.

 Namun ada diantara keturunan Rasulullah SAW ada yang sempat melarikan diri ke Malaysia dan Indonesia.

 Peninggalan Rasulullah SAW dimusnahkan supaya Umat Islam tidak lagi mengagungkan dan memuliakan Rasulullah SAW dan keturunannya. 

Pada Tahun 1793 Muhammad Bin Abdul Wahab meninggal dunia, namun ajaran Wahabi semakin berkembang dengan dukungan dan bantuan keluarga Muhammad Bin Sa’ud, kerajaan Inggris dan Yahudi. 

Dinasti As-Sa’ud dan golongan Wahabi terus meluaskan jajahannya hinga pada tahun 1912, dan berhasil menguasai seluruh Najd.

YAHUDI MENCETUSKAN REVOLUSI ARAB UNTUK MENJATUHKAN EMPAYAR ISLAM UTSMANIYYAH

Ketika pemimpin Empayar Utsmaniyyah telah diserang oleh Penyakit Al-Wahan.

 Agenda Yahudi seturusnya adalah menggantikan pemerintahan para syarif Makkah yang bertindak sebagai penjaga Haromain.

 Yahudi melantik satu agen Yahudi untuk masuk kedalam bangsa Arab. Agen ini ialah Sainstis yang menguasai 6 bahasa Dunia, termasuklah bahasa Arab. Yahudi melihat dan memilih siapakah Tokoh Bangsa Arab yang Inginkan kekuasaan.

 Ditemukan tokoh Sherif Hussin, wakil empayar Utsmaniyyah di haromain. 

Yahudi berhasil menghasut dan menipu Sherif Hussain untuk membebaskan diri dari Empayar Islam Utsmaniyyah.

 Yahudi menaburkan semangat Nasionalisme untuk menentang Bangsa Turki dan pemimpin empayar Islam Usmaniyyah.

 Hubungan antara Yahudi dan Sherif Husain semakin sangat dekat, bahkan menjadi kawan karib putranya yang bernama Amir Faisal. Amir Faisal berpaling dan memihak kepada Inggris, sejak dari itulah kerajaan Arab jadi Tali barut Inggris. Atas nasihat Yahudi, Sherif Hussain mengirim surat rahasia, untuk memohon bantuan tentara Inggris dengan menjanjikan Sherif Hussain sebagai penguasa bagi seluruh wilayah Arab, maka mudahlah bagi Yahudi mengatur keluarga ini untuk membagi-bagikan wilayah-wilayah sesuai dengan perancangan Yahudi. 

Pada Tahun 1915 Inggris mulai menduduki kawasan Irak, akhirnya pada tahun 1917, Inggris menduduki semua kawasan Palestina. Pada tahun 1918, tentara Inggris menduduki pusat pemerintahan Turki Utsmaniyyah, yaitu Istanbul. 

Perjanjian Faisal dan Weizmann ditandatangani pada 3 januari 1919 dalam persidangan Paris. Weizmann adalah presiden Pertumbuhan Zionis Dunia. Selepas perjanjian itu, Weizmann menjadi Prasiden pertama di negara Israel. Irak diserahkan kepada Amir Faisal, Jarussalem atau Palestina diserahkan kepada Kristen, Baitul Maqdis diserahkan kepada Yahudi. Pada Tahun 1922, setelah selesai perang dunia pertama, persidangan diadakan. Hasil persidangan, Sistem khilafah Islam di hilangkan.

 Kedua, Khalifah dibuang keluar negara. Ketiga, Harta Khalifah dirampas. Keempat, kerajaan Turki Baru didirikan atas dasar Sekular dibawah pimpinan Mustafa Khamar.

 Negara-negara jajahan Turki utsmaniyyah di ambil Alih sebagai jajahan Inggris, prancis dan Italia.

Yahudi Melantik Wahabi sebagai Penguasa Haromain (Makkah dan Madinah)
Setelah jatuhnya Empayar Utsmaniyyah, Negara-negara kecil seperti Kuwait, Yaman, dan lain-lain diserahkan kepada khabilah-khabilah yang dipilih oleh yahudi. 

Negara-negara kecil itu, semua takluk kepada jajahan Inggris, Prancis dan Italia. Janji kepada Sherif Hussain untuk mengangkatnya sebagai penguasa seluruh Arab hanyalah janji Kosong. 

Sherif Hussain hanya mendapat kerajaan Jordania yang kecil dan miskin. inilah Balasan bagi pengkhianat Islam. Pada Tahun 1925 keluarga As-Sa’ud berhasil menguasai Kota Suci Makkah dari Sherif Hussain. Pada 10 Januari 1926 Abdul Aziz As-Sa’ud dinobatkan menjadi Raja Hijjaz di Masjidil Haram - Makkah. Pada tahun 1932 setelah menguasai sebagian besar semenanjung Arab, Ibnu Sa’ud mengganti nama tanah gabungan hijjaz dan Najd menjadi Arab Saudi.

 Abdul Aziz ibnu Sa’ud kemudian menobatkan dirinya sebagai Raja Arab Saudi dengan dukungan Pihak Kerajaan Inggris. Pemahaman Wahabi menjadi Agama Resmi Arab Saudi dan dikembangkan ke seluruh dunia.

MENGAPA YAHUDI MENCIPTAKAN WAHABI?

1. Yahudi sangat Faham, karena kekuatan umat Islam adalah pada kekuatan Rohnya yakni Rohnya yang sangat kenal Cinta dan Takut kepada Allah SWT, oleh kerana itu Umat islam mesti dipisahkan dari Allah SWT.

2. Yahudi sangat faham, bahwa kehebatan Umat Islam karena bisa menghubungkan kekuatan Roh dan kehidupan Lahir. Maka keyakinan adanya kuasa Roh dalam kehidupan Lahir itu mesti dihapuskan.

3. Yahudi sangat Faham, Bahwa Kunci Kemenangan Umat Islam adalah karena adanya bantuan Ghaib dari Allah SWT, maka Yahudi menghapuskan keyakinan Umat Islam kepada Perkara Ghaib Itu. Ulama Sufi dan Tarikat yang mempunyai karomah dikatakan SESAT dan SYIRIK.

4. Yahudi tahu, bahwa kekuatan Islam ada pada kecintaan Umat kepada Rasulullah SAW, Ahlul Bait, dan Para Sahabat Baginda SAW. Maka segala peninggalan atau amalan yang menumbuhkan kecintaan itu diMUSNAHkan dengan alasan Bid’ah, khurafat, dan Syirik serta lain-lain alasan yang diada-adakan.

5. Yahudi sangat faham selemah-lemah umat Islam, mereka sangat fanatik dan taat kepada para Ulama. Oleh kerana itu, Ulama baru dan Islam gaya baru mesti diciptakan yang sesuai dengan Agenda Yahudi itu.

6. Untuk menguasai Kota Suci Umat Islam Haromain (Makkah dan Madinah). 

Yahudi tidak dapat menghancurkannya seperti tempat-tempat yang lain karena ditakutkan Umat Islam sedunia akan bangkit menentang Yahudi.

KEJAHATAN WAHABI

• Membuat Fatwa setiap yang Bid’ah itu sesat dan yang sesat itu neraka.

• Membuat Fatwa Umat Islam yang tidak ikut ajarannya itu Sesat, Halal Darahnya dan Hartanya dirampas.

• Membunuh Keturunan Rasulullah SAW. Menghukumkan Sesat keturunan Rasulullah SAW dan Para sahabat yang Utama.

• Menganggap Alam Roh Itu tidak Wujud.

• Menolak adanya Alam Lahir dan Alam Roh.

• Memusnahkan semua peninggalan Rasulullah SAW.

• Dalam mempelajari Ilmu Usuluddin atau Tauhid menganut fahaman Ibnu Taimiyyah, yang menganggap Tuhan Itu berjisim seperti makhluk atau mujassimah.

• Didalam Fiqih dibenarkan mencampur adukan dan meninggalkan madzhab.

• Mengambil Sumber Al-Quran dan Hadits tanpa ijma’ Ulama dan Qiyas.

• Melarang keras Umat Islam berdo’a dengan tawassul (perantaraan).
• Melarang menziarahi Kubur sekalipun Makam Nabi muhammad SAW.

• Menghancurkan bangunan tempat lahir Nabi SAW.

• Melarang memuji-muji Nabi seperti baca Qasidah, berzanji, Burdah, tahlil, dan sebagainya.

• Melarang Umat Islam merayakan dan memperingati Maulidur Rasul, Isra Mi’raj, dan semua perayaan hari kerayaan Islam yang lain.

• Melarang belajar Sifat 20 dan menuduh sesat faham Asy’ari dan Imam Abu Mansur Al-Muntaridi, yaitu faham Kaum Ahlus sunnah Wal Jama’ah.

• Melarang Amalan Tarikat, Umpamanya Tarikat Qodiriyyah, Naqsabandiyyah, Syadziliyyah dan tarikat lainnya.

• Mengundang Amerika untuk mengeksport kekayaan minyak di timur tengah.

• Berkomplot dengan Amerika membuat pengkalan tentara di Arab Saudi.

• Meminta bantuan tentara bersekutu dalam perang, untuk menghancurkan Saddam Hussain.

• Mencetuskan Gerakan Teroris seperti Al-Qaeda, dan lain-lain, untuk memburukkan citra Islam.

• Mengubah Arab menjadi Negara Yahudi, dan Haromain menjadi Kota Yahudi, dan lain-lain kejahatan yang merupakan konfirasi Yahudi seperti Punk, Skin Head, Black Metal, Chikano dan lain-lainnya. yakni Untuk menghapuskan keyakinan dan cinta Umat Islam kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW. supaya umat islam mengikuti cara hidup yahudi dan meninggalkan Tuhan Nabi Muhammad SAW.

Jelaslah bahwa tujuan Wahabi adalah untuk meninggalkan Allah SWT dan Rasulullah SAW dan mengikuti Yahudi. Wahabi adalah buatan Yahudi.

 Siapakah yang akan memerangi Wahabi?

 Wahai Umat Islam seluruh Dunia, Setelah kita tahu Rahasia ini, Marilah kita perangi Wahabi dan Yahudi dengan Langkah-langkah Ini.

1. Jangan terpengaruh dengan Ajaran ini, jaga diri dan keluarga Anda dari aliran Ini.

2. Berpegang teguhlah kepada Ahlus Sunnah Wal Jamaah yaitu Aqidah yang dibawa Imam Abu Hassan Al-Asy’ari dan Imam Abu Mansur Al-Muntaridi.

3. Kuatkan Hubungan dengan Allah SWT dan Rasulullah SAW, Kuatkan Hablum minallah dan Hablum minan Nas.

4. Berfiqih dengan salah satu madzhab yang 4 yaitu Syafi’i, Maliki, Hanbali dan Hanafi. jangan dicampur-campur.

5. Lawanlah Hawa Nafsu Buang segala Sifat Jahat dalam Diri Kita dengan berTasawuf mengikuti Imam Al-Ghazali dan Imam Junaidi Al-Baghdadi.

6. Amalkan wirid dan dzikir secara berdisiplin dan istiqamah atau amalkan Tarikat yang ada Mursyid.

7. Jangan Mudah terpancing tawaran manis wahabi.

8. Jangan sekali-kali terlibat dengan gerakkan militan.

9. Banyaklah bertaubat atas dosa-dosa sendiri dan dosa Umat Islam.
10. 

Berdoalah kepada Allah SWT supaya Allah SWT segera mengirim pemimpin yang membawa kebenaran untuk menentang Wahabi dan menghapuskan ajaran ini.

Semoga bermanfa'at dan bisa membentengi kita dari VIRUS WAHABI..

Senin, 06 Juli 2020

SEJARAH PEMBAJAKAN KALIMAT TAUHID SBG BENDERA POLITIK



________________

Hizbut Tahrir koar2 bendera mereka yg berwarna putih (Liwa’) dan hitam (Rayah) sebagai Bendera Rasulullah. 

Faktanya bendera Hizbur Tahrir baru dikenal oleh kalangan Hizbut Tahrir pada tahun 2005, padahal Hizbut Tahrir telah berdiri sejak tahun 1953. Jadi kemana saja selama 52 tahun bendera yg disebut “Bendera Rasulullah” itu, kok baru ditemukan tahun 2005?

Sebenarnya bendera hitam dan putih dg tulisan kalimat tauhid Laa Ilaha illallah dan Muhammad Rasulullah bukanlah Bendera Rasulullah, karena baru ada pada awal abad ke-20. Saya akan menyajikan sejarah pembajakan terhadap kalimat tauhid untuk bendera politik.

11 .Ikhwan Wahabi Saudi (1924-1930): Kelompok Pertama yg Gunakan Kalimat Tauhid dalam Bendera Hitam

Pada awalnya yg kurang ajar memakai kalimat tauhid sebagai bendera politik adalah Kelompok Ikhwan dari Najed (Saudi saat ini) yg berdiri pada awal abad ke-20.

Saya menyebut Ikhwan Wahabi Saudi untuk membedakannya dg Kelompok Ikhwanul Muslimin (IM) di Mesir yg didirikan Hasan al-Banna pada awal  abad ke-20 juga.

Tokohnya bernama Sultan bin Bajjad al-Utaibi. Awalnya dia bersekutu dg Raja Abdul Aziz Bani Saud saat menggulingkan Dinasti Hijaz Wangsa Hasyimi yg menguasai Mekkah dan Madinah, tapi kemudian Ikhwan dan Raja Abdul Aziz Bani Saud pecah kongsi. Ikhwan dihancurkan pada tahun 1930. Sultan bin Bajjad al-Utaibi ditipu saat menyerang, janji Raja Abdul Aziz ia akan diampuni, ternyata dijebloskan ke penjara dan mati membusuk dalam tahanan.

Bendera Ikhwan berwarna hitam, dg tulisan kalimat Tauhid dan pedang di bawahnya. Bandingkan dg bendera Kerjaan Saudi saat ini, yg sama persis kecuali warna hijaunya dan bentuk font (khath) tulisan kalimat tauhid.

22 .Osama bin Laden dan Al-Qaidah (1988)

Kelompok kedua yg menggunakan bendera hitam dg membajak kalimat tauhid adalah Tandzimul Qaidah (Al-Qaeda) yg didirikan oleh Osama bin Laden pada tahun 1998.

Sangat populer foto Osama bin Laden dg background Bendera Al-Qaidah yg berwarna hitam dg tulisan kalimat tauhid. Bentuk font (khath) tulisannya seperti bendera Saudi, jenis “tsulutsi” dg ornamen yg sedikit berbeda.

Yg kita tahu, Osama bin Laden dan Al-Qaidah berkembang di Afghanistan untuk melawan invasi Uni Soviet saat itu. Dari sini, Osama bin Laden dan Al-Qaida menerima dukungan dari Taliban.

Al-Qaidah terlibat dalam aksi2 terorisme di Indonesia, silakan baca tulisan saya:

33 .Bendera Taliban Saat Menguasai Afghanistan (1996-2001)

Saat Taliban menguasai Afghanistan yg direbut dari Kelompok Mujahidin, mereka mendirikan Emirat Islam Afghanistan dg bendera warna putih dg tulisan kalimat tauhid. Bentuk font sama persis dg bendera Al-Qaidah.

Maka pembedaan Hizbut Tahrir yg membedakan benderanya yg warna putih untuk administrasi negara dan warna hitam untuk kondisi perang sebenarnya mengikuti tradisi Osama bin Laden Al-Qaidah dan Taliban. 

Dalam kondisi perang, Al-Qaidah menggunakan bendera hitam, namun saat Taliban menguasai Negara Afghanistan mereka memakai bendera putih.

Baik bendera Al-Qaidah dan Taliban sama persis dg bendera putih dan hitam milik Hizbut Tahrir.

44 .Kelompok Tauhid Wal Jihad di Iraq (1999-2004)

Inilah kelompok salafi Wahabi yg memakai bendera hitam dg kalimat Tauhid dg tambahan tulisan Jamaah Tauhid Wal Jihad. Pada tahun 2004, Jamaah ini bergabung dg Al-Qaidah, mengganti benderanya dg nama baru mereka Tandzim Qaidatil Jihad fi Bilad Rafidin.

Tokoh yg terkenal dari kelompok ini adalah Abu Musab al-Zarqawi. Pada tahun 2006, kelompok bentrok dg Al-Qaidah kemudian memisahkan diri menjadi  ISIS.

55 .Hizbut Tahrir Mengenalkan Bendera Negara Khilafah: Liwa’ (Putih) dan Rayah (Hitam) tahun 2005

Persis bendera Taliban yg berwarna putih saat menguasai Afghanistan dan bendera Al-Qaidah yg berwarna hitam.

Penetapan Bendera Putih dan Bendera Hitam ini ada dalam buku Ajhizah Daulah Khilafah: Struktur Negara Khilafah: Pemerintahan dan Administrasi yang baru terbit tahun 2005. Penetapan ini dilakukan oleh Pemimpin Intenasional (Amir) Hizbut Tahrir yg sekarang: Atha’ Abu Ar-Rasytah. Amir yang ke-3.

Silakan baca tulisan saya tentang “Bahaya Hizbut Tahrir” dan tulisan2 lainnya tentang Hizbut Tahrir di sini.

66 .Bendera Hitam ISIS yg Meneror Dunia (2006-sekarang)

Deklarasi sebagai Negara Islam tahun 2006 dan sejak tahun 2014 menguasai Raqqa Suriah dan Mosul Iraq. Mulai jatuh dari tahun 2017. Setelah memisahkan diri dari Al-Qaidah mereka membuat bendera sendiri, tetap berwarna hitam dg tulisan kalimat tauhid namun font nya berubah yg diambil dari tulisan stempel cincin Nabi Muhammad Saw.

Dibanding jenis font bendera-bendera hitam lainnya yg menggunakan font tsulutsi yg baru ada pada abad ke-10 M/4 H, font Bendera ISIS lebih arkaik (kuno), karena menggunakan font yg sama seperti tulisan tangan era Nabi Muhammad Saw.

ISIS terlibat dalam aksi2 terorisme di Indonesia, silakan baca tulisan saya di sini.

Hingga saat ini hanya ada tiga kelompok yg memakai bendera baik yg berwarna hitam dan putih yg bertuliskan kalimat tauhid. 

Yg pertama kelompok Al-Qaidah dan jaringannya. Misalnya Jabhah Nusrah di Suriah, kemudian Taliban yg memakai versi warna putih. 

Kedua Kelompok ISIS yg hanya menggunakan bendera hitam yg berbeda jenis font (khath) dari bendera Al-Qaidah. 

Ketiga Hizbur Tahrir yg sama persis menggunakan bendera Al-Qaidah (hitam) dan Taliban (putih).

Kesimpulannya, bendera hitam yg bertuliskan kalimat tauhid sudah menjadi bendera politik dan identitas kelompok, yg lahir pada abad ke-20 oleh Kelompok Ikhwan Wahabi Saudi. 

Klaim Hizbut Tahrir yg mengatakan bendera hitam dan putih mereka sebagai “Bendera Rasulullah Saw” adalah kebohongan dan penipuan belaka. Karena bendera mereka yg hitam sama persis dg bendera Al-Qaidah dan bendera mereka yg berwarna putih sama persis dg bendera Taliban.

Senin, 08 Juni 2020

WASPADA GERAKAN THALABUN NUSHRAH INDONESIA (TNI)




Oleh Ayik Heriansyah
Pengurus LD PWNU Jabar

Thalabun nushrah adalah kegiatan politik Hizbut Tahrir menyusup, merekrut, membina dan mengarahkan jenderal militer untuk mengambil alih kekuasaan kepala negara yang akan diserahkan kepada Amir Hizbut Tahrir. Kegiatan thalabun nushrah dilakukan oleh satu grup kecil yang jumlahnya tidak lebih dari lima orang anggota Hizbut Tahrir yang memenuhi kriteria. 

Grup ini sangat tersembunyi, sensitif, dan vital. Nyawa Hizbut Tahrir ada di tangan grup ini. Boleh dikatakan hidup matinya Hizbut Tahrir di suatu negara ditentukan oleh grup ini. Apabila grup ini berhasil menunaikan misinya maka Amir Hizbut Tahrir akan menjadi Khalifah, sebaliknya kalau gagal, pengurus dan anggota Hizbut Tahrir menjadi pesakitan diburu aparat. Seperti Biro Chusus PKI, grup ini mau  “bermain-main mata” dengan jenderal militer yang mempunyai pasukan dan senjata. Di Hizbut Tahrir Biro Chusus-nya disebut dengan nama Lajnah Thalabun Nushrah.

Oleh sebab itu, Dewan Pimpinan Pusat Hizbut Tahrir di Indonesia (DPP HTI) melarang keras para anggota HTI membicarakan, membahas atau mendiskusikan thalabun nushrah. Para anggota HTI cukup mendapat penjelasan secara global saja tentang thalabun nushrah dengan menekankan bahwa thalabun nushrah adalah metode baku yang dicontohi oleh Rasulullah saw untuk mendirikan khilafah . 

Setelah itu mereka diperintahkan untuk menyibukkan diri dengan kewajiban-kewajiban mereka sebagai anggota HTI, halaqah, menyebarkan selebaran dan tugas-tugas dakwah lainnya. Anggota HTI dilarang keras menanyakan thalabun nushrah dengan rinci misalnya siapa saja anggota grup kecil tersebut? Berapa orang jenderal yang sudah direkrut dan dibina? Siapa saja mereka?. Semua ini tidak ada yang tahu selain ketua Lajnah Thalabun Nushrah, ketua DPP HTI dan Amir Hizbut Tahrir.

Berbeda dengan PKI, HTI menggunakan justifikasi syar’i untuk membenarkan kegiatan kudetanya. Sebagaimana yang dikatakan oleh anggota Hizbut Tahrir di Arab berikut ini: Thalabun Nushrah ini bukan sekedar aktivitas politik yang lahir dari pemahaman yang mendalam terhadap sebuah hakekat, akan tetapi ia adalah hukum syariat yang ditunjukkan oleh nash-nash syariat.  Thalabun Nushrah adalah metode syar’iy untuk menegakkan Daulah Islamiyyah.   (Dr Mahmud A Karim Hasan, al-Taghyiir, hal. 53).

Amir Hizbut Tahrir yang kedua Abdul Qadim Zallum mengatakan: “Dan Hizb  melakukan thalab an nushrah untuk dua tujuan:   pertama, untuk tujuan perlindungan, sehingga beliau mampu untuk berjalan dalam mengemban dakwah dalam keadaan aman;   kedua, untuk mengantarkan menuju pemerintahan, untuk menegakkan khilafah serta mengembalikan hukum dengan apa yang Allah turunkan, di tengah-tengah kehidupan, negara dan masyarakat.”  (al allamah asy syeikh Abdul Qadim Zallum, Manhaj Hizb at- Tahrir fii at-Taghyir, hal 31).

Sedangkan anggota senior Hizbut Tahrir di Arab dalam bukunya Ad-Dakwah Ila al-Islam: “Adapun saat ini, sesungguhnya penguasa itu memiliki kekuatan dengan cara paksaan; dan mereka menanggalkan hak rakyat; dan apa yang dipandang sebagai bentuk visualiasi kebangsaan kebanyakan bukanlah hal yang sebenarnya. dan kita, bagi kita hendaknya kita melakukan apa yang dilakukan oleh Rasul SAW, bahwa sesungguhnya kita wajib untuk melakukan kontak dengan siapa saja yang memiliki pengaruh dan kedudukan di masyarakat untuk membuka pintu di depan orang yang ada di balik pintu serta mendapatkan jaminan kepemimpinan masyarakat; dan wajib atas kita untuk mencari nushrah  dari kalangan ahlul quwwah (pemilik kekuatan) seperti jendral tentara untuk mengantarkan menuju pemerintahan…. “   (Ahmad al Mahmud, Ad dakwah ila al-Islam,  96).

Sudah pasti HTI akan mendirikan khilafah di wilayah NKRI dengan cara-cara inkonstitusional tegasnya dengan cara kudeta militer. Pengurus dan anggota HTI selalu berkilah jika disebut demikian, alasannya belum ada bukti HTI melakukan kudeta. Memang belum, akan tetapi HTI meyakini bahwa jalan satu-satunya untuk meraih kekuasaan politik tertinggi di suatu negara adalah dengan thalabun nushrah yang hakikatnya adalah kudeta. HTI sudah menutup pintu, menutup mata, menutup telinga dan menutup hati dari menggunakan metode konstitusional melalui pemilihan kepala negara secara jujur dan terbuka. 

Karena kudeta metode baku Hizbut Tahrir dalam meraih kekuasaan, di Indonesia, DPP HTI telah menentukan target jumlah rekrutmen perwira tinggi dan menengah TNI AD, AL, AU dan Polri yang tertera dalam dokumen Blue Print Dakwah HTI 2004. Baru enam tahun kemudian HTI mulai mengeksekusi target tersebut dengan membentuk Lajnah Thalabun Nushrah atas perintah Amir Hizbut Tahrir. 

Di internal, DPP HTI melakukan sosialisasi kepada para anggota perihal thalabun nushrah. Selebaran resmi Hizbut Tahrir tentang thalabun nushrah dipelajari. Siddiq Al Jawi anggota senior HTI mempublis tulisan tentang “Membentuk Suasana Nushrah” dan teknis thalabun nushrah yang dimuat majalah Al-Wa’ie edisi April/Mei 2011. Semenjak itu lajnah ini bergerak secara rahasia dengan arahan langsung dari Amir Hizbut Tahrir. 

Dalam Silsilah Ajwibah di laman Facebook Amir Hizbut Tahrir yang sekarang Atha Abu Rusytah menegaskan: “Dan inilah yang dilakukan Hizb (Hizbut Tahrir) ketika memulai aktifitas thalabun nushrah pada tahun 60-an pada abad yang lalu.. dan terus menerus dilakukan (oleh Hizbut Tahrir); dan kita selalu memohon pada Allah Subhanahu wa Ta'ala untuk memuliakan umat ini dengan para penolong; yang mereka mengulang sejarah sahabat anshar yang pertama; maka daulahpun ditegakkan, daulah khilafah rasyidah dan dikibarkan di puncakpuncak rayah al uqab, panji Rasulullah SAW; dan ketika itu orang orang mukmin bersuka cita dengan pertolongan Allah tersebut..."

Bandung, 14 Oktober 2019

Minggu, 07 Juni 2020

Maju Ke Muka Melawan Wahabisme




Oleh : Hamdan Suhaemi 

Kita masih ingat, bahwa makam Rosulullah hendak dihancurkan dinasty Suud, pada 1924. Yang menyelamatkan dari kehancuran itu adalah komite hijaz yang dipimpin Kiai Wahab Chasbullah ( restu Syaikh Hasyim Asyari ). Tentu umat Islam seluruh dunia punya hutang jasa atas ulama nusantara kita itu, sebab makam Nabi masih utuh hingga sekarang. 

Lalu, kenapa kita NU selalu menolak dan melawan ajaran Wahabi yang kini didakwahkan  lewan Youtube dan chanel TV, radio hingga buletin jumatan dengan sokongan kapital yang melimpah itu. Sebab ajaran yang disampaikan mereka bukan Islam sebagai ajaran yang sempurna dan luas, meliputi banyak aspek. Tapi, ajaran mereka justeru menyempitkan Islam sebagai agama, mengkerdilkan sebagai ajaran, mendangkalkan pemikiran ( ijtihadi ) agama. Semboyan anti khurafat, takhayyul dan bid'ah hanya kedok, justeru yang kini mereka kerjakan adalah menghancurkan Islam dari dalam. Efeknya berislam kita jadi sempit karena selalu dibid'ahkan, efek besarnya orang Islam akan tinggalkan Islam akibat semuanya dilarang-larang dan dicap bid'ah. 

Kenapa, kini mereka merajalela bergerak di semua lini kehidupan. Apa kita anak-anak NU ini harus selalu menuggu fatwa kiai, dan jika tak ada fatwa lantas kita diam saja membiarkan mereka merusak Islam? untuk apa ber-NU kita hanya pada simbol struktural, hanya simbol kaos, jaket, bendera dan seragam, namun diam sambil gigit jari sambil menghitung bintang-bintang di langit. Sambil pula malu-malu kucing dengan sabar dan tawaddu'nya. Katakan, kini kita harus ke muka, biarkan kiai duduk manis ajarkan ilmu ke para santri. 

Wahabisme, memang jenisnya muslim lengkap dengan daganganya hijrah, syariah, dan sunnah. Tapi mereka keras kepada yang berbeda paham, sebab yang dibenaknya hanya mereka yang ikuti sunnah Nabi, dan yang lain musyrik, kafir dan munafik. Dalilnya cukup al-Quran dan Hadits, itupun yang ada terjemahanya sebab mereka terdidik singkat lewat dauroh-dauroh. 

Mereka Wahabi dengan simbol Arabnya seakan telah mewakili Islamnya seperti di zaman Nabi, jenggot panjang, celana cingkrang, jidat hitam dan kalau ceramah bicara bid'ah dan sunnah. Padahal tradisi itu jelas tidak ada di zaman Nabi.  Al-Quran pun sudah jelaskan bahwa tujuan hidup kita itu ibadah dan bertaqwa kepada Allah Swt. Maka untuk sempurnanya ibadah itu dengan ilmu. Sementara ilmu itu bernama fiqih. Mereka menghindari fiqih karena tujuanya mengkerdilkan cara beragama tanpa tanggung jawab, bahkan Quran pun semau mereka untuk ditakwilkan. Sesuai kepentingannya. 

Islam itu bukan Arabisme atau Wahabisme. Meski kita tak sangkal bahwa Islam di turunkan di Mekkah dan dakwahkan di Madinah, itu artinya di Arab. Pastinya Islam itu untuk semua umat manusia, semua bangsa jin, dan bahkan bagi makhlu hidup lainya ( rahmatan lil alamin ). Saking luasnya Islam, untuk mensyarahi kitab kumpulan hadits soheh Imam al-Bukhori saja diperlukan ratusan judul kitab yang bila dideretkan itu sejauh 200 meter. Belum bidang lainnya. Sekali lagi Islam itu bukan Arabisme. 

Hujjah yang mereka sampaikan, kita NU pun siapkan hujjahnya yang lebih kuat. Corong media mereka gunakan, kita pun merangseg meramaikan media. Ekonomi mereka yang menggurita, kita NU pun imbangi dengan kekuatan ekonomi pula. Bahkan jika diperlukan tangan kita harus terkepal lantang mengajak debat, dan bila perlu adu nyali. 

Bahaya Wahabisme, bukan mimpi siang bolong. Ini nyata. Sedikit kita tidur nyenyak mereka sudah melangkah jauh. Umat yang sudah sejak dulu berpegang pada Aqidah Islam Ahlu sunnah wal jamaah bisa jadi hanya nama dan pengakuan, padahal mereka praktiknya wahabi. 

Sikap kita, jelas. membendung ajaran dan dakwah Wahabi adalah sikap tanggung jawab kita pada gusti Allah dan kanjeng Nabi Muhammad sholla Allahu alaihi wa sallam dan demi kemuliaan Islam, demi utuhnya kesempurnaan Islam. 

Asah otak, siapkan pena dan tangan terkepal.
Maju serempak. 

Serang 2 Juni 2020

#HubbulWathonMinalIman