Jumat, 21 Agustus 2020

saatnya perang medsos melawan radikalisme


Peperangan bersenjata sesungguhnya sudah ketinggalan zaman. Dulu perang hanya dimaknai sebagai dua pihak, entah untuk alasan politik atau teritorial, mengadu kekuatan hingga salah satu muncul sebagai pemenang. Si pemenang bisa memaksakan kehendak politik terhadap yang kalah, dan perdamaian—apapun bentuknya itu—kembali terbentuk.

Cara perang dilakukan karenanya rutin berevolusi akibat perkembangan teknologi. Media sosial memaksa kita untuk mendefinisikan ulang makna kata perang itu sendiri.

Perang adalah politik yang dilakukan lewat cara lain. Sementara sekarang kita justru melihat politik narasi yang dipersenjatai. Ini buruk, karena politik tidak akan pernah berhenti. Dulu operasi propaganda media hanya muncul demi mendukung operasi militer di lapangan. Sekarang kita berada dalam situasi dimana operasi militer lapangan justru diciptakan demi mendukung operasi propaganda lewat internet.

Siapapun sekarang tidak bisa berperang tanpa menggunakan media sosial. Kalau kita mengabaikan sosmed, bisa dipastikan di pihak kita tidak akan menang perang.

Yang tidak bisa dibantah adalah kekuatan berpindah tangan dari institusi seperti pemerintah dan perusahaan media besar, beralaih ke individu dan jaringan sipil. Manusia telah menjadi homo digitalis. Artinya abad ini menyaksikan munculnya pemberdayaan individu. Setiap manusia terjaring dan terhubung secara global, dan yang di butuhkan hanyalah sebuah smartphone. Dalam artian itu, rakyat sipil seharusnya diuntungkan. Tapi tidak otomatis seperti itu sih. Sempat muncul narasi tentang utopia dunia cyber—berikan manusia akses ke internet, dan dia akan terbebas—tapi sayangnya realita tidak seperti ini. Alat yang sama akan digunakan oleh pihak penindas dan juga yang ditindas. Sejarah media sosial merupakan cerita tentang pasang surutnya harapan. Tergantung si manusia itu sendiri untuk memanfaatkan alat tempur baru bernama media sosial.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar