Organisasi ini merupakan institusi paramiliter semi-otonom milik Nahdlatul Ulama (NU) yang bergerak langsung di bawah komando Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor), penampung semua aspirasi dan inspirasi kaum muda NU.
Sejak berdiri, Banser menjadi saluran kultural yang memiliki keterkaitan erat dengan dunia pesantren, kaum santri, dan kyai. Anggota Banser selalu dibekali ilmu kanuragan, tarekat, penghormatan terhadap ulama, dan lain-lain. Semua itu tetap dipertahankan sebagai tradisi hingga saat ini.
Banser adalah organisasi pemuda NU dalam upaya mengabdi kepada NU, Islam, masyarakat, dan negara Indonesia, khususnya di bidang pengamanan atau upaya menciptakan ketertiban. Mereka konsisten dan setia untuk menegakkan Pancasila dan Indonesia yang ber-Bhinneka Tunggal Ika.Namun, ruang geraknya tidaklah sempit.
Melawan musuh ke-Indonesia-an
Menengok ulang kiprah Banser sebagai organisasi paramiliter, tak bisa dilepaskan dari ingatan tentang keberadaan Laskar Hizbullah, salah satu embrio Banser yang didirikan pada 4 Desember 1944. Organisasi besutan KH Wahid Hasyim ini ikut berjasa menghadapi keganasan tentara Belanda dalam Agresi Militer I dan II.
Tekad Laskar Hizbullah dalam mempertahankan proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia mengerucutkan pasukan Belanda sebagai musuh bersama. Dalam hal ini, konsep jihad diusung untuk membakar heroisme para pemuda NU dalam berperang melawan Belanda.
Melalui Konferensi Meja Bundar (KMB) tahun 1949, kedaulatan negara Republik Indonesia diakui dunia. Konsep musuh, khususnya bagi Laskar Hizbullah dan NU pada umumnya, mengalami pergeseran. Namun, bibit musuh bersama sudah mulai lahir sejak peristiwa Madiun pada 1948 (Tragedi PKI-Madiun).
Gesekan kepentingan NU dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) mencapai puncaknya pada 1965. Melihat situasi politik Indonesia yang tak lepas dari konteks global, yaitu perang dingin antara Blok Barat (Amerika) dan Timur (Uni Soviet) menyeret NU untuk tidak tinggal diam.
Di tanah air, organisasi-organisasi yang berafiliasi dengan PKI, seperti Barisan Tani Indonesia (BTI), telah membuat geram kaum santri dan kyai. Aksi sepihak berupa penyerobotan tanah oleh BTI melahirkan konflik dengan anggota NU di akar rumput. Bentrokan fisik menjadi-jadi setelah meletus peristiwa Gerakan 30 September (G30S) 1965 di Jakarta.
Secara formal, Banser kala itu ditujukan untuk memberikan pengamanan kegiatan Partai NU dan perlindungan fisik kepada para pendukungnya. Namun, tujuan terselubungnya adalah untuk mengantisipasi jika terjadi konfrontasi fisik dengan massa PKI, mengingat kondisi semakin memanas saat itu.
Kekawatiran itu benar-benar terjadi. Pasca-G30S, TNI Angkatan Darat di bawah komando Kolonel Sarwo Edhie menggandeng Banser untuk menghancurkan PKI. Tragedi kemanusiaan meletus di sepanjang akhir tahun 1965 hingga 1966.
Selanjutnya, sepanjang Orde Baru berkuasa, Banser tetap berusaha bersinergi dengan penguasa dan menjadi kekuatan antikomunis yang sangat penting. Namun, menginjak tahun 1980an dan seterusnya, relevansi komunis sebagai musuh bersama memudar.
Sosok musuh dalam Banser tidaklah bersifat kekal dan bukan pula laksana kacamata kuda. Walaupun tetap waspada terhadap bahaya komunisme, namun Banser sangat realistis. Banser sangat memahami bahwa komunisme dalam perkembangan zaman terbukti hanyalah gagasan utopia yang telah bangkrut secara global.
Setelah rezim Soeharto tumbang, Banser melepaskan diri dari hegemoni Orde Baru dan lebih terbuka terhadap sejarah ke-Indonesia-an di masa lalu. Banser berani menengok, merefleksikan, bahkan mempertanyakan peristiwa masa lalu melalui berbagai arena dialog dalam bingkai rekonsiliasi bangsa.
Selanjutnya, di era reformasi, siapa musuh baru mereka? Sebagai organisasi paramiliter, Banser akan tetap di jalurnya dalam menegakkan nasionalisme ke-Indonesia-an? Seiring munculnya kelompok radikal dan teroris, apa yang dilakukan oleh Banser? Kelompok teroris sebagai musuh saat ini?
Banser bukan organisasi yang tugas utamanya menjajakan pengamanan untuk memperoleh keuntungan finansial. Memang diakui, dalam konteks tertentu, melalui prosedur resmi dan formal, Banser memenuhi permintaan pengamanan dengan imbalan sukarela, misalnya acara pesta hajadan.
Namun banyak kali, Banser tampil dan berkoordinasi dengan kepolisian untuk pengamanan swakarsa, baik untuk acara khusus NU maupun acara di luar NU. Salah satu yang rutin digelar tanpa diminta adalah membantu pengamanan polisi saat perayaan Natal di gereja-gereja.
Bagi Banser, mengamankan NU, sama dengan mengamankan Indonesia. Membantu polisi dalam mengamankan perayaan Natal di gereja-gereja adalah sama dengan mengamankan ke-Indonesia-an. Maka jangan heran apabila Banser memiliki hubungan yang baik dengan kelompok lintasagama.
Tatkala terjadi rentetan Bom Malam Natal tersebut, Banser mempunyai catatan sejarah yang mendalam. Aksi kelompok radikal dan teroris telah mengusik arah dan masa depan ke-Indonesia-an. Mungkin karena itu pula, pada 24 April 2011, Banser kemudian juga membentuk Detasemen Khusus 99 (Densus 99) yang bertugas menghadapi persoalan radikalisme dan terorisme, layaknya Densus 88 yang dibentuk Polri. Seperti masa-masa sebelumnya, Banser selalu di garda terdepan menghadapi segala ancaman ke-Indonesia-an.
Siapa kita...??
Pancasila...??
NKRI...........??
BANSER pasti bisa jawab pertanyaan itu.