Rabu, 29 April 2020

HENTAKAN JOKOWI UNTUK INDONESIA DI MATA DUNIA






Sang penguasa dunia sedang sakit. Tubuh tambunnya kini terlihat lemah dan bergerak sangat lamban. AS, negara adidaya itu jatuh dan terjerembab dengan luka paling parah dan jumlah korban meninggal paling memilukan di negara tersebut.

AS sedang terpuruk. Tertatih-tatih sang jagoan no. 1 dunia itu mencoba bangkit, namun beban tubuh tambun dan banyaknya luka membuat dia hanya mampu terduduk lesu.

Mungkinkah  kepemimpinan dunia sedang beralih?

Dollar AS sampai hari ini masih menjadi mata uang dunia. Salah jalan Dollar dalam pengembaraannya telah membuatnya bukan lagi menjadi alat tukar, Dollar telah berubah menjadi komoditas. Komoditas yang berbentuk uang. Sehatkah orang memiliki wajah ganda?

Siapa menguasai minyak adalah siapa yang memiliki dunia, itu adalah motto AS dan para kapitalis yang berdiri di belakangnya. Namun minyakpun telah salah jalan, dia membunuh terlalu banyak manusia dan merusak alam.

Dua kekuasaan besar tersebut kini sedang sekarat dan menunggu ajalnya. Seperti baju zirah, pelindung itu kini justru membebani.

Dollar yang sudah sejak 50 tahun lalu berjalan pada arah yang salah sedang menunggu saat jatuhnya. Tak ada lagi underlaying dalam bentuk emas atau apapun dalam pencetakannya.

Di sisi lain, uang elektronik China yang memakai underlaying emas sudah mulai beredar. Dengan kekuatan ekonomi China yang sangat spektakuler dan menguasai seluruh perdagangan dunia, jelas sudah, ini adalah ancaman. Hanya masalah waktu saja Dollar akan meredup.

Dimulai dengan Kesepakatan Iklim Paris 2015, pengurangan pemakaian Bahan Bakar Minyak terjadi dimana-mana. Mereka melirik pada tekhnologi Lithium.

Lithium, sang takdir pembunuh minyak sudah tumbuh makin dewasa. Periode dan kejayaan minyak sedang terus digerogoti oleh hadirnya sang penyimpan energi yang jauh lebih bersih dan terbarukan.

Mata dunia, terutama generasi milenial yang sebentar lagi menguasai panggung politik dan di sisi lain sebagai kaum yang sangat peduli terhadap lingkungan, sedang menengok kesana. 

Lithium adalah masa depan, Lithium adalah baterai, dan Lithium adalah Indonesia. 

Lho kok...???

Ingat, Uni Eropa menggugat Indonesia di WTO beberapa waktu silam. Ingat, Uni Eropa memboikot sawit kita.

Saat digugat di WTO karena kebijakan tak lagi mengijinkan ekspor nikel dalam bentuk ore, Jokowi dengan Pe-De nya mengatakan : "SIAPKAN LAWYER TERBAIK..!!" 
Dan saat sawit diboikot, dengan ekspresi muka ngenyek dia bilang "GAK MAU YA SUDAH, SAYA KONSUMSI SENDIRI",  dan... Eropa kaget karena dari Indonesia langsung muncul diesel B30.

Saat ini, infrastruktur kita di Morowali sudah sangat siap. Di sana sudah ada Kawasan Industri Morowali. Dan di Virtue Dragon, Weda Bay, di sana juga sudah terbangun politeknik bagi siapnya masyarakat lokal menerima alih tehnologi tinggi dalam bidang baterai.

Lho kok baterai...??

Lithium adalah baterai, dan lithium adalah tentang nikel sebagai bahan bakunya. Di sana, di Morowali Sulawesi Tengah, bahan baku nikel terhampar sangat luas. Dan itu adalah masa depan yang sedang menanti kita.

Seluruh mata dunia sedang mengarah ke sana, dimana masa depan gemilang Indonesia ada pada jalur yang tepat. Jalur trend dunia dengan teknologi hijaunya.

Kenapa harus dengan China...??

Ingat isu pekerja China yang menjadi senjata bombastis lawan politik Jokowi saat pemilu tahun lalu? Di sinilah, di Morowali, diisukan ada ribuan pekerja China.

Lithium adalah apa yang juga menjadi senjata unggulan China dalam melawan dominasi minyak AS. Dengan lithium, China mampu membuat dunia sedikit demi sedikit meninggalkan minyak.

Karena lithium adalah unggulan China, maka belajar teknologi lithium tentu harus dengan China. Itu sesuatu yang sangat logis, bukan masalah komunis dan demokrasi.

Pernah dengar Mercedes dan Tesla? Keduanya ada di belakang China dalam teknologi baterai ini. Dua raksasa industri terdepan dalam pengembangan baterai.

Ya.., dapat ditebak dengan mudah, mereka yang sibuk berteriak China! China! dan China!, tentu sangat terkait erat pada siapa yang akan dirugikan dengan terbangunnya industri baterai di Indonesia.

Mungkinkah suatu saat nanti kita akan menjadi pusat baterai dunia?

Morowali sedang diarahkan menjadi penghasil baterai mobil terbesar di dunia. Komponen baterai pada mobil elektrik adalah mencakup 40% dari keseluruhan produk itu, maka demi efisiensi, tentu itu sangat logis. 

Sangat logis bila industri dan produksi mobil elektrik akan memilih Indonesia menjadi pusat produksinya. Ini adalah soal bisnis, dan bisnis tak kenal kewarganegaraan.

Kini menjadi semakin jelas kenapa Indonesia menjadi satu dari tiga negara kelompok G-20 yang akan memimpin. Lima tahun pertama Jokowi benar-benar telah membuat semua infrastruktur bagi kemajuan negara ini tersusun rapi dan jelas.

Kepercayaan investor terlihat dengan jelas saat nilai tukar Rupiah semakin hari semakin kuat akibat penilaian asing terhadap bagaimana Pemerintah menangani bencana Covid-19 ini.

Global Bond yang diinisiasi oleh Indonesia, kini menjadi alternatif cerdas bagi banyak negara lain di dunia untuk keluar dari jerat ekonomi yang pasti merosot. Arab Saudi dan negara-negara Teluk telah mengikuti jejak Indonesia.

Arah sudah jelas, peminat sudah ngantri, apakah kita benar-benar akan memimpin, tentu hal itu juga tergantung dari seluruh rakyat Indonesia.

Dominasi AS atas dunia tak mungkin akan dilepas begitu saja. Semua kekacauan dan kericuhan akan semakin intens saat perang posisi ini makin mendekati puncak.

Lantas apa yang harus kita lakukan?

Teriakan China!, China! dan China! akan semakin masif dan kita tahu siapa dibalik teriakan tersebut. Kita tahu siapa yang akan main kasar ketika pertandingan hampir usai. 

Mereka yang kalah dan tak tahu harus berbuat apa selain marah dan marah, adalah mereka yang harus kita hadapi. Mereka adalah orang-orang yang tak mengerti dan tak memiliki rasa cinta tanah air. 

Perkembangan luar biasa atas kepemimpinan Jokowi telah mulai tampak. Baru terjadi BUMN kita telah menggeser posisi Malaysia dan Singapura dalam hal keuntungan sejak tahun 1998.

Baru terjadi Freeport memberikan keuntungan signifikan terhadap Indonesia dari sejak awal dikuasai oleh AS.

Baru kali ini Indonesia masuk menjadi kelompok dengan GDP 1 Triliun Dollar, sejajar dengan beberapa negara maju didunia.

Siapa menguasai minyak akan menguasai dunia adalah cerita masa lalu. Kini, siapa menguasai nikel, dialah pemilik masa depan dunia... dan itu adalah kita.

Ingat AS dengan jumlah penduduk dan luas wilayah yang gak jauh-jauh amat dengan Indonesia mampu menjadi raja dunia lebih dari 50 tahun karena dominasi minyak.

Dengan dominasi nikel, kesempatan menjadi pemilik masa depan dunia kini terbuka semakin lebar. Dengan memilih nikel sebagai ujung tombak kemajuan teknologi dan mendorong Indonesia sebagai basis mobil listrik dunia, potensi menjadi salah satu pemimpin dunia tersebut semakin mendekati kenyataan.

Dunia sebagai Gadget secara bersama sedang direstart, dan kabar bagusnya, kita menyala paling cepat. Apakah sang operator mampu membuat gadget ini menjadi makin dan semakin hebat, tentu itulah yang menjadi harapan kita.

by RudySoekarno
KataKita

Senin, 27 April 2020

PERANGKAP SETAN MELALUI USTADZ INSTAN


#Refleksi Ramadlan 1441 H
Bandung, 27 April 2020

PERANGKAP SETAN MELALUI USTADZ INSTAN

Oleh Ayik Heriansyah
Pengurus LD PWNU Jabar

Ibnu Jauzi dalam kitab Talbis Iblis mengatakan, perangkap setan itu menguat karena menguatnya kebodohan. Orang awam lebih mudah masuk perangkap setan ketimbang orang ‘alim. Terkadang iblis memperdaya orang-orang awam dengan fanatisme madzhab tertentu. Tidak heran jika kita sering melihat mereka saling kutuk, caci, hujat dan bermusuhan karena suatu urusan yang tidak mereka ketahui hakikatnya. 

Di antara mereka ada yang merasa puas dengan pikirannya sendiri, dan tidak peduli meskipun bertentangan dengan pendapat ulama. Selama fatwa ulama itu bertentangan dengan kepentingannya, dia segera menyanggah pendapat ulama dan menyerang. Perangkap iblis lainnya kepada mereka, mereka mencela dan mencaci ulama karena ulama melakukan perkara mubah. 

Orang-orang awam yang mempunyai “ghirah” agama yang tinggi, berubah menjadi ustadz-ustadz instan. Biasanya berafiliasi kepada gerakan Islam non mainstream. Mereka muncul tanpa melalui proses belajar, pendidikan dan latihan di bawah bimbingan guru yang berpengalaman dan matang secara intelektual dan spiritual. Keberadaan mereka menjadi masalah baru bagi umat Islam.

Masalahnya, akibat keawaman mereka, mereka bersikap intoleran, predatoris dan vigilant dalam “berdakwah”. Intoleran karena perspektif mereka sempit, satu arah dan satu warna dalam memahami agama. Tidak ada kebenaran di luar kebenarannya. Tidak ada keselamatan di luar kelomponya. Mereka merasa benar, syar’i dan shalih sendiri. Di luar diri dan kelompoknya, adalah orang-orang bejat, bodoh, munafik dan sesat.

Sehingga agar “dakwahnya” diterima, mereka menggunakan pendekatan kekuasaan bukan pencerahan. Mereka memandang objek “dakwah” layaknya hewan buas memandang mangsanya. Penuh nafsu. Ketika disanggah, ditentang dan ditolak; Mereka emosi, membenci dan mem-bully. Kemudian main hakim sendiri (vigilante). Penjadi ahli tafsir, mufti dan hakim bagi orang lain. 

Mereka merasa taat, padahal maksiat. Ini yang disebut dengan istilah maksiat dalam taat. Syaikh Ibnu Atha’illah mengatakan pangkal setiap kelalaian dan maksiat adalah merasa puas diri.
. أَصْلُ كُلِّ مَعْصِيَةٍ وَ غَفْلَةٍ وَ شَهْوَةٍ الرِّضَا عَنِ النَّفْسِ وَ أَصْلُ كُلِّ طَاعَةٍ وَ يَقَظَةٍ وَ عِفَّةٍ عَدَمُ الرِّضَا مِنْكَ عَنْهَا.
Pangkal segala maksiat, kelalaian, dan syahwat adalah sikap puas terhadap keadaan diri sendiri. Pangkal segala ketaatan, kesadaran, dan kesucian adalah sikap tidak puas dengan keadaan diri sendiri.

Menurut Syaikh Zarruq ada tiga ciri orang yang rela dengan nafsunya: Ia melihat al-Haqq untuk nafsunya, menyayangi nafsunya dan mengabaikan aib-aib nafsunya serta meyakini kesucian dirinya sendiri.

Sabtu, 25 April 2020

Arti wayang


WAYANG = Wayahe Sembahyang (Waktunya Beribadah)
Dikala itu orang blm mau untuk beribadah (Berbuat Kebaikan). Maka dibuatlah pertunjukan wayang untuk media Dakwah menyebarkan Islam.
Karena memang Walisongo kala itu menyebarkan agama Islam tidak mau dgn menggunakan kekerasan, dan menghakimi dgn menggunakan dalil", melainkan dgn kearifan mengikuti kultur Budaya agar mudah diterima oleh masyarakat dan tidak terkesan menggurui dan memaksa.

Maka dibuatlah yg disebut PUNAKAWAN dari Maqolah (𝘚𝘢𝘮𝘪𝘳 '𝘢𝘭𝘢 𝘬𝘩𝘰𝘪𝘳𝘪𝘯 𝘧𝘢𝘵𝘳𝘶𝘬 '𝘢𝘯𝘪𝘭 𝘣𝘢𝘨𝘩𝘰) yang artinya Bergegaslah menuju kebaikan, tinggalkan kejelekan.
Makanya tokoh" Punokawan dinamain SEMAR (Samir), GARENG (Khoirin), PETRUK (Fatruk), BAGONG (Bagho). Sunan Kalijaga memperkenalkan Rukun Islam pun dgn Wayang.
Makanya dibuatlah namanya PANDAWA LIMA.
Yg nama Tokoh"nya : - Yudhistira / Puntodewo.
Dgn senjata pamungkasnya, Jimat Kalimosodo, dari kata KALIMAT SYAHADAT. (Rukun Islam Pertama) - Werkudoro / Bima, yg ga pernah duduk dan selalu siap dengan kuku Ponconoko nya.
Yg artinya SHALAT harus selalu di tegakkan.
Kenapa Werkudoro ga pernah berbahasa Krama sm siapa pun? Karna disaat shalat menghadap Allah disitu kita semua derajatnya sama antara si kaya dan si miskin. (Rukun Islam kedua) - Raden Arjuno, kesatria Pandawa yang paling ganteng dan digandrungi kaum wanita.
Tp dia tetap kuat atas godaan" wanita.
Seperti orang berPUASA, kita harus kuat Menahan Godaan Hawa Nafsu. (Rukun Islam ketiga) - Nakulo & Sadewo.
Mereka adalah tokoh yg jarang muncul, sebagaimana ZAKAT & HAJI yg hanya diwajibkan bagi orang-orang yang mampu.
Tapi, tanpa Nakulo dan Sadewo, Pandawa akan rapuh dan hancur.
Begitu pula umat Islam, klw ga ada para Hartawan yang sanggup membayar Zakat dan menunaikan Haji, fakir miskin akan terancam oleh kekafiran dan pemurtadan.
Kesenjangan antara orang kaya & orang miskin ga akan tercapai. (Rukun Islam ke Empat & Lima)

Rabu, 22 April 2020

UPAYA HTI CARI PEMBENARAN KHILAFAH DENGAN MENCATUT PENDIRI NU




--------
Artikel ini saya tulis berdasarkan 
pengalaman berdialog dengan aktivis mahasiswa Hizbut Tahrir dan beberapa 
wacana di dunia maya ketika berbicara
tentang Nahdlatul Ulama dan HTI (Hizbut 
Tahrir Indonesia). 
Artikel ini juga tidak hendak 
menyudutkan atau mencemarkan nama HTI, melainkan sebagai upaya klarifikasi dan “menjaga diri” dari ideologi yang bertentangan dengan garis perjuangan NU. 

HTI sebagai organisasi yang 
bervisi besar, yaitu hendak mendirikan kekhalifahan Islam di dunia, dalam ajakannya seringkali menggunakan penguatan argumen dengan berupaya menghubung-hubungkan persamaan visi 
antara NU dan HTI. Antara lain sebagai berikut:

1) HTI mengatakan bahwa 
Hadrassyekh KH Hasyim Asy'ari 
mempunyai keterkaitan pemikiran 
dengan Syekh Taqiyuddin an-Nabhani. 

Hal ini didasarkan pada sejarah ketika 
KH. Hasyim Asyari belajar ke Mekah yang salah satu gurunya adalah Syekh Yusuf an-Nabhani, ulama besar Sunni Syafi’i yang merupakan kakek dari Syekh Taqiyuddin an-Nabhani (pendiri Hizbut Tahrir). Informasi tentang hubungan guru-murid ini memang benar. Namun, Syekh Taqiyuddin an-Nabhani sendiri tidak mengikuti jalan yang ditempuh oleh sang kakek yang berhaluan Sunni Syafi'i. Syekh Taqiyuddin merupakan aktivis dan tokoh gerakah Ikhwanul Muslimin sebelum kemudian membelot dan mendirikan gerakan sendiri bernama Hizbut Tahrir yang secara metode dan mazhab fiqih berbeda dari Aswaja An-Nahdliyah. 

2) Untuk menjaring simpatisan Nahdliyin, HTI biasanya mengatakan bahwa KH Hasyim Asy'ari berkeinginan untuk menyatukan seluruh umat Islam dalam naungan sistem Islam yang satu (baca: khilafah). Hal ini mereka dasarkan atas gambar bola dunia dalam lambang NU. Saya rasa ini keliru besar. Karena lambang Nahdlatul Ulama tidak pernah diciptakan oleh siapapun, melainkan berawal dari mimpi KH Ridwan Abdullah setelah lama berikhtiar dan shalat istikharah. Kiai yang bertugas membuat lambang NU tersebut bermimpi melihat gambar indah di langit biru yang jernih. Gambar itulah yang kemudian dijadikan lambang NU atas persetujuan KH Hasyim Asy'ari. Sedangkan gambar bola dunia yang diikat oleh tali tambang dengan 99 lilitan tersebut bermakna kokohnya ukhuwah islamiyah dan insaniyah. Bukan penyatuan umat Islam dalam negara khilafah. 

3) Komite Hijaz yang diketuai oleh KH Wahab Chasbullah pun tak luput untuk dijadikan bahan argumen khilafah. Komite Hijaz dijadikan dalil bahwa embrio NU waktu itu mengakui dan berperan aktif pada kehilafahan Islam yang ada di Arab Saudi. Padahal Kiai Wahab dan kiai pesantren waktu itu bermaksud untuk melakukan upaya penolakan atas puritanisasi Islam oleh Wahabi khususnya ada pembongkaran makan Rasul beserta keluarga dan sahabatnya, bukan soal dukung mendukung khilafah. 

Argumentasi penyamaan visi NU dengan HTI runtuh pada puncaknya ketika KH Hayim Asy'ari menfatwakan Resolusi Jihad pada 22 okt 1945. Hadratussyekh Hasyim Asy'ari memfatwakan wajib membela tanah air (bukan membela agama) kepada masyarakat Surabaya dan sekitarnya pada radius 94 kilometer. Silakan pelajari latar belakang Resolusi Jihad NU. Di situ kita dapat melihat tingginnya nasionalisme dan patriotisme dalam diri Hadratussyekh Rais Akbar KH Hasyim Asy'ari yang tidak ada sama sekali dalam visi dan tradisi HT(I). 

(M. Abdul Fatah, penulis adalah aktivis NU Kultural; alumni Pondok Pesantren Darullughah Wal Karomah, Probolinggo, Jawa Timur)

Rabu, 15 April 2020

*Dr. Siti, Virus, dan WHO* Dina Sulaeman




Wabah Covid-19 membuat banyak orang teringat pada Dr. Siti Fadilah Supari (Menkes RI 2004-2009) yang dulu berjibaku melawan virus Flu Burung 2005 dan bahkan berlanjut dengan melawan WHO di Jenewa. 

Kisah perjuangan melawan WHO itu ditulis sangat detil oleh Dr. Siti di bukunya “Saatnya Dunia Berubah”. 

Begitu baca, saya langsung “nyambung” karena inilah yang saya bahas di tesis dan disertasi saya: organisasi internasional di bawah PBB ketika mengambil suatu kebijakan ternyata sangat dipengaruhi oleh epistemic community (sekelompok pakar di ring 1 PBB, dengan mengabaikan suara kelompok pakar lainnya), perusahaan transnasional, juga IMF dan Bank Dunia. 

Kisah dimulai ketika tahun 2005, virus flu burung masuk ke Indonesia (penularan virus dari unggas ke manusia, jadi yang jatuh sakit adalah manusia). Untuk mendeteksi virus, atas perintah WHO, sampel spesimen harus dikirim ke Hongkong, hasilnya baru dapat 5-6 hari kemudian. Jelas ini memperlambat upaya penanganan. Padahal, ternyata hasil pemeriksaan lab di Indonesia sama saja dengan hasil lab HK.

Secara bersamaan, berdatanganlah para penjual alat pendiagnosa cepat (rapid diagnostic test) ke Dr. Siti. Pembuatan alat itu didasarkan pada virus strain Vietnam. Jadi, virus dari korban flu burung di Vietnam  dikirim ke WHO, lalu dibuat seed (benih) virusnya dan seed virus ini yang dibuat jadi alat tes. Tapi yang membuat alat tes bukanlah WHO melainkan perusahaan di negara-negara maju. 

Lalu, WHO merekomendasikan obat bernama Tamiflu. Parahnya, ketika Indonesia mau beli, obat itu habis di pasar, karena sudah diborong negara-negara kaya (padahal mereka tidak kena flu burung).  

Kemudian, tiba-tiba saja, tanpa penelitian virologi, staf WHO mengumumkan ke CNN bahwa di Indonesia sudah terjadi penularan dari manusia ke manusia. Jelas pengumuman sepihak dari WHO ini berbahaya buat Indonesia: Indonesia bisa diisolasi dan ekonomi akan ambruk. Dr. Siti langsung meminta ilmuwan Indonesia untuk meneliti virus itu, apa benar sudah ada perubahan (sehingga bisa menular dari manusia ke manusia). 

Sambil menunggu hasil lab, yang dilakukan Dr. Siti tidak main-main: mengusir staf WHO yang “bacot” itu dari Indonesia dan meminta CNN mencabut berita tersebut. Beliau lalu bikin konperensi pers, menyampaikan argumen-argumen logis, misalnya, kalau benar sudah ada penularan dari manusia ke manusia, tentu yang pertama tertular adalah perawat dan jumlah orang yang tertular sangat banyak. Dan kemudian terbukti dari hasil lab, bahwa virus flu burung H5N1 tidak menular dari manusia ke manusia.

Peristiwa ini membuat Dr. Siti semakin penasaran, mengapa tatanan dunia soal virus harus seperti ini? Dia lalu mendapati ada 2 jalur perjalanan virus: (1) virus dari negara yang terkena wabah diserahkan ke WHO melalui mekanisme GISN (Global Influenza Surveillance Network), lalu entah dengan mekanisme apa, jatuh ke Los Alamos. Ini adalah lab yang dulu bikin bom atom Hiroshima. (2) dari WHO, virus diproses menjadi seed, lalu diserahkan ke perusahaan vaksin.

Dr Siti menulis, “Kapan akan dibuat vaksin dan kapan akan dibuat senjata kimia, barangkali tergantung dari keperluan dan kepentingan mereka saja. Benar-benar membahayakan nasib manusia sedunia. Beginilah kalau sistem tidak transparan dan tidak adil.” (hlm 17).

Yang dilakukan oleh Dr Siti berikutnya, adalah menolak menyerahkan virus flu burung Indonesia ke WHO, tapi diserahkan langsung ke perusahaan vaksin yang siap membuat vaksin dari virus itu. Logikanya: virus yang tersebar di Indonesia tentu “jenis” (strain) Indonesia, jadi vaksin yang lebih cocok adalah vaksin yang dibuat dari strain Indonesia, bukan vaksin dari virus Vietnam.

Menurut Dr Siti, perusahaan asing memang punya teknologi dan uang, tapi mereka tidak bisa bikin vaksin kalau seed virusnya tidak ada. Jadi, posisi Indonesia sebenarnya sejajar dengan mereka, tidak perlu minder, apalagi menyerahkan virus secara gratis, lalu membeli dengan harga yang ditetapkan semaunya oleh perusahaan.

Tahun 2007, ditandatanganilah MoU antara Depkes RI dengan Baxter, perusahaan vaksin.

Bagaimana dengan WHO? Tentu saja “panas”. Diutuslah wakilnya bernama David Heymann. Dia menjanjikan bantuan: lab Indonesia akan diperbagus dan Indonesia akan dikasih jatah vaksin berapapun yang diminta. Syaratnya, Indonesia tidak bikin vaksin flu burung sendiri dan semua virus dikirim tanpa syarat ke WHO. Alasan yang dikemukakan Heymann, dengan bahasa zaman now, “Bikin lab virus itu mahal lho, kalian ga akan sanggup, berat, biar kami saja.”

Tentu saja Dr. Siti menolak, apalagi sebelumnya, Menkes AS sudah janji mau kasih bantuan 3 juta dollar. Ternyata, harus disindir dulu oleh Dr Siti lewat media massa, baru dikirim uangnya, itupun diserahkan ke NAMRU, lab militer AS (tapi gedungnya ada di Indonesia). NAMRU sudah ditutup tahun 2009, atas perintah Dr. Siti, tapi konon kini berlanjut dengan nama baru. 

Singkat cerita, perjuangan berlanjut ke sidang World Health Assembly di Jenewa. Yang disuarakan Indonesia: mekanisme pengiriman virus ke WHO harus disertai transparansi (negara asal diberi tahu, virusnya dipakai untuk apa?) dan perjanjian pembagian keuntungan. 

Berbagai lika-liku persidangan, termasuk upaya ‘penjegalan’, diceritakan dengan detil dan seru (serasa baca novel). Ketangguhan Dr. Siti (padahal tidak berpendidikan diplomat) dalam mengarahkan para diplomat RI agar terus bertahan di hadapan gempuran argumen dan lobby dari pihak lawan, terutama ketika head to head dengan diplomat AS, sungguh mendebarkan.

Btw, kan yang digugat mekanisme WHO, tapi mengapa yang dilawan diplomat AS? Justru itulah yang juga dipertanyakan bu Siti di bukunya. Mengapa malah AS yang tampil sebagai pembela utama WHO (yang berkeras agar mekanisme penyerahan virus tanpa syarat tetap dilanjutkan)? 

Yah, baca saja deh bukunya. Terutama, saya rekomendasikan untuk mahasiswa HI dan Ilmu Politik (para calon diplomat Indonesia). Kisah pertarungan diplomasi di buku ini ga akan kalian temukan di MUN.

Berita sedihnya: Dr. Siti dijatuhi vonis penjara pada tahun 2017 atas tuduhan korupsi (yang tentu saja, mengandung ‘tanda tanya’). Kini ada penggalangan petisi menyerukan agar Dr. Siti dibebaskan dari penjara dengan alasan, selain usia yang sudah sepuh (70 tahun), pengalaman beliau di garis depan melawan wabah flu burung (dan melawan WHO) tentu bisa dimanfaatkan dalam masa pandemi Covid-19 ini. Please sign. 

Link petisi (change.org) http://chng.it/6MrQQWJ2
 
Dina Sulaiman

Selasa, 14 April 2020

AKIBAT SALAH HIJRAH



_____
Oleh : Khuzaifah Maulana Al Fhatir

■ (Photo hanya pemanis saja).

Ketika kaidah pengertian bidah difahami secara textual tanpa merujuk pemahaman salafussholeh maka berakibat fatal bagi umat...apalagi dihembuskan oleh faham-faham wahhabi secara membabi buta...akhirnya efek yg ditimbulkan adalah perpecahan dan kebencian dimana-mana...
Padahal amaliah yg disesat-sesatkan oleh kaum lemah akal tersebut hanyalah perkara furu"iyah...

Salah satu hadist tentang bidah sbb :
👇👇👇
Rasulullah ﷺ bersabda,

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam urusan kami ini (urusan agama) yg tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak” (HR. Bukhari no. 2697 dan Muslim no. 1718)  

Rasulullah ﷺ setiap memulai khutbah biasanya beliau mengucapkan,

أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Amma ba’du. 
Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad ﷺ . 
Sejelek-jelek perkara adalah (perkara agama) yg diada-adakan, setiap (perkara agama) yg diada-adakan itu adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan” (HR. Muslim no. 867).

Dan masih banyak lagi yg lainnya...namun jika difahami secara textual memang benar semua perkara yg baru itu sesat....namun kita sebagai umat akhir zaman ini sangat jauh dari disiplin ilmu ntuk memahami perkataan Nabi tersebut.

Jika dilihat dari kacamata ilmu....sebagai umat awam tentulah kita tidak boleh memahami perkataan Nabi secara textual karena akan menimbulkan kerancuan dalam berstatement akhirnya yg ada hanyalah hawa nafsu iblis yg menguasai kita...dan efeknya akan terjadi perpecahan umat karena salah penempatan arti dan makna yg sebenarnya apakah seperti itu yg Nabi maksudkan...

Nah...
Perkara ini sudah sejak dulu selesai dibahas dipelajari, ditelaah dan dikupas serta dibedah oleh pada ilmuan hadits yg sanad keilmiahan mereka sudah gak perlu diragukan lagi dalam disiplin ilmu hadits...

Maka itu...Jika kita merujuk salah satu ulama salaf skaligus imam madzhab Imam Syafi’i Rahimahullah berkata :

الْمُحْدَثَاتُ مِنَ اْلأُمُوْرِ ضَرْبَانِ :
أَحَدُهُمَا : مَا أُحْدِثَ ِممَّا يُخَالـِفُ كِتَابًا أَوْ سُنَّةً أَوْ أَثرًا أَوْ إِجْمَاعًا، فهَذِهِ اْلبِدْعَةُ الضَّلاَلـَةُ،
وَالثَّانِيَةُ : مَا أُحْدِثَ مِنَ الْخَيْرِ لاَ خِلاَفَ فِيْهِ لِوَاحِدٍ مِنْ هذا ، وَهَذِهِ مُحْدَثَةٌ غَيْرُ مَذْمُوْمَةٍ

Perkara-perkara baru itu terbagi menjadi dua macam : 
#Pertama: Perkara baru yang menyalahi al-Qur’an, Sunnah, Ijma’ atau menyalahi Atsar, perkara baru semacam ini adalah bid’ah yang sesat (Bid’ah Dholalah).
#Kedua: Perkara baru yang baru yang baik dan tidak menyalahi satu pun dari al-Qur’an, Sunnah, maupun Ijma’, maka perkara baru seperti ini tidak tercela (Bid’ah Hasanah).
(Diriwayatkan oleh Imam al-Baihaqi dengan sanad yang Shahih dalam kitab Manaqib asy-Syafi’i –Jilid 1- Halaman 469).  

Bahkan Nabi ﷺ memperbolehkan kita melakukan Bid’ah hasanah selama hal itu baik dan tidak menentang syariah, sebagaimana sabda beliau ﷺ :

مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ
شَيْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ
يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ

“Barang siapa membuat, buat hal baru yang baik dalam Islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya dan tak berkurang sedikit pun dari pahalanya, dan barang siapa membuat buat hal baru yang buruk dalam Islam, maka baginya dosanya dan dosa orang yang mengikutinya dan tak dikurangkan sedikitpun dari dosanya.”
(Shahih Muslim hadits No.1017. 

Demikian pula diriwayatkan pada Shahih Ibn Khuzaimah,
Sunan Baihaqi Alkubra, Sunan Addarimiy, Shahih Ibn Hibban dan banyak lagi).

Namun sayang...
Entah karena ada kepentingan tersendiri ataukah memang mereka ini adalah kaum muda lemah akal yg memang sengaja diciptakan sebagai keledai dungu untuk menghancurkan islam dari dalam atau bagaimana...

Wallahu a'lam....

Tapi fenomena perpecahan umat memang bukan isapan jempol belaka akibat pemahaman kerdil dalam menyikapi perbedaan yg sifatnya furu'iyah ini...

Walhasil....
Umat yg baru saja hijrah apalagi yg basicnya beragama yahudi yg baru mulai memeluk islam...baru mengenal agama...baru mengenal Al quran dan hadits...karena salah tempat pengajian...maka langsung koar-koar mensesat-sesatkan umat secara serampangan membabi buta....

👇👇👇
Sungguh miris melihat pemuda pemudi Islam sekarang yg menjadi pemarah dan bengis terhadap agama nya sendiri.. mereka menjadi robot yg dikendalikan, mudah emosi, gelap pikiran, hidup dalam ketakutan doktrin, kehilangan kecerdasan, tercabut dari akar budaya dan terasing dalam kehidupan.

Itulah fenomena salah hijrah...
Gampang mengkafirkan, membidahkan dan menyesatkan semua orang yg bukan segolongan dengan mereka. 

Bertahun² bersama aswaja diajarkan akhlak dan adab...hanya dalam waktu 1x24 jam berubah menjadi pencaci, penghujad dan pembenci dan bengis kepada yg bukan dari kelompok mereka...

Sasaran mereka adalah anak-anak muda yg tidak mempunyai akar agama yg kuat, bermasalah dalam status sosial kemasyarakatan, gangguan emosional dan mental serta baru mau mengenal agama

Na'uzubillah...
Allahu yahdik wallahumusta'an

نعوذ بالله ثم نعوذ بالله

NU ADALAH ORGANISASI YANG ANEH


NU ADALAH ORGANISASI PALING ANEH DI DUNIA..

Saya Bukan Warga NU,
Namun Bagi saya NU ( 1926) ,
MUHAMMADIYAH ( 1912)
PII ( 1947) HMI ( 1947) ,
IMM ( 1964) Dan FPI ( 1998)
Adalah Saudara saya Seiman ( Ukwah Islamiyah)

Dan Agama, Ormas lain,
Adalah Saudara Saya Sebangsa Sentanah Air ( Ukwah Wataniyah) Dan sesama Manusia ( Ukwah Insaniyah).

NU itu organisasi paling aneh di Dunia..
Itulah sekelumit ulasan" prof Alan Nielsen, seorang pengamat Inteljen Barat..

Bagaimana tdk..!?
Sejak kelahirannya, NU ( 1926) BANSER ( 1937) slalu difitnah dan diintimidasi dan ingin dihabisi keberadaannya, mulai thn 1955-1998.
Pergerakan da'wah dan politiknya
diawasi super ketat oleh penguasa saat itu, sehingga ingin mengadakan pengajian minta ijin sulitnya minta ampun, dan NU gak diberi ruang sedikitpun untuk menghidupkan "strukturalnya" .
Ia mengibaratkan "NU itu ibarat manusia
yg dipotong lehernya tapi ia masih bisa berlari dan hidup" padahal jika organisasi apapun akan hancur jika dihabisi kepalanya (strukturnya) .

Nazi, NII, NI, Masyumi,
PKI dan banyak lagi, semua tinggal nama..
Tapi tidak dgn NU yg masih tetep eksis dan berkembang pesat hingga sekarang di negeri ini bahkan di Dunia..
Yang terjadi malah sebaliknya, "siapa yg memusuhi NU akan hancur dgn sendirinya."

Sejarah membuktikan,,
organisasi-organisasi terdahulu yang
hancur itu krna mereka selalu memusuhi NU, mulai dari PKI, Masyumi, DII, TII, NII, bahkan orde baru yg mengintimidasi NU selama 32 thn pun kini hanya tinggal nama.

Maka sesungguhnya andai NU ini
sbgai organisasi yg bukan di dirikan oleh para ulama/Aulia dan bukan organisasi yg di ridhoi Allah tentu NU sudah hancur sejak dari dulu..
Saudi dan Sekutunya hanya membutuhkan waktu kurang lebih 5 thn untk meluluh lantakkan Irak, Libya, Suriah, Afganistan,

Tapi ia gak mampu menguasai Indonesia meski telah menghabiskn Milyaran Dollar,,
krna di NKRI masih ada sebuah organisasi yg bernama NU..

#NahdhatulUlama
#NderekKyai
#SatuKomando
#KitaIniSama

poto : para Muassis NU

Minggu, 12 April 2020

Muslihat Gerakan Khilafah dan Pentingnya Kaum Muda Melek Sejarah


Membubarkan organisasi pengusung khilafah ialah satu hal, namun menumpas ideologinya ialah hal lain. Pasca dikeluarkannya Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 2 tahun 2017 tentang Organisasi Kemasyarakatan (Perpu Ormas) yang berbuntut pada pencabutan izin badan hukum Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), gerakan khilafah seolah kehilangan induknya. Dengan dicabutnya izin HTI, segala kegiatan organisasi itu pun terlarang di mata hukum.

Meski demikian, hal itu tidak lantas memutus jejaring gerakan khilafah. HTI selama ini membangun jejaring di hampir seluruh kelompok dan lapisan masyarakat. Harus diakui hal itu sukar ditumpas begitu saja dengan senjata Perppu Ormas. Terbukti, hingga sekarang wacana khilafah tidak pernah absen dari ruang publik. Nyaris dalam setiap isu sosial, politik dan agama yang mendapat perhatian khalayak, isu ­khilafah selalu muncul ke permukaan.

Seperti tampak dalam beberapa peristiwa belakangan ini. Pada aksi demonstrasi di depan kantor Kedutaan Besar India di Jakarta misalnya, isu khilafah tidak lupa digaungkan oleh para orator yang berasal dari ormas PA 212 dan FPI. Padahal, demonstrasi itu mengusung isu konflik sektarian di India. Selanjutnya, peristiwa termutakhir terkait kampanye khilafah terjadi pada momentum peringatan 94 tahun berakhirnya kekhalifahan Tukri Usmani yang berlangsung di Yogyakarta. Selasa (3/3/2020) lalu, sejumlah massa di Yogyakarta menggelar aksi peringatan tersebut dengan membentangkan sejumlah poster berisi ajakan kembali ke khilafah.

Tidak hanya di Indonesia, namun juga di banyak negara, para pengusung ­khilafah dikenal memiliki kemampuan menyebarkan agendanya melalui sejumlah cara. Mereka bisa menyusup ke masyarakat sipil, organisasi keagamaan bahkan institusi pemerintah. Mereka juga dengan cepat mampu beradaptasi dengan perubahan kondisi sosial-politik di sebuah negara. Ibarat benalu, mereka dengan mudah menempel di pohon, berkembang biak dan lantas menguasai sepenuhnya.

Karakteristik Gerakan Khilafah

Roel Maeijer dalam buku berjudul Global Salafism menyebut, para pengusung khilafah dapat diidentifikasi dari setidaknya dua karakter. Pertama, merekabiasanya menjalankan agendanya melalui propaganda untuk mendelegitimasi kekuasaan pemerintah yang sah. Untuk mendoktrinkan khilafah ke umat Islam mereka akan membangun narasi bahwa pemerintah bertindak sewenang-wenang dan zalim pada kaum muslim. Narasi bertujuan untuk menggerus kepercayaan publik pada pemerintah. Jika masyarakat kehilangan kepercayaan pada pemerintahnya, maka ideologi khilafah akan dengan mudah menancapkan dominasinya di tengah masyarakat.

Kedua, para pengusung khilafah umumnya akan membangun sebuah asumsi bahwa berbagai krisis yang dialami dunia Islam hari ini, mulai kemerosotan moral, keterbelakangan pendidikan dan kemiskinan ekonomi disebabkan oleh dominasi sistem ekonomi dan politik Barat. Para pengusung khilafah dikenal lihai menyusun teori konspirasi yang secara serampangan menisbatkan Barat sebagai biang dari kemunduran peradaban Islam. Teori konspirasi ini terbukti efektif mencuci otak sebagian umat Islam hingga mempercayai bahwa kejayaan Islam akan kembali diraih melalui pemberlakuan syariat Islam, tentunya di bawah naungan khilafah islamiyyah.

Dua karakteristik itu juga tampak pada sepak terjang gerakan khilafah di Indonesia. Para pengasong agenda khilafah selalu berteriak lantang dari mimbar ceramah atau podium orasi bahwa rezim saat ini telah berlaku zalim dan tidak adil pada kaum muslim. Narasi kriminalisasi ulama dan penindasan pada kaum muslim terus-menerus direproduksi dan disebarluaskan sebagai propaganda menyesatkan. Meski faktanya tidak benar, namun propaganda itu cukup efektif melunturkan kepercayaan publik pada pemerintah. Dalam hal ini, para pengusung khilafah paham betul adagium klasik yang berbunyi “kebohongan yang diucapkan sekali akan diingat sebagai kebohongan. Namun, kebohongan yang diulang-ulang, niscaya akan dianggap sebagai kebenaran”.

Tidak hanya sampai di situ, mereka juga gencar membentuk persepsi publik bahwa bentuk dan dasar negara Indonesia bertentangan dengan Islam. Mereka membangun argumen bahwa NKRI, Pancasila dan UUD 1945 adalah produk manusia yang tidak sesuai dengan ajaran dan nilai Islam. Persepsi itu bertujuan mengajak masyarakat untuk tidak lagi mengakui dan setia pada NKRI, Pancasila dan UUD 1945. Sebagai gantinya, mereka menawarkan ideologi khilafah sebagai solusi mujarab bagi berbagai macam persoalan yang membelit bangsa dan negara ini.

Khilafah sebagai Produk Politik

Dari segi jumlah, pendukung khilafah di Indonesia memang belum menunjukkan angka signifikan. Secara keseluruhan, sebagian besar umat Islam di Indonesia merupakan muslim moderat yang setia pada NKRI, Pancasila dan UUD 1945. Namun, melihat betapa masifnya kampanye khilafah di ruang publik, baik di dunia nyata maupun di media sosial, kita sudah sepatutnya meningkatkan kewaspadaan. Terlebih, belakangan ini tampak ada simbiosis mutualistik antara kelompok pengusung khilafah dengan kekuatan politik tertentu.

Jika dibiarkan tanpa ada langkah strategis untuk membendungnya, gerakan khilafah yang sporadis itu bisa menjadi ancaman serius bagi ketahanan bangsa dan negara. Apa yang terjadi di Suriah, misalnya patut menjadi contoh agar kita bisa mencegah embrio gerakan ­khilafah bertransformasi menjadi monster predatoris yang mengerikan.

Masifnya penyebaran ideologi khilafah terutama di kalangan kaum muda muslim mengindikasikan kegagalan mereka dalam memahami perjalanan Indonesia dari era revolusi kemerdekaan hingga sekarang dan perjalanan peradaban Islam dari era Nabi Muhammad hingga era kontemporer. Disinilah letak pentingnya kaum muda muslim memiliki pemahaman sejarah keindonesiaan dan keislaman yang mumpuni.  

Pemahaman sejarah tentang kemerdekaan Indonesia serta perumusan Pancasila dan UUD 1945 penting untuk menyadarkan anak muda bahwa Indonesia lahir atas prakarsa banyak golongan. Berdirinya NKRI dimaksudkan sebagai sebuah “tenda” untuk menaungi beragam entitas masyarakat yang ada di dalamnya. Pada pendiri bangsa yang terdiri dari beragam latar belakang itu mendesain Indonesia sebagai rumah bersama yang menempatkan semua golongan agama dalam posisi sejajar. NKRI, Pancasila dan UUD 1945 merupakan konsensus yang final dan mengikat.

Tidak kalah penting dari itu, kaum muda muslim juga harus memahami sejarah peradaban Islam dari masa ke masa, terutama menyangkut sistem politik (siyasah). Kaum muda muslim harus paham bahwa sepanjang sejarah peradaban Islam dari masa Nabi Muhammad, Khulafa al Rasyidun, era kekhalifahan hingga era modern-kontemporer, suksesi kekuasaan dan sistem politik selalu berbeda-beda. Artinya, tidak ada sistem politik tunggal dalam sejarah peradaban Islam. Hal ini wajar mengingat di dalam Alquran maupun Sunnah tidak ada satu pun ajaran yang menyuruh umat Islam membentuk sebuah negara Islam dengan penerapan hukum syariah. Secara sosio-historis, dapat kita simpulkan bahwa sistem khilafah murni merupakan produk politik, alih-alih produk agama. Sebagai produk politik, sistem ­khilafah ­tentunya tidak terlepas dari kekurangan dan kelemahan. Sejarah mencatat bahwa di era kekhalifahan Ummayah dan Abbasiyah yang kerap dijadikan standar ideal pun berbagai persoalan ekonomi, politik, sosial dan agama pun tetap ada. Fakta ini sekaligus mematahkan klaim bahwa khilafah ialah sistem politik yang nircela. Pemahaman sejarah keindonesiaan dan keislaman ini mutlak harus dikuasai oleh kaum muda muslim agar mereka tidak mudah dicuci otaknya oleh para pengasong ideologi khilafah.

Kamis, 09 April 2020

Kampus Harus Steril dan Bebas dari Paham Radikalisme



Kampus sebagai kawah candradimuka dalam melahirkan kaum intelektual harus steril dan bebas dari berkembangnya paham radikalisme. Oleh sebab itu, kampus harus diperkuat dengan ideologi kebangsaan.   

Hal itu terungkap saat Forum Rektor Penguat Karakter Bangsa beraudensi dengan Wakil Presiden Ma'ruf Amin terkait pencegahan paham radikalisme di perguruan tinggi. Koordinator Forum Rektor Penguat Karakter Bangsa Karomani mengatakan para rektor berinisiatif membentuk forum tersebut karena selama ini muncul isu masuknya paham radikal di universitas-universitas.

"Karena lulusan universitas itu akan masuk ke setiap institusi negara dan kita harus memastikan steril dan radikalisme tidak bisa masuk ke kampus," ujarnya di Kantor Wakil Presiden, Senin, 2 Maret 2020.

Karomani yang merupakan Rektor Universitas Lampung (Unila) menyampaikan baru sekitar 30 rektor dari universitas negeri yang bergabung karena baru diinisiasi satu bulan lalu. Adapun langkah strategis yang akan diambil, dengan dialog dan seminar terkait ideologi yang melibatkan para mahasiswa di perguruan tinggi masing-masing.

"Saya kira bisa dilakukan dan mahasiswa sangat senang dengan hal-hal seperti itu. Jadi sifatnya dialog antarmereka supaya mereka tidak ikut arus yang seperti diindikasikan beberapa media," katanya.

Pada November 2017, survei Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta menunjukkan sekitar 37% pelajar dan mahasiswa setuju mengenai konsep jihad berperang melawan nonmuslim. Kendati demikian, masih dalam survei yang sama, sekitar 85% pelajar dan mahasiswa juga meyakini demokrasi sebagai sistem terbaik bagi negeri ini.

Sementara Wakil Presiden Ma'ruf Amin berharap paham-paham radikalisme bisa terbebas dari dunia kampus. Bagi Wapres, bibit radikalisme yang tumbuh di dunia pendidikan justru lebih berbahaya.

"Pak Wapres menyampaikan kalau kita tidak benahi kampus terkait dengan ideologi kebangsaan, itu akan berbahaya. Untuk itu, diharapkan pemerintah bersinergi untuk mencegah penyebaran radikalisme di kampus," ujar Rektor Unila.

Sekretaris Forum Rektor Penguat Karakter Bangsa Fathur Rakhman yang juga Rektor Universitas Negeri Semarang menambahkan, para rektor berkomitmen untuk memerangi radikalisme di dalam kampus masing-masing. Dengan begitu, sumber daya manusia (SDM) Indonesia nantinya lebih berkualitas.

"Nanti akan dilakukan MoU dengan para rektor dihadiri Pak Wapres untuk bersama-sama melakukan program pengembangan karakter dan penguatan bagi program bela negara dan antisipasi bagi radikalisme," ujarnya.

Selasa, 07 April 2020

~GARA-GARA VIDEO 30 DETIK, KH SAID AQIL SIRADJ & PBNU JADI BAHAN BULLY~


Kemarin, Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj, MA, membacakan siaran pers yang berisi imbauan kepada umat Islam dan warga Indonesia agar mewaspadai dan memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Video pernyataan ini ramai di media sosial. Sayangnya, video yang beredar tidak utuh, karena sudah melalui proses pemotongan, sehingga terkesan pernyataan tersebut adalah pernyataan Kiai Said.

Video yang berisi ikhtiar pencegahan penyebaran Covid-19, berubah menjadi sarana menjelekkan organisasi Nahdlatul Ulama. Padahal, di awal video sudah dijelaskan bahwa pernyataan tersebut merupakan pernyataan bersama Ormas-ormas Islam anggota Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI) dan Lembaga Persahabatan Ormas Keagamaan (LPOK).

Ada 14 Ormas Islam yang tergabung dalam LPOI, yakni: Nahdlatul Ulama (NU), Syarikat Islam Indonesia, Persatuan Islam, Al-Irsyad Al-Islamiyah, Mathlaul Anwar, Ittihadiyah, Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI), IKADI (Ikatan Dai Indonesia), Az-Zikra, Al-Washliyah, Persatuan Tarbiyah Islamiyah, Persatuan Umat Islam (PUI), Himpunan Bina Muallaf Indonesia (HBMI), dan Nahdlatul Wathan.

Dalam siaran pers yang dibacakan Kiai Said itu, terdapat lima poin, sebagai berikut :

1. Mengimbau kepada seluruh masyarakat Indonesia untuk tidak panik dan bersama-sama menjaga kondisi sosial dengan tetap berada di rumah masing-masing demi keselamatan keluarga yang sekaligus juga membantu upaya pemerintah dalam rangka memutus mata rantai penyebaran virus Covid-19.

2. Mendukung sepenuhnya kebijakan pemerintah Indonesia dalam rangka memutus mata rantai penyebaran virus Covid-19 antara lain:

a. Kebijakan pembatasan sosial berskala besar (physical, social distancing) sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

b. Memberikan bantuan bagi masyarakat lapisan bawah yang terkena dampak virus corona yang dikenal dengan enam paket bantuan yaitu, baik berupa peningkatan jumlah penerima bantuan besar manfaat Program Keluarga Harapan, Kartu Sembako, Kartu Pra-Kerja, penggratisan tarif listrik kapasitas 450 w. dan diskon 40%bkapasitas 900 w. selama tiga bulan, antisipasi kebutuhan pokok, serta menjadikan keringanan kredit.

3. Mengimbau kepada umat muslim agar melaksanakan ibadah shalat jumat, shalat tarawih, idul fitri tahun 1441 H. di rumah masing-masing, serta tidak melaksanakan kegiatan takbir keliling, buka bersama, silaturrahim. Demikian pula kepada umat non-muslim untuk melaksanakan ibadah di rumah masing-masing agar dapat mengurangi potensi penyebaran virus Covid-19.

4. Mengimbau kepada masyarakat agar sebisa mungkin tidak melakukan mudik ke daerah masing-masing sesuai dengan imbauan dari pemerintah. Di samping itu LPOI dan LPOK juga sangat mendukung rencana kebijakan pemerintah untuk memberikan insentif kepada masyarakat yang tidak pulang atau tidak mudik agar dapat merayakan hari raya di keluarganya masing-masing.

5. Meminta kepada seluruh pihak agar menghilangkan stigma terhadap warga yang terpapar Covid-19, serta tidak ada politisasi dan komodifikasi atas krisis yang melanda bangsa ini. Hendaknya setiap umat beragama tidak mudah menerima, tidak mudah percaya, dan membagika hoax atau berita bohong terkait pandemi Covid-19.

Tetapi, video tersebut dipotong dan disebarkan sebagian, yakni saat Kiai Said membacakan poin ke-3. Sedangkan pembicaraan sebelum dan sesudah poin tersebut dibuang. Ayat dan hadispun banyak bertebaran di media sosial menyikapi potongan video itu. Sebagian warga NU pun ada yang latah turut "angkat suara" mengkritik video tersebut.

Yang perlu diketahui, pada siaran pers tersebut, Kiai Said tidak hanya sebagai Ketua Umum PBNU, tapi juga sebagai Ketua Umum LPOI. Jadi, lumrah jika beliau yang membacakan siaran pers.

Sebagai induk organisasi, posisi PBNU bersifat nasional, bahkan internasional. Beda dengan dengan PWNU yang sekopnya provinsi atau PCNU di kabupaten, MWCNU di kecamatan, PRNU di desa ataupun PARNU di dusun-duaun maupun komunitas tertentu.

PBNU bukan tidak tahu ayat dan hadits yang banyak beredar. Di PBNU itu terdapat kiai-kiai sepuh yang sudah tidak diragukan lagi keilmuannya; banyak juga kiai-kiai yang sudah melahirkan karya-karya sesuai kapasitasnya masing-masing. Akan tetapi, melihat orang-orang yang mengkritik, ternyata rata-rata tidak pernah menelurkan pemikirannya melalui karya. 

Lebih dari itu, menyikapi situasi nasional ini, dibutuhkan pengetahuan secara lengkap menyikapi situasi sulit seperti ini. Situasi nasional seperti saat ini, tidak bisa disikapi dengan pengamatan lokal saja. Ini kurang bijak.

Kata teman-teman LBMNU, imbauan PBNU itu matannya, maka di bawah harus men-syarahi bahkan meng-hasyiyahi apa yang menjadi kebijakan PBNU. Bukan ditelan mentah-mentah. Ini menjadi bahan renungan bagi kita warga NU.

Oleh karenanya, kemudian ada keputusan PWNU Jatim dan PWNU lainnya dalam rangka men-syarahi keputusan PBNU dalam kondisi yang berbeda dan sesuai kearifan lokal masing-masing. Seperti keputusan LBM PWNU Jatim (sebagaimana gambar) dan keputusan LBM PWNU Jateng ini misalnya:

Insya Allah ini bisa menjadi pedoman agar tidak digeneralisasi (digebyah uyah) :

HASIL KEPUTUSAN BAHTSUL MASAIL
LEMBAGA BAHTSUL MASAIL PWNU JAWA TENGAH

Nomor: 08/LBM/PWNUJATENG/III/20

Bismillahirrahmanirrahim

Memepertimbangkan bahwa Provinsi Jawa Tengah yang disinyalir menuju Zona Merah dalam status penyebaran Virus Corona sesungguhnya tidak5 merata di semua kabupaten dan kota, Sementara itu menurut 
Pandangan Fiqih, penyelenggaraan Shalat Jumat didasarkan kawasan desa/kelurahan atau lingkungan, maka ;

Lembaga Bahtsul Masail Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah mengadakan Bahtsul Masail pada 30 Rajab 1441 H /25 Maret 2020 M dengan hasil sebagai berikut:

A. HUKUM PENYELENGGARAAN SHALAT JUMAT (Iqomat al-Jum’ah)

1. Kabupaten atau kota yang termasuk Zona Hijau wajib menyelenggarakan Shalat Jumat dengan tetap mengupayakan kewaspadaan yang telah ditetapkan Pemerintah. 

2. Kabupaten atau kota yang termasuk Zona Kuning wajib menyelenggarakan Shalat Jumat dengan tetap mengupayakan pencegahan sesuai Ketentuan atau Protokol yang ditetapkan Pemerintah.

3. Kabupaten atau kota yang dinyatakan sebagai Zona Merah, maka diperinci sesuai desa, kelurahan atau 
lingkungan;

a. Desa, kelurahan atau lingkungan yang masih aman dari penyebaran Virus Corona maka tetap wajib menyelenggarakan Shalat Jumat disertai upaya-upaya pencegahan sesuai Ketentuan atau Protokol yang ditetapkan Pemerintah.

b. Desa, kelurahan atau lingkungan yang telah dinyatakan terjadi penyebaran Virus Corona sehingga Terjadi kekhawatiran masyarakat akan penyebaran Virus tersebut, maka tidak diwajibkan menyelenggarakan Shalat Jumat. Ketidakwajiban ini berlaku sampai desa, kelurahan atau lingkungan tersebut dinyatakan aman.

B. KEHADIRAN PADA SHOLAT JUMAT (Hudlur al-Jum’ah)

1. Orang Sehat atau Orang Tanpa Gejala (OTG) wajib menghadiri Shalat Jumat.

2. Orang Dalam Pemantauan (ODP) tidak wajib dan dianjurkan tidak menghadiri Shalat Jumat.

3. Pasien Dalam Pengawasan (PDP) haram menghadiri Shalat Jumat.

4. Orang yang positif terpapar Virus Corona haram menghadiri Shalat Jumat.

5. Orang yang tidak diwajibkan Shalat Jumat tetap wajib melaksanakan Shalat Dhuhur di rumah masing-masing.

C. HIMBAUAN-HIMBAUAN

1. Takmir Masjid melibatkan ulama, tokoh dan Pemerintah setempat dalam penyelenggaraan Shalat Jumat.

2. Takmir Masjid melakukan usaha dengan sungguh-sungguh untuk mengikuti ketentuan atau protokol Pencegahan Virus Corona yang ditetapkan Pemerintah. 

Semarang, 30 Rajab 1441 H/ 25 Maret 2020 M

Wallahu A'lam bi showab...

~Oleh: Mohammad Mahrus Ali

#Share sebanyak-banyaknya !!!

Jumat, 03 April 2020

Menghalau Paham Radikalisme dengan Menanamkan Nilai-Nilai Luhur Pancasila


Anggota Fraksi Partai Demokrat MPR RI Dede Yusuf Macan Effendi mengatakan, salah satu penyebab munculnya terorisme adalah faktor kesejahteraan.

Semakin besar ketimpangan ekonomi di suatu masyarakat, semakin besar pula peluang munculnya terorisme.

Terorisme makin tumbuh subur, karena dunia Pendidikan semakin jauh dari diskusi menyangkut ideologi. Pembelajaran ideologi disekolah, dilakukan sebatas menghafal sila-sila dalam Pancasila, tanpa disertai makna yang tersembunyi dibalik sila-sila tersebut.

"Kurikulum yang mengandung muatan budi pekerti, pendidikan moral Pancasila, kebangsaan, dan wawasan nusantara juga makin terpinggirkan. Sebagai gantinya, para siswa mencari ideologi lain dari luar melalui internet yang belum tentu sesuai dengan ideologi Pancasila," kata Dede Yusuf saat dialog Empat Pilar MPR bertema 'Paham Kebangsaan untuk Mencegah Terorisme' di Ruang Media Centre MPR/DPR/DPD RI, Senin (25/11/2019).

Untuk membentengi berkembangnya radikalisme dan terorisme dunia pendidikan harus mampu menanamkan nilai-nilai Pancasila, bukan memaksakannya.

Selain itu, menanamkan Pancasila di kalangan para siswa hanya berupa hafalan. Tetapi, mempraktekkan bagagaimana menjadi manusia Pancasila yang baik dan benar.

"Penting bagi pemerintah menangani terorisme tidak dengan cara-cara kekerasan, yang hanya akan menyebabkan Islamophobia. Tetapi merangkul semua kelompok, karena semakin erat dirangkul semakin kuatlah bangsa ini," kata Dede Yusuf menambahkan.

Menghadirkan Pancasila di Hati Masyarakat
Diskusi Empat Pilar MPR dengan Tema 'Paham Kebangsaan untuk Mencegah Terorisme' di Media Center Komplek Parlemen
Diskusi Empat Pilar MPR dengan Tema 'Paham Kebangsaan untuk Mencegah Terorisme' di Media Center Komplek Parlemen, Senin (25/11/2019).
Selain Dede Yusuf, hadir juga anggota Fraksi Partai Golkar MPR RI, Dedy Mulyadi, anggota Fraksi PDI Perjuangan MPR RI, Muhamad Nabil Harun, serta Praktisi Prodi Kajian Terorisme Sekolah kajian Stratejik dan Global UI, Dr. Can. Sapto Priyanto.

Pendapat yang lain disampaikan anggota Fraksi Partai Golkar MPR RI, Dedy Mulyadi. Di zaman sekarang, aksi kekerasan yang memakan banyak korban jiwa tidak boleh terjadi.

Dedi mengingatkan, ancaman radikalisme di Indonesia tak pernah berkurang, hanya saja bentuknya sudah mengalami perubahan.

Karena itu, pola pelaksanaan sosialisasi empat pilar MPR, tidak boleh dilakukan hanya dengan cara berpidato dihadapan orang banyak. Tetapi harus bisa menghadirkan Pancasila disetiap hati masyarakat, melalui praktek nyata dan diseluruh waktu yang ada.

Sementara itu anggota Fraksi PDI Perjuangan MPR RI, Muhamad Nabil Harun mengatakan, Indonesia berada ditiga persimpangan terorisme. Yaitu, domestik, Regional, dan global. Secara domestic, terorisme banyak ditujukan untuk mengancam symbol-simbol negara.

Seperti penyerangan terhadap markas aparat dan pejabat negara. Sementara secara regional, terorisme di Indonesia terkoneksi dengan radikalisme yang tumbuh di negara lain.

Sedangkan secara global, Indonesia menjadi salah satu target rekruitmen seperti halnya negara-negara lain. Tetapi, setelah terpojok mereka kembali ke negara asalnya dan menjadi sel-sel terorisme yang hidup terpisah.

Karena itu Gus Nabil berharap pemerintah serius menangani persoalan terorisme dan radikalisme, bukan semata cadar dan celana cingkrang yang dilarang. Terorisme bisa muncul dibanyak tempat, dengan bentuk yang berubah-rubah. Untuk itu seluruh kelompok masyarakat harus berpartisipasi ikut menghadapi bahaya radikalisme.

Kamis, 02 April 2020

NKRI DAN IMAM MAHDI



Oleh : Ayik Heriansyah


Diskusi tentang Khilafah jadi problematis dan buntu salah satu sebabnya adalah perbedaan dasar pijakan yang digunakan. Frekuensi dan gelombang peserta diskusi tidak sama. Misalnya khilafah yang mau didiskusikan itu, khilafah dulu, kini atau esok. jika khilafah dulu, maka diskusi harus merujuk kepada dalil, data dan fakta sejarah masa lalu. Jangan mendiskusikan khilafah masa lalu dengan dalil, data dan fakta masa kini dan yang akan datang. Begitupun sebaliknya. Karena diskusi yang demikian tidak akan menghasilkan kesimpulan yang sama-sama dipahami oleh pihak yang pro maupun kontra khilafah.

Dalam tulisan saya yang berjudul “Indonesia dalam Paradigma Baru Khilafah”, saya menjelaskan bahwa kesultanan-kesultanan di Nusantara merupakan negara-negara otonom yang tidak punya hubungan struktural dengan khilafah Umayyah, Abbasiyah dan Utsmaniyah. Para sultan di Nusantara menduduki tahta kesultanan secara mandiri lalu mendapat pengakuan warganya. Kemudian tahta itu diwariskan kepada anak keturunannya. Mereka tidak dipilih dan diangkat oleh khalifah Umayyah, Abbasiyah dan Utsmaniyah. Hubungan kesultanan dengan khilafah bersifat personal dan kultural. Dalam konteks inilah sebagian sultan meminta legitimasi kepada Syarif Mekkah sebagai wakil khalifah Utsmaniyah bagi kedudukannya. 

Nusantara dihuni oleh mayoritas umat Islam dan dipimpin  oleh pemimpin muslim sampai datangnya penjajahan bangsa Eropa. Bangsa Eropa terutama Belanda menduduki sebagian kecil saja dari wilayah Nusantara. Belanda menduduki daerah-daerah yang kaya sumber daya alam. Dalam satu waktu Belanda tidak pernah menduduki seluruh wilayah Nusantara. Wilayah Indonesia satu hamparan daratan dan lautan dari Sabang sampai Merauke tidak pernah diduduki Belanda. Sebab itu status Nusantara sebagai Darul Islam tidak berubah. Sejak berdiri tahun 1945 Indonesia mempunyai pemimpin yang dipilih rakyat Indonesia. Ada aktivitas nashbul imam dan ada penerapan syariah. Karena itu Indonesia adalah salah satu khilafah masa kini yang berbentuk negara kesatuan republik Indonesia dengan segala plus-minus-nya.

Kali ini saya ingin membahas khilafah yang akan datang. Khilafah akhir zaman. Khilafah yang sedang diperjuangkan oleh kaum radikal yaitu Khilafah ‘ala Minhajin Nubuwwah yang kedua sebagaimana yang di-nubuwwat-kan oleh Nabi Muhammad Saw dalam hadits tentang periodesasi umat Islam. Semua kelompok radikal sepakat bahwa Imam Mahdi adalah khalifah di masa itu. Meski di antara kelompok radikal ada perbedaan (khilafiyah) tentang bentuk, sistem dan metode pendirian serta soal kedudukan khilafah sebelum Imam Mahdi. 

Maka dalil, data dan fakta yang dirujuk dalam diskusi tentang khilafah di masa depan adalah hadits-hadits tentang masa depan. Khususnya hadits-hadits tentang Imam Mahdi. Imam Mahdi adalah seorang individu bukan sistem pemerintahan dan bentuk negara. Hadits-hadits tentangnya sampai ke kita dengan mutawattir dan mustafid (banyak, melimpah). Hal ini dikatakan oleh para hafidz dan ahli ilmu di antara mereka: Abul Hasan al-Aburi (w. 363 H), Al-Qurthubi (w. 671 H), As-Shakawi (w. 902 H), As-Safaraini (w. 1188 H), Muhammad al-Barzanji (w. 1103 H), Asy-Syaukani (w. 1250 H), Shiddiq Hasan Al-Qanuji Al-Bukhari (w. 1307 H) dan Muhammad Ja’fat Al-Kattani (w. 1345 H). 

Siapakah Imam Mahdi?
Imam Mahdi bukan Atha Abu Rusytah (Amir Hizbut Tahrir), bukan DR. Aiman Az-Zawahiri (Amir Al-Qaida), bukan Abu Bakar al-Baghdadi (Khalifah ISIS) dan bukan Habib Rizieq Shihab (Imam Besar FPI). Imam Mahdi adalah 
Hadits Ummu Salamah radhiyallahu ’anha, beliau pernah mendengar Nabi shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,
المهدي من عترتي من ولد فاطمة
“Mahdi muncul dari anak keturunanku, melalui jalur keturunan Fathimah.” (HR. Abu Dawud)
لا تنقضي الدنيا حتى يملك العرب رجل من أهل بيتي يواطئ اسمه اسمي
“Dunia ini tak akan berakhir sampai jazirah Arab dikuasai oleh seorang dari ahli baitku. Namanya menyamai namaku.” (HR. Tirmidzi dan Abu Dawud)
Dalam riwayat Abu Dawud dinyatakan,
يواطئ اسمه اسمي واسم أبيه اسم أبي
“Namanya sama dengan namaku, demikian pula nama ayahnya sama dengan ayahku.” 
Dengan ciri-ciri fisik:
Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam mengabarkan,
المهدي مني أجلى الجبهة أقنى الأنف يملأ الأرض قسطاً وعدلاً كما مُلئت جوراً وظلماً يملك سبع سنين
“Al-Mahdi berasal dari keturunanku, dahinya lebar, hidungnya mancung. Dia akan memenuhi bumi ini dengan keadilan, setelah sebelumnya penuh dengan kekejaman dan kezaliman. Dia akan menguasai dunia ini selama tujuh tahun.” (HR. Abu Dawud dan yang lainnya).

Dimana Imam Mahdi dibai’at menjadi khalifah?
Imam Mahdi bukan dibai’at di Monas Jakarta, Gasibu Bandung atau Grahadi Surabaya, melainkan di Mekkah tepatnya dekat Ka’bah. Hadis dari Tsauban Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
يَقْتَتِلُ عِنْدَ كَنْزِكُمْ ثَلاَثَةٌ كُلُّهُمُ ابْنُ خَلِيفَةٍ ثُمَّ لاَ يَصِيرُ إِلَى وَاحِدٍ مِنْهُمْ ثُمَّ تَطْلُعُ الرَّايَاتُ السُّودُ مِنْ قِبَلِ الْمَشْرِقِ فَيَقْتُلُونَكُمْ قَتْلاً لَمْ يُقْتَلْهُ قَوْمٌ
“Ada tiga orang yang akan saling membunuh di dekat harta simpanan kalian (manusia). Mereka semua putra khalifah. Kemudian simpanan itu tidak dikuasi salah satu dari mereka. Hingga muncul bendera-bendera hitam dari arah timur, lalu mereka akan memerangi kalian dengan peperangan yang tidak pernah dilakukan oleh satu kaum pun…
Kata Tsauban: “lalu beliau menuturkan sesuatu yang tidak aku hafal, kemudian beliau bersabda,
فَإِذَا رَأَيْتُمُوْهُ؛ فَبَايِعُوْهُ، وَلَوْ حَبْوًا عَلَى الثَّلْجِ؛ فَإِنَّهُ خَلِيْفَةُ اللهِ اَلْمَهْدِيُّ
“Jika kalian melihatnya, maka bai’atlah dia! Walaupun dengan merangkak di atas salju, karena sesungguhnya dia adalah khalifah Allah al-Mahdi.” (HR. Ibn Majah 4222, Hakim dalam al-Mustadrak 4/463, dishahihkan Hakim dan disetujui adz-Dzahabi. Dan Sanadnya dinilai kuat dan shahih oleh Ibnu Katsir).
Ibnu Katsir menjelaskan hadis ini,
والمقصود أن المهدي الممدوح الموعود بوجوده في آخر الزمان يكون أصل ظهوره وخروجه من ناحية المشرق، ويبايع له عند البيت، كما دل على ذلك بعض الأحاديث
Maksud hadis, bahwa Imam Mahdi yang ditunggu-tunggu kehadirannya di akhir zaman, munculnya dari arah timur, dan beliau di baiat di sisi Ka’bah. Sebagaimana dinyatakan dalam beberapa hadis.
Beliau juga menjelaskan,
والمراد بالكنز المذكور في هذا السياق كنز الكعبة، يقتل عنده ليأخذوه ثلاثة من أولاد الخلفاء، حتى يكون آخر الزمان، فيخرج المهدي، ويكون ظهوره من بلاد المشرق، لا من سرداب سامرا، كما يزعمه جهلة الرافضة من وجوده فيه الآن
Yang dimaksud ‘harta simpanan’ pada teks hadis adalah simpanan Ka’bah. Tiga orang dari putra khalifah akan saling membunuh, untuk memperebutkannya, hingga tiba akhir zaman. Kemudian keluarlah al-Mahdi dan beliau datang dari arah timur, bukan dari Sardab Samira sebagaimana dikatakan orang bodoh dari kalangan Rafidhah bahwa al-Mahdi saat ini ada di tengah mereka. 

Hadits di atas menerangkan bahwa terjadi pembunuhan tiga orang putra khalifah. Oleh kaum radikal dijadikan dalil ada khalifah (khilafah) sebelum Imam Mahdi. Namun harus ditegaskan bahwa peristiwa itu terjadi di Ka’bah bukan di Monas. Artinya kalaupun ada khalifah (khilafah) sebelum Imam Mahdi maka itu adanya di Arab bukan di Indonesia. Dari hadits-hadits tentang pembai’atan Imam Mahdi dan peristiwa saling bunuh tiga orang anak khalifah, semuanya terjadi di dekat Ka’bah, Mekkah, Arab Saudi. Dengan kata lain hadits-hadits ini menegaskan khilafah yang akan datang tidak akan tegak di Indonesia. Indonesia bukan wilayah lokasi tempat berdirinya Khilafah ‘ala Minhajin Nubuwwah yang kedua. 

Akan tetapi muslim Indonesia yang mayoritas berpaham Aswaja mengimani keberadaan Imam Mahdi sebagaimana nubuwwat Nabi Saw yang teriwayat secara mutawattir. Keimanan terhadap Imam Mahdi dan khilafahnya tidak mengharuskan muslim Indonesia untuk  meninggalkan NKRI. Tidak ada hadits yang memerintahkan demikian. NKRI wajib dipertahankan karena NKRI menjadi rumah bagi ratusan juta umat Islam. Di rumah NKRI mereka menjalankan kewajiban sebagai muslim seperti shalat, puasa, zakat, menuntut ilmu, nikah, mencari nafkah, dll. 

Di masa depan NKRI dan Khilafah Mahdiyah akan menjadi dua negara muslim yang besar di dunia. Presiden RI dan Imam Mahdi menjalin hubungan kerjasama untuk kemajuan warga negara masing-masing. Jika melihat peta wilayah: NKRI di Asia Tenggara dan Khilafah Mahdiyah di Arab, sulit rasanya kedua negara melakukan integrasi teritorial dan struktural. Selain memang tidak ada dalil yang mewajibkannya. NKRI di masa Imam Mahdi kurang lebih sama dengan kesultanan Nusantara di masa khilafah tempo dulu. 

Bandung, 9 September 2019