Sabtu, 09 September 2017

Mengapa Wahabi Tumbuh di Negeri ini?



Menurut pendapat saya, ada beberapa faktor mengapa sekte Wahabi dapat tumbuh di negeri kita diantaranya:

1. Penguasaan Wahabi terhadap Media Publik.

Kalau kita kalkulasikan seluruh umat Muslim didunia maka sebenarnya persebaran Aswaja Sunni jauh lebih besar dibandingkan Wahabi. Hampir seluruh negara-negara muslim didunia ini bermadzhab Sunni dengan keanekaragaman madzhab yaitu Hanafiyah, Malikiyah,  Syafi'iyah dan Hanabilah. Hanya Arab Saudi yang saat ini masih eksis mempertahankan akidah Wahabi karena memang disanalah muncul pertama kalinya sekte Wahabi. Sekte Syiah dominan berada di Iran dan sebagian kawasan Irak.

Dengan bekal kemampuan menguasai media dan arus informasi maka seolah-oleh Wahabi itu besar walapun faktanya hanyalah minoritas. Kita bisa coba saat googling di internet, maka situs-situs dengan label dakwah, label sunnah dan label kajian salafi mendominasi urutan awal atau teratas. Disinilah mereka mendapatkan tempat sehingga siapapun bisa mengakses pemahaman dan pemikiran Wahabi tanpa sekat.

2. Sasaran rekrut anggota Wahabi adalah kalangan masyarakat awam.

Sangat wajar jika banyak masyarakat awam yang baru belajar instan tentang agama diinternet sangat rentan menjadi sasaran 'tembak' Wahabi. Ketidaktahuan masyarakat awam tentang adanya banyak firqah atau sekte dalam Islam sehingga mereka mengakses informasi tanpa filter dan tidak pernah terpikirkan bahayanya akidah-akidah yang menyimpang yang akan merusak keislamannya. Islam yang mereka paham hanya satu pokoknya Islam sehingga apapun isinya jika ada kaitannya dengan dakwah atau label/merek dakwah langsung begitu saja mereka konsumsi padahal isinya menyimpang dari ajaran Islam yang sesungguhnya.

Penikmat dakwah yang kritis dan selektif tidak semudah itu untuk menerima pemahaman baru meskipun ada embel-embelnya kembali kepada al-Qur'an dan al-Hadits. Ia akan memilah dan memilih mana kajian Islam yang meneduhkan dan menyejukkan dan mana merek dakwah yang isinya hanya penuh dengan provokasi, hoax dan kebencian terhadap golongan umat Islam lain, menghakimi kafir, sesat dan menjadi tuhan dadakan dengan memonopoli surga. Pada tahap pemikiran normal dan sehat inilah biasanya orang mulai sadar bahkan pendukung Wahabi pun akan segera taubat dari kewahabiannya. Meski tak semudah itu, sebab hanya orang-orang tertentu yang dikaruniai oleh Allah pemahaman yang mendalam dan tidak semua orang bersedia menggunakan akal dan hatinya dalam mencari kebenaran.

3. Wahabi terkesan besar dimedia karena memang sejak awal terbentuknya hingga hari ini melibatkan konspirasi Barat.

Kekuatan Barat dalam menopang penyebaran Wahabi sudah dimulai sejak era klasik yang melibatkan tiga kekuatan besar yang saling menguntungkan. Ibnu Saud yang menumbangkan kekhalifahan Turki Utsmani (Ottoman) telah terlampaui hasratnya menjadi penguasa besar di Hijaz dengan bantuan Inggris. Peluang Inggris untuk memecah belah Ahlussunnah semakin terbuka lebar dengan hadirnya pemikiran baru karya Muhammad bin Abdul Wahab (pendiri Wahabi) yang melanggengkan kekuasaan Ibnu Saud sehingga dilegitimasi menjadi sekte resmi negara Saudi untuk membabat habis pengikut madzhab-madzhab Sunni.

Kemesraan Saudi dengan bos-bos Barat masih terlihat hingga kini dengan berbagai proyek diantaranya mengubah Saudi menjadi ikon wisata nan mewah, elite dan metropolis. Proyek penghancuran situs-situs bersejarah era Nabi, Sahabat dan masa keemasan dinasti Sunni Turki Utsmani untuk disulap menjadi hotel-hotel nan mewah atau gedung-gedung menjulang hingga kelangit. Proyek penghancuran makam-makam bersejarah para Sahabat dengan alasan menghancurkan berhala kemusyrikan dan pemurnian terhadap ajaran Islam.

Bungkamnya Saudi terhadap pelanggaran kemanusiaan dibeberapa tempat seperti di Palestina misalnya, merupakan bukti bahwa dinasti Saudi dan sekte Wahabi adalah sahabat bos-bos Barat.

4. Demokratisnya pemimpin dan ulama dinegara ini juga memberikan peluang bagi Wahabisme berkembang.

Provokasi Wahabi dengan menebarkan kebencian dan celaan terhadap ulama dan pemerintah dimasjid-masjid dan mimbar ceramah tidak disikapi pemerintah dengan tangan besi. Meskipun tidak semua penebar teror berakidah Wahabi namun Wahabi dinegara ini memiliki andil besar dalam melakukan tindakan kekerasan. Anti Pancasila, anti bid'ah dan anti kemusyrikan merupakan senjata Wahabi untuk meneror Sunni yang memang melakukan bid'ah hasanah (sunnah)  yang mereka tuduh sebagai pelaku kesesatan.

Biasanya Wahabi penebar teror, menebar hoax, penghina ulama dan tokoh-tokoh Sunni, pencaci pemerintah, memfitnah dan menebar konflik beragama diberbagai media linimassa hanya diciduk,  kemudian diminta untuk memohon maaf dan tidak lagi menebar teror, kemudian membuat surat pernyataan diatas meterai dan selesai. Betapa banyak Wahabi telah menghina, mencaci maki dan memfitnah ulama Sunni berakhir hanya dengan meminta maaf. Seandainya ulama dan pemerintah dinegara ini bertangan besi tentu sudah habislah riwayat Wahabi pencaci dan pemfitnah itu. Namun berkat adanya negara Pancasila yang melindungi hak-hak hidup masyarakat maka para Wahabi itu masih diberikan kesempatan untuk hidup dinegara ini. Para ulama Sunni yang berakhlak luhur mewarisi akhlak para nabi membalas kebiadaban mereka dengan penerimaan maaf dan cinta kasih. Meskipun begitu, kejahatan Wahabi tak kunjung usai.

Dari uraian diatas tentu untuk mewahabikan masyarakat Sunni Nusantara tidaklah mudah. Keberadaan NU sebagai benteng Ahlussunnah Wal Jamaah dan benteng NKRI akan selalu berdiri kokoh dan istiqamah menjaga negara ini. Setiap muncul provokasi dan gerakan Wahabi beraksi, maka secepat itu pula gelombang perlawanan yang tangguh dari kaum Sunni.


Minggu, 20 Agustus 2017

Kenapa Harus Fanatik ke NU? Ini 9 Alasannya

Saya sering menerima kritikan supaya jangan terlalu fanatik atau fanatik buta dengan NU (Nadlatul Ulama) dan dengan berbagai alasan dikemukakan. Intinya kebanyakan yang saya tangkap dari semua kritikan dan alasan itu adalah supaya saya tidak lagi berada di jalur NU yang menurut mereka NU itu sudah melenceng sudah bengkok dll. Dan sekarang saya mau menanggapi atau mengklarifikasi kenapa saya sangat fanatik terhadap NU:

1. Karena NU dianugerahkan oleh Allah untuk Indonesia lewat para wali Allah.

2. Kontribusi NU terhadap Kemerdekaan sangat besar bagi Indonesia dan tetap konsisten menjaga kedamaian, menjaga persatuan dan kesatuan seluruh ummat tidak hanya untuk ummat Islam saja tapi semua ummat di Indonesia (catatan penting).

3. Fanatik terhadap NU itu tidak merugikan orang lain, kelompok, golongan, ajaran atau firqah yang lain. Karena NU tidak mudah untuk menyesat-nyesatkan atau mengkafir-kafirkan kelompok atau ajaran yang lain.

4. Kenapa saya fanatik terhadap NU karena NU tidak hanya menjunjung tinggi Ukhuwah Islamiyyah tapi juga Ukhuwah Basyariyyah (persaudaraan seluruh ummat).

5. NU itu sebagai Mayoritas Ummat Islam (Assawadul A'dzam) yang menganut ajaran Ahlussunah wal Jama'ah.

6. Selalu konsisten menjaga tradisi dan amaliah Ulama Salaf yang sanadnya sampai kepada Rasulullah Saw.

7. NU adalah Organisasi Islam yang lahir dari bumi pertiwi. Jadi NU akan selalu bersama Negara "Hubbul wathan minal iman".

8. NU mempunyai konsep pendidikan Islam yang mengedepankan Adab Menerapkan ajaran Islam yang Rahmatan lil 'alamin sehingga tidak ada lulusan pesantren NU yang menjadi Teroris.

9. Ini yang paling penting kenapa saya fanatik terhadap NU karena "NU saklawase".

Dan masih banyak alasan yang lain kenapa saya sekarang sangat fanatik terhadap NU (Nahdlatul Ulama) tapi saya rasa ini sudah lebih dari cukup. Sekarang saran saya untuk mereka silakan pilih jalannya sendiri, toh itu akan dipertanggungjawabkan masing-masing nanti. Yang penting tidak merugikan orang lain itu udah baik. Tapi saya menyarankan untuk kondisi sekarang ikutilah NU dan Muhammadiyah yang sudah terbukti dan konsisten menjaga perdamaian dari jaman kemerdekaan hingga sekarang. (Oleh: Musa Assaefar alias Muarif Saefi Ardhi)


Jumat, 09 Juni 2017

Mahfud MD Jelaskan Kenapa HTI Layak Dibubarkan

Dasar negara Pancasila selama ini terbukti mampu menyatukan kemajemukan di Indonesia. Sebab itu, setiap orang atau kelompok yang bertujuan merongrong eksistensi Pancasila layak disikapi dengan tegas oleh pemerintah dan masyarakat Indonesia.

Di Indonesia sendiri, organisasi yang teridentifikasi ingin mengganti demokrasi Pancasila dengan khilafah dilakukan oleh Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang awal Mei 2017 lalu dibubarkan oleh Pemerintah RI.

Terkait kiprah dan pembubaran HTI, Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Moh. Mahfud MD menilai bahwa langkah pemerintah sudah tepat sebagai upaya menjaga persatuan bangsa.

Menurut Mahfud, demokrasi itu meniscayakan adanya kebebasan untuk berpendapat. Tetapi ada dua hal yang tidak boleh dilanggar; pertama jangan merusak ideologi NKRI. Kedua jangan menyebabkan pemerintahan lumpuh.

“Kalau pemerintah lumpuh, gerakan apapun akan sangat membahayakan rakyat,” ujar Guru Besar Hukum Tata Negara ini, Rabu (7/6) di Jakarta.

Baginya, tidak ada persoalan berdemokrasi dan berbicara memperjuangkan keadilan, tetapi kalau memperjuangkan keadilan dengan mengganti dasar negara itu hukum administrasinya bisa dibubarkan. Sementara hukum pidananya bisa saja itu menjadi makar. Tergantung pada sampai sejauh apa langkah-langkah yang dilakukan.

“Kalau saya, mereka mengucapkan sesuatu yang tidak sesuai dengan apa yang dilakukan. Hizbut Tahrir dan pahamnya secara terbuka di pidato yang didengar jutaan orang itu tidak setuju demokrasi,” terang Anggota Pengarah Unit Kerja Presiden-Penanaman Ideologi Pancasila (UKP-PIP) ini.

Dia menegaskan, kalau Ismail Yusanto (jubir HTI) mengatakan HTI itu tidak anti-Pancasila berarti HTI sudah bubar sendiri karena dia semula anti-Pancasila. Kalau tidak anti Pancasila, bukan HTI lagi.

Di samping pernyataan-pernyataan terbuka itu, mereka bergerak kemana-mana dan gerakannya itu nyata. Gerakannya itu menyatakan Indonesia berdasarkan Pancasila itu sudah gagal, oleh karena itu harus diberi alternatif baru, yaitu khilafah.

“Lalu saya tanya, khilafah itu dimana ajarannya? Mereka tidak tahu. Khilafah itu kan tidak ada di Al-Qur’an dan Sunnah. Mereka menyebut khilafah-khilafah. Itu kan cipataan manusia,” tegas Mahfud.

Ciptaan Bani Umayyah, ciptaan Bani Abbasiyah yang semuanya merupakan hasil istinbath terhadap apa yang mereka anggap benar.

Pembela HTI mengataka HTI itu ada. Justru dengan mengatakn ada itu menandakan dan menjadi bukti bahwa khilafah itu tidak ada. Sekarang ada Uni Emirat Arab, ada Kesultanan Brunei, ada Republik Libya, Tunisia, Iran, Pakistan.

“Semua ngaku Islam kok beda-beda, kalau di Al-Qur’an dan As-Sunnah ada pasti tidak beda-beda. Karena Al-Qur’an dan Sunnah tidak mengajarkan, maka bisa ditafsirkan bahwa sistem pemerintahan itu diserahkan kepada masing-masing bangsa,” tutur Ketua Dewan Kehormatan Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU). (Muchlishon Rochmat/Fathoni)