Sabtu, 29 Desember 2018

HANCURKAN NU DULU, BARU NKRI

*HANCURKAN NU DULU, BARU NKRI*

Oleh: Tri Handoyo

Sudah sejak lama kelompok mereka dengan gencar menggempur eksistensi Jam'iyyah Nahdlatul Ulama. Dengan beragam macam fitnah dan pembunuhan kharakter para tokoh-tokoh pimpinannya, serta mengecam dan mencaci-maki amaliah-amaliah Ahlussunnah wal Jama'ah. Target utama kelompok ini adalah NU dan jama'ahnya hancur berkeping-keping.

Kenapa? Bukankah NU hanya organisasi masyarakat biasa? Akan tetapi kenapa kebencian mereka terhadap NU begitu luar biasa? Sebab, NU adalah benteng utama pertahanan NKRI. Inilah yang luar biasa. Maka, hancurkan NU dulu, baru NKRI.

Lawan NU yang jelas secara ideologis yaitu kalangan *Islam modern*. Mereka ini memimpikan terwujudnya negara Islam dalam bentuk khilafah. Mereka haramkan sistem demokrasi dan sangat anti Pancasila.

Disamping menyerang melalui amaliahnya, mereka juga melancarkan fitnah dan pembunuhan karakter tokoh-tokoh NU. Gerakan ini rupanya cukup berhasil menghasut sebagaian warga NU, sehingga kemudian ada kelompok yang menamakan NU garis lurus, bahkan ada yang menyatakan ikut NU-nya Mbah Hasyim Asy'ari, bukan NU-nya Kiai Said Agil. Upaya memecah bela NU mereka lakukan secara intensif dan istiqomah.

Ketika KH Ma'ruf Amin yang merupakan Rais am NU dan juga ketua MUI, digandeng oleh presiden sebagai capres beliau, kedengkian mereka semakin menjadi-jadi. Meskipun nantinya beliau akan melepas jabatan, namun nama besar NU tetap dipertaruhkan dalam kancah Pilpres ini. Jika calon dari NU menang, mereka yang anti NU akan terus menyerang NU dengan lebih sengit. Apalagi jika sampai kalah, maka mereka akan semakin menghina NU beserta tokoh-tokohnya.

Keadaan tersebut wajib disadari oleh seluruh warga NU. Kita harus sadar untuk terus memelihara semangat perjuangan dengan pemahaman dan keyakinan dalam ber-NU sekaligus mendidik generasi penerus agar memiliki jiwa militan. Inilah saatnya menata shof kembali agar NU tetap solid.

Kini, para pembenci sudah masif melakukan serangan kepada KH Ma'ruf Amin.
Wahai para Nahdliyyin, apakah kalian ridho melihat Rais Aam NU diserang dengan berbagai fitnah?
Apakah kalian akan diam saja saat ideologi Pancasila, NKRI dan sistem demokrasi diancam akan diganti oleh mereka?
Ini bukan sekedar Pilpres, tapi pertarungan ideologi, dan pertaruhan nama besar NU.
Maka mari kita lawan mereka dengan mendukung tokoh pimpinan NU di kontestasi Pilpres 2019.

🙏


Kamis, 27 Desember 2018

KH Marzuki Mustamar: Dzolim Meninggalkan Kiyai Karena Ustad Medsos

*KH Marzuki Mustamar: Dzolim Meninggalkan Kiyai Karena Ustad Medsos*

Setiap umat Islam pasti pernah berguru kepada salah seorang ustad atau kiai atau tuan guru ketika belajar Islam pertama kali di waktu kecil. Bertahun-tahun para guru ngaji dengan ikhlas mengajarkan baca tulis al-Quran dan ilmu-ilmu Islam. Begitu halnya ketika di pesantren, seorang kiai tidak hanya mengajarkan para santri ilmu-ilmu agama, tetapi juga mendidik agar menjadi seorang Muslim yang memiliki akhlakul karimah dan menjadi pribadi yang bermoral.

Namun demikian, pada perkembangan mutakhir, di mana media sosial kian merambah ke dalam kehidupan umat Islam Indonesia, orang dengan mudah mencari guru-guru agama secara instan. Sayang seribu sayang, hanya melalui satu dua kali pertemuan di medsos, orang dengan mudah terbuai dengan untaian kata-kata seorang ustad medsos. Padahal, medsos tidak bisa menunjukkan bagaimana sebenarnya latar belakang seseorang. Bahkan ironisnya, sosok para kiai kian mulai ditinggalkan dan lebih terpesona oleh untaian retorika ustad medsos.

Menyikapi hal tersebut, Kiai Marzuki Mustamar mengingatkan agar jangan sampai lupa diri dan mencampakkan begitu saja para kiai-kiai atau ustad yang telah mendidik kita sejak kecil. Kiai adalah pihak yang paling berjasa dalam pendidikan keagamaan kita, bahkan peran kiai tidak hanya mengajarkan ilmu tetapi juga mendidik umat Islam Indonesia menjadi Muslim yang ramah dan berakhlak.

“Dholim sekali, ketika kiai atau ustad yang telah mendidik anda bertahun-tahun, kemudian anda campakkan hanya karena anda tertarik tampilan ustad tertentu sekali dua kali. Masak, kumpul bertahun-tahun dengan kiai sampai alim, hati lalu berpindah pada orang yang baru anda kenal di medsos,” jelas kiai Marzuki sebagaimana ceramahnya dalam Aswaja Sunda.

Kiai yang juga Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Timur itu menambahkan bahwa ustad-ustad yang bermunculan di media sosial tidak lantas langsung kita jadikan sebagai acuan dalam beragama. Hal itu karena medsos tidak bisa menjelaskan apakah seseorang itu benar-benar alim atau hanya mampu menghipnotis masyarakat melalui buaian kata-kata semata. Kita tidak tahu keseharian orang itu, apakah orang itu wara’, bagaimana akhlaknya, bagaimana tahajjudnya dan lain-lain tentang kehidupannya.

“Orang itu tahajjudnya anda tidak tahu, akhlaknya sehari-hari anda juga tidak tahu, kealimannya anda tidak tahu. Kalau anda buang gurumu, hanya karena ustad medsos, konyol,” tandasnya.


Jumat, 21 Desember 2018

CERDAS MELIHAT FAKTA SUKU UIGHUR

*CERDAS MELIHAT FAKTA*

SUKU UIGHUR

*Di Poso, beberapa teroris yang tertangkap ternyata berasal dari Uighur. Mereka masuk ke Indonesia untuk membuat kekacauan. Targetnya membunuhi aparat. Bikin kerusuhan dan mencari korban sebanyak-banyaknya*.

*Teroris Uighur bukan hanya ada di Poso. Juga ada di Mindanao, bergabung dengan Abu Sayaf, menculik pelaut kita minta uang tebusan*.  Yang masuk ke Suriah atau Irak bahkan lebih banyak lagi. Diperkirakan 100 ribu lebih, orang Uighur masuk ke Suriah, membantu Alqaedah menghancurkan negeri itu. Mereka masuk melalui Turki.

Seorang teroris asal Uighur di Suriah, dalam wawancara dengan AP, pernah berkata. *Kami hanya mau belajar memegang senjata. Belajar perang. Setelah itu kami akan kembali ke China untuk memerdekakan wilayah kami*.

*Lantas, dengan semangat sparatis begitu, apakah pemerintah China wajib mengelus-elus mereka ???*

Warga Uighur tinggal di daerah Xinjiang. Tapi mereka lebih mengidentifikasi dirinya sebagai suku Turk, berkomunikasi dengan bahasa Turki. Sebagian besar tidak bisa bahasa Mandarin. Secara kebudayaan juga jauh berbeda dengan etnis Han, yang merupakan etnis terbesar Tiongkok.

*Xinjiang adalah wilayah China yang berbatasan dengan banyak negara. Sebut saja Kazakhstan, Tajikistan, Rusia, Mongol, Pakistan, Afganistan dan India. Nah, sebagian orang Uighur mendirikan sebuah gerakan sparatis yang dinamakan East Turkestan Islamic Movement (ETIM). Tujuan gerakan ini melepaskan diri dari China, dengan slogan agama sebagai alasannya*.

Kelompok ETIM inilah yang berdekatan dengan Alqaedah, Taliban bahkan ISIS. Sebagian tentara teroris disuplai oleh orang dari Uighur. Bahkan di China sendiri beberapa kali terjadi aksi teroris yang didalangi ETIM yang ujungnya menyebabkan konflik rasial, khususnya dengan suku Han.

Nah, karena persoalan inilah pemerintah China mengawasi orang-orang Uighur secara ketat. Sebetulnya tidak semua penduduk Uighur radikal begitu. Hanya sebagian kecil saja. Tapi mereka memang terikat kekeluargaan dengan yang lain. Inilah yang membuat pemerintah China mencurigai keluarga-keluarga teroris yang masih berada di Xianjiang.
*Mereka yang keluarganya diketahui bergabung dengan teroris di Afganistan, Suriah, atau Irak akhirnya terkena dampak. Diawasi secara ketat*.

Sebetulnya untuk menangani gerakan sparatis di Uighur, China sudah menjalankan kebijakan asimilasi. Anak-anak Uighur diajar bahasa Mandarin agar mereka bisa berkomunikasi dengan warga lain. Juga bekerja di pemerintahan. Mungkin juga didoktrin kembali dengan ideologi negara. Inilah yang menjadi isu soal kamp konsentrasi dimana jutaan warga Uighur wajib menjalani metode pembelajaran.

Tapi mungkin saja, dalam proses itu ada kekerasan. Sebab ada sentimen rasial dari suku Han yang sering menjadi korban kekerasan oleh ETIM tadi. Pengawasan pada gerakan ekstrim Uighur menyebabkan sebagian penduduknya mengalami tekanan pemerintah China.

Artinya China lebih berkepentingan menangani gerakan sparatis yang membahayakan wilayahnya ketimbang memberangus warganya yang beragama Islam.

Sebab, etnis Hui yang juga beragama Islam hidupnya biasa saja di China. Masjid dan mushola banyak berdiri. Acara keagamaan bebas dilaksanakan. Tidak ada tekanan terhadap aktifitas ibadah mereka. Islam etnis Hui bebas berkembang di China.

Karena orang Hui tidak bermimpi untuk mengibarkan gerakan sparatis seperti Uighur. *Corak keislaman etnis Hui mirip NU di Indonesia*. Banyak mengikuti ajaran tarekat dan sufisme. Mereka menyatu dengan kebanyakan rakyat  Tiongkok. Berbeda dengan etnis Uighur yang terimbas pola pikir ekstrimis.

*Lalu kenapa isu Uighur sekarang meledak ?*
Kita ingat, AS lagi panas panasnya dengan China. Mereka terlibat perang dagang yang keras. Nah, isu Uighur ini bisa digunakan untuk menekan China.
*Meskipun mereka juga tahu, Uighur adalah salah satu supplier teroris dunia*.
Dengan diangkat isu Uighur ini, akan ada tekanan dunia internasional khususnya dari negara-negara Islam kepada China.

*Seperti biasa, isu Uighur juga makanan empuk di Indonesia*.
Maka, ramai-ramai lah orang itu berteriak membela Uighur lalu menuding pemerintah China memerangi Islam. Mereka gak akan mengangkat gerakan sparatisnya.

*Sama persis, mereka juga berteriak Save Aleppo, justru ketika para teroris sedang digencet pasukan Suriah di Aleppo*.

China memang menangani agak keras etnis Uighur. Tapi kita tidak mendengar ada pembantaian. Berbeda dengan Saudi terhadap Yaman. Rakyat Yaman dibantai. Distop jalur makanannya. Dihujani bom. Jutaan anak Yaman kelaparan. Jutaan nyawa rakyat melayang. Masjid dan madrasah hancur di Yaman.

*Tapi pernahkah kita mendengar slogan Save Yaman di Indonesia ???*

*Pernahkah kita mendengar demo di depan keduataan AS atas dukunganya terhadap aksi brutal koalisi Saudi di Yaman ?*

*Pernahkah ada demo di kedutaan Saudi memprotes kebengisannya terhadap rakyat Yaman ?*

Gak pernah. Karena isu Yaman gak menguntungkan AS untuk dimainkan. Oleh sebab itu, isu tersebut juga gak direspon di Indonesia. Apalagi isu Yaman tidak bisa digunakan untuk menembak Jokowi.

*Warga Yaman, kan semua Islam. Kenapa mereka gak membela ??? Toh, Yaman maupun Uighur sama-sama manusia juga. Mestinya kan dibela ???!!!*

*JADI JELASKAN*

*Mereka sebetulnya gak peduli pada Islam atau pada penderitaan manusia. Mereka sekedar merespon agenda tuan tuanya*

http://konfrontasi.com/content/nasional/teroris-uighur-china-turki-blusukan-ke-bekasi-transnasionalisasi-atau-migrasi?page=1

*SUDAH JELASKAN !!!*

*SIAPA KAKI TANGAN IMPERIALIS ZIONIS DI NEGRI INI ???*


Sabtu, 08 Desember 2018

Waspada Serangan Balik Singapura, Save Jokowi !!!!!



Tahun madu dan hubungan mesra  Singapura dengan Indonesia dimulai sejak Lee Kuan Yew berkuasa di Singapura dan Soeharto berkuasa  Indonesia. Dilanjutkan dengan pengganti Lee Kuan Yew dan  Presiden SBY.

Hubungan manis terganggu sejak Jokowi berkuasa di Indonesia.

Apa saja kebijakan Pemerintahan Jokowi yg mengganggu kepentingan Singapura ?

1. Pembubaran Petral di Singapura.

- Selama ini semua transaksi ekspor impor migas dan BBM dilakukan di Singapura.

- Perputaran uang di perbankan Singapura dari hasil transaksi 2 juta barrel per hari mencapai  150 juta USD per hari atau sekitar 60 milyar USD per tahun.

- Sekarang  transaksi keuangan tersebut berhenti total.

2. Kebijakan menyuling minyak mentah di Indonesia dan pembangunan kilang minyak di Indonesia

- Selama ini sebagian minyak mentah Indonesia disuling di Singapura serta Indonesia juga mengimpor BBM dari hasil kilang Singapura

- kebijakan ini membuat Kilang Singapura akan stop berproduksi.

- Industri perkapalan mengangkut migas akan berhenti

- Pelabuhan Singapura akan berkurang muatannya.

- Bisnis dan keuangan yg berkaitan dengan kilang minyak  Singapura dan industri perkapalan tangker Singapura akan hancur.

3. Wewenang jasa pandu kapal di Selat Malaka diambil alih Indonesia, (yang selama ini dikuasai Singapura)

- Pendapatan jasa pandu kapal akan masuk ke Indonesia.

- Setiap hari ribuan kapal hilir mudik melalui Selat Malaka.

(Selama ini semua pendapatan jasa pandu masuk ke Singapura).

4. Pembangunan pelabuhan Hub internasional Kuala Tanjung di Sumatera Utara

- Sekarang semua kapal mother vessel yg lewat Selat Malaka akan singgah di Pelabuhan Kuala Tanjung.

- Ekspor Impor Indonesia tidak perlu pakai kapal feeder ke Singapura lagi.

Sudah bisa langsung tanpa via Singapura.

- Bisnis ekspor impor dan bisnis perkapalan serta pelabuhan Singapura akan hancur.

5. Kebijakan Tax Amnesti Indonesia.

- Uang  dan aset warga negara Indonesia di Singapura kena pengampunan pajak di Indonesia dengan membayar kewajiban ke Indonesia.

- Tidak mudah lagi mencuci uang di Singapura

- Bisnis perbankan dan bisnis properti Singapura akan terganggu.

6.. Dimulainya pelaksanan peraturan transparansi bank  dan keterbukaan Bank terhadap data nasabah

- Semua uang hasil kejahatan korupsi , kejahatan ekstra ordinary (extra ordinary crime)  dan transnegara akan bisa diambil kembali.

7. Berakhirnya perjanjian wewenang pengaturan udara di Laut Cina Selatan dan perairan Indonesia sekitar selat Malaka yg selama ini dikuasai Singapura.

- Setiap hari sekitar 20 ribu pesawat yg melewati kawasan udara Selat Malaka dan Laut Cina Selatan.

- Semua penerbangan membayar Air Transport Control Fee (ATC Fee) atau Jasa Pandu Udara kepada otoritas bandara Singapura.

- Tarifnya 1 USD per mile. Satu kali pandu pesawat  jaraknya  sampai 20 - 50 mile

- Diperkirakan Singapura mendapat ATC Fee sebesar 10 milyar USD per tahun.

- Semua ATC Fee akan masuk ke Indonesia.

8. Berakhirnya perjanjian kebebasan pesawat tempur Singapura melakukan latihan terbang  tempur dengan negara mitranya di udara laut China Selatan.

- Sekarang semua pesawat Angkatan Udara Singapura bila mau terbang harus ijin Indonesia.

2019 - 2024 Indonesia Maju

Billa Bill


Rabu, 14 November 2018

Meluruskan Ustaz Abdul Somad Soal Klaim Bendera Rasulullah Bertuliskan Tauhid

KOREKSI SANTRI !!!

SANGAT PENTING UNTUK DISIMAK SECARA JELI AGAR TIDAK MUDAH DIKIBULI

[Telaah Hadits] Meluruskan Ustaz Abdul Somad Soal Klaim Bendera Rasulullah Bertuliskan Tauhid
Oleh: Kayla Tuhibbuny Belhawa
Mereka (kelompok pengusung khilafah dan bendera bertuliskan tauhid) merasa mendapatkan legitimasi dari seorang da'i fenomenal abad ini, Ust Abdusshomad atau UAS.
Setidaknya, ada dua point besar yang mereka ambil dari wawancara eksklusif UAS dengan TVONE beberapa waktu lalu;
1. Ar Rayah & Al Liwa tidak hanya dinarasikan disaat perang saja, tapi juga disaat damai.
2. Ar Rayah & Al Liwa adalah bendera Umat Islam, pemersatu Umat Islam.
Point pertama merupakan senjata counter attack para pengasong khilafah kepada TGB. sebelumnya beliau memberikan pernyataan tidak ada satupun dalam Hazanah keislaman bahwa Ar Rayah & Al Liwa dinarasikan dalam situasi damai.
ARGUMENTASI UAS
Bukti bahwa Ar Rayah & Al Liwa juga dibawa oleh Rasulullah saat damai, menurut UAS adalah fakta sejarah Penaklukan Kota Mekkah. Dalam hadits disebutkan; " Nabi Muhammad SAW memasuki Kota Mekkah dengan Liwa berwarna Putih." Ini adalah peristiwa Penaklukan Kota Mekah, pada saat itu Rasulullah membawa 10 Ribu pasukan. Beliau berada di Mekkah selama 19 hari dalam rangka Rekonsiliasi.
INKONSISTENSI PERNYATAAN UAS.
Analisa ini tidak akan merujuk kepada fakta sejarah tentang penaklukkan kota Mekkah, hanya didasarkan pada pernyataan UAS dalam wawancara tersebut.
(jika merujuk kesana, sangat jelas bahwa penaklukkan kota Mekkah disebabkan oleh tindakan pongah kaum Quraisy yang melanggar perjanjian Hudaibiyah, yang salah satu diantaranya adalah gencatan senjata selama 10 tahun, sehingga Rasulullah SAW berniat untuk menggempur kaum Quraisy & sekutunya dengan membawa 10ribu pasukan yang dibagi menjadi 4 bagian. Oleh karenanya, peristiwa ini oleh para sejarawan merupakan salah satu diantara peperangan Rasulullah SAW).
INKONSISTENSI PERTAMA
UAS mengatakan bahwa Ar Rayah & Al Liwa juga terjadi di saat situasi damai. Tapi argumentasinya adalah peristiwa Penaklukkan kota Mekkah.
Jika memang itu situasi aman, damai, dan kondusif, kenapa Rasulullah membawa pasukan sebanyak 10ribu?? sebagaimana yang dijelaskan UAS sendiri.
Jika memang situasi damai, terus maksud pernyataan UAS bahwa Rasulullah ke Mekkah dalam rangka REKONSILIASI itu apa? Rekonsiliasi dari apa???
Jika yang dimaksud UAS bahwa dalam Penaklukkan kota Mekkah tidak terjadi peperangan, itu benar....tapi faktornya bukan karena situasi saat itu aman & damai, melainkan karena kaum Quraisy menyerah....
Disinilah keteladanan Rasulullah SAW yang patut dicontoh...betapa beliau seorang pemaaf meskipun kepada non Muslim, apalagi kepada sesama muslim.
INKONSISTENSI UAS KEDUA
sebelum menjelaskan bahwa Ar Rayah & Al Liwa juga dipakai disaat damai, UAS menjelaskan tentang definisi dari keduanya. Beliau mengatakan; " dijelaskan oleh imam Nawawi dalam Syarah Muslim bahwa Al Liwa adalah: Al Alam Al Kabir, sedangkan Ar Rayah adalah: Al Alam as shaghir. Jadi kalo Al Liwa dibawa oleh pemimpin pasukan, kalo Ar Rayah dibawa oleh pasukan- pasukan kecil "
Ini dia redaksi asli dalam kitab Syarah Muslim;
ﻗﺎﻝ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻠﻐﺔ ﺍﻟﻠﻮﺍﺀ : ﺍﻟﺮﺍﻳﺔ ﺍﻟﻌﻈﻴﻤﺔ ﻻ ﻳﻤﺴﻜﻬﺎ ﺇﻻ ﺻﺎﺣﺐ ﺟﻴﺶ ﺍﻟﺤﺮﺏ ﺃﻭ ﺻﺎﺣﺐ ﺩﻋﻮﺓ ﺍﻟﺠﻴﺶ ﻭﻳﻜﻮﻥ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺗﺒﻌﺎ ﻟﻪ
"Ahli bahasa mengatakan: Al Liwa adalah bendera besar yang hanya dipegang oleh pemimpin pasukan perang dan para pasukan akan tunduk kepadanya"
Perhatikan kata2:
ﻭﻻ ﻳﻤﺴﻜﻬﺎ ﺇﻻ ﺻﺎﺣﺐ ﺟﻴﺶ ﺍﻟﺤﺮﺏ .... ﺇﻟﺦ
Dalam disiplin ilmu Mantiq (logika), ini dinamakan FASHL, yakni: lafadz kully yang berfungsi membedakan satu hakikat dari hakikat- hakikat lainnya yang berserikat dengannya dalam jinis.
Artinya, yang membedakan Al Liwa dengan bendera yang lainnya adalah : Al Liwa hanya dipegang oleh pemimpin pasukan perang, bukan oleh sembarang orang, berbeda dengan bendera Negara, ormas, Jam'iyyah dll.
Menariknya lagi, Dalam FASHL ini menggunakan bahasa HASHR, sehingga pengertiannya adalah : hanya boleh dipegang / dibawa oleh pemimpin pasukan perang.
Pertanyaannya adalah, seberapa pentingkah peran sebuah bendera / Panji dalam kancah peperangan?! Dalam konteks peperangan, Al Liwa ataupun Ar Rayah memiliki peran penting sebagai tanda atau kode bagi sebuah pasukan perang. Prajurit yang terpencar dari pasukan, terkepung pasukan musuh, tersesat, bisa mengetahui kemana ia harus kembali.
Sebab dalam kancah peperangan, kedua kubu yang awalnya berhadap2pan & dalam lokasi yang berbeda , akan saling serang & menyatu dalam satu tempat untuk saling mengalahkan. Disinilah pentingnya arti sebuah Panji peperangan.
Perhatikan surat Al Hujurat ayat 09 berikut;
ﻭَﺇِﻥْ ﻃَﺎﺋِﻔَﺘَﺎﻥِ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨِﻴﻦَ ﺍﻗْﺘَﺘَﻠُﻮﺍ ... ﺍﻵﻳﺔ
Kenapa Allah SWT menggunakan redaksi jama': ﺍﻗْﺘَﺘَﻠُﻮﺍ , padahal kata gantinya (dlomir) kembali kepada lafadz ﻃَﺎﺋِﻔَﺘَﺎﻥِ yang tatsniyyah??!! Karena dalam kondisi saling serang, kedua kubu akan menyatu dan sulit dibedakan, sehingga laksana satu kelompok atau kubu.
Dus, dari dua INKONSISTENSI UAS ini, dapat disimpulkan bahwa pernyataan TGB lebih obyektif dan jujur daripada UAS dalam memberikan statemen terkait NARASI BENDERA RASULULLAH, apakah dalam konteks peperangan ataukah juga dalam kondisi damai.
MELACAK JEJAK ARGUMENTASI UAS TENTANG BENDERA ISLAM
Ini adalah sambungan dari tulisan sebelumnya, namun karena kali ini muatannya bukan tentang inkonsistensi pernyataan UAS, maka judulnya sengaja diganti.
Kenapa melacak jejak argumentasi? Karena UAS hanya menyampaikan bahwa bendera bertuliskan tauhid adalah bendera Umat Islam, namun nihil argumentasi.
Ini menjadi aneh, sebab bukan tipikal UAS menyampaikan suatu statement tanpa disertai dalil, baik dari Al Qur'an, Sunnah, maupun petuah Ulama.
BENDERA RASULULLAH SAW, BENARKAH BERTULISKAN TAUHID?
Sebelum membahas tentang keabsahan klaim bahwa bendera bertuliskan tauhid adalah bendera Umat Islam, terlebih dahulu kita telusuri, sebenarnya bendera Rasulullah SAW pada saat itu, apakah bertuliskan "LAA ILAHA ILLALLAH MUHAMMADURRASULULLAH" ataukah polos?!
A. TEKS HADITS
Terdapat hadits yang menyatakan bahwa royah Rasulullah Saw berwarna hitam dan benderanya berwarna putih terulis padanya kalimat : ﻟَﺎ ﺇِﻟَﻪَ ﺇِﻟَّﺎ ﺍﻟﻠﻪُ ﻣُﺤَﻤَّﺪٌ ﺭَﺳُﻮْﻝُ ﺍﻟﻠﻪِ
Hadits yang dimaksud adalah:
ﺣَﺪَّﺛَﻨَﺎ ﺃَﺣْﻤَﺪُ ﺑﻦ ﺭِﺷْﺪِﻳﻦ ﻗَﺎﻝَ ﺣَﺪَّﺛَﻨَﺎ ﻋَﺒْﺪُ ﺍﻟْﻐَﻔَّﺎﺭِ ﺑْﻦُ ﺩَﺍﻭُﺩَ ﺃَﺑُﻮْ ﺻَﺎﻟِﺢٍ ﺍﻟْﺤَﺮَّﺍﻧِﻲ ﻗَﺎﻝَ ﺣَﺪَّﺛَﻨَﺎ ﺣَﻴَّﺎﻥٌ ﺑﻦ ﻋُﺒَﻴْﺪُ ﺍﻟﻠﻪِ ﻗَﺎﻝَ ﺣَﺪَّﺛَﻨَﺎ ﺃَﺑُﻮْ ﻣَﺠَﺎﺯٍ ﺑﻦ ﺣُﻤَﻴْﺪٍ ﻋَﻦْ ﺍﺑْﻦِ ﻋَﺒَّﺎﺱٍ ﻗَﺎﻝَ : ﻛَﺎﻧَﺖْ ﺭَﺍﻳَﺔُ ﺭَﺳُﻮْﻝِ ﺍﻟﻠﻪِ ﺳَﻮْﺩَﺍﺀَ ﻭَﻟِﻮَﺍﺅُﻩُ ﺃَﺑْﻴَﺾُ ﻣَﻜْﺘُﻮْﺏٌ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻟَﺎ ﺇِﻟَﻪَ ﺇِﻟَّﺎ ﺍﻟﻠﻪُ ﻣُﺤَﻤَّﺪٌ ﺭَﺳُﻮْﻝُ ﺍﻟﻠﻪِ
“Dari Ibnu Abbas mengatakan: “Bendera (pasukan) Rasulullah itu hitam dan panjinya itu putih yang bertuliskan di atasnya La Ilaha illa Allah Muhammadu Rasulullah” (HR. Thabrani)
Hadits di atas terdapat dalam kitab Mu’jam al-’Awsath karya imam al-Thabarani, dalam kitab Akhlaq al-Nabi Saw wa Adabuhu karya Abu al-Syaikh al-Ashbihani.
ﺣَﺪَّﺛَﻨَﺎ ﺃَﺣْﻤَﺪُ ﺑْﻦُ ﺯَﻧْﺠَﻮﻳﻪ ﺍﻟﻤﺨﺮﻣﻲ، ﺣَﺪَّﺛَﻨَﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪٌ ﺑﻦ ﺃَﺑِﻲ ﺍﻟﺴَّﺮِﻱ ﺍﻟﻌَﺴْﻘَﻠَﺎﻧِﻲ، ﺣَﺪَّﺛَﻨَﺎ ﻋَﺒَّﺎﺱٌ ﺑﻦ ﻃَﺎﻟِﺐٍ، ﻋَﻦْ ﺣَﻴَّﺎﻥ ﺑﻦ ﻋُﺒَﻴْﺪِ ﺍﻟﻠﻪِ، ﻋَﻦْ ﺃَﺑِﻲْ ﻣَﺠَﺎﺯٍ، ﻋَﻦِ ﺍﺑْﻦُ ﻋَﺒَّﺎﺱٍ، ﻗﺎﻝ : ﻛَﺎﻧَﺖْ ﺭَﺍﻳَﺔُ ﺭَﺳُﻮْﻝِ ﺍﻟﻠﻪِ ﷺ ﺳَﻮْﺩَﺍﺀَ ﻭَﻟِﻮَﺍﺀُﻩُ ﺃَﺑْﻴَﺾُ، ﻣَﻜْﺘُﻮْﺏٌ ﻓِﻴْﻪِ : ﻟَﺎ ﺇِﻟَﻪَ ﺇِﻟَّﺎ ﺍﻟﻠﻪُ ﻣُﺤَﻤَّﺪٌ ﺭَﺳُﻮْﻝُ ﺍﻟﻠﻪِ
B. ANALISA SANAD
Secara umum Hadists-Hadists yang menerangkan tentang bendera hitam yang bertuliskan La Ilaha Illa Allah Muhammad Rasulullah sebagaimana yang tertera di atas mempunyai kualitas lemah, baik yang diriwayatkan oleh al-Thabrani maupun Abu al-Syaikh.
Hadists di atas termaktub dalam kitab al-Kamil fi Dhu’afa al-Rijal karya Ibnu ‘Adi, yang mana kitab tersebut menghimpun Hadits-Hadits yang diriwayatkan oleh perawi lemah.
Adapun kedhaifan Hadis riwayat al-Thabrani ini dikarenakan;
1. Hayyan bin Ubaidillah
Berikut JARH WA TA'DIL Hayyan bin Ubaidillah: [Lisaanul miizan II:370]
1. Dia rawi yang suka membawa riwayat munkar, riwayat gharib dan tidak pernah melihat rawi yang banyak kelirunya selian dia [Tarikh Al-Islam IV : 374]
2. Abu Hatim Ar-Raazi berkatata: Shaduq [Al-Jarh III:246]
3. Adz-Dzahabi berkata : Tidak bisa dijadikan hujjah [Al-Mughnii fii Adh-Du’afaa I : 198]
4. Ad-Daraquthni berkata : Tidak kuat
5. Ibn Hazm berkata : Majhul
6. Al-Bukhari berkata : Mukhtalith. Lebih lanjut beliau mengatakan; "Hayyan bin Ubaidillah Abu Zuhair tergolong Bani ‘Adi Al Bashry, beliau mendengar dari Abu Mijlaj Lahiq bin Humaid dan Ad-Dhahak [Al-kaamil fii dhu’afaa Ar-Rijaal_Tahqiiq Suhail Zikaar hal.425]
Dengan demikian, Hayyan atau Hibban bin Ubaidillah ini rawi maqbul yang bisa diterima dengan catatan jika ada mutaba’ah dan tidak syadz, namun dia lemah jika bersifat tafarrud. Dalam hal ini, terdapat keidhtiraban pada Hayyan baik dari segi sanad maupun matan;
a. Dari segi jalur sanad
Terdapat jalur lain dimana Hayyan menerima dari Abu Mijlaj, Abu Mijlaj menerima dari Abdullah bin Buraidah, Abdullah bin Buraidah menerima dari Buraidah.
Ibn ‘Adi berkata: "Tidak ada periwayatan Abu Mijlaj dengan menempuh dua thabaqah (antara Abdullah bin Buraidah dan Buraidah) ini hanya terdapat pada jalur Hayyan bin Ubaidillah. Dalam jalur ini Hayyan menyendiri (tafarrud) dalam periwayatannya [Al-kaamil fii dhu’afaa Ar-Rijaal_Tahqiiq Suhail Zikaar hal.425]
b. Dari segi matan
Dalam jalur yang sama, dimana Hayyan menerima dari Abu Mijlaj, terdapat tambahan redaksi:
ﻣَﻜْﺘُﻮْﺏٌ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻟَﺎ ﺇِﻟَﻪَ ﺇِﻟَّﺎ ﺍﻟﻠﻪُ ﻣُﺤَﻤَّﺪٌ ﺭَﺳُﻮْﻝُ ﺍﻟﻠﻪِ
“(Bendera itu) bertuliskan kalimat : Laa ilaaha Illallaah muhammadurrasuulullaah”
Memperhatikan pemaparan diatas, baik jalur Yazid maupun hayyan, keduanya tidak bisa saling menguatkan dikarenakan adanya ke Idhtiraban dan kecacatan yang fatal, Dan dalam hadits ini Hayyan membawa riwayat Tafarrud, gharib dan munkar dengan menambahkan kalimat lafazh tauhid.
2. Ahmad bin Risydin.
Oleh imam al-Nasa’i, perawi ini dikategorikan sebagai kadzdzab, imam al-Dzahabi memberikan status muttaham bi al-wadh’, imam Ibnu Hatim mengomentarinya dengan takallamu fihi, dan Ibnu ‘Adi mengatakan bahwa ia adalah perawi yang banyak memilki riwayat Hadits akan tetapi banyak sekali yang munkar dan palsu, dan ia termasuk orang yang riwayat Haditsnya banyak ditulis.
Sedangkan Ibnu Yunus, Ibnu ‘Asakir, Ibnu al-Qaththan, dan Maslamah bin al-Qasim mengatakan bahwa Ahmad bin Risydin merupakan huffazh al-Hadis dan tsiqah.
Menimbang kaidah "al- jarh Mufassar muqoddamun ‘alaa at-ta’dil", yang artinya; “bila terdapat dua keterangan antara jarh dan ta’dil maka diutamakan jarh apabila terdapat keterangan”, maka Ahmad bin Risydin dikategorikan sebagai muttaham bi al-kidzb.
3. Sedangkan kedhaifan dalam Hadits riwayat Abu Syaikh dari Abu Hurairah di atas disebabkan oleh perawi bernama Muhammad bin Abu Humaid. Oleh kebanyakan ulama ahli Hadits seperti al-Bukhari, Ibnu Hibban, Ahmad bin Hambal, Abu Hatim al-Razi, al-Nasa’i, Abu Zur’ah, Ibnu Ma’in, dan al-Daruquthni, semuanya mengatakan bahwa rawi tersebut lemah karena ia termasuk dalam kategori munkar al-Hadis.
Jadi, Hadits di atas tergolong Hadits yang tingkat kedaifannya parah sehingga hadits riwayat al-Thabrani termasuk dalam lingkup Hadis matruk (Hadits syibhu maudhu) dan hadis riwayat Abu Syaikh dari Abu Hurairah tergolong sebagai hadis munkar.
C. KESIMPULAN
Berdasarkan analisa di atas, dapat disimpulkan bahwa Hadits dari Ibn Abbas yang menyatakan bendera Rasulallah SAW berwarna putih dengan bertuliskan kalimat Laa Ilaaha Illallaah adalah MATRUK (SYIBHU AL-MAUDHU)
Dengan demikian, klaim UAS bahwa bendera Rasulullah SAW bertuliskan kalimat Tauhid tidak memiliki landasan hadits yang valid, tapi sangat lemah, oleh Imam Ibnu Hajar Al atsqalany dibahasakan; sanadnya WAHIN.
HATI HATI DAN WASPADA TIPU MUSLIHAT PENGASONG KHILAFAH. JANGAN JADIKAN RUJUKAN USTAD TV DAN MEDSOS YANG SENGAJA DIORBITKAN. BERTANYA PADA AHLINYA ULAMA KYAI YANG TIDAK KOMERSIAL DAN BERHATI HATI.
SEMOGA SELAMAT DARI FITNAH YANG SANGAT DASYAT.


Sabtu, 03 November 2018

HIZBUT TAHIR, DARI SHIRA’UL FIKRI KE REVOLUSI

HIZBUT TAHIR, DARI SHIRA’UL FIKRI KE REVOLUSI

Oleh Jarot Doso

Minggu pagi yang cerah di Pondok Pesantren Al Muayyad, Kartosuro, Solo. Para santri, lelaki maupun perempuan, tampak segar dan sumringah.  Mereka, yang rata-rata mahasiswa perguruan tinggi di kota Solo itu, dengan tertib memasuki aula pesantren.

Hari itu Al Muayyad memang punya hajat. Bekerja sama dengan Bale Rakyat Aria Bima Sukoharjo –rumah aspirasi anggota DPR RI Aria Bima—, pesantren memfasilitasi kegiatan seminar dan sosialisasi empat pilar kebangsaan, agenda rutin MPR RI.

Seperti acara serupa sebelumnya, biasanya pembicara minimal terdiri tiga unsur. Yakni tuan rumah dan pengasuh pondok, KH Dian Nafi’, yang mewakili unsur NU; anggota DPR Fraksi PDI Perjuangan Aria Bima; dan saya sendiri yang diminta mewakili unsur Muhammadiyah. Moderator Muchus Budi R dari Detikcom.

Lantaran yang dibahas hanya soal Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika, acara pun lancar-lancar saja. Terlebih bagi NU dan Muhammadiyah, empat pilar kebangsaan tersebut memang sudah tak ada masalah lagi. Mereka sudah menerimanya sebagai format final sistem kenegaraan Indonesia.

Seiring hari yang kian terik dan masuk sesi tanya jawab, seorang mahasiwa maju ke depan. Ia lalu berkata lantang: mengecam Pancasila dan NKRI sebagai sistem sekuler, sistem kafir, bla bla bla. Ia juga menguraikan sesatnya demokrasi, sesatnya paham kebangsaan, dan sesatnya hukum yang dibuat oleh manusia, dan seterusnya. 

Meski mahasiswa tadi tidak memperkenalkan dirinya dari Hizbut Tahrir atau Gerakan Mahasiswa (Gema) Pembebasan –ormas mahasiswa Hizbut Tahrir—, namun saya saat itu langsung tanggap, apa yang dia sampaikan adalah mafahim (konsepsi dasar) Hizbut Tahrir.

Mafahim, menurut Hizbut Tahrir, bukanlah sekadar konsep, tetapi konsep yang dimengerti dan diyakini kebenarannya oleh pengucapnya. Semacam tafsir ideologi yang sudah terinternalisasi dalam pikiran dan keyakinan seseorang. Mafahim merupakan turunan dari mabda’ (ideologi) Hizbut Tahrir.

Ketika moderator memintanya menyingkat waktu dan segera mengajukan pertanyaan, si mahasiswa yang mengaku bukan santri setempat ini, terus saja berorasi dan menyatakan ia tak berniat bertanya. Akhirnya moderator terpaksa mematikan mikrofon untuk memotong orasinya, karena dinilai telah keluar dari konteks dan terlalu banyak menyita waktu.

Selesai berbicara, si mahasiswa tadi pergi begitu saja, tanpa merasa perlu mendengar jawaban narasumber maupun audiens acara itu.

SHIRA’UL FIKRI

Apa yang saya uraikan dari kisah nyata di Ponpes Al Muayyad di atas hanyalah untuk mengilustrasikan, begitulah antara lain cara kader Hizbut Tahrir melakukan perang pemikiran (shira’ul fikri).

Perang pemikiran ini menjadi metode diseminasi (penyebaran) ideologi ke tengah publik, baik melalui debat, diskusi, dakwah, agitasi maupun propaganda. Perang pemikiran ini dalam istilah pegiat Ikhwanul Muslimin (PKS, KAMMI) lazim disebut ghazwul fikri.

Seperti ghazwul fikri Ikhwanul Muslimin, shira’ul fikri juga memanfaatkan hampir semua media komunikasi yang ada. Misalnya melalui media cetak Al-Wa’ie (majalah), Al Islam (buletin Jumatan yang dibagikan di masjid-masjid), media online (banyak sekali bertebaran di Internet), seminar untuk umum, diskusi, dan seterusnya.

Hanya saja, menurut saya, perang pemikiran yang dilakukan oleh Hizbut Tahrir lebih militan dan khas. Mereka bukan saja rajin menghadiri undangan sebagai pembicara dari kelompok lain, termasuk dari lawan ideologis sekalipun, tetapi juga suka merecoki acara yang sebetulnya mereka tak diundang, seperti dalam kasus di Ponpes Al Muayyad tadi.

Dalam forum diskusi atau seminar dimana mereka diundang sebagai pembicara resmi, misalnya, kader Hizbut Tahrir juga gemar memanipulasi forum menjadi ajang promosi ideologi. Caranya, dengan mendominasi pembicaraan, sehingga menyita sebagian besar waktu yang tersedia.

Ini berakibat pembicara lain atau audiens hanya memiliki sangat sedikit waktu untuk mendebat atau memberikan pandangan alternatif. Pihak moderator biasanya juga kewalahan dengan gaya bicara kader Hizbut Tahrir seperti ini.

Dalam sebuah diskusi di Masjid Kampus UGM yang saya ikuti misalnya, tokoh Hizbut Tahrir terkemuka Yogyakarta, Shiddiq al-Jawi, dipanel berdua dengan pembicara dari PKS. Meskipun pembicaranya hanya berdua, namun tetap saja Ustadz Siddiq al-Jawi menyita mayoritas waktu dan cuma menyisakan sedikit waktu bagi pembicara lainnya.

Sesi tanya jawab pun hanya menyisakan kesempatan bagi satu atau dua penanya. Tentunya, dalam situasi seperti ini, bukan kesimpulan berimbang yang diperoleh, tetapi cenderung berat sebelah. Yakni semakin tersebarnya gagasan Hizbut Tahrir, yang memang diharapkan oleh mereka, agar semakin banyak mempengaruhi umat Islam.

Di medsos pun aktivitas kader Hizbut Tahrir dalam menyebarkan gagasannya ini sangat produktif . Bisa dibilang, nyaris setiap kader akan memiliki akun medsos bahkan blog, untuk ikut berjuang melakukan jihad pemikiran ini.

Ini bisa dipahami, karena bagi Hizbut Tahrir, perubahan menuju kekhalifahan Islam hanya akan bisa dicapai jika mereka sudah memenangkan perang pemikiran.

Hizbut Tahrir meyakini, setelah berhasil mengubah pemikiran (fikrah) mayoritas umat Islam, barulah mereka dapat menyusun kekuatan untuk melakukan revolusi dan mengambilalih kekuasaan demi mendirikan khilafah Islamiyah (kekhilafahan Islam).

Dalam konteks ini, upaya pengibaran bendera Hizbut Tahrir di tengah upacara Hari Santri di Garut dan kota-kota sekitarnya baru-baru ini, menurut saya, adalah “by design” dan menjadi bagian dari strategi marketing Hizbut Tahrir. Dengan mendesain insiden itu, hasilnya bendera Hizbut Tahrir yang sebelumnya dilarang dikibarkan, tiba-tiba saja sudah menjadi bendera tauhid yang dieluk-elukan ribuan orang.

Aktivitas penyebaran gagasan ke tengah masyarakat ini sesuai tahap perjuangan Hizbut Tahrir yang --setelah Orde Baru ambruk-- mulai menginjak fase “go public” atau berinteraksi dengan umat (marhalah mafa’ul ma’a ummah).

Sementara pada masa rezim Orde Baru yang otoriter, Hizbut Tahrir  fokus melakukan pembinaan dan pengkaderan secara diam-diam (gerakan bawah tanah), untuk membentuk jaringan organisasi (marhalah at-tatsqif).

Setelah jaringan organisasi kuat dan upaya mengubah pola pikir umat secara massif berhasil, Hizbut Tahrir akan menginjak fase terakhir perjuangannya; yaitu fase revolusi atau pengambilalihan kekuasaan secara penuh (marhalah istilaam al-hukm). Jika revolusi ini berhasil, saat itulah NKRI ambruk dan selanjutnya hanya akan menjadi wilayah provinsi daulah khilafah Islamiyah versi Hizbut Tahrir.

Nah, relakah kita jika Indonesia sampai begitu? Pilihannya ada di tangan antum (anda).

Jakarta, 29/10/2018


Selasa, 30 Oktober 2018

Panggilan "JIhad", Kali Ini ke Poso

Panggilan "JIhad", Kali Ini ke Poso

Oleh: Dina Sulaeman

Beberapa hari yang lalu, akun Syria News memposting foto orang ini, diberi caption (ini terjemahannya):  "Abu Walid Indonesian (Mohamed Karim Fayez). Saat ini dia adalah Emir ISIS di Indonesia timur. Note: Tangannya berlumuran darah warga Suriah dan Irak."

Baru saja saya menemukan poster ini, sumber dari akun Twitter TRACterrorism.org. Poster ini berbahasa Inggris, "Join us in Poso region" (bergabunglah dengan kami di Poso). Lalu ada kutipan ayat Quran tanpa terjemahan. Artinya: seruan ini adalah untuk orang-orang di luar sana yang berbahasa Inggris dan Arab.

Bila sebelumnya orang-orang radikal dari berbagai negara diseru untuk "berjihad" ke Suriah dan Irak, kini mereka diseru untuk datang ke Poso.

Orang biasa seperti kita, tidak bisa berbuat apa-apa. Ini tugas pemerintah, TNI, Polri. Semoga saja mereka bisa melindungi kita warga sipil Indonesia dan NKRI. Untuk deradikalisasi (menyembuhkan orang-orang yang sudah terlanjur teradikalisasi) juga perlu ilmu khusus.

Yang bisa kita lakukan adalah mencegah agar anak-anak kita dan anak-anak di sekitar kita tidak tertular virus radikalisme.

Caranya:

Pertama, ajarkan kepada anak-anak bahwa Islam adalah ajaran yang welas asih. Nabi Muhammad adalah Nabi yang sangat welas asih. Kalaupun beliau berperang, selalu atas dasar alasan yang valid (bukan tuduhan membabi-buta) dan dengan etika perang yang ketat (bukannya membantai rakyat sipil secara membabi-buta dengan bom bunuh diri).

Kedua, waspadai pemakaian internet anak-anak. Saya menemukan kasus seorang remaja putri yang amat pintar tapi dibiarkan oleh ortunya berselancar sendirian di dunia maya, akhirnya menjadi sangat radikal. Dia bahkan punya keinginan membunuh tokoh-tokoh yang dia benci (antara lain: Bashar Assad dan Ayatullah Khamenei). Seorang teman menceritakan bahwa grup WA keponakannya (masih SMP, di sekolah Islam), sudah biasa menyebarkan foto-foto kepala terpenggal dan ujaran-ujaran kebencian.

Ketiga, mulailah dari diri sendiri. Jangan menyebarkan kebencian pada sesama manusia, karena akar radikalisasi adalah kebencian kepada orang yang dianggap kafir; atau takfirisme [suka mengkafirkan orang lain dan di tahap selanjutnya: menghalalkan darah orang yang dianggap kafir].

Atau, kalau ditemukan ada akun-akun yang secara provokatif menunjukkan kesesatan (misal, ada akun mengaku Syiah dan menyuarakan hal-hal yang jelas-jelas sesat), jangan langsung terpengaruh. Atau tokoh tertentu dikatai PKI atau antek China. Dll. Sangat mungkin akun-akun itu memang berupaya mengadu domba, atau info yang disebar memang rekayasa/hoax.

Saya pernah menemukan seorang ibu menshare sebuah video sambil meratap-ratap, katanya "orang Suriah dipaksa menyembah Assad". Saat saya klik videonya, isinya hanya seseorang yang sedang bicara kesana-kemari, sama sekali tidak terkait dengan 'penyembahan'. Si ibu hanya menshare tanpa menonton.

Keempat: beranikan diri melawan. Bukan saatnya lagi untuk diam. Bila ada orang (ustazah sekalipun) yang men-share berita fitnah, proteslah. Jangan ragu mengkonter berita negatif di grup-grup WA. Bantah saja dengan santun. Niatkan untuk melindungi orang-orang yang belum teradikalisasi (bukan diniatkan menyadarkan orang yg sudah terlanjur; seperti saya bilang, mereka sudah sulit ditembus, perlu ilmu khusus).

Dibully? Apa ruginya? Lebih baik dibully daripada negeri ini dilanda perang seperti Suriah.

Ingatlah selalu bahwa media sosial adalah alat utama para teroris dalam melakukan radikalisasi. Artinya, kita harus melawannya pun lewat media sosial. Lawanlah konten negatif yang mereka sebarkan, dengan konten positif dari kita, sebanyak-banyaknya.


Sabtu, 27 Oktober 2018

Kanker Ganas itu Bernama HTI



Peristiwa pembakaran bendera HTI di Garut dikapitalisasi oleh kelompok HTI. Meski organisasi anti-demokrasi ini sudah resmi dibubarkan. Namun, orang-orang yang berada di dalamnya terus melakukan upaya untuk menancapkan kukunya di negeri ini. Teranyar, HTI gencar melakukan provokasi dan agitasi bahwa, bendera yang dibakar adalah bendera tauhid.

HTI layaknya kanker atau tumor yang dapat mebahayakan Indonesia. Aksi dan kampanye HTI selalu mnengarah pada adu domba dan merongrong ideologi bangsa. Gerakan HTI sangat mengkhawatirkan. HTI mencederai kesakralan Hari Santri dengan menyusup ke dalam upacara resmi. Padahal, panitia tegas melarang bendera apa pun dikibarkan pada acara itu. Si penyusuplah yang melakukan provokasi dengan mengibar-ngibarkan bendera HTI.

Peristiwa itu pun digoreng HTI. Banyak masyarakat terprovokasi. Karena HTI membangun narasi bahwa yang dibakar adalah bendera tauhid. Padahal itu adalah bendera HTI. Konyolnya, HTI membantah itu benderanya. Jejak digital membuktikan, bendera itulah yang kerap digunakan HTI. Inilah skenario dan framing busuk ala HTI.

HTI menggiring opini bahwa yang dibakar bendera tauhid. Memantik sentimen sensitif anak bangsa agar bertikai. Menggembar-gemborkan aksi bela tauhid padahal sebenarnya aksi bela HTI. HTI saat ini sedang meminkan politik licik dan picik. Memanfaatkan situasi politik. Mengotori Hari Santri untuk mengacaukan ibu pertiwi. Jangan tertipu HTI!


Kamis, 25 Oktober 2018

AKHLAK DAN HIZBUL HOAKS INDONESIA

*AKHLAK DAN HIZBUL HOAKS INDONESIA*

Oleh _Ayik Heriansyah_

NU sebagai kekuatan sipil terbesar di Indonesia berada di garda terdepan menjaga NKRI. Harus diakui sejak republik ini berdiri, NU masih bersih dari segala macam kegiatan yang menganggu eksistensi negara. Dalam keadaan suka duka NU selalu bersama Indonesia secara lahir dan batin.

Wajar jika pemerintah dan rakyat Indonesia menaruh kepercayaan penuh kepada NU ketika gerakan kaum radikal mulai menggeliat sejak 20 tahun yang lalu. Dari waktu ke waktu, mereka semakin menampakkan diri bertujuan mengubah NKRI menjadi negara khilafah. Untuk mengamankan negara, pemerintah  pun membubarkan organisasi pengusung paham itu, Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), melalui Perppu Ormas yang kemudian disahkan menjadi UU Ormas oleh DPR.

Logis jika NU, GP Ansor dan Banser menjadi sasaran kemarahan selepas dicabutnya badan hukum mereka oleh pemerintah, dalam hal ini Kemenkumham; dengan memanfaatkan blog dan media sosial, berbagai berita hoaks, meme bernada pelecehan, potongan video yang tendensius, serta opini-opini lepas tanpa peduli benar atau salah, yang penting viral.

Di sisi lain, reaksi GP Ansor dan Banser terhadap HTI, jadi dalih penghalang “dakwah”. Itu merupakan pintu propaganda masif agar terjadi pelemahan jama’ah dan jam’iyah. Tak hanya itu, untuk menciptakan aura kebencian kalangan umat Islam yang lain terhadap NU, GP Ansor dan Banser. Awalnya sempat terjadi kontraksi kecil di internal jama’ah NU, tapi tampaknya makin lama, mulai paham dan sadar ada niat busuk di balik share-sharean mereka di dunia maya.

Alhamdulillah warga NU cepat kembali ke kiainya setelah sempat sebentar geger dan gagap dibombardir konten hoaks mereka.

Selama ini HTI mencitrakan dirinya sebagai kelompok politik intelektual, santun dan tanpa kekerasan. Bagi mereka, bahwa akhlak bagian dari syariat Islam. Bahkan ada satu kitab khusus berisi kumpulan ayat dan hadits tentang akhlak dalam rangka memperkokoh nafsiyah para anggotanya yaitu kitab Min Muqawwimat Nafsiyah Islamiyah (Pilar-pilar Pengokoh Nafsiyah Islamiyah).

Di sisi lain pendapat HTI tentang akhlak terkait dakwah dan kebangkitan umat Islam sangat minor. Terkesan mengabaikan akhlak. Di bab terakhir kitab Nizhamul Islam membahas akhlak. Di bab tersebut Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani mengatakan: akhlak tidak mempengaruhi secara langsung tegaknya suatu masyarakat. Masyarakat tegak dengan peraturanperaturan hidup dan dipengaruhi oleh perasaan-perasaan dan pemikiran-pemikiran. Akhlak tidak mempengaruhi tegaknya suatu masyarakat, baik kebangkitan maupun kejatuhannya. Yang mempengaruhinya adalah opini (kesepakatan) umum yang lahir dari persepsi tentang hidup. Disamping itu yang menggerakkan masyarakat bukanlah akhlak, melainkan peraturan-peraturan yang diterapkan di tengah-tengah masyarakat itu, pemikiran-pemikiran, dan perasaan yang melekat pada masyarakat tersebut. Akhlak sendiri adalah produk berbagai pemikiran, perasaan, dan hasil penerapan peraturan.

Atas dasar inilah, maka tidak diperbolehkan dakwah hanya diarahkan pada pembentukan akhlak dalam masyarakat. Sebab akhlak merupakan hasil dari pelaksanaan perintah- perintah Allah SWT yang dapat dibentuk dengan cara mengajak masyarakat kepada akidah dan melaksanakan Islam secara sempurna.

Disamping itu, mengajak masyarakat pada akhlak semata, dapat memutarbalikkan persepsi Islam tentang kehidupan dan dapat menjauhkan manusia dari pemahaman yang benar tentang hakikat dan bentuk masyarakat. Bahkan dapat membius manusia dengan hanya mengerjakan keutamaan amal-amal yang bersifat individual. Hal ini mengakibatkan kelalaian terhadap langkah-langkah yang benar menuju kemajuan hidup. Dengan demikian sangat berbahaya mengarahkan dakwah Islamiyah hanya pada pembentukan akhlak saja. Hal itu memunculkan anggapan bahwa dakwah Islam adalah dakwah untuk akhlak saja. Cara seperti ini dapat mengaburkan gambaran utuh tentang Islam dan menghalangi pemahaman manusia terhadap Islam. Lebih dari itu dapat menjauhkan masyarakat dari satu-satunya metode dakwah yang dapat menghasilkan penerapan Islam, yaitu tegaknya Daulah Islamiyah. (Nizhamul Islam, terj, 2007: 197-198)

Di kitab at-Takattul Hizbi, Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani juga mengkritik organisasi-organisasi yang mendakwahkan Islam, di samping berbagai organisasi pendidikan dan social tersebut, berdiri pula organisasi berdasarkan akhlak yang berusaha membangkitkan umat atas dasar akhlak melalui nasihat-nasihat, bimbingan-bimbingan, pidato-pidato, dan selebaran-selebaran, dengan suatu anggapan bahwa akhlak adalah dasar kebangkitan. Organisasi-organisasi ini telah mencurahkan tenaga dan dana yang tidak sedikit, namun tidak mendatangkan hasil yang berarti. Perasaan umat tersalur melalui pembicaraan-pembicaraan yang membosankan yang diulang-ulang tanpa arti. (at-Takattul Hizbi, terj: 2001: 25).

Dari pemikiran Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani di atas sebenarnya HTI tidak melepaskan akhlak secara mutlak. Akhlak sebatas urusan seorang individu terhadap dirinya sendiri. Maksudnya akhlak masalah privat bukan politik. Di ranah politik, akhlak dikesampingkan sebab dalam proses politik menuju tegaknya khilafah, HTI berpedoman pada metode dakwah yang mereka adopsi yang diyakini berasal dari metode dakwah Nabi SAW. Tahap yang krusial bagi eks-HTI dalam metode dakwah mereka adalah fase tafa’ul ma’a ummah (berinteraksi dengan umat). Di fase ini eks-HTI melancarkan shira’ul fikri (konfrontasi pemikiran) dan gencar melakukan aktivitas kifahu siyasi (perjuangan politik).

Pelanggaran akhlak islami sering kali terjadi pada dua aktivitas ini. Untuk memenangkan konfrontasi pemikiran, eks-HTI tidak segan-segan memanipulasi makna kitab turats (kitab kuning). Contohnya makna khilafah itu sendiri. Eks-HTI mengutip qaul ulama berbagai mazhab tentang khilafah yang bermakna umum (general) kemudian oleh eks-HTI keumuman makna khilafah ditimpali/ditahrif menjadi makna khusus menjadi lebih spesisfik dengan makna khilafah yang mereka maksud dan mereka perjuangkan.

Khilafah yang ada dalam benak eks-HTI adalah kepemimpinan umat yang dipegang oleh Amir Hizbut Tahrir dalam naungan negara yang mengadopi kontitusi yang disusun oleh Amir Hizbut Tahrir. Tentu saja makna khilafah seperti ini bukan yang dimaksud oleh para ulama salaf dan khalaf di kitab-kitab mereka. Para ulama membiarkan keumuman makna khilafah, sehingga bentuk kepemimpinan, negara dan pemerintahan yang tercakup dalam keumuman makna ini, dianggap Khilafa secara syar’i. NKRI salah satunya.

Dengan demikian, sebenarnya umat Islam tidak pernah kosong dari khilafah sejak dibaiatnya Abu Bakar al-Shiddiq sebagai khalifah sampai dilantiknya Presiden Jokowi. Keadaan vacuum of khilafah tidak pernah terjadi pasca runtuhnya Khilafah Turki Utsmani 3 Maret 1924 sebagaimana yang diyakini oleh HTI.

Adapun titik rawan pelanggaran akhlak islami oleh eks-HTI ketika melakukan aktivitas perjuangan politik yaitu aksi membongkar strategi (kasyful khuththath). Kasyful khuththath merupakan aktivitas politik eks-HTI dalam membongkar, menyingkap lalu membongkar ke publik strategi dan rencana penguasa yang mereka vonis sebagai antek-antek negara asing. Tujuan aksi ini untuk memutus kepercayaan publik terhadap pemerintah (dharbu ‘alaqah baina ummah wa hukkam).

Untuk mendapatkan informasi seputar strategi dan rencana penguasa, eks-HTI melakukan kegiatan mata-mata (intelijen) amatiran. Informasi-informasi mereka kumpulkan dari berbagai sumber baik yang terbuka umum seperti media massa, media online dan media sosial maupun sumber-sumber tertutup dari kegiatan silaturahmi mereka dengan para ulama, pejabat, birokrat, akademisi, dan lain-lain yang mayoritas beragaman Islam.

Padahal aktivitas memata-matai mereka sangat dilarang oleh akhlak islami. Tajassus kepada sesama muslim perbuatan yang tidak diragukan lagi keharamannya. Seringkali eks-HTI ceroboh dalam menilai kegiatan seorang Muslim yang jadi pejabat, antara perbuatan pribadi atau sebagai pejabat sehingga yang terjadi justru aksi bongkar aib pribadi yang dilakukan eks-HTI kepada seorang pejabat bukan membongkar rencana “jahat antek penjajah”. Membongkar aib pribadi pejabat ke publik termasuk dosa besar. Itu pun bercampur fitnah dan ghibah.

Namun demikian, eks-HTI merasa tidak bersalah karena diyakini sebagai bagian dari implementasi metode dakwah Nabi SAW. Kemudian diperkuat oleh pemikiran Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani yang memisahkan akhlak dari masyarakat membuat eks-HTI mengabaikan akhlak dalam berdakwah. HTI sendiri menegaskan kelompok mereka bukan kelompok ruhani dan akhlak. Mereka merupakan partai politik yang berorientasi meraih kekuasaan sebagai syarat terjadinya perubahan masyarakat. Manuver politik nirakhlak yang dipraktikkan eks-HTI dampak dari keyakinan mereka yang salah tentang metode dakwah Nabi SAW dan konsepsi tentang akhlak kaitannya dengan perubahan masyarakat.

Betul, suatu masyarakat eksis karena adanya pemikiran, perasaan dan aturan yang sama, namun unsur pokok masyarakat adalah individu. Tanpa individu-individu tidak akan terwujud suatu masyarakat sebagus apapun pemikiran, perasaan dan aturan yang dirancang. Sebab itu perubahan masyarakat ditentukan oleh perubahan individu yang meliputi pemikiran, perasaan dan akhlak. Jika seorang individu belum bisa mengatur dirinya dengan akhlak, maka rasanya berat bagi individu untuk bisa diatur dalam suatu masyarakat. Akhlak jadi parameter keteraturan suatu masyarakat.

Kesalahpahaman Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani dalam mendiagnosa penyakit masyarakat ditambah kedangkalan ilmu agama eks-HTI menjadikan mereka tidak segan-segan mengadu domba lawan-lawan politik mereka dari kalangan ulama dan ormas Islam. NU, GP Ansor dan Banser sebagai benteng NKRI tidak lain merupakan penghalang terbesar sipil bagi agenda pendirian Khilafah oleh eks-HTI.

Meski belum ada bukti pasti berasal dari mereka, memproduksi konten hoaks agar menimbulkan rasa kebencian dan permusuhan kepada NU, GP Ansor dan Banser adalah perbuatan keji yang jauh dari akhlak terpuji. Dan sepertinya kalangan petinggi eks-DPP HTI membiarkan aksi-aksi “machiaveli” eks-HTI karena dianggap aksi individual, bukan agenda jama’ah dan secara politik aksi-memberi manfaat bagi perjuangan mereka. Mereka seperti menikmati aksi-aksi lone wolf eks-HTI di dunia maya mengingat mereka tidak bisa lagi beraktivitas di dunia nyata.

Yang pasti, dakwah Islam dengan cara-cara kotor, alih-alih mendapat nashrullah, justru akan mengundang murka Allah SWT. Sudah jadi sunnatullah syariat Islam hanya tegak dengan cara-cara yang bersih, bersih niat, bersih pikiran, bersih ujaran dan bersih tindakan. Menegakkan syariat Islam dengan akhlak tercela ibarat menegakkan benang basah.


Bendera hitam adalah bendera perang, bukan bendera "ummat"

Tulisan Gus Muhammad Ismael Al Kholilie ( Dzurriyat Syaikhuna Kholil bin Abdul Lathif Bangkalan ) yang saat ini menimba ilmu di Yaman
__________________________________

Bendera hitam adalah bendera perang, bukan bendera "ummat".
Sejak kejadian pembakaran bendera tauhid di Garut beberapa hari lalu, saya tertarik untuk menelusuri lebih dalam tentang bendera hitam dalam kitab-kitab Hadits dan Syamail. Prof.Nadirsyah Hosen sebenarnya sudah punya tulisan mengenai masalah ini, tapi kurang mantap rasanya jika tidak ber-ijtihad sendiri dan cuma mengandalkan tulisan orang. Lagi pula kesimpulan Prof Nadir bahwa semua hadits yang berkaitan dengan panji hitam adalah hadits-hadits lemah saya rasa kurang tepat.

Saya juga menelusuri apakah pembakaran bendera tauhid di dunia ini baru dilakukan di Indonesia oleh Banser beberapa hari yang lalu? Bagaimana dengan Yaman Utara tempat dimana bendera-bendera hitam bertuliskan kalimat tauhid itu juga banyak tersebar sebagai atribut Al-Qaeda ?
Berikut point-point yang bisa saya simpulkan :

1. Warna Bendera Rasulullah Saw
Semasa hidupnya, Rasulullah Saw memiliki banyak bendera, yang terdiri dari beberapa bendera besar (Ar-Rayah) dan bendera kecil (Al-Liwa'). Syaikh Yusuf Bin Ismail An-Nabhani dalam kitab Syamail-nya menyebutkan
ﻛﺎﻧﺖ ﺭﺍﻳﺔ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭ ﺳﻠﻢ ﺳﻮﺩﺍﺀ ﻭ ﻟﻮﺍﺀﻩ ﺍﺑﻴﺾ
" bendera besar (Rayah) Rasulullah Saw berwarna hitam, sedangkan bendera kecilnya (liwa') berwarna putih "
Sayyid Muhammad Al-Maliki dalam Tarikhul Hawadits berkata :
ﻭ ﻛﺎﻧﺖ ﻟﻪ ﺭﺍﻳﺔ ﺳﻮﺩﺍﺀ ﻳﻘﺎﻝ ﻟﻬﺎ ﺍﻟﻌﻘﺎﺏ ﻭ ﺃﺧﺮﻯ ﺻﻔﺮﺍﺀ ﻛﻤﺎ ﻓﻲ ﺳﻨﻦ ﺃﺑﻲ ﺩﺍﻭﺩ ﻭ ﺃﺧﺮﻯ ﺑﻴﻀﺎﺀ ﻳﻘﺎﻝ ﻟﻬﺎ ﺍﻟﺰﻳﻨﺔ
" Rasulullah Saw memiliki bendera hitam yang dinamakan "Al-Uqob", beliau juga memiliki bendera berwarna kuning seperti keterangan dalam Sunan Abu Dawud, satu lagi bendera beliau yaitu panji berwarna putih yang dinamakan "Az-Zinah" . "
Dari sini bisa kita ketahui bahwa Rasulullah Saw memiliki beberapa bendera dengan warna yang berbeda-beda, bukan melulu hitam saja. Menurut Al-Hafidz Ibnu Hajar bendera-bendera itu digunakan dalam waktu yang berlainan.
(entah kenapa gerombolan radikal seperti ISIS, Al-Qaeda dll lebih memilih warna hitam dari pada warna Royah Rasulullah lainnya ? kuning misalnya- ? Mungkin karena warna hitam terlihat lebih galak, seram dan sangar.. )
Hadits-Hadits tentang warna Royah dan Liwa' memiliki derajat yang tak sama, ada pula satu hadits yang diriwayatkan dengan sanad yang berlainan. Hadits Riwayat Al-Hakim yang disebut An-Nabhani diatas memang lemah, bahkan ada yang menyebutnya sebagai hadits Munkar, hanya saja itu tidak menafikan adanya hadits-hadits lain yang berderajat hasan seperti riwayat Imam Tirmidzi :
ﻛﺎﻧﺖ ﺭﺍﻳﺔ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺳﻮﺩﺍﺀ ﻣﺮﺑﻌﺔ ﻣﻦ ﻧﻤﺮﺓ ﻗﺎﻝ
ﺳﺄﻟﺖ ﻣﺤﻤﺪﺍ ﻳﻌﻨﻲ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ ﻓﻘﺎﻝ ﺣﺪﻳﺚ ﺣﺴﻦ

2. Tulisan dalam bendera Rasulullah Saw
Hanya ada satu hadits yang menyatakan panji hitam Rasulullah Saw bertuliskan kalimat tauhid, yaitu hadits Ibnu Abbas yang diriwayatkan Al-Thabrani dalam kitab Al-Kabir, Abu Assyaikh dalam kitab Al-Akhlaq (153), dan Al-Haitsami dalam Majma' Az-Zawaid (5/321). yang berbunyi :
ﻛﺎﻧﺖ ﺭﺍﻳﺔ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭ ﺳﻠﻢ ﺳﻮﺩﺍﺀ ﻣﻜﺘﻮﺏ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﻻ ﺇﻟﻪ ﺇﻻ ﺍﻟﻠﻪ ﻣﺤﻤﺪ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ
" Royah Rasulullah Saw berwarna hitam bertuliskan La Ilaha Ilallah Muhammadun Rasulullah "
Hadits yang diriwayatkan Abu Assyaikh dinyatakan lemah sanadnya oleh Ibnu Hajar, sedangkan Al-Haitsami mengomentari hadits yang diriwayatkannya : " semua perawi-nya shahih kecuali Hayyan Bin Abdillah "
Jadi dapat disimpulkan tidak semua panji Rasulullah Saw bertuliskan kalimat tauhid, hanya satu bendera berwarna hitam saja, itupun ulama sekelas Ibnu Hajar masih meragukan adanya kalimat tauhid dalam bendera Rasulullah Saw tersebut.

3. Fungsi Bendera (Ar-Rayah dan Al-Liwa') di zaman Rasulullah Saw.
Anggap saja warna dan bentuk bendera Rasulullah Saw memang seperti itu, kita juga harus mengetahui fungsi dan kegunaan bendera Royah dan Liwa' di masa Rasulullah Saw. Ibnu Hajar berkata dalam Fathul Bari-nya :
ﺍﻟﺮﺍﻳﺔ ﻭ ﺍﻟﻠﻮﺍﺀ : ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺍﻟﺬﻱ ﻳﺤﻤﻞ ﻓﻲ ﺍﻟﺤﺮﺏ ﻳﻌﺮﻑ ﺑﻪ ﻣﻮﺿﻊ ﺻﺎﺣﺐ ﺍﻟﺠﻴﺶ ﻭ ﻗﺪ ﻳﺤﻤﻠﻪ ﺃﻣﻴﺮ ﺍﻟﺠﻴﺶ ﻭ ﻗﺪ ﻳﺪﻓﻊ ﻟﻤﻘﺪﻡ ﺍﻟﻌﺴﻜﺮ ﻭ ﻛﺎﻥ ﺍﻻﺻﻞ ﺍﻥ ﻳﻤﺴﻜﻬﺎ ﺭﺋﻴﺶ ﺍﻟﺠﻴﺶ ﺛﻢ ﺻﺎﺭﺕ ﺗﺤﻤﻞ ﻋﻠﻰ ﺭﺃﺳﻪ
"Royah dan Liwa' adalah bendera yang digunakan dalam peperangan dan menjadi tanda dimana posisi pemimpin perang. Bendera ini hanya dibawa oleh komandan perang dan terkadang juga diserahkan pada pasukan yang berada di barisan paling depan.. "
Syaikh Abdullah Said Al-Lahji dalam Muntaha As-Suul berkata :
ﻓﺎﻟﺮﺍﻳﺔ ﻫﻲ ﺍﻟﺘﻲ ﻳﺘﻮﻻﻫﺎ ﺻﺎﺣﺐ ﺍﻟﺤﺮﺏ ﻭ ﻳﻘﺎﺗﻞ ﻋﻠﻴﻪ ﻭ ﺇﻟﻴﻬﺎ ﺗﻤﻴﻞ ﺍﻟﻤﻘﺎﺗﻠﺔ
" Royah adalah bendera yang dikuasai pemimpin perang dan ia bertugas untuk mempertahankannya. Peperangan berpusat ke mana arah bendera tersebut. "
Jadi fungsi asli dari Royah dan Liwa' adalah sebagai bendera perang, oleh karena itu bendera Royah juga dijuluki sebagai "Ummul Harb" atau induk perang. jangan heran jika Imam Bukhori memasukkan pembahasan Liwa' dan Royah ini dalam kitabul Jihad. Ibnu Qoyyim Al-Jauzi dalam Zad Al-Ma'ad, Syaikh Yusuf An-Nabhani dalam Wasail Al-Wushul, dan Sayyid Muhammad Al-Maliki dalam Tarikh Al-Hawadits, mereka semua sepakat meletakkan pembahasan bendera ini dalam Babu Silahi Rasulillah Saw : Bab Senjata perang yang dimiliki Rasulullah Saw.

Kesimpulannya : Bendera Royah dan Liwa' adalah atirbut perang. jadi sangat gak nyambung dan gak relevan jika di zaman now ini bendera-bendera itu malah dikibarkan dalam keadaan tenang, aman dan damai. Bendera-bendera itu tidak layak dibawa dalam majlis-majlis, demo-demo atau acara-acara keagamaan, Apalagi dikibarkan dalam acara hari santri nasional ? Jelas-jelas itu adalah sebuah kedhaliman, wadh'u Assyai fi ghoir mahallihi, menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya.
pada zaman Rasul Saw Bendera-bendera ini merupakan atribut khusus yang hanya boleh dipegang oleh pemimpin perang, bahkan para pasukan pun dilarang asal membawa bendera jenis ini.
( tapi Sekarang bendera hitam ini malah seenaknya saja dibawa oleh bocah- bocah dan ibu-ibu dalam demo-demo , majlis-majlis dan acara-acara lainnya )
oleh karena itu Ibnu Hajar menyatakan bahwa bendera Royah dan Liwa' hanya dianjurkan untuk dikibarkan dalam waktu perang, itupun yang boleh membawanya cuma komandan perang atau prajurit yang dipercayainya. Dawuh beliau dalam Fathul Bari :
ﻭ ﻓﻲ ﺍﻷﺣﺎﺩﻳﺚ ﺍﺳﺘﺤﺒﺎﺏ ﺍﺗﺨﺎﺫ ﺍﻷﻭﻟﻴﺔ ﻓﻲ ﺍﻟﺤﺮﻭﺏ ﻭ ﺃﻥ ﺍﻟﻠﻮﺍﺀ ﻳﻜﻮﻥ ﻣﻊ ﺍﻷﻣﻴﺮ ﺍﻭ ﻣﻦ ﻳﻘﻴﻤﻪ ﻟﺬﻟﻚ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﺤﺮﺏ
Ini jelas menolak anggapan mereka yang berfikir bahwa dulu pada zaman Rasulullah Saw, bendera-bendera hitam ini adalah panji-panji Islam yang dengan indahnya berkibar di jalanan kota makkah-madinah, di depan Masjidil Haram atau Masjid Nabawi, dan dibawa para Sabahat dalam setiap perkumpulan atau acara keagamaan.

Sekali lagi bendera ini adalah bendera perang, bukan bendera "ummat". Jangan kaget jika panji-panji hitam ini sekarang menjadi simbol resmi golongan yang bawaannya pengen perang dan berantem mulu seperti ISIS, Al-Qaeda, Jabhat Nushra dan jama'ah-jama'ah radikal lainnya.
Pada Intinya Bendera-bendera ini sama sekali tidak disunnahkan dikibarkan pada selain waktu perang. Bahkan untuk sekarang ini, tatkala panji-panji hitam ini (Royah Suud) menjadi simbol yang indentik dengan golongan radikal dan bisa memicu fitnah, kekhawatiran dan kekacauan. Hukum membawa bendera ini bisa mencapai taraf "haram" : Saddan Lid Dzariah...

4. Masalah pembakaran bendera
Terlepas dari hukum membakar bendera hitam yang sudah banyak dikaji dimana-mana, sejatinya dari awal saya sangat menyayangkan insiden pembakaran bendera hitam di Garut itu. Karena selain bisa menimbulkan fitnah dan polemik berkepanjangan seperti saat ini, ada cara lain yang tentunya lebih halus dan kalem daripada membakar. menyitanya saja saya rasa sudah sangat cukup. Kita semua pasti tau, dari dulu kalimat "bakar !" - selain bakar ayam, ikan atau jagung- selalu identik dengan ke-bringasan dan kebrutalan, sedangkan NU dari dulu dikenal sebagai penyebar Islam teduh dan damai. jika memang hal ini bisa memicu api fitnah dan nantinya kita harus membuat pembelaan disana-sini, kenapa tidak dihindari dari awal ? Al-Daf'u awla min Ar-Raf'i, menangkal lebih baik daripada mengobati, Bukankah begitu dalam Qoidah fiqihnya ?
Jelas tidak benar jika Banser dituduh sebagai ormas anti kalimat Tauhid gara-gara kejadian ini, sebagaimana sangat naif jika kita serampangan menuduh setiap orang yang tidak setuju dengan pembakaran ini sebagai simpatisan HTI atau orang-orang yang terpengaruh dengan ideologi mereka...

Menutup "pintu" fitnah itu penting, sama seperti ketika Rasulullah Saw menahan diri untuk memerangi kaum munafikin agar tidak menimbulkan fitnah dan asumsi-asumsi sesat ditengah masyarakat. toh padahal mereka sudah berkali-kali merencanakan makar-makar jahat terhadap Rasulullah Saw.
" aku tidak ingin orang-orang berkata bahwa Muhammad memerangi sahabat-nya sendiri " begitu sabda Rasulullah Saw waktu itu..
Bukan hal yang mengherankan jika pembakaran bendera tauhid itu meledakkan kegaduhan dan kehebohan di tengah masyarakat, karena memang insiden ini -mungkin- adalah yang pertama dan baru kali ini terjadi di bumi Indonesia.
Kemarin saya mendiskusikan masalah ini dengan seorang sahabat asal Hudaidah, salah satu kota di Yaman Utara yang sampai sekarang dilanda konflik tiada henti. di daerah-daerah konflik disana bendera hitam bertuliskan kalimat tauhid juga banyak tersebar, hanya saja disana panji hitam bukan menjadi bendera HTI, melainkan bendera Al-Qaeda.

" Al-Qaeda di Syimal-Yaman Utara- bukankah juga mempunyai bendera ? "
" Iya punya.. Bendera Hitam bertuliskan La ilaha Illallah "
Saya lalu menceritakan kepadanya kehebohan di Indonesia akibat pembakaran bendera tauhid tempo hari lalu, tanggapanya benar-benar diluar dugaan..
" Aadii.. (Biasa saja)" ucapnya santai. " di Aden atau di Hudaidah pembakaran bendera-bendera hitam seperti itu sudah biasa terjadi. mereka menyita dan mengumpulkan bendera-bendera itu dalam suatu tempat, menyiramnya dengan bensin lalu membakarnya.. "
" siapa yang melakukannya..? "
" pemerintah.. Masyarakat juga turut andil, bahkan di daerahku sebagian masyaikh juga melakukan itu.. "
" mereka yang membakar juga ahlussunnah.. ? "
" iya.. "
" Maa had takallam ? ( tidak ada yang berkomentar atas pembakaran itu..) ?"
" gak ada.. Biasa aja, bendera-bendera itu adalah penyebab fitnah, jadi sudah seharusnya dilenyapkan, kami mengqiyaskannya dengan Masjid Dhiror " begitu pendapatnya..
Saya juga menceritakan masalah ini kepada murid-murid saya yang berasal dari Yaman Utara. salah satu dari mereka bernama Ahmad, berasal dari kota Mahwith. iya tampak terkejut ketika mendengar cerita saya, tapi bukan karena Insiden pembakaran bendera (karena menurutnya, pembakaran bendera hitam di daerahnya sudah lumrah dan biasa). Ia malah terkejut karena satu hal : Kok bisa bendera seperti itu ada di Indonesia ?
Setelah kami bertukar cerita panjang lebar, dengan raut wajah sedih ia berkata :
" Allah Yarhamkum ya ustadz.. Semoga Allah mengasihani kalian para penduduk Indonesia ustadz..
Wallah..Jika bendera-bendera hitam itu mulai tersebar di negara kalian, itu pertanda awal dari semua kekacauan.."
Saya mengamini doa tulusnya itu.. Ia benar.. Ditengah badai fitnah, kegaduhan, dan perpecahan yang berkecamuk diantara kita saat ini.. betapa butuhnya kita akan pertolongan, kasih sayang dan belas kasih Allah untuk kita..
Irhamna Ya Rabb Ya Rahiim Ya Rahmaan...

** hanya tulisan pribadi, tidak ada sangkut pautnya dengan ormas, keluarga besar, atau lembaga dimana saya bernaung...

* Ismael Amin Kholil, 24 Oktober, 2018


Akun Yudiraz Aba (fb.com/yudo.irawan.58) memposting sebuah gambar yang diklaim sebagai pernyataan Presiden Turki

LAWAN HOAX

#Informasi #Klarifikasi #Disinformasi #Erdogan #Menangis #Karena #Bendera #Tauhid #Dibakar di #Indonesia

1. Akun Yudiraz Aba (fb.com/yudo.irawan.58) memposting sebuah gambar yang diklaim sebagai pernyataan Presiden Turki dan screenshot judul berita.
Akun tsb menuliskan narasi sebagai berikut;
"Presiden Erdogan pun angkat bicara ....
Terkutuklah mereka yg melakukannya !!!
https://sketsanews.com/presiden-erdogan-menangis-dan-berpesan-saat-bendera-tauhid-dibakar-di-indonesia/ "

Sumber : http://bit.ly/2PTj3Lk - Sudah dibagikan lebih dari 8.600 kali saat screenshot diambil.

2. BENDERA TAUHID DIBAKAR DI INDONESIA, ERDOGAN MENANGIS LALU BERPESAN SEPERTI INI.
Insiden pembakaran bendera bertuliskan tauhid oleh oknum Banser menjadi topik hangat di negara-negara Islam. Tak terkecuali Presiden Turki, Erdogan.

Dari sumber yang terpercaya, Erdogan bahkan sempat menangis dan menyayangkan pembakaran bendera tauhid di negara Islam terbesar.

"Indonesia negara Islam terbesar di dunia. Yang banyak dijadikan model negara yang sangat toleransi. Tapi mengapa malah terjadi kejadian seperti ini," ujar Erdogan seperti dikutip dari internet.
"Semoga ini bukan pertanda kehancuran Islam sekaligus hilangnya Indonesia dari peta dunia. Terkutuklah manusia yang ingin mengadu domba saudara kami di Indonesia," kecam Presiden Turki tersebut.

Sumber : http://bit.ly/2q7PnyB

===================

Fakta dan Penjelasan

Dilihat dari gambar yang diunggah, ada 2 hal yang bisa didebunk dari klaim tersebut.

1. Penggunaan foto;
Foto yang digunakan oleh akun tersebut semua tidak ada kaitannya dengan kejadian yang terjadi di Indonesia baru baru ini.

* http://bit.ly/2SekVjl, Presidency of the Republic of Turkey: "“The global propaganda war of those who cannot defeat Turkey on the field will not work”", salah satu sumber foto yang digunakan untuk meme. Foto tersebut adalah foto di acara pidato kongres AKP, tidak ada hubungannya dengan peristiwa apapun di Indonesia.

* http://bit.ly/2PQMIEV, @zbeydekaymaz07: "SEN AĞLAMA AĞLARSAN GÖZÜNDEN AKAN YAŞ OLURUM.ÜZÜLÜRSEN SENİ ÜZENE KURŞUN OLURUM. #OlmazsaOlmazim # @RT_Erdogan", salah satu sumber foto yang digunakan oleh artikel "Presiden Erdogan Menangis Dan Berpesan, Saat Bendera Tauhid Dibakar Di Indonesia". Foto diedarkan di tahun 2016, dari konteks waktu foto beredar jauh sebelum peristiwa yang disebutkan di judul.

* http://bit.ly/2PRNtxs, ynetnews(dot)com: "Turkey’s Erdogan weeps on live TV after hearing poem", salah satu sumber foto yang digunakan oleh laman di situs Asia Satu.

2a. Sesuai yang ditulis di narasinya, akun tersebut menyertakan tautan yang jika diklik maka tautan tersebut sudah tidak tersedia, karena pengelola situs sketsanews.com sendiri telah menghapus artikel yang mereka salin dari asiasatu.online dan mengklarifikasinya di sini ; https://sketsanews.com/hoax-erdogan-menangis-ketika-bendera-tauhid-di-bakar-di-indonesia/

2b. Judul dan isi berita yang ditulis di asiasatu.online sendiri dibantah oleh fp Sahabat Erdogan ( fb.com/sahabaterdogan ).
Fp tersebut menyatakan bahwa mereka punya jaringan dengan jurnalis Turki, tidak ada satupun media Turki yang memberitakan "Erdogan menangis karena bendera Tauhid di bakar"
dan Isu tersebut hanya ramai di tanah air, tidak sampai ke Turki.
Sumber ; http://bit.ly/2O2NAnW - Sudah dibagikan lebih dari 260 kali saat screenshot dibuat.

Referensi ; https://turnbackhoax.id/2018/10/24/salah-bendera-tauhid-dibakar-di-indonesia-erdogan-menangis-lalu-berpesan-seperti-ini/

#TurnBackHoax #FightBackHoax


Rabu, 24 Oktober 2018

Alasan GP Ansor Tidak Minta Maaf Atas Insiden Pembakaran Bendera HTI


Ketua Umum GP Ansor H Yaqut Cholil Qoumas (Gus Yaqut) menyatakan bahwa pihaknya tidak akan meminta maaf atas insiden pembakaran bendera HTI. Ia menyatakan bahwa pembakaran bendera HTI itu bukan sebuah kesalahan dalam agama dan kesalahan dalam hukum positif.

Gus Yaqut menambahkan bahwa bendera HTI bukan bendera umat Islam. Sementara pada sisi lain, HTI telah divonis oleh pengadilan tempo lalu sebagai organisasi terlarang di Indonesia karena menyalahi Perppu Ormas.

“Saya akan kembali lagi ke  pernyataan awal, kenapa kami tidak akan meminta maaf karena sekali saja saja maka HTI akan mendapat klaim bahwa bendera mereka itu sudah menjadi bendera umat Islam. Padahal kita ini juga umat Islam bos. Kita tidak merasa terwakili oleh HTI,” kata Gus Yaqut kepada NU Online di Kantor PP GP Ansor, Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat, Selasa (23/10) malam.

Ia menambahkan bahwa kalau pihak GP Ansor diminta atau dipaksa minta maaf, maka permintaan maaf ini harus jelas. Ia menyatakan bahwa permintaan maaf itu ditujukan ke siapa dan atas kesalahan apa.

“Minta maaf kepada siapa? Umat Islam? Saya juga umat Islam. Kalau diminta untuk minta maaf, minta maaf atas dasar apa? Kan juga harus jelas,” kata Gus Yaqut.

Menurutnya, sejumlah pihak mengklaim bahwa GP Ansor telah membakar bendera tauhid. Pihak GP Ansor menanggapi bahwa bendera yang dibakar oleh anggota Banser pada peringatan Hari Santri 2018 di Garut adalah bendera HTI yang jelas atribut dari organisasi terlarang.

Ia menambahkan bahwa penyebutan bendera tauhid adalah klaim sepihak. Ia menegaskan bahwa bendera yang dibakar sahabat Banser di Garut itu adalah bendera HTI.

“Atas pembakaran bendera HTI itu, kami tidak akan meminta maaf karena ini menyangkut prinsip kenegaraan dan kebangsaan. Kami mencintai negeri ini. Kami tidak rela negeri ini diganggu, apalagi oleh HTI. Tidak. Kami akan mempertahankan itu,” kata Gus Yaqut.
( Alhafiz K)

#KamiBersamaBanser


Bendera Hizbut Tahrir & Sejumlah Kelompok Teroris

Bendera Hizbut Tahrir & Sejumlah Kelompok Teroris
Oleh Prof Sumanto Al Qurtuby

Ormas politik Hizbut Tahrir (termasuk cecunguknya di Indonesia yang bernama HTI) bukan satu-satunya kelompok yang benderanya berlatar hitam dan bertuliskan kalimat tauhid, yaitu "La ilaha illa Allah, Muhammad Rasulullah" atau "Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad Utusan Allah").

Perlu Anda ingat: bendera dengan dasar hitam dan bertuliskan kalimat tauhid itu bukan bendera tauhid, bukan bendera umat Islam, juga bukan bendera Nabi Muhammad. Jika ada orang / kelompok yang mengatakan hal ini, hanya untuk kampanye dan propaganda belaka.

Yang jelas bendera model beginan adalah bendera yang dipakai oleh sekelompok Islamis militan jihadis separatis dan atau teroris di berbagai negara. Meskipun tidak semua kelompok ini memakai bendera dengan desain beginian. 

Oleh karena itu, di kawasan Muslim di Timur Tengah, Asia Tengah, Afrika Utara, dan lainnya ketika ada aksi-aksi protes atau demontrasi berupa pembakaran bendera kelompok-kelompok ini, tidak ada sejentil pun mahluk hidup umat Islam yang menganggap sebagai penghinaan terhadap kalimat tauhid, kecuali para anggota dan simpatisan ormas radikal Islamis ini, atau kalau tidak ya umat Islam yang "palenya peang".

***

Selain Hizbut Tahrir, ada sejumlah kelompok Islamis, militan, jihadis, teroris, dan atau separatis di berbagai negara yang juga menggunakan bendera dengan warna dasar serupa (hitam) dan tulisan yang sama (kalimat tauhid).

Di antara kelompok ekstrimis, separatis, atau teroris tersebut adalah Al-Qaidah. Kelompok Islamis-jihadis-teroris ini dibentuk tahun 1988 di detik-detik menjelang berakhirnya "Perang Afgan" antara milisi Mujahidin (yang dibantu oleh Amerika) dengan "Tentara Merah" Uni Soviet.

Pendiri Al-Qaidah adalah Abdullah Azam, guru spiritual-intelektual Osama Bin Laden yang belakangan ia bunuh sendiri karena berbeda pendapat tentang konsep jihad. Kini, pemimpin spiritual-intelektual kelompok ini adalah Ayman Zawahiri yang dulu dipilih oleh Ben Laden sebagai ganti Abdullah Azam. Osama perlu "guru spiritual-intelektual" karena dia orang bego dan gak berpendidikan, hanya bermodal kekayaan dan fanatisme saja. 

Kelompok teroris-ekstrimis-jihadis berikutnya yang memakai bendera serupa adalah ISIS atau kalau di Barat disebut disebut ISIL (Islamic State of Iraq and Levant), atau Daesh kalau di Timur Tengah yang didirikan pada tahun 1999 oleh Abu Musab al-Zarqawi  dan juga Abu Bakar al-Baghdadi.

Kemudian Jabhat al-Nusra atau Al-Nusra Front yang diririkan oleh Abu Muhammad al-Julani. Kelompok ini adalah pecahan atau sempalan dari ISIS yang bermarkas di Suriah.

Kelompok lain adalah Caucasus Emirate, sebuah kelompok militan jihadis di Federasi Rusia yang ingin menggulingkan Rusia dan mendirikan Negara Islam di Kaukasus Utara. Pendirinya adalah Ichkeria Dokka Umarov yang mendeklarasikan diri sebagai Amir. Di Caucasus juga ada kelompok teroris bernama Vilayat Kavkaz yang juga menggunakan bendera hitam bertuliskan kalimat tauhid.  

Jaish al-Mujahirin wa al-Ansar, kelompok militan jihadis yang ikut berperang di Suriah juga memekai bendera serupa.

Lalu Islamic Movement of Uzbekistan, kelompok Islamis-separatis yang didirikan tahun 1998 oleh idelog Islamis Tahir Yuldashev dan Juma Namangani. Kelompok ini bertujuan makar untuk menggulingkann pemerintahan / Negara Uzbekistan di bawah Presiden Islam Karimov.

Haqqani Network, kelompok sempalan / separatis di Afganistan juga menggunakan bendera yang sama.

Lashkar e-Taiba, kelompok teroris-Islamis di kawasan Asia Selatan yang berperasi utamanya di Pakistan juga menggunakan bendera yang agak mirip Hizt Tahrir dan lainnya, meskipun berbeda desain.

Ini hanya beberapa contoh kecil saja. Jadi kalian jangan mau dibodohin, dikadalin, dan dikibulin oleh HTI dan kelompok sejenis yang gentayangan di Indonesia.   

Jabal Dhahran, Jazirah Arabia

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10161107607330523&id=762670522


HTI bukan politisi kemarin sore

HTI MEMBAKAR BENDERANYA SENDIRI

Oleh : Mixilmina Munir (Wasekjen PP GP Ansor)

HTI bukan politisi kemarin sore, mereka sudah malang melintang di pelosok Indonesia, satu-persatu masjid dikuasai, kantor-kantor pemerintah mulai direbut, mereka mengajarkan Khilafah, mengkafirkan Pancasila.

HTI bukan  Politisi Karbitan, mereka aktif di kampus-kampus, menguasai masjid-masjid kampus, mendoktrin mahasiswa dengan khilafah Islamiyah, merangkul mahasiswa baru untuk masuk dalam organisasi underbouw mereka, Gerakan Mahasiswa Pembebasan. 

HTI bukan gerakan sporadis. Mereka mendoktrin Jama’ahnya lewat pengajian-pengajian kecil yang tertutup, juga melalui bulletin Jum’at KAFFAH. Sebelum HTI dibubarkan, Buletinnya bernama AL-ISLAM. Isinya tidak berubah, 50 % ajakan mengganti Pancasila, 30% kebencian terhadap pemerintah, 20 % sisanya Khilafah Islamiyah.

Tidak ada yang berubah pasca dibubarkannya HTI. Kaderisasi masih berjalan, perekrutan anggota masih massif, gerakan masih eksis, media propaganda masih terbit, hubungan dengan Hizbut Tahrir Internasional juga normal-normal saja. Ini yang harus tetap kita waspadai.

Dengan masih eksisnya HTI maka peristiwa pembakaran bendera HTI di Garut bukan tanpa desain, bukan tanpa skenario, dan bukan terjadi tiba-tiba. Pembakaran bendera HTI oleh Banser sebenarnya justru skenario HTI sendiri, umpannya dimakan oleh keluguan Banser. HTI tidak tampak sedih, mereka menikmati Irama permainannya karena dengan itu sel-sel tidurnya tetap aktif dan jaringan internasionalnya tetap support dana.

Mereka tahu cara mengelola emosi massa yang anti terhadap khilafah. JIka ada yang membakar benderanya, mereka langsung menuduh bahwa pelakunya anti Islam, bendera  kalimat tauhid telah dinistakan, playing victim dimainkan, media social akan gaduh dan segera saja HTI cuci tangan.

Lihat saja, Ismail Yusanto, sang jubir HTI langsung cuci tangan,  dia mengatakan bahwa yang dibakar Banser bukan bendera HTI, HTI tidak punya bendera dan yang dibakar adalah bendera kalimat Tauhid. Dengan pernyataan itu ia berusaha menggiring opini untuk menjadikan Banser sebagai musuh umat Islam serta  membentur Banser dengan ormas Islam lain. 

Namun dibalik itu, sesungguhnya dia juga sedang membakar kemarahan massa Islam, Setelah massa tersulut, setelah negara gaduh, setelah Banser Anser dibully, setelah umat Islam berhasil diadu domba segera ia pergi. Polanya persis seperti di Suriah, ia pergi meninggalkan jejak konflik dan kemarahan.

Gus Yaqud Cholil Qoumas, Ketua Umum saya di PP GP Ansor sudah minta maaf atas kegaduhan kecil Banser di Garut, TAPI TIDAK ATAS PEMBAKARAN BENDERA HTI.  YES !!!

#MakarBerkedokTauhid
#HTIAntiTauhid


BANSER, HTI DAN PERANG JAMAL

*BANSER, HTI DAN PERANG JAMAL*

Oleh _Ayik Heriansyah_

Banser jadi bintang sejak dulu kala. Sebelum HTI berdiri, Banser sudah mencatat prestasi sebagai penjaga ulama, umat dan negara yang terpercaya. Kesetiaan Banser kepada ulama, umat dan negara sudah teruji dan terbukti meskipun buku-buku sejarah tidak mencatatnya dengan rapi. Sebenarnya diakui atau tidak kita butuh Banser.

Saya sendiri baru sadar akan Banser. Waktu masih kecil di kampung saya, saya tahunya Banser sering latihan baris-bebaris di depan rumah setiap menjelang 17 Agustus. Tetangga saya ketua GP Ansor-Banser. Mereka latihan dalam rangka mengikuti pawai. Seiring perjalanan waktu saya sedikit paham apa itu Banser. Banser itu hebat. Kadang oknumnya berulah itu wajar-wajar saja.

Kontras dengan Banser, HTI diciptakan memang untuk merongrong negara. Di negeri Islam dari Maroko sampai Merauke, Hizbut Tahrir ditakdirkan jadi pemberontak. Di Indonesia, Hizbut Tahrir terhitung lebih beruntung dibandingkan rekan-rekan mereka di negara lain. Di Irak dan Libya anggota Hizbut Tahrir dihukum gantung. Di Suriah diberodong senjata. Di Arab Saudi dan Yordania jadi pesakitan. Di Turki dan Pakistan, dipenjara. Di Uzbekistan, Tajikistan dan Turkmenista, anggota Hizbut Tahrir dibunuh penguasa.

Salahkah para penguasa itu? Tidak ada yang salah sebab kegiatan politik Hizbut Tahrir berbahaya bagi keselamatan bangsa dan negara. Entah fiqih siyasah apa yang dikaji Hizbut Tahrir, yang pasti praktik menghalalkan segala cara terjadi di setiap negeri tempat Hizbut Tahrir melakukan gerakannya. Memfitnah, membuat makar dan mengadu domba sesama umat dan ormas Islam, lumrah dilakukan Hizbut Tahrir, termasuk HTI.

Insiden bakar bendera HTI 2 hari yang lalu di Garut jadi bahan bakar HTI untuk menyerang NU, Ansor dan Banser. Dengan kepiawaiannya bermain opini di media sosial, HTI berhasil memprovokasi umat dan ormas Islam. HTI ingin memukul NU, Ansor dan Banser menggunakan tangan pihak ketiga. Sungguh besar dosa HTI yang menyulut permusuhan umat Muhammad Saw.

Kita harus menoleh ke belakang. Melihat sejenak sejarah kaum umat Islam di masa Khulafaur Rasyidin. Krisis, kisruh dan konflik politik umat telah diperingatkan oleh Baginda Nabi Saw. Mari kita ambil hikmahnya supaya terhindar dari malapetaka yang seharusnya tidak perlu terjadi.

Sejarah umat mungkin bercerita lain andaikan tidak ada penyusupan dan provokasi kaum Khawarij di barisan kaum muslimin. Persoalan penanganan terhadap pembunuh Khalifah Utsman mencapai titik temu setelah Khalifah Ali mengutus Al Miqdad bin Al Aswad dan Al Qa’qa bin Amr untuk berunding dengan Thalhah dan Az Zubair. Mereka semua sepakat untuk tidak berperang.

Kemudian kedua belah pihak menjelaskan sudut pandang masing-masing perihal qishash terhadap pelaku pembunuhan Utsman. Thalhah dan Az Zubair berpendapat bahwa tidak boleh membiarkan pembunuh Utsman begitu saja, sedangkan pihak Ali berpendapat bawa menyelidiki siapa pembunuh Utsman untuk saat sekarang bukan hal paling mendesak. Namun, hal ini bisa ditunda sampai keadaan stabil. Jadi, mereka sepakat untuk mengqishash para pembunuh Utsman. Adapun yang mereka perselisihkan adlah waktu untuk merealisasikan hal tersebut.

Setelah kesepakatan itu, dua pasukan pun bisa tidur dengan tenang, sedangkan para pengikut Abdullah bin Saba – mereka para pembunuh Utsman – terjaga dan melewati malam yang buruk, karena akhirnya kaum Muslimin sepakat untuk tidak saling berperang. Demikianlah keadaan yang disebutkan oleh para sejarawan  seperti Ath Thabari, Ibnu Katsir, Ibnu Atsir, Ibnu Hazm dan yang lainnya.

Ketika itu para pengikut Abdullah bin Saba sepakat akan melakukan apa pun agar kesepakatan tersebut dibatalkan. Menjelang waktu subuh, ketika orang-orang sedang terlelap, sekelompok orang dari mereka menyerang pasukan Thalhah dan Az Zubair lalu membunuh beberapa orang diantara pasukan mereka. Setelah itu, mereka melarikan diri.
Pasukan Thalhah mengira bahwa pasukan Ali telah mengkhianati mereka. Pagi harinya, mereka menyerang pasukan Ali. Melihat hal itu, pasukan Ali mengira bahwa pasukan Thalhah dan Az Zubair telah berkhianat. Serang-menyerang antara kedua pasukan ini pun berlangsung sampai tengah hari. Selanjutnya, perang pun berkecamuk dengan hebatnya.

Perang Jamal terjadi bukan keinginan Khalifah Ali, 'Aisyah, Thalhah, Az Zubair beserta pasukan mereka. Perang itu terjadi akibat provokasi yang dilakukan oleh Abdullah bin Saba dan pengikutnya yang terlibat pembunuhan Khalifah Utsman. Bagi pelaku kejahatan negara, stabilitas pemerintahan jadi ancaman bagi mereka. Ketika pemerintah kuat sudah pasti mereka akan dihukum. Tidak ada jalan lain bagi penjahat negara selain menciptakan instabilitas, membumi hangus soliditas masyarakat untuk menghapus jejak.

Dari sini kita dapat pelajaran bahwa penjahat negara seperti HTI akan selalu membuat onar. Insiden kecil dibesar-besarkan. Bila perlu membuat hoax. Mendramatisir fakta. Contohnya Insiden pembakaran bendera HTI di Garut. Dari sudut hukum agama dan negara, membakar bendera HTI bukan tindak pidana. Untung pengurus Banser bersikap proporsional. Jika tidak, "perang Jamal" terulang lagi di sini.

Bandung, 24 Oktober 2018