Kamis, 30 Agustus 2018

HYPNOWRITING dan CROC BRAIN

HYPNOWRITING dan CROC BRAIN

(Haryoko R. Wirjosoetomo)

Ada hal menarik yang saya temukan dalam Expert Sharing tentang *Literasi Digital* di kantor Kementerian Kominfo beberapa waktu lalu, di mana saya menjadi salah satu pembicaranya.

Seluruh hadirin di ruang pertemuan tersebut adalah sarjana dari berbagai Universitas ternama di Indonesia.
Tentu saja mayoritas hadirin adalah Alumni Universitas Gadjah Mada, karena acara tersebut sebenarnya digagas _hanya untuk anggota grup Kagama Virtual_ saja.

Jika pada akhirnya mengundang peserta dari luar grup, semata karena Kementerian Kominfo tertarik dengan materi yang akan kami sharingkan dan memutuskan untuk menanggung seluruh biaya pelaksanaannya.

Nah, *apa yang menarik* bagi saya?

Ternyata 100-orang lebih di ruangan tersebut, bahkan sesama Pembicara lain juga, *tidak menyadari bahwa sebagian terbesar status-status atau meme-meme di media-sosial yang menimbulkan kontroversi memang di-desain secara khusus untuk memicu perdebatan, percekcokan, silang sengkarut orang ramai.*

Targetnya menciptakan *Segregasi Sosial* berdasarkan kelompok; membangun dan mengentalkan sikap ingroup-outgroup dalam masyarakat.

*Tujuan akhirnya?*
Menciptakan Kelompok Pendukung politik *yang fanatik, pemarah dan 'Kebal terhadap Data dan Fakta'* yang disodorkan kepadanya.

Kok bisa? Bisa saja..., bisa sekali!
Dengan cara bagaimana?
*Menggunakan teknik Hypnowriting!*

Bagaimana saya bisa bicara demikian?
Karena saya mengetahui teknik tersebut, menguasainya dengan baik dan sudah lama menggunakannya untuk keperluan wawancara investigasi.

Pertanyaan berikutnya, "Siapa orang-orang yang menggunakan Teknik Hypnowriting di atas?"

Para Cyber-Army kedua kubu-politik yang bersaing, baik di kubu-Pemerintah maupun Oposisi!
Mereka (para Cyber Army), bisa relawan, bisa pula orang profesional, tentara-Cyber sewaan, Cyber-Mercenaries.

*Apa yang disasar?*
CROC BRAIN manusia, dimana Security/Insecurity Feeling berada.
Kedua jenis perasaan tersebut adalah *Basic Instinct*, Landasan *Survival Spirit* Manusia.

*Cara menguliknya bagaimana?*
Dengan mendesain narasi-narasi dan gambar-gambar yang disisipi *Pesan Subliminal*, yakni 'Pesan Tersembunyi'.

Pesan tersembunyi tersebut berupa *Pesan yang tidak akan ditangkap oleh Neo-Cortex di mana pikiran Kritis dan Logika berada*, namun langsung menusuk ke Croc Brain!

*Contoh nyata,*
Apa (yang jadi) target menggembar-gemborkan isu 10 juta naker-Cina masuk ke Indonesia?
Rasa takut kehilangan pekerjaan, rasa takut tidak-kebagian lapangan kerja, rasa takut menganggur.

Konsekuensinya?
*Reaksi-Primitif pun akan langsung terpicu pada saat Croc Brain merasa terancam.*

Dan *hampir semua orang tidak paham,* bahwa REAKSI PRIMITIF CROC BRAIN TIDAK DAPAT DIHADAPI DENGAN DATA.

Silahkan Anda berbusa-busa menyangking Data satu gerobak dari sumber-sumber yang kredibel..., percumaaa Saudara... Kenapa?

Karena, *DATA, hanya bisa dicerna oleh otak modern, Neo Cortex, bukan oleh Croc Brain.*

Jadi, terjawab sudah keheranan Anda soal *kebal-data* itu kan?

*Lalu bagaimana menghadapinya?*
Silahkan sajikan Data, ga masalah.
Hanya saja *sejak sekarang, sebaiknya Anda mesti membangun kesadaran* bahwa Data tersebut tidak untuk mereka yang kebal data!

Tapi *untuk memelihara kewarasan orang lain yang masih mengedepankan Neo Cortex-nya untuk berpikir.*

Itu target yang harus Anda bidik.

Cinere, 11 Juni 2018

Haryoko R. Wirjosoetomo

Tulisan ini pada awalnya saya buat khusus untuk kerabat Kagama Virtual.
Atas permintaan rekan-rekan grup tersebut, saya tulis di wall pribadi *agar bisa di share kepada kerabat lain yang bukan alumni UGM.*

*Mulai ngerti kan kita kenapa orang-orang pinter bisa kena hal-hal yang gak masuk akal?!?!*

Penulis (Haryoko R. Wirjosoetomo) adalah konsultan psikologi, banyak memuat tulisan sejenis, bisa browsing untuk menemukannya.
_Namun, tulisan di atas belum diverifikasi._

*Mudah-mudahan kita bisa mempertahankan KEWARASAN kita masing-masing.*


Senin, 27 Agustus 2018

Dibongkar Netizen #2019GantiPresiden Ternyata Diketuai Teroris Anggota Al-Qaeda

Gerakan PKS untuk mengkampanyekan #2019GantiPresiden ternyata hanya kedok untuk menyembunyikan kepentingan besar mereka mendirikan negara Khilafah dan mengganti dasar negara seperti tujuan HTI yang telah dibubarkan Pemerintah.

Terbukti seorang Abu Jibril yang seringkali menyokong kegiatan-kegiatan terorisme di Indonesia berkolaborasi dengan PKS di Presidium #2019GantiPresiden. Abu Jibril diketahui menjabat sebagai Ketua Presidium #2019GantiPresiden dan Neno Warisman menjabat Sekretaris Presidium.

Terbongkarnya Ketua Presidium 2019 Ganti Presiden sebagai penyokong Teroris berawal dari keluarnya surat edaran, Maklumat Presidium 2019 Ganti Presiden yang langsung ditandatangani oleh Ustad Abu Jibril sebagai Ketua Presidium dan Neno Warisman (Kader PKS) sebagai Sekretaris Presidium.

Denny Siregar dalam akun facebooknya mengungkap siapa sosok Abu Jibril, berikut ulasannya:

Sepak terjang Abu Jibril dalam radikalisme dan terorisme sudah sangat lama. Nama aslinya Fihiruddin Muqti. Dia asli Lombok. Dan ilmu agamanya dia dapat dari Abdullah Sungkar, pengelola pesantren Ngruki Solo.

Bersama Abu Bakar Baasyir, mereka ingin membangkitkan kembali gerakan DI/TII. Dan tahun 1985 mereka kabur ke Malaysia, kemudian tertangkap. Di Malaysia mereka mengubah nama gerakan mereka menjadi Jamaah Islamiyah. Gerakan ini mengirim banyak pengikut mereka untuk ikut perang di Afghanistan.

Anak Abu Jibril sendiri -Muhammad Jibriel bin Abdulrahman- dikirim ke Pakistan dan bergabung bersama Osama bin Laden. Dia pernah ditahan tiga tahun karena tuduhan terorisme.

Di Indonesia Muhammad Jibril mendirikan situs arrahmah com, situs radikal yang isinya memecah belah bangsa. Salah satu anak abu Jibril sendiri, mati di Suriah tahun 2015, bergabung dengan kelompok teroris al-Qaeda.

Dengan semua “prestasi” itu, bisa dilihat apa visi abu Jibril terhadap Indonesia dan Pancasila. Dan sekarang ia bergabung dengan gerakan lawan politik Jokowi untuk menumbangkannya karena visi Jokowi terhadap Indonesia sangat berseberangan dengannya.

Inilah yang harus kita lawan. Radikalisme dan terorisme, yang bermutasi menjadi dukungan politik untuk melebarkan sayapnya. Jika mereka menang nanti, tumbuh suburlah apa yang mereka semai sekarang ini.

Membela Jokowi bukan hanya membela sosok, tetapi membela simbol perlawanan terhadap intoleransi, radikalisme dan terorisme yang ingin mencari jalan supaya hidup di negeri ini. Jangan sampai Indonesia nanti seperti Suriah, jika mereka berkuasa disini.

Abu Jibril sendiri pernah berkolaborasi dengan Abu Bakar Ba’asyir dalam rangka membangkitkan gerakan DI/TII di Indonesia dan pada tahun 1985 kabur ke Malaysia serta mengubah nama gerakan menjadi Jama’ah Islamiyah yang mengirim pengikutnya untuk berperang ke Afghanistan.

Sudah selayaknya masyarakat tidak mempercayai lagi PKS dan Presidium #2019GantiPresiden yang hanya menunggangi  UUD dan UU untuk melegalkan gerakan tersebut namun anggotanya justru sering menolak NKRI, anti Pancasila dan anti demokrasi.