Oleh : Hamdan Suhaemi
Kita masih ingat, bahwa makam Rosulullah hendak dihancurkan dinasty Suud, pada 1924. Yang menyelamatkan dari kehancuran itu adalah komite hijaz yang dipimpin Kiai Wahab Chasbullah ( restu Syaikh Hasyim Asyari ). Tentu umat Islam seluruh dunia punya hutang jasa atas ulama nusantara kita itu, sebab makam Nabi masih utuh hingga sekarang.
Lalu, kenapa kita NU selalu menolak dan melawan ajaran Wahabi yang kini didakwahkan lewan Youtube dan chanel TV, radio hingga buletin jumatan dengan sokongan kapital yang melimpah itu. Sebab ajaran yang disampaikan mereka bukan Islam sebagai ajaran yang sempurna dan luas, meliputi banyak aspek. Tapi, ajaran mereka justeru menyempitkan Islam sebagai agama, mengkerdilkan sebagai ajaran, mendangkalkan pemikiran ( ijtihadi ) agama. Semboyan anti khurafat, takhayyul dan bid'ah hanya kedok, justeru yang kini mereka kerjakan adalah menghancurkan Islam dari dalam. Efeknya berislam kita jadi sempit karena selalu dibid'ahkan, efek besarnya orang Islam akan tinggalkan Islam akibat semuanya dilarang-larang dan dicap bid'ah.
Kenapa, kini mereka merajalela bergerak di semua lini kehidupan. Apa kita anak-anak NU ini harus selalu menuggu fatwa kiai, dan jika tak ada fatwa lantas kita diam saja membiarkan mereka merusak Islam? untuk apa ber-NU kita hanya pada simbol struktural, hanya simbol kaos, jaket, bendera dan seragam, namun diam sambil gigit jari sambil menghitung bintang-bintang di langit. Sambil pula malu-malu kucing dengan sabar dan tawaddu'nya. Katakan, kini kita harus ke muka, biarkan kiai duduk manis ajarkan ilmu ke para santri.
Wahabisme, memang jenisnya muslim lengkap dengan daganganya hijrah, syariah, dan sunnah. Tapi mereka keras kepada yang berbeda paham, sebab yang dibenaknya hanya mereka yang ikuti sunnah Nabi, dan yang lain musyrik, kafir dan munafik. Dalilnya cukup al-Quran dan Hadits, itupun yang ada terjemahanya sebab mereka terdidik singkat lewat dauroh-dauroh.
Mereka Wahabi dengan simbol Arabnya seakan telah mewakili Islamnya seperti di zaman Nabi, jenggot panjang, celana cingkrang, jidat hitam dan kalau ceramah bicara bid'ah dan sunnah. Padahal tradisi itu jelas tidak ada di zaman Nabi. Al-Quran pun sudah jelaskan bahwa tujuan hidup kita itu ibadah dan bertaqwa kepada Allah Swt. Maka untuk sempurnanya ibadah itu dengan ilmu. Sementara ilmu itu bernama fiqih. Mereka menghindari fiqih karena tujuanya mengkerdilkan cara beragama tanpa tanggung jawab, bahkan Quran pun semau mereka untuk ditakwilkan. Sesuai kepentingannya.
Islam itu bukan Arabisme atau Wahabisme. Meski kita tak sangkal bahwa Islam di turunkan di Mekkah dan dakwahkan di Madinah, itu artinya di Arab. Pastinya Islam itu untuk semua umat manusia, semua bangsa jin, dan bahkan bagi makhlu hidup lainya ( rahmatan lil alamin ). Saking luasnya Islam, untuk mensyarahi kitab kumpulan hadits soheh Imam al-Bukhori saja diperlukan ratusan judul kitab yang bila dideretkan itu sejauh 200 meter. Belum bidang lainnya. Sekali lagi Islam itu bukan Arabisme.
Hujjah yang mereka sampaikan, kita NU pun siapkan hujjahnya yang lebih kuat. Corong media mereka gunakan, kita pun merangseg meramaikan media. Ekonomi mereka yang menggurita, kita NU pun imbangi dengan kekuatan ekonomi pula. Bahkan jika diperlukan tangan kita harus terkepal lantang mengajak debat, dan bila perlu adu nyali.
Bahaya Wahabisme, bukan mimpi siang bolong. Ini nyata. Sedikit kita tidur nyenyak mereka sudah melangkah jauh. Umat yang sudah sejak dulu berpegang pada Aqidah Islam Ahlu sunnah wal jamaah bisa jadi hanya nama dan pengakuan, padahal mereka praktiknya wahabi.
Sikap kita, jelas. membendung ajaran dan dakwah Wahabi adalah sikap tanggung jawab kita pada gusti Allah dan kanjeng Nabi Muhammad sholla Allahu alaihi wa sallam dan demi kemuliaan Islam, demi utuhnya kesempurnaan Islam.
Asah otak, siapkan pena dan tangan terkepal.
Maju serempak.
Serang 2 Juni 2020
#HubbulWathonMinalIman

Tidak ada komentar:
Posting Komentar