Minggu, 03 Juni 2018

KEPANIKAN ISRAEL



Pertanggal 9 Juni, warga Indonesia tak bisa lagi memasuki Israel. Umat muslim tak bisa  ziarah ke Masjidil Aqsha, dan umat kristiani tak bisa berziarah ke Gereja Makam Kudus di Yerussalem.

Apa sebab Israel scr reaktif melarang warga Indonesia berkunjung ke Israel? Tentu variabelnya tdk tunggal. Padahal, 40 ribu lbh peziarah asal Indonesia pertahun yg datang ke Israel dan mengunjungi Yerussalem.

"Israel sedang panik", begitu kata Presiden Bashar Assad. Alasan kepanikan itu adalah, karena Israel kehilangan teroris kesayangannya, ISIS dan Jabhat al-Nusro.

Dlm satu bulan terakhir, Israel memang seperti gelap mata. Negeri zionis itu membombardir Suriah, dan juga melakukan holocous di Gaza, Palestina.

Kata Vladimir Putin, ISIS akan segera angkat koper dari Suriah dan pindah markas ke Asia Tenggara. Kalau Asia Tenggara, tempat yg subur utk bercocok tanam teroris, tentulah Philipina dan Indonesia.

Nah, di Philipina, ISIS  dikejar dan diburu habis-habisan oleh Presiden Duterte, layaknya tikus got. 

Celakanya, di Indonesia pun ruang gerak ISIS kian sempit. Sejak disahkannya revisi UU Anti Terorisme, ISIS dan kelompok teroris tak ubahnya seperti ikan dalam akuarium.

Di sinilah sebenarnya kejengkelan Israel itu memuncak. Negeri zionis itu benar2 menjadi patah arang dan frustasi sejak HTI dibubarkan di Indonesia. HTI boleh jadi adalah harapan besar, agar Indonesia terpecah dlm irisan kecil, atau setidaknya terbakar dlm kemelut konflik, seperti grand design yg mulus diterapkan di Timur Tengah.

Dan kini, masa depan ISIS di Indonesia juga suram. Padahal, jika ISIS-HTI bisa bersinergi di Indonesia, maka mampuslah Indonesia. Itulah impian konspirator global yg kekang kendalinya dipegang Israel.

Jika Indonesia sibuk dlm konflik, maka negeri zamrud katulistiwa ini akan terperosok dlm kehancuran, sebelum kemudian bangkrut sbg sebuah bangsa.

Di mata Israel, Indonesia adalah negeri besar yg menjengkelkan. Sejak semula, Indonesia menolak keberadaan Israel yg mencaplok wilayah Palestina. Di forum2 internasional, sejak Soekarno sampai Jokowi, Indonesia tak sedikitpun bergeser komitmen utk membantu perjuangan Palestina dan menolak eksistensi Israel di Palestina.

Jadi, itulah alasan mengapa Israel begitu tdk suka kpd Indonesia. Konsekuensinya, tentu saja, Indonesia akan selalu berada dlm teropong penghancuran imperium global zionisme.

Caranya, dg kembali menyuntikkan kognisi semangat jihad dg cara dan pemahaman yg keliru. Jihad lalu dimanifestasikan dlm kegiatan terorisme, radikalisme dan ekstremisme.

Berapa banyak para ustadz di Indonesia yg termehek-mehek lalu memberi dukungan kpd ISIS..? Bukankah tdk sedikit pula laron2 di Indonesia yg berangkat ke Suriah lantaran terpikat dg gemerlap cahaya ISiS?

Perjuangan Islam lalu disimplifikasiikan sbg perjuangan menegakkan khilafah, sebuah heroisme historis yg coba dihadirkan kembali ke dunia kontemporer yg sdh bergerak ke pandulum yg berbeda.

Tak ayal, gerakan khilafah tak ubahnya seperti orang menghisap opium. Orang dibuat mabuk dan tdk sadar diri. Dia seperti melayang di langit2 suci. Dia lupa bhw kakinya tetaplah menjejak di tanah.

Sayang, banyak yg tdk paham dg skenario dan konspirasi global. Mereka bahkan tdk sadar dijadikan sekumpulan wayang. Dan di balik para wayang, ada dalang yg memainkan skenario.

Sungguh kasihan nasib wayang..

Masak, dg para ulama dan kyai yg  beriilmu, tdk percaya. Tapi, tiba2 ada org yg bernama Kartosuwirjo, Santosa, atau Warsidi, yg mengklaim berjuang mendirikan negara Islam, atau khilafah,  tdk curiga, tapi malah turut kejang2 jadi pengikutnya.

Hemmm..!

(By. Parikesit)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar